Tulisan ini berdasarkan kisah nyata atau pengalaman pribadi penulis dan beberapa pengalaman persona lainnya yang aktif dalam kegiatan petualangan alam bebas dan sejenisnya.

Meningkatnya jumlah korban pendakian ataupun kegiatan olahraga ekstrem lainnya menjadikan artikel ini fokus pada usaha mengurangi dampak kecelakaan atau kematian yang disebabkan oleh psikosis selfharm dan halusinasi.

Tanpa menghakimi dan membuat kebenaran sepihak, maka kasus-kasus kecelakaan kegiatan pendakian dan kegiatan petualangan alam bebas lainnya telah sepakat bersimpul pada satu hal, yaitu kontrol pribadi masing-masing sebagai individu yang bebas dan berdaulat.

Psikosis selfharm dan halusinasi yang dipicu oleh akses berlebihan pada sensation seeking (pencarian sensasi) dan perasaan boredom susceptibility (mudah bosan). Keduanya ssebenarnya sah-sah saja bila pada dosisnya sebagai pemantik gairah petualangan dan kegiatan yang berbasis karakter ektremis yang penuh risiko ini.

Pencarian pengalaman baru, perilaku tanpa ikatan, juga merupakan iming-iming yang dapat mempertajam kemauan seseorang untuk melakukan sensation seeking yang kerap terjadi dalam kegiatan mountaineering.

Menurut Ekapaser (2006), istilah mountaineering diartikan sebagai kegiatan di alam bebas atau mendaki gunung serta kegiatan yang berada di lingkup sekitarnya.

Baik selfharm (menyakiti diri-sendiri) ataupun halusinasi, keduanya tak kalah ngerinya dengan penyakit ketinggian lainnya (Accute mountain sickeness).

Faktor herediter individu atau indikasi faktor genetik, di mana orang tuanya, kerabatnya, moyangnya adalah seorang pendaki, nabinya seorang pendaki, pacarnya seorang pendaki, atau fans beratnya di media sosial seorang pendaki dan lainnya.

Faktor lingkungan juga ikut berperan, seperti kegiatan konservasi, tuntutan kurikulum seorang mahasiswa geologi, kehutanan, ataupun lainnya yang perlu masuk hutan, naik-turun gunung untuk studinya.

Adapun faktor lainnya, antara lain: gairah militerisme, tantangan adrenalin dari teman, lomba keolaragahan, putus cinta, kebutuhan rekor, pertobatan ataupun ingin membuktikan ayat-ayat penciptaan dari ajaran agamanya.

Hal tersebut di atas tak kalah candunya sebagai pemicu sensasi pencarian (sensation seeking) dan pembunuh kebosanan hidup dengan melakukan hal-hal di luar batas kemampuannya. 

Sebagaimana tersebut di atas, aspek mudah merasa bosan (boredom susceptibility) yang berupa penolakan terhadap hal-hal yang bersifat rutin, berulang, mudah ditebak atau penolakan terhadap orang-orang dan lingkungan yang dianggap membosankan dan menjenuhkan.

Pada saat seseorang individu merasa bosan, maka individu tersebut berusaha mencari cara untuk membuat mereka merasa tertarik atau segera mencari aktivitas-aktivitas baru sebagai penambahan stimulasi dan reaksi. 

Ini merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kegembiraan dan kepuasan. Pengalaman baru yang dimaksud, mulai dari pelajaran, baik materi seperti ilmu tentang penggunaan alat-alat gunung maupun pesan moral tentang mendaki gunung, serta mental dan fisik yang lebih tangguh.

Menurut para ahli, seperti Rolison dan Scherman, bahwa keterlibatan seseorang dalam mengikuti suatu kegiatan bertujuan untuk pencarian sensasi, fokus kontrol, risiko yang dirasakan, dan manfaat yang didapatkan.

Mengacu pada penjelasan di atas bahwa kegiatan yang ekstrem merupakan salah satu media untuk mendapatkan sensasi (sensation seeking) dan kebutuhan lainnya. 

Aktivitas-aktivitas yang dilakukan tersebut menunjukkan bahwa individu ataupun kelompok tidak akan pernah merasa puas dengan keadaan dan situasi yang tenang dalam waktu yang lama. Sehingga mereka akan selalu berusaha untuk melakukan aktivitas yang dapat menimbulkan sensasi ataupun kegiatan yang menantang adrenalin ataupun produk kepuasan lainnya. 

Pada aspek pencarian gairah dan petualangan yang dirasakan, salah satunya ketika mendaki gunung, adalah merasa capek ketika harus bersusah-susah terlebih dahulu menempuh trek yang bervariatif tingkat kesulitannya.

Usaha susah payah menuju ke puncak tersebut berakhir dengan perasaan senang dengan keindahan alam dan pencapaian bentuk kepuasan lainnya.

Komponen-komponen pemantik gairah itu bisa menimbulkan gangguan psikologis kalau sudah melebihi dosisnya. Salah satunya adalah psikosis selfharm, yaitu suatu tindakan melukai atau menyakiti diri sendiri yang biasanya bukan dengan tujuan untuk bunuh diri.

Seseorang melakukan hal tersebut untuk mengatasi kemarahan, frustrasi, lelah, putus asa, dan stres emosional yang dirasakannya begitu tinggi dan melebihi ambangnya.

Selfharm dapat terjadi karena mekanisme pengkopian yang buruk (tidak tahan stres dan respons terhadap stres yang buruk), gangguan mengendalikan dan mengekspresikan emosi secara berlebih.

Walaupun tindakan selfharm tidak bertujuan untuk mengakhiri hidup, namun seseorang yang melakukan selfharm sangat berisiko untuk melakukan bunuh diri ataupun merugikan kelompok pendaki waras lainnya.

Solusi dari gangguan di atas antara lain adalah selalu menemani pendaki yang sudah di ambang keputusasaan dan mengalami halusinasi ataupun selfharm

Ada perasaan lega dan rasa lebih enak setelah melakukan selfharm tersebut. Bentuk selfharm yang dapat dilakukan seseorang antara lain seperti di bawah ini.

Kalau pada penderita di tempat biasa, bentuk ekspresi pemuasannya seperti: menyayat lengan dengan benda tajam, membenturkan kepala ke dinding, memukul kaca, mengigit jari, menyundut tubuh dengan korek, rokok atau benda panas lainnya, menggaruk kulit berlebih, hingga menusuk bagian tubuh lainnya.

Kalau di medan gunung, bisa berbentuk apa saja yang bisa ditandai dengan beberapa hal, seperti tiba-tiba pendaki menghentikan laju pergerakan secara tiba-tiba di luar kesepakatan berhenti secara kelompok dan menghempaskan tubuhnya saat duduk, bersandar ataupun posisi lainnya.

Pendaki yang berhenti mendadak dari kesepakatan ataupun tanpa aba-aba ini akan terlihat termenung dengan raut muka yang menyedihkan. 

Seperti pengalaman pribadi ketika salah satu rekan sudah mengantuk sangat, namun tetap dipaksa jalan, maka hasilnya seperti di atas. Bahkan hujan pun tak digubris untuk tetap duduk termenung atau entah tidur di bawah pohon tersebut.

Gejalah lainnya adalah menunjukkan gelagat keputusasaan, seperti ungkapan-ungkapan yang menunjukkan bahwa ia akan balik saja atau buka tenda yang kalau tidak diatasi bisa meningkat tensinya hingga halusinasi atau kesurupan. 

Penulis juga alami keadaan di mana kelelahan yang amat sangat terkonversi hampir menjadi halusinansi. Salah satu solusinya adalah mengguyur air pada muka atau mengunyah makanan, menyulut rokok jika memang masih perlu melanjutkan trekking, atau buka tenda untuk istirahat kalau memang cukup di situ saja.  

Kejadian ini biasa menyerang pendaki di area batas vegetasi di mana rata-rata stamina sudah menurun drastis serta menghadapi suasana dan sirkumferensi yang luar biasa. Atau mengharapkan sampainya sebuah destinasi, namun tak tiba di tempat yang dimaksud tersebut.  

Suasana lain yang menyebabkan psikosis, antara lain: hempasan badai, aroma khas kawah, kepulan kepundan, tumbuhan-tumbuhan serofita yang tampak aneh, area blank (kosong) yang membentang, deru suara deru angin, struktur batuan rapuh, hingga ketinggian yang mengerikan.

Pemicu lainnya adalah kegelapan dan kerapatan hutan yang tinggi hingga merasa bergerak dalam ruang sempit. Cerita-cerita horor sebelum dan saat pendakian juga bisa memicu hal di atas.

Bentuk lain dari model selfharm yang tampak positif namun negatif, seperti pendaki yang berteriak-teriak atau bertingkah histeris ketika mencapai puncak atau telah menggapai titik tertentu yang dia anggap sangat istimewa dan berkesan. Jangan anggap mereka tidak stes. Bisa jadi, namun bentuknya lebih elegan.

Gangguan di atas adalah sebuah psikosis atau kumpulan gejala gangguan mental di mana seseorang merasa terpisah dari kenyataan yang sebenarnya, yang ditandai dengan gangguan emosional, gestur, dan pikirannya.

Penderita psikosis akan sulit membedakan hal yang nyata dan tidak hingga timbul halusinasi. Ada beberapa macam bentuk halusinasi, antara lain seperti dijabarkan di bawah ini.

Pertama, halusinasi penglihatan (visual) melibatkan indera penglihatan, seolah seperti melihat sesuatu namun benda tersebut sebenarnya tidak ada. Ini pernah penulis ketahui ketika mendaki bersama anak perempuan, di mana sisi kanan dan kiri trek pendakian tampak seperti lambaian tangan buntung dan seringai mulut dari kepala yang buntung pula.

Hal tersebut terjadi karena kelaparan dan takut yang berlebihan terhadap gelap. Halusinasi visual ini bisa berupa penampakan atau melihat suatu objek, pola visual, manusia, ataupun pendar cahaya.

Kedua, halusinasi penciuman (olfaktorik) yang melibatkan indra penciuman di mana seseorang mungkin mencium aroma ataupun bau lainnya. Untuk yang ini, pendaki sering mencium bau busuk jika yang dominan ketakutan, atau mencium bau wangi jika yang dominan ketenangan yang berlebihan.

Ketiga, halusinasi pendengaran (audio) adalah jenis halusinasi yang paling umum terjadi, yang menyebabkan pendaki mendengar suara-suara yang tidak didengar rekan di sampingnya. Semisal di Gunung Arjuno yang sering didentikkan dengan halusinasi audio alunan gending-gending Jawa.

Kondisi ini adalah gejala yang biasa terjadi pada skizofrenia, gangguan bipolar, atau demensia.

Keempat, halusinasi taktil melibatkan perasaan sentuhan atau gerakan di tubuh Anda. Misalnya, pendaki merasa seolah disentuh, digelitik, dijawil, bahkan dipukul seseorang, padahal tidak ada orang lain di sekitar Anda. Untuk kasus ini, biasanya pendaki dalam keadaan sangat kelaparan atau kehabisan sesuatu yang bersifat candu bagi dirinya.

Pengalaman pribadi, ketika pendaki perokok yang kehabisan rokok dalam waktu yang cukup panjang akan membuat dirinya berada pada keadaan di atas. JIka sudah pada tahap halusinasi dan kesurupan, maka penyembuhannya adalah dengan dikasih rokok dan dipersilakan untuk merokok. 

Tapi kurang tidur bagi para pelari trail running dan pendakian berlarut juga mendatangkan musuh utamanya, halusinasi. Diperlukan kekuatan pikiran, nalar yang waras, makanan, minuman yang cukup, dan istirahat untuk menghindari semua gejala psikosis dan halusinasi di atas. 

Yang terpenting adalah selalu setia menemani para penderita psikosis dan halusinasi ini. Usahakan ada yang selalu tetap waras dan sadar. Jika terjadi massal di gunung, maka langkah yang tepat adalah sesegerah mungkin mencari bantuan evakuasi, dan bukan menyembuhkan satuper satu. 

Kekuatan pikiran memang sangat diperlukan dalam kasus ini, seperti yang dikatakan oleh Hendra Wijaya, seorang ultraman, iron man Indonesia di bidang ultra marathon hingga hyper marathon.

Bagi saya, ketika berlomba kontribusi fisik itu cuma 20 persen, sisanya kekuatan pikiran.

Termasuk juga bagaimana usaha Hendra Wijaya dalam mengalahkan halusinasi yang kerap juga menyerang dirinya ketika berada pada keadaan yang super-kelelahan, kelaparan, dan mengantuk.

Tak tidur berhari-hari membuatnya hampir tak bisa melanjutkan perlombaan. Sampai akhirnya ia tertidur. Tapi itu pun hanya dalam hitungan detik. Hendra Wijaya terbangun karena bermimpi buruk dan menyeramkan. 

Jiwanya seolah melihat raganya. "Saya kaget sekali. Saya cepat-cepat bangun dan tidak mau tidur lagi. Rasanya seperti meninggal," katanya. Halusinasi, yang menjadi musuh utamanya juga kerap datang kalau ia kurang tidur. 

Halusinasi lainnya seperti seolah sedang berlari sambil ngobrol dengan temannya, padahal temannya tidak ikut lomba. Selain itu, ia juga biasa melihat batu-batu di sepanjang lintasan seperti daging-daging merah besar.