Abad ini (21st century) dicirikan dengan perkembangan sains dan teknologi yang sangat pesat sehingga biasa disebut dengan era science and technology. Akibat yang ditimbulkan adalah kecemasan dan ketergantungan terhadap alat. Hal ini berdampak terhadap pembentukan identitas sosial masyarakat modern yang semakin hari semakin jauh dari kata baik dan berimplikasi terhadap terjadinya dekadensi moral dalam masyarakat.

Dari sisi individu, inilah cikal bakal yang melahirkan sifat not be confidence in self pada hal apapun termasuk tidak percaya terhadap hal baik yang ada pada hidup. Atau yang paling tragis akan menyebabkan hilangnya kecintaan dan kedamaian terhadap diri sendiri.

Sebelum terlalu jauh, mari kita sekilas kembali menengok sejarah. Sejak Descartes mengawalinya dengan memunculkan kembali rasionalitas –setelah lama terkubur- untuk menumbangkan kediktatoran gereja –atas nama hati- dalam mengusasi kebenaran saat itu,  pengetahuan mulai berkembang kembali. Berangkat dari itu, sains muncul dengan alat kebenarannya yaitu metode ilmiah.

Cobalah kita hentikan rutinitas sejenak dan mencoba berpikir serta melihat realita. Sebenarnya paradigma berpikir kita juga diatur oleh metode ilmiah. Kebanyakan kebenaran diukur berdasarkan metode ilmiah. Empiris rasional dan positifistik, begitulah cirinya.

Sesuatu dianggap benar jika objek tersebut dapat dibuktikan secara empiris. Hal ini merembes terhadap pembentukan kepribadian seseorang. Kenapa saya katakan demikian? coba saja kita analisa kehidupan intelektual kaum terpelajar saat ini.

Pernah saya iseng-iseng mengemukakan pernyataan pada teman, menurut saya batu akik dapat mendatangkan pekerjaan pada pemiliknya dan langsung mendadak kaya!

Spontan teman saya merespon dan berkata bagaimana bisa? Tidak logis. Itu tidak bisa dibuktikan, tidak ilmiah. Metodenya tidak rasional.

Saya kembali bertanya, Apakah yang ilmiah selalu memiliki metode? Ia katakan, jelas. Terus bagaimana jika ceritanya seperti ini. Ada seorang pengusaha kaya memakai batu akik yang lagi butuh karyawan untuk bekerja diperusahaannya. Di jalan ia naik taksi dan supir taksinya memakai batu akik juga. Dijalan terjadi komunikasi seru perihal batu akik. Sampai akhirnya sang sopir ditawari pekerjaan oleh pengusaha itu".

Bagaimana jika seperti itu? Tidak semua yang ilmiah memiliki metode. Bahkan dalam kepercayaan terhadap Tuhan, kita tidak perlu mengilmiahkannya.

Tetapi saya tidak akan terlalu jauh membicarakan tentang metode ilmiah. Mari kita fokus pada dampak yang dihasilkan dari perubahan paradigma tersebut yaitu cara berpikir yang menuntut ilmiahnya sesuatu. Inilah salah satu ciri berpikir masyarakat abad ini.

Modernisasi ditandai dengan gejala serba cepat dan persaingan cepat. Akibat hal itu, semua aspek kehidupan mengalami perubahan besar-besaran tertutama gaya hidup dalam bersosial. Egoisme adalah ciri yang tumbuh subur dalam kehidupan masyarakat modern. Inilah yang menjadi masalah yang sangat fatal dalam membentuk eksistensi manusia dalam mengenal dirinya.

Jika kita merujuk pada sepenggal ayat didalam al-quran, "Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya". sesungguhnya masyarakat modern sangat jauh dari hal itu. Jangankan mengenal Tuhan, sekedar untuk mengenal diri dan berdamai dengan diri saja itu sangat susah. Hal inilah yang mengakibatkan kita kekeringan spirit dalam memaknai kehidupan. Jauh dan merasa asing dengan Tuhan sehingga menyuburkan psikopat dalam diri setiap individu.

Menurut saya, psikopat bukan hanya sekadar gangguan dan keabnormalitasan kepribadian yang mengakibatkan seorang pelaku membunuh dengan sadis seseorang yang ingin ia bunuh tanpa perasaan bersalah sedikitpun, tetapi orang yang tidak peka terhadap lingkungan sekitar adalah psikopat sejati. Psikopat menyuburkan apatisme dalam diri. Gejala yang ditimbulkan sama yaitu empati yang tidak berkembang. 

Empati adalah sikap yang harus ditumbuhkan ketika kita ingin mengenal diri. Ketika kita mengenal diri maka kita mengenal Tuhan. Empati membuat kita merasa ada dalam hidup bukan seperti robot. Hampa, bergerak sesuai program dan menjalani sesuatu secara refleks tanpa melibatkan perasaan. 

Mereka yang membunuh atas nama agama adalah pelaku psikopat. Rasanya tidak etis menyebut nama Tuhan ketika melakukan hal yang amoral jika mereka sebenarnya merasa sehat dalam berpikir. Agama tidak pernah mengajarkan dan memerintahkan pemeluknya untuk membunuh seorang manusia atas alasan apapun. Jika ia seenaknya membunuh maka ia tidak menghargai hak asasi manusia yang sangat dijunjung tinggi oleh setiap agama. 

Dalam tulisan ini saya ingin menekankan bahwa psikopat yang sesungguhnya bukan mereka yang mengidap psikopat secara klinis tetapi mereka yang merasa ada disekitar kita, hidup dan berbaur dalam lingkungan tetapi tidak memiliki kepekaan dan empati terhadap kondisi dan keadaan sekitarnya. Benar kata Najwa Sihab, apa arti ijasah yang bertumpuk, jika kepedulian dan kepekaan tidak dipupuk? apa gunanya sekolah tinggi-tinggi jika hanya perkaya diri dan sanak famili. 

Jika sudah menyadari, apa yang harus kita lakukan?