Goool…! melalui tendangan bebas nan cantik melawati pagar betis pemain Inggris yang rapi, Mikkel Damsgaard sang gelandang membuat pendukung Denmark meledak berteriak kegirangan. Fans Inggris tertunduk meratapi gawang Jordan Pickford yang telah dibobol. Tak lama, Tim Tiga singa menyamakan kedudukan melalui gol bunuh diri dari pahlawan Denmark Simon Kjear. 1-1. pekikan dan teriakan hooligans serasa membuat stadion wembley mau runtuh. Itulah kira-kira keseruan laga semifinal Euro 2020 antara tim Denmark dan Inggris.

Gelaran Euro 2020 telah usai. Tapi euforia dan semangatnya masih terasa sampai sekarang. Penuh kejutan. Ternyata tim-tim yang dipandang sebelah mata justru merepotkan para kandidat juara. Saya jadi bertanya-tanya, gerangan apa tim kecil eropa itu dengan amunisi susunan pemain biasa saja namun bisa bermain mempesona. Apakah ini soal mentalitas bermain? Benarkah lemahnya psikologi pemain merupakan ramuan yang hilang dari tim nasional merah putih kita, yang prestasinya masih begitu-begitu saja?

***

Saya jadi ingat waktu itu, dengan bertelanjang dada, di tanah merah yang basah dan licin karena hujan, dengan kaki kosong tanpa sepatu, tim mendaulat saya mengambil tendangan pinalti. Saya cukup tahu alasan mereka memilih saya, yah karena skill saya yang dianggap cukup mumpuni. Dengan kaki mungilku, aku melangkah santai. Padahal nggak sama sekali. Aku tahu tendangan ini menentukan teman-temanku pulang ke rumah masing-masing dengan sumringah atau tidak. Keberhasilan juga makin menasbihkan aku sebagai pelaku bola kelas atas di antara teman sebaya. Sebaliknya, kegagalan membuatku siap-siap dengan hukuman sosial dan dikucilkan.

Entah kenapa semakin kumelangkah ke arah bola, kakiku makin terasa berat. Ukuran bola seperti lebih besar dan gawang serasa makin sempit. Dan benar saja, dengan kekuatan kaki yang terasa tinggal separuh dan ukuran bola yang seolah menjadi dua kali lipat, tendanganku dengan mudah ditepis kiper lawan. Sedih, lebih sedih karena merusak hari indah rekan satu tim. Kekuatan kaki dan teknik menandangku menjadi hilang saat itu. Ini jelas saya gagal bukan karena tidak terbiasa nendang tapi ketidakmampuan saya menghadapi tekanan.

Atau si Dikin, pesebakbola paling kesohor di kampung. bermodal skill di atas rata-rata dan tampang yang lumayan,  belum pernah tropi nongol di CVnya, tapi hampir semua orang kenal dia. Fotonya bahkan sampai dijadikan model disebuah warung dawet hitam yang rame pengunjung. Kepopulerannya di dunia showbiz tidak sejalan dengan pencapaian di dunai aslinya sepak bola. Timnya mulai kesulitan menang, sang bintang mulai seret gol. Tapi si Dikin tetap jadi buah bibir, karena kedekatannya dengan Julia si kembang desa. Si bintang tampak sudah puas dengan pencapaiannya yang lebih dikenal jago gocek dan nyekor di dunia entertainment dan percintaan.

Teringat juga pada Tim Kuda laut, yang akan mengikuti lomba sepakbola antar kampung. Tim yang sudah yakin kalah bahkan sebelum memainkan pertandingan pertamanya. Bukan apa-apa, melihat calon lawan yang superior dan terkenal suka membantai lawan. Saat pak lurah memberikan arahan bahwa pengiriman kontingen target Kuda laut ini hanya ikut meramaikan kompetisi saja ga enak kalau tidak ikut takut dikucilkan tetangga. Untuk para pemain disiapkan wejangan untuk menerima kekalahan dengan lapang dada bukan bagaimana meraih kemenangan dengan membara.

****

Gambaran di atas hampir-hampir sama dengan penyakit bola tingkat nasional kita. Mental tempe dan kurang pede para pemain begitu kentara dan nyata. Di momen krusial dan menentukan tiba-tiba jurus dan gocekannya memble, sampai seperti lupa cara bawa bola. Tendangan juga letoy. Padahal pada saat latihan dan uji coba mainnya spartan dan membanggakan. Ini bukan soal kemampuan kontrol bola yang minim, bukan pula miskin kemampuan dribbling. Ini kegagalan menerima tekanan. Ketidaksiapan menerima pengharapan masyarakat bola akan piala. Coba ingat sudah berapa kali kita kalah di laga super penting.

Juga pada saat bermain di level klub. Bermain ciamik membuat pemain dilirik, tidak hanya klub bola tapi juga klub penjual minuman peningkat stamina. Makin terkenal, profesi berubah jadi artis. Nama bersinar, mondar mandir di berita gosip TV dan kebintangannya merambah ke iklan. Tentu tidak ada yang salah menjadi bintang iklan. Toh mas Ronaldo dan Messi juga punya list panjang produk yang memajang foto mereka. Tapi mereka tidak pernah lupa profesinya dan tetap berprestasi dengan bola.

Seretnya prestasi dalam sejarah sepak bola nasional kita bukan gara-gara minus kemampuan mengolah si kulit bundar bukan pula kebebalan menerapkan strategi. Bakat alam pemain kita itu sudah diakui pelatih jempolan dari luar. Jeblok prestasi bola itu karena rapuh mental, hilangnya rasa lapar akan kemenangan, dan rasa cepat puas. Mentalitas itulah yang membuat kita tidak pernah mencapai prestasi tertinggi.