Lecturer
2 bulan lalu · 305 view · 4 menit baca · Politik 46682_39159.jpg
Medium

PSI seperti Nabi Daud yang Akan Kalahkan Raksasa Koruptor di DPR

Saya mendukung PSI dalam Pileg 2019 karena saya percaya PSI adalah jawaban terhadap kebutuhan membongkar korupsi yang sudah berurat berakar di DPR.

Dalam hal ini, saya melihat PSI sebagai Nabi Daud.

Kisah Daud (atau David) dan Jalut (atau Goliath) adalah kisah yang berasal dari kitab Al Quran dan Injil. Dalam versi Quran, Daud adalah anak muda dalam pasukan Raja Luth yang berperang melawan raksasa Jalut.

Raja Luth adalah pemimpin yang berasal dari kalangan petani, cerdas, lihai, dan menguasai strategi perang. Hanya saja, dalam pasukannya terdapat banyak pengkhianat yang oportunis.

Saat berhadapan dengan raksasa Jalut, Raja Luth mengizinkan Daud tampil. Daud diremehkan Jalut. Tetapi karena keberanian dan kecerdikannya, Daud bisa membunuh Jalut. Daud belakangan menjadi pemimpin bangsanya.

Buat saya, Raja Luth adalah Jokowi. PSI adalah Daud.

Raksasa Jalut? Dia adalah Koruptor berjamaah, Koruptor kolektif di DPR.

Perang melawan korupsi Indonesia sudah berjalan baik di tangan Jokowi dan KPK. Namun ada satu lembaga yang terus melakukan korupsi uang rakyat tanpa bisa tersentuh: DPR.

Saya tidak mengatakan orang-orang di DPR semua korup. Tetapi korupsi di DPR sudah tersistem, sudah terstruktur. Indikasinya banyak.

Dalam kasus eKTP, misalnya, uang korupsinya mencapai lebih dari Rp2,3 triliun. Sejauh ini, Setya Novanto sudah menyebut 10 nama anggota DPR yang juga menerima aliran dana. Nazaruddin bahkan menyebut semua ketua fraksi memperoleh uang eKTP.

Jadi, kalau 95% anggota DPRD Malang tertangkap tangan korupsi, jangan-jangan itu sekadar miniatur dari raksasa korupsi di DPR.


Korupsi berjamaah di DPR mengambil beragam bentuk. Banyak anggota DPR yang, walau sudah bergaji Rp50 juta per bulan, terus menghisap kekayaan rakyat dari setiap jengkal peluang di DPR.

Mereka menjadi kaya, misalnya, dengan seolah-olah melakukan perjalanan dinas, studi banding, kunker untuk keperluan rakyat, padahal untuk memperkaya diri.

Ini bisa terjadi karena mereka tidak perlu mempertanggungjawabkan pengeluaran dan kegiatannya kepada siapa pun. Sistem keuangan di DPR memang dikondisikan oleh anggota DPR menjadi seperti itu. Jadi mereka membuat sistem yang memungkinkan mereka mengeruk uang rakyat secara legal.

Badan Pemeriksa Keuangan pada 2017 menyatakan bahwa potensi kerugian negara yang diakibatkan ketidakjelasan pertanggungjawaban keuangan kunjungan kerja anggota tahun itu mencapai Rp945 miliar. Itu cuma dari anggaran kunker. Belum lagi yang lainnya.

Anggota DPR dapat aliran keuntungan dari segenap pengadaan barang, catering, peralatan kantor, perlengkapan rumah, serta pembangunan gedung DPR. Itu yang menjelaskan mengapa DPR dua tahun yang lalu ngotot sekali dengan pembangunan gedung yang baru yang memakan biaya Rp600 miliar.

Anggota DPR bisa menerima aliran uang ketika melakukan rancangan alokasi anggaran untuk pemerintah, karena mereka memiliki kekuasaan untuk menyetujui atau tidak menyetujui besaran, peruntukan, dan penggunaan anggaran.

Anggota DPR bisa mengeruk keuntungan dalam pembahasan undang-undang. Mereka bisa meminta uang sogok untuk pasal-pasal tertentu yang krusial bagi dunia bisnis. Anggota DPR bisa mengeruk keuntungan dalam pemilihan anggota lembaga negara non-pemerintah, yang menyangkut kepentingan bisnis.

Listnya bisa lebih panjang. Tetapi yang penting, DPR adalah seperti Raksasa Jalut yang setiap hari terus menghisap uang rakyat. Dan itu akan terus berlangsung karena partai-partai politik yang ada saling melindungi. Mereka adalah bagian dari raksasa korupsi itu.

Para anggota baru di partai lama yang idealis juga akan dengan segera bungkam. Orang-orang baik ini akan menghadapi para senior yang sudah menikmati dan tidak ingin kehilangan keuntungan berlimpah dari sistem korup tersebut. 

Maklumlah, sebuah data yang dimuat harian Kompas menunjukkan setiap anggota DPR bisa memperoleh pemasukan Rp5 miliar per tahun, padahal penghasilan resminya ‘cuma’ Rp600 juta per tahun.


Akhirnya mereka yang idealis akan diam, frustrasi, memilih keluar, turut terlibat atau setidaknya bekerja rutin biasa tanpa mengganggu sistem korup yang sudah kepalang berdiri kokoh.

Karena itu, bagi saya, kalau kita hendak bersama mengubah DPR dari lembaga yang korup menjadi DPR yang bersih, kita membutuhkan kekuatan baru yang bersedia merombak sistem korup ini dari dalam.

Dari semua opsi yang ada, PSI adalah pilihan terbaik.

Mereka datang tanpa cantelan apa pun dengan kekuatan politik atau kelompok masa lalu yang akan menanamkan nilai-nilai korupsi dalam diri mereka. Mereka putih bersih. Mereka bukan para ‘pencari kerja’.

Lihat orang-orangnya, masa lalunya, prestasinya, kualitasnya, dan lihat apa yang mereka lakukan sepanjang satu-dua tahun terakhir.

Mereka bukan cuma terdiri dari anak-anak muda, tetapi juga anak muda yang pintar, berintegritas, berprestasi, dan konsisten melawan korupsi. Mereka melawan korupsi bukan saja dengan iklan seperti yang dilakukan Partai Demokrat dulu .

Mereka men-judicial review UU MD3 yang akan menjadikan KPK tidak bisa dikritik dan dikontrol. Mereka menolak hak angket DPR ke KPK. Mereka menolak upaya DPR mengubah UU KPK yang akan melemahkan KPK. Mereka menyatakan bersedia disadap KPK.

Mereka bahkan mengajukan usulan perubahan PP yang akan mewajibkan setiap anggota DPR – termasuk mereka, kalau masuk – mempertanggungjawabkan pengeluaran uang dalam kunker dan perjalanan dinas lainnya.  

Lebih dari itu, mereka menawarkan aplikasi Solidaritas yang akan memaksa setiap anggota PSI untuk melaporkan kepada rakyat apa yang sedang mereka lakukan sebagai anggota DPR. 

Para anggota PSI bahkan harus menandatangani pakta yang menyatakan mereka bersedia ditarik dari DPR bila sampai ketahuan tidak bertanggung jawab atas penggunaan uang negara. Untuk pertama kalinya nanti, rakyat bisa mengontrol apa yang dilakukan para wakilnya.


Karena itu, saya percaya PSI akan menjadi Daud. Begitu PSI masuk ke DPR, saya yakin dalam waktu cepat akan terjadi gempa dalam DPR yang akan menelan para koruptor di DPR ke dalam bumi. PSI-lah yang nanti akan membuka mata dunia tentang kebusukan-kebusukan DPR melalui laporan langsung dari dalam DPR.

Kalau PSI lolos, kita akan bahagia memiliki Presiden Jokowi yang bekerja bersama anak-anak muda pintar, bersih, berintegritas, dan berani di DPR!

Saya dukung PSI untuk melawan raksasa korupsi di Indonesia.

Artikel Terkait