3 bulan lalu · 644 view · 3 min baca · Politik 52670_65696.jpg

PSI, Sebuah Politik Harapan

Sebulan sudah saya mengendapkan pengalaman kalah, menghadapi berbagai analisis dan data serta membuka telinga terhadap tanggapan para sahabat perjuangan. 

Entah harus sedih atau senang dengan perolehan suara PSI, itulah yang saya hadapi selama sebulan ke belakang. Sedih karena kami gagal mencapai 4% threshold nasional, tapi senang sebab kami dipercaya oleh 2% pemilih Indonesia, yang memilih kami dalam kesadaran penuh, bukan dalam buaian politik uang.

Namun masa-masa galau itu terlewati sudah. Karena kebetulan 17 Mei 2019 bukan hanya tepat sebulan dari 17 April 2019, hari di mana saya menerima kenyataan PSI gagal 4%, namun juga adalah tepat 2 tahun lalu, 17 Mei 2017, saya mengembalikan formulir keanggotaan dan resmi menjadi anggota PSI. 

Kenyataan sudah 2 tahun menggeluti politik membuat saya menarik diri lebih jauh, agar bisa memandang perjalanan ini dari awal sampai saat ini. Akhirnya saya sadari nyaris sebulan ini saya terlalu terfokus atas kegagalan satu hari, dan lupa akan manisnya perjuangan selama sekitar 700 hari lainnya.

Saya akhirnya ingat bagaimana awalnya jatuh hati pada PSI, bagaimana berjuang bersama relawan dan kader PSI, sampai akhirnya saya memutuskan mendaftar menjadi caleg pada gelombang pertama, lolos dan berjuang bersama ratusan bahkan ribuan caleg lainnya se Indonesia. 

Melihat evolusi saya di politik, dari simpatisan, relawan, kader, caleg, sampai saat ini menjadi juru bicara partai, membuat saya sadar akan semangat yang menggerakkan saya dari dalam, yang juga saya lihat menggerakkan 3 juta pemilih PSI di seluruh tanah air, yaitu harapan.


Saya selama sebulan ini bingung mengapa para pemilih saya tidak ada yang ngomel sama saya karena PSI gagal 4%. Mereka semua malah bilang, sudah bagus itu, keren, lanjutkan, dan kalimat positif pemberi semangat lainnya. Tidak satu pun memberi kalimat negatif. 

Sekarang saya sadar kenapa begitu, karena PSI adalah harapan. Harapan dalam kehidupan kita itu tidak perlu mewujud dalam sesuatu yang "besar". Ia hanya perlu mewujud atau ada. Itu saja sudah cukup untuk membuat Anda menjalani hidup dengan semangat. 

Saya ibaratkan PSI sebagai harapan adalah seperti cahaya lampu tidur. Ia tidak perlu terang dan terik seperti matahari. Yang penting ada cahaya, yang penting tidak gelap total, dan cahaya itu menenangkan serta menguatkan hati kita.

Begitulah PSI dilihat dari sisi mana pun adalah secercah cahaya harapan bagi bangsa Indonesia. Di tengah korupsi yang marak dan sampai membudaya di segala tingkatan serta lini kehidupan, PSI memberi harapan bahwa politisi bersih itu ada. Bahkan PSI memberi sistem agar para anggota legislatif yang terpilih dapat diawasi kebersihannya oleh publik. 

Di tengah intoleransi yang terjadi di berbagai belahan bumi Indonesia, yang situasinya diperkeruh oleh para politisi, PSI lagi-lagi menjadi harapan dengan partai yang inklusif serta para politisinya yang mengusung nilai meritokrasi. Lebih jauh lagi, PSI selalu terdepan saat ada gangguan terhadap toleransi, khususnya toleransi beragama dan berkepercayaan. 

Saat perdebatan politik menjadi murahan dan terkesan debat kusir, politisi PSI dalam setiap kesempatan selalu bicara berdasarkan data. Saya yakin ini menjadi harapan semua pemilih luar negeri yang ingin perdebatan politik di Indonesia seru seperti terjadi di negara tempat mereka tinggal saat ini.

Dua tahun lalu, saat Pak Ahok masuk penjara, saya juga kehilangan harapan. Saya lelah berharap pada orang lain dan memutuskan untuk menjadi harapan. Karena itulah saya masuk PSI. 


Jika dilihat dari sudut pandang itu, maka saya pikir saya sudah berhasil. Bersama semua yang ada di PSI, saya sudah membangkitkan harapan 2% pemilih di Indonesia. Sekitar 3 juta orang banyaknya kini memiliki harapan akan politik di Indonesia. 

Nyaris setiap hari di PSI, selama 2 tahun, saya mendengar pengakuan ini: dulunya saya golput, tapi sekarang saya pilih PSI; saya ngga pernah milih partai sebelumnya; sekarang saya pilih PSI; dan banyak lagi ungkapan serupa. 

Jadi, disadari ataupun tidak, sentimen positif terhadap politik sudah terbangun lewat PSI. Saya ibaratkan seperti orang yang tidak selera makan, karena melihat rupa-rupa serta warna-warni makanan, tapi rasanya hambar semua, kini jadi selera makan. Dan bagi beberapa orang, selera makan baru kali ini hadir dalam hidupnya.

Fenomena ini membalikkan semua logika atau ukuran kemenangan yang selama sebulan ini saya pikirkan. Jika selama sebulan saya merasa kalah dengan perolehan 2%, maka saat ini saya sangat bersyukur atas 2% yang berharga tersebut.

Saya tidak terbayang jika orang-orang yang telah terbangun harapannya karena mengenal PSI lalu membangkitkan harapan lebih banyak orang lagi. Saya membayangkan saat rakyat Indonesia terluka dan marah melihat berita korupsi dan intoleransi, misalnya, 3 juta rakyat bisa menanggapi dengan positif, "tenang, ada PSI."

Salam Solidaritas!

Artikel Terkait