2 bulan lalu · 806 view · 3 menit baca · Politik 74194_18827.jpg

PSI, Sakelar Perubahan Senayan

Semua orang bertanya-tanya mengenai politik. Di tahun politik ini, suasana makin hangat dengan ingar bingarnya gagasan-gagasan yang saling dilontar. Politik di Indonesia ini menjadi sebuah momen di mana orang-orang yang ada, khususnya para warga, menjadi orang yang berhak atas masa depan bangsa ini.

Setiap pemilu adalah sebuah momen di mana rakyat menjadi tuan atas tanah yang mereka injak. Mereka memilih pemimpin yang akan menjadi roda pergerakan.

Politik yang begitu meriah ini tentu tidak pernah lepas dari politisi dan rakyat. Politisi dan rakyat adalah dua elemen yang saling bergantung. 

Ketergantungan antara dua elemen, yakni politisi dan rakyat, benar-benar terjalin. Dalam negara yang berlandaskan Pancasila dengan sistem pemerintahan demokrasi, pemilu adalah sebuah momen yang ditunggu-tunggu.

Para politisi sekarang mulai masuk ke dalam arus. Banyak orang yang mempertontonkan kebolehan mereka. Gagasan-gagasan mereka juga dimunculkan. 

Para caleg dari berbagai dapil mulai turun gunung, mendekati rakyat. Mereka ini adalah politisi. Mayoritas para politisi, khususnya para caleg ini, mulai muncul mendekati pemilihan. Mereka ini adalah politisi jenis pertama, politisi yang “mendadak” jadi rakyat.

Akan tetapi, di dunia ini, tentu kita memiliki sebuah pandangan yang lebih optimistis; pandangan yang jauh lebih utuh bahwa politisi itu memang lahir dari rakyat. Politisi itu bukan seseorang yang jauh dari rakyat. 


Kita lihat bahwa peta perpolitikan di Indonesia sudah sangat berubah dari waktu ke waktu. Khususnya pada tahun 2014 silam, ada sosok yang diangkat oleh partai, lahir dari rakyat.

Keberadaan Jokowi dalam sejarah kepemimpinan Indonesia membuat mereka yang apolitis menjadi politis. Mereka mendadak melek politik. Arus perubahan sudah mulai nyala. Satu sosok itu adalah Joko Widodo. 

Dari sini, jiwa dan semangat berpolitik mulai muncul. Warga mulai antusias dengan perubahan yang ditawarkan dan dijalankan. Indonesia tidak seperti dulu lagi.

Dari sini, kedewasaan politik pun bertumbuh, melahirkan sebuah partai yang baru, partai segar dengan jiwa anak muda: PSI. 

Partai ini relatif masih muda. Partai ini belum besar. Namun pemikiran-pemikiran mereka besar. Mereka memiliki idealisme yang luar biasa. Memerangi penyakit yang sudah mendarah daging di partai lama, yakni korupsi, adalah tugas mereka. Mereka menjadi sakelar perubahan sejarah Senayan.

Melihat apa yang mereka kerjakan membuat kita makin bersemangat lagi. PSI adalah sebuah partai dengan semangat muda, yang memiliki idealisme yang tinggi. 


Melihat partai ini, tentu kita melihat sebuah arus perubahan. Perubahan macam apa? Banyak yang mereka tawarkan. Mereka partai yang memiliki mimpi yang besar. Mimpi-mimpi mereka dalam penghapusan diskriminasi, praktik korupsi, dan dukungan mereka terhadap kesetaraan gender menjadi nilai jual yang tidak bisa ditawar lagi.

Mereka ini merupakan sebuah saklar perubahan. Ruangan-ruangan DPR dan kantor-kantor di Senayan yang gelap, mulai diisi dengan potensi cerah. 

PSI ini menjadi sebuah partai yang tidak bisa dipandang sebelah mata. PSI adalah suluh di antara partai-partai lama yang merasa nyaman dengan apa yang mereka lakukan. Semua ini menjadi sebuah harapan-harapan, yang tentu tinggal kenangan jika tidak dikerjakan dengan baik. 

Rakyat harus melek terhadap perubahan ini. Potensi akan menjadi monumen jika rakyat tidak bersama-sama bergerak, mendukung partai yang begitu memiliki masa depan cerah.

Senayan akan berubah. Wajah Senayan akan tersenyum, melihat dan menerima tamu-tamu kehormatan, caleg yang terpilih dari PSI, partai yang penuh dengan semangat muda dan jiwa melawan korupsi. 

Mereka boleh muda, mereka boleh dianggap masih seumur jagung, tetapi jangan main-main terhadap apa yang mereka impikan. Mimpi atas cerahnya Senayan ada di pundak para caleg PSI.

Caleg-caleg PSI yang dengan berani tampil di depan televisi melawan para politisi tua yang mulutnya terkunci begitu rapat, karena beban masa lalu dan beban buruknya, rekam jejak DPR yang korup itu. Banyak sekali para anggota legislatif yang terhormat itu terjebak dengan setiap apa yang mereka lakukan.

Maka dukunglah Jokowi sebagai pemimpin yang siap mempertontonkan kekuatan atas melawan arus gerontokrasi. Selain memilih pemimpin, mari kita memilih wakil kita yang berpotensi juga. Jika kita berperang, jangan tanggung-tanggung. 


Saat ini kita harus sadar bahwa Jokowi terkunci juga dengan kinerja DPR-RI yang tidak produktif dalam membuat UU yang disepakati bersama. Kita berikan tanggung jawab itu kepada mereka yang muda, kepada mereka yang nasionalis, kepada mereka yang cekatan dalam melakukan ini dan itu.

Kader PSI adalah harapan kita bersama. Mereka ini berpotensi. Di dalam jiwa muda terdapat semangat muda. Sudah waktunya kita bersihkan dan menerangi Senayan. Jangan sampai politik gerontokrasi alias politik ketuaan mulai merongrong dan membuat dinding-dinging Senayan keropos.

Tentu besar harapan bagi kita melihat adanya perubahan. Sakelar itu adalah PSI. PSI berpotensi dan memiliki kemampuan untuk menerangi gelapnya Senayan.

Artikel Terkait