Kedirian PSI sudah makin gamblang. Tidak lagi seolah-olah, tetapi benar-benar menampilkan diri bukan sebagai anak manis yang gemar dimanja, apalagi partai munafik nan pengecut sebagaimana partai-partai tua maupun sesama pendatang baru.

Pidato Politik Ketua Umum-nya, Grace Natalie Louisa, jelas menampakkan itu. Berkali-kali, di tiap momen Festival 11-nya, Grace selalu sampaikan hal-hal yang nyaris tidak pernah dilakukan para pendahulunya.

Di hari lahir PSI yang ke-4, misalnya, Grace tegaskan bahwa kekayaan terbesar bangsa ini bukanlah bersumber dari tambang minyak dan batura, atau kekayaan alam lainnya, melainkan terletak pada anak-anak muda. Merekalah yang akan menentukan arah negeri ini ke depan – yang muda yang menangkan Indonesia.

Ditegaskan pula bagaimana ciri politik PSI di momen ini. Sembari membedakan dirinya dengan para genderuwo dan politisi sontoloyo, yang gemar menebar isu SARA dan hoaks, Grace yakinkan publik bahwa politik PSI adalah politik yang optimis, cerdas, dan kreatif; sebuah politik kegembiraan.

Dari Surabaya, gagasan optimistik itu berlanjut. Grace sampaikan bagaimana Abad Ketersinggungan harus orang lawan. Kondisi penuh amarah dan meluasnya hasutan, fitnah, serta ujaran kebencian adalah produk abad ini, hasil rekayasa para Entrepreneur Kebencian, yang tidak boleh dibiarkan menjalar. Bagi PSI, inilah ancaman terbesar bagi Persatuan Indonesia.

“Kita akan memulai perjuangan penting: mewujudkan Indonesia setara; negeri di mana semua orang – tanpa memandang suku dan agama – bisa hidup berdampingan, bekerja sama membangun Indonesia menjadi negara modern dan kuat; tanah tempat keadilan berlaku untuk semua.”

Dari Bandung, muara perlawanan PSI adalah menjernihkan eksistensi politik. Ia tak mau jika politik melulu berdiri di atas panggung kepalsuan dan kebohongan. Ia ingin agar politik kita, politik kaum muda, adalah politik akal sehat, bukan yang bernarasi fitnah dan prasangka sebagaimana dipertontonkan – yang diistilahkan – The Prabowo Show.

Meski agak klise, tetapi gagasan PSI itu tetap dan masih relevan. Kita tahu belaka, kebohongan yang terus-menerus, jika dibiarkan, lama-lama akan diterima sebagai sebuah kebenaran juga – a lie told once remains a lie, but a lie told a thousand times becomes the truth (Joseph Goebbels).

Dari Yogyakarta, kedirian PSI mengerucut ke arah perlawanan atas praktik intoleransi dan korupsi. Sebagai perjuangan pokok PSI, cara meredam yang PSI tawarkan adalah dengan melawan Nasionalis Gadungan.

Siapa Nasionalis Gadungan itu? Jelas Grace, adalah mereka yang mengaku nasionalis, tetapi ikut meloloskan perda-perda agama yang diskriminatif; bungkam dan diam seribu bahasa ketika ada seorang warga dipersekusi di depan publik; tak bernyali melawan penutupan hingga pembakaran rumah-rumah ibadah; gemar mencuri uang rakyat, rutin mengirim kader-kadernya ke KPK.

PSI percaya, ide Persatuan Indonesia dan Nasionalisme tidak akan pernah tercipta dengan hanya memodifikasi warisan kuno. Ia harus berdiri kokoh di atas kerja-kerja politik yang pernah Ahok contohkan, yakni BTP (Bersih, Transparan, dan Profesional). Ia tidak akan pernah mengurat-mengakar hanya dengan kerja politik yang intoleran maupun yang korup.

Takdir PSI

Kedirian PSI kembali ditunjukkan di Festival 11 Medan. Sebagaimana tajuk pidato politik Grace, ia yakinkan publik bahwa PSI benar-benar berbeda dengan partai-partai lainnya. Bahwa PSI bukanlah anak manis nan manja, apalagi partai munafik yang pengecut.

Narasi pidato tersebut memang bukan untuk cari aman. Tetapi tidak berarti pula bahwa mereka ingin mengundang keributan, terhadap oposisi maupun sesama partai koalisi sekalipun. PSI hanya ingin menunjukkan ke publik bahwa “beginilah adanya”.

Tentu saja banyak orang menyayangkan kenapa PSI harus menyerang partai-partai lama. Terhadap oposisi seperti Gerindra atau PKS mungkin masih mereka maklumi. Namanya lawan, maka wajar belaka jika harus begitu. Tetapi ketika serangan tertuju ke dalam, ke partai-partai tim koalisi pendukung Jokowi-Ma’ruf, tampak jelas bagaimana kegagalan paham itu nyaris berkelanjutan.

Di kolom-kolom komentar postingan media sosial PSI, berseliweran nada-nada gagal paham. Bunyinya kurang lebih begini: “Untuk apa ribut-ribut dengan teman sendiri? Bukankah lebih baik jika fokus saja ke agenda pemenangan Jokowi-Ma’ruf secara bersama? Mestinya, kan, saling dukung dan menguatkan, bukan saling sikut dan menjatuhkan?”

Benar bahwa posisi saling dukung dan menguatkan merupakan langkah bijak menuju Indonesia Menang. Tetapi bijak saja tidaklah cukup, terlebih sampai memaklumi perilaku-perilaku yang kenyataannya memang menyimpang.

Ingat, nikmat kemenangan yang tiada tara adalah meraihnya dengan melawan, bukan dengan bermanis-manis manja, apalagi bermunafik-ria dan menjadi pengecut. Dan PSI, saya kira, tidak butuh dan tidak ingin seperti itu.

Sudah, kata Grace, sudah cukup! Sudah bukan zamannya lagi untuk kita berdiam diri. Dan PSI hadir, berdiri sebagai sebuah partai politik, memberi contoh bagaimana kita harus menggugat – meminjam bahasa Grace – Tuan dan Puan yang sudah terlalu nyaman duduk dan lupa tugas-tugas politiknya.

“Sejarah telah menuliskan takdir: PSI akan menjadi PENGGANGGU kenyamanan partai-partai lama. Kita akan MENGGANGGU tidur siang panjang para politisi yang hanya bekerja lima tahun sekali!”

Ah, Grace dan PSI-nya betul-betul mewakili anak muda mendobrak kemapanan yang menyimpang. Meski terkesan menyerang, tetapi itulah bentuk perlawanan yang setidaknya PSI bisa lakukan. Daripada yang lain, terutama partai-partai tua? Mereka sudah tak berguna lagi. Sudah layaklah jadi makanan cacing.