Kebingungan Rakyat 

Kicau burung pun risau
Pada pagi yang tak membawa harapan apa - apa
Hanya ada duka
Tanpa ada kepastian
Pemangku kebijakan masih berceloteh tentang kebohongan
Sementara di pelosok negeri rakyat bingung untuk mencrai keadilan dan kesejahteraan
Seolah rakyat hanya punya dua pilihan "mati atau dimatikan"

Pilkada atau Pilkadal

Pilkada atau pilkadal
Pesta untuk para begawan politik
Mengobral janji untuk wong cilik
mengobral janji dengan bahasa suci
Mengobral citra dengan segudang atribut keagamaan
Betapa memuakkan melihat janji yang akan berakhir dengan dusta 

Pilkada atau pilkadal
Rakyat dapat apa dari pesta ini
Rakyat miskin tambah miskin
Sudah miskin kemudian dieksploitasi oleh oligarki
Sementara para begawan politik mendirikan panggung lalu berlagak peduli
Padahal diotak mereka rakyat tak lebih dari deretan angka statistik belaka 

Presiden, pulanglah ke pelukan rakyat 

Dapatkah kau menguntai harapan kembali
Setelah berulangkali kau lukai hati rakyat
Bukankah sikap dan kata tiada lagi berguna
Apakah kau menganggap hati yang patah akan membaik 

Setelah semua peristiwa yang terjadi
Apakah kau mampu membaca situasi
Perlahan kau menuju kehancuran
Perlahan kau terperosok ke dalam liang kemunafikan
Lantas , jika keadannya sudah begini beranikah kau bertanggungjawab

Sudahilah keangkuhan
Pulanglah ke pelukan rakyat
Disana kau akan menemui kesejatian 

Penguasa

Keadaan tenang
Halaman istana tetap tenang
Penguasa tertidur pulas
Para pemuja tetap saja culas
Mereka lupa
Mereka tidak waspada
Sayup - sayup terdengar suara rakyat
Perlahan tapi pasti suara tersebut semakin menguat
Suara tersebut saling sahut - menyahut
Suara tersebut akan menjadi isyarat perubahan
Jalanan akan bergemuruh
Penguasa yang tak tau diri akan runtuh 

Tuhan, I Love You

Hujan pun tiba
Pada setiap butir air yang jatuh tersirat makna
Ada doa
Ada harapan
Ada hukuman 

Tuhan
Bolehkan aku meminta pengampunanMu
Pada malam ini izinkan aku menikmati rahmatMu
Hawa dingin yang tak biasa merasuk ke dalam tubuh lemah ku ini 

Tuhan
kau sungguh sayang padaku
Tuhan
I love you 

Padangsidimpuan; Tanah Kelahiranku 

Padangsidimpuan
Akhirnya kita sampai pada kisah ini
Sebuah kisah dari tuhan tentang keagungan dan kekerdilan
Sebuah kisah tentang tawadlu dan takabbur
Sebuah kisah tentang bisik sepi di hati manusia
Ada kepercayaan dan keraguan
Ada rindu dan cinta
Ada yang melupakan dan terlupakan
Ada yang terbongkar dan hancur tiada rupa .
.
Padangsidimpuan
Tegarlah , keadaan akan membaik
Luka yang menganga akan segera sembuh
Setiap hati yang lara akan berangsur membaik
Tetapi kau dan aku harus berjanji setia untuk selalu rendah hati dalam menanggapi realitas
.
.
Padangsidimpuan
Aku rindu
Temuilah aku dijalan yang paling sunyi
Di jalan itu aku persembahkan segala cinta dan rindu
Di jalan itu biarlah aku memelukmu
Di jalan itu biarlah aku yang melindungi mu .
.
Padangsidimpuan
Bangunlah
Mentari pagi akan segera menampakkan diri
Kau dan aku harus segera memanggul harapan dan luka
Tetapi percayalah keadaan pasti membaik
Akan ku pegang tangan mu sampai senja tiba dan malam kembali datang .

Manisku 

Manisku
Aku menulis puisi untuk mu
Pada pagi buta dan mentari masih bersembunyi dibalik harapan - harapan
Aku ingin kau mendengar dan menatap mata ku
Agar setiap kata yang terucap akan menjadi rindu
Dan setiap emosi pada setiap kata akan menjelma menjadi cinta .

Manisku
Tahukah kau bahwa aku hanya seorang pejalan sunyi
Yang menapak pada semesta tuhan yang tak bertepi
Lalu , perlahan aku bertemu dengan mu pada suatu ruang dan waktu .

Manisku
Tahukah kau bahwa aku hanya seorang fakir ilmu
Yang menikmati setiap firman tuhan yang ku baca melalui dirimu dan diriku
Yang memaknai setiap momentum kehidupan yang tuhan gariskan padaku .

Manisku
Maafkan aku , jika pada suatu saat kau hanya menemukan kata "melawan" dalam setiap lembar hidupku
Maafkan aku , jika pada suatu saat kau melihat ku di jalanan sedang mengutuk kedzaliman
Maafkan aku , jika pada suatu saat aku tidak mampu memenuhi semua keinginan mu .

Manisku
Maukah kau memaafkan diriku
Sembari memberi senyum mesra pada setiap saat aku membuka mata

Seutas Rindu Untuk Sjahrir 

Bung , sebentar lagi pagi menjelang
Suasana sunyi sebentar lagi akan berlalu
Hiruk pikuk dunia akan segera dimulai kembali
Dan suasananya masih tetap membosankan
Bung , jika boleh jujur hanya kerinduan padamu yang membuatku tetap membara .
Aku rindu aforisme darimu .
.
Bung , aku masih sama . Aku masih setia menemani generasi
Sembari terus membaca diri
Seperti mu dulu yang selalu setia menemani anak anak muda gelisah
Melihat mu seperti itu, aku sering curiga kalau kau menolak untuk dikatakan tua dan rapuh .
.
Bung , sebentar lagi mentari tiba
Jika ada waktu mampirlah sejenak ke mimpi ku
Agar kita bisa berbincang dan menertawakan kekonyolan kita berdua 

Pagi yang sunyi

Pagi
Mengapa begitu sunyi
Hanya ada sapuan angin
Membuat suasana hati larut dalam keheningan
Kerinduan belum juga sirna
Dan puisi - puisi cinta masih terus berkisah tentang kesetiaan .
.
Sebentar lagi mentari akan tiba
Namun , pagi masih terus berkisah tentang kesunyian Apakah mentari membawa kisah selain harapan
Seperti kisah kelam tentang hati yang memar dan jeritan penindasan
Sementara sepasang kekasih masih berpelukan
Berusaha untuk memecah keheningan
Hingga senja datang
Dan pagi kembali tiba.