Covid ini benar-benar ada, walaupun tidak terlihat secara kasat mata, tapi benar-benar nyata. Virus ini semakin sulit terdeteksi keberadaannya, seiring dengan semakin meningkatnya kasus positif di tanah air.  Bahkan sekarang tingkat penyebarannya pun lebih cepat dan makin luas.  Korbannya semakin banyak dan tidak pilih-pilih. Mulai dari orang yang tidak paham, sampai dengan orang yang benar-benar paham prokes, sudah mulai berjatuhan. Walaupun mempunyai kesadaran prokes yang tinggi, tetap saja bisa kecolongan. Ada saja momen-momen yang membuat seseorang lalai, dan memberi peluang sang virus menyerang.

Rasa kehilangan yang begitu dalam baru saja saya alami dengan berpulangnya salah seorang keluarga dekat karena Covid. Saya mengenal almarhum sebagai seseorang yang sangat disiplin dan taat prokes. Rajin menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak dengan orang lain, dan sudah membatasi kegiatan-kegiatan di luar rumah. Aktivitas beliau di akhir hayatnya memang cukup banyak berinteraksi dengan kerabat dan tetangga. Beliau menunjukkan gejala setelah menerima kunjungan kerabat dari luar kota, dan mengikuti kegiatan pengajian di lingkungan.

Beliau tinggal di suatu daerah pedesaan di Jawa Timur. Laiknya daerah-daerah pedesaan di Indonesia lainnya, masyarakatnya guyub dan senang berkumpul. Mereka paham ada pandemi, tapi tradisi acara-acara seperti arisan, pengajian, tahlilan, bahkan hajatan masih tetap berjalan. Tradisi tersebut ditambah lagi dengan eratnya hubungan antar keluarga, kerabat dan tetangga, yang masih melumrahkan kunjungan persaudaraan satu sama lain.  Sekalipun momen lebaran sudah berlalu, momen-momen lain bisa dimunculkan setiap saat. Sedikit ada celah, sedikit ada kesempatan, mobilitas kunjungan persaudaraan tak terhindarkan. Dan dari semua momen-momen itu selalu ada kalimat pembenaran, "yang penting menerapkan prokes".

Saya sendiri merasakan sulitnya menjelaskan kepada orang tua saya, bahwa prokes saja tidak cukup. Mereka yang juga tinggal di daerah dengan tradisi-tradisi tersebut, membuat saya merasa  kuatir. Usia lanjut dan komorbid yang mereka miliki sebenarnya membuat mereka sangat rentan akan virus. Tapi saya perhatikan kegiatan-kegiatan sosialita di lingkungan masih tetap berjalan, walaupun sudah cukup banyak berkurang. Mereka mengandalkan prokes dalam setiap kesempatan. Dalam kekuatiran saya, bagaimana bila mereka lalai atau orang lain yang abai. Apakah prokes bisa menjamin mereka aman satu sama lain?

Terkait dengan kunjungan persaudaraan, di satu kesempatan orang tua saya pernah bercerita. Mereka merasa senang tapi juga merasa kuatir, ketika menerima kunjungan mendadak kerabat kami dari Jakarta. Tamu tersebut mengunjungi orang tua saya, setelah mereka berkeliling mengunjungi keluarga-keluarga yang lain. Hal itu terdengar begitu mengerikan bagi saya, bagaimana bisa dalam situasi seperti ini orang masih tidak paham dengan prokes. Saya saja sebagai anaknya harus berpikir ulang dua puluh kali untuk mudik dengan aman. Memastikan tidak membawa virus yang membahayakan orang tua dan keluarga saya. Minimal melakukan test antigen, berusaha tidak mampir-mampir, menerapkan prokes ketat selama perjalanan, dan upaya-upaya lain agar semua aman terkendali.

Ada rasa  jengkel dan kesal mendengarnya,  tapi juga speechless ketika sampai pada titik argumen "masak tamu datang jauh-jauh ditolak". Pasti menjadi dilema yang sangat besar untuk menerima atau menolak tamu dalam kondisi seperti ini. Di satu sisi mereka senang diperhatikan dan dihormati sebagai orang tua. Tapi di sisi lain ada bahaya virus mengintai dari setiap tamu yang datang. Sampai saya minta orang tua saya untuk menutup pintu rumah saat lebaran kemarin.  Saya melarang mereka menerima tamu yang datang tanpa konfirmasi. Himbauan itupun terasa tidak berpengaruh, karena rasa "ewuh pakewuh" menolak tamu. Dan Akhirnya tamu tetap datang satu persatu setelah lebaran.

Mungkin terdengar terlalu frontal bila saya mengusulkan untuk merubah tradisi. Tapi sebenarnya tidak terlalu berlebihan, karena saat ini di perkotaan orang-orang pun sudah mulai terbiasa merubah gaya hidup. Mereka mengandalkan komunikasi virtual sebagai pengganti pertemuan tatap muka. Mengurangi mobilitas, kebiasaan nongkrong dan kumpul-kumpul dengan berbagai pembatasan dari pemerintah (walaupun masih banyak juga yang melanggar).  Mereka menyukai olah raga di tempat- tempat terbuka, hingga harga sepeda menjadi begitu mahal. Dan menyukai tanaman hias hingga harganya melambung tak masuk akal. Mereka mengembangkan hobi dengan melakukan berbagai aktivitas yang menyenangkan di dalam rumah.

Komputer dan  gadget  menjadi andalan dalam berkomunikasi. Mulai dari anak TK hingga mahasiswa semuanya belajar secara online. Orang-orang kantoran bekerja dengan sistem WFH dan WFO secara bergiliran.  Kaum sosialita masih tetap bisa eksis dengan fasilitas zoom, google meet atau aplikasi lainnya untuk berbagai pertemuan. Perubahan gaya hidup ini bertujuan untuk mengurangi penyebaran Covid, walaupun saat ini tetap saja tidak efektif. Hanya mampu mengurangi laju peningkatan, tanpa mampu menahan atau bahkan mengurangi kasus positifnya.

Lantas bagaimana dengan kehidupan di daerah-daerah pedesaan yang identik dengan berbagai tradisi kebersamaan. Bila hal itu masih tetap berlangsung barangkali masyarakat hanya tinggal menunggu waktu, karena merubah tradisi tidak semudah itu. Revolusi industri empat poin kosong, lima poin kosong atau bahkan mungkin enam poin kosong, sungguh jauh dari pemikiran mereka yang begitu sederhana. Handphone dan internet masih menjadi barang "wah" bagi sebagian masyarakat kita. Walaupun mampu memiliki handphone, jangankan zoom atau google meet, menggunakan video call saja mereka masih kesulitan. 

Bagaimana dengan upaya edukasi? Mungkin ini solusi yang terbaik. Dibutuhkan kesungguhan aparat daerah untuk mengedukasi dan  mengawasi secara ketat kegiatan warganya. Termasuk mengantisipasi munculnya para pendatang di daerahnya. Upaya angin-anginan hanya akan membuat masyarakat kehilangan role model dan berpikir  Covid sudah pergi. RT, RW, Kelurahan, Kecamatan dan perangkat desa lainnya serta pemerintah daerah harus bersatu.  Berlakukan aturan tanpa pandang bulu, satu dilarang hajatan semua dilarang hajatan. Sehingga tidak akan muncul cluster arisan, pengajian, tahlilan, hajatan dan cluster-cluster besar lainnya, yang berkontribusi pada menggelembungnya angka kasus Covid secara nasional. Berlakukan sanksi sosial dengan efek jera bagi mereka yang bandel, tidak mau mengikuti aturan.

Apakah hal itu mampu menyelesaikan masalah? Manusia hanya mampu berikhtiar, paling tidak sudah ada usaha nyata ke arah sana.  Menerapkan prokes menjadi keharusan. Yang awalnya 3M menjadi 6M, memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, mengurangi mobilitas. Dan yang ke-6 dengan banyak versi, seperti menjaga pola makan sehat dan istirahat cukup, atau membaca doa dan bermunajat, dan yang terbaru menghindari makan bersama. Tidak menutup kemungkinan nanti akan muncul 7M atau bahkan 10M untuk memudahkan masyarakat mengingat prokes dalam keseharian.

Dan sekali lagi, prokes saja tidaklah cukup. Kita perlu merubah gaya hidup, merubah tradisi, merubah "sedikit" fitrah manusia sebagai makhluk sosial. Berkorban sebentar untuk tidak kumpul-kumpul dan berkerumun, demi kebaikan yang berdampak lebih besar bagi bangsa dan negara. Apapun itu adalah bentuk upaya kita agar pandemi ini segera berakhir. Dan semoga pandemi ini segera berakhir...semoga. (IkS)