2 tahun lalu · 413 view · 3 menit baca · Politik download_1_7.jpg
Foto: YouTube

Proteksi Maskulin dalam Sistem Internasional

Ulasan Film “The Whistleblower”

Paradigma feminis masih belum populer dalam studi Hubungan Internasional (HI) di Indonesia. Hal ini mungkin karena tidak banyaknya akademisi HI yang menaruh perhatian dalam isu gender dan perempuan. Akibatnya, persoalan gender dan perempuan lebih banyak diketahui dari kasus-kasus perdagangan manusia (human trafficking) daripada dipahami dari sudut pandang feminis.

Salah satu konsep yang digunakan feminis dalam membedah kasus perdagangan manusia, khususnya perempuan adalah proteksi maskulin. Logika ini pada dasarnya diasumsikan oleh laki-laki yang menganggap diri sebagai pemegang peran proteksi. Hal ini kemudian menempatkan pihak di bawah perlindungannya, yaitu perempuan dan anak-anak, sebagai subordinat (Iris Marion Young, 2003).

Proteksi maskulin secara sadar berusaha menguasai perempuan secara seksual. Hal ini merupakan bentuk gratifikasi dan keuntungan atas dominasi yang mereka miliki. Untuk tetap mendapatkan keuntungan spesifik tersebut, laki-laki membangun ikatan persaudaraan dengan mengecualikan perempuan. Mereka mengganggu perempuan untuk mempertahankan pengecualian tersebut dan menjaga superioritasnya (Catharine MacKinnon, 1987; Larry May, 1998).

Lantas bagaimana proteksi maskulin ini bisa mendominasi interaksi negara-negara pada sistem internasional? Hal ini dapat dijelaskan melalui tiga gradasi bertahap yang dimulai dari keluarga, negara, kemudian sistem internasional. Ketiga tahapan ini dapat dengan mudah kita pahami dalam film The Whistleblower (2010).

Film ini diangkat dari kisah nyata Kathryn Bolkovac (Rachel Weisz) yang bekerja untuk perusahaan militer yang dikontrak PBB di Bosnia. Pekerjaan yang semula ia anggap sebagai peruntungan untuk menambah pemasukan finansial ternyata justru memaksanya melibatkan rasa kemanusiaan dan emosi. Ia mendapati banyak perempuan muda menjadi penyintas akibat perdagangan seksual pasca perang saudara Balkan.

Kondisi tersebut tidak lepas dari afirmasi akan proteksi maskulin yang ada di keluarga. Hal ini terlihat dari perkataan pengurus selter Zenica ketika Kathryn datang berkunjung. Ia mengatakan, “Banyaknya anggota keluarga lelaki yang meninggal saat perang telah mendorong maraknya perdagangan seksual.”

Pernyataan tersebut menunjukkan bagaimana proteksi maskulin telah menanamkan rasa subordinasi dalam diri perempuan di tingkat keluarga. Mereka dibuat bergantung sepenuhnya pada perlindungan dari anggota keluarga laki-laki. Ternyata, keberadaan anggota keluarga laki-laki tidak selalu menjamin keselamatan perempuan itu sendiri.

Banyaknya kasus perdagangan seksual di Bosnia justru melibatkan anggota keluarga laki-laki. Besarnya rasa kepercayaan perempuan sering kali disalahgunakan oleh anggota keluarga laki-laki. Kondisi inilah yang menimpa Raya (Roxana Condurache) yang dibohongi dan dijual oleh pamannya sendiri.

Pada adegan di mana Kathryn menangani kasus kekerasan rumah tangga (KDRT) yang menimpa perempuan muslim Bosnia misalnya, kekerasan yang dilakukan suami akan terus berulang tanpa adanya ganjaran hukum. Salah satu penyebabnya adalah pengabaian dari kepolisian lokal yang menganggap KDRT sebagai hal biasa. Para korban KDRT akhirnya cenderung kembali ke suami mereka setelah sembuh secara fisik.

Kepolisian lokal yang kebanyakan beretnis Kroasia tidak hanya melakukan pengabaian, tapi juga berpartisipasi sebagai broker dalam perdagangan seksual. Mereka menangkap perempuan-perempuan muda untuk dijadikan budak seksual. Selain menjajakan kepada tentara-tentara asing yang bertugas sebagai penjaga perdamaian di Bosnia, mereka turut memanfaatkan para perempuan tersebut untuk kepuasan mereka sendiri.

Terkait hal ini, film garapan Larysa Kondracki ini mulai menyinggung proteksi maskulin pada tingkat negara. Pada dasarnya, proteksi maskulin mendorong negara untuk mengasumsikan diri sebagai pemegang peran protektif (Iris Marion Young, 2003).

Negara menggunakan tanggung jawab tersebut untuk memaksakan kepatuhan pada warganya. Kepatuhan ini dibentuk melalui aturan-aturan dan pengawasan ketat oleh para penegak hukum seperti polisi ataupun institusi militer. Dengan kata lain, negara menempatkan diri sebagai pihak dominan dan warga negara sebagai pihak subordinat.

Kita perlu tahu, perang saudara Bosnia tidak hanya mewariskan krisis administrasi dan ekonomi, tapi juga kekerasan seksual yang terjadi secara sistematis yang dilakukan oleh unit reguler dan paramiliter.

Di tengah besarnya sentimen etnisitas di Bosnia, kekerasan seksual dilakukan secara sporadis dan frekuentatif untuk mengukur besaran skema politis. Karena itulah kekerasan seksual di Bosnia telah menjadi senjata yang ampuh selama perang (Inger Skjelsbæk, 2012).

Proteksi maskulin tidak bergeming dalam tataran negara. Logika ini merangkak masuk dalam interaksi negara-negara pada tingkat sistem internasional. Pasalnya, proteksi maskulin mengandaikan adanya bahaya dari luar sehingga mendorong negara untuk berwajah ganda.

Secara internal, negara menunjukkan wajah kontrol kepada warga negara yang berada di bawah perlindungannya. Sedangkan eksternal, ia berwajah defensif ketika berhadapan pada ancaman dan bahaya yang datang dari luar.

Dalam hal ini, The Whistleblower memperlihatkan bagaimana organisasi internasional sekelas PBB bersikap defensif terhadap isu perdagangan seksual yang melibatkan kontraktor militernya. Bagaimanapun, upaya Kathryn yang mengungkap suara para penyintas dapat membahayakan PBB secara institusional. Karena itulah, berbagai cara digunakan untuk menyingkirkan Kathryn dari departemen gender yang ia kelola.

Meski demikian, film berdurasi 1 jam 52 menit ini berakhir dramatis. Dengan bantuan Madeleine Rees (Vanessa Redgrave) dan Peter Ward (David Strathairn), Kathryn membawa sejumlah bukti-bukti resmi kekerasan seksual Bosnia untuk disebarkan melalui BBC News.

Kathryn mungkin dipecat dan sulit mendapatkan pekerjaan di organisasi internasional serupa. Ia pun tak bisa mengubah sistem internasional karena PBB ternyata masih memperpanjang kerja sama dengan kontraktor yang sama, seperti Democra Security. Tetapi, Kathryn telah berhasil menegaskan bahwa perempuan bisa menjadi pribadi yang ikut berpengaruh dalam hubungan transnasional.