Mencermati berbagai program infotainment yang ada di televisi dewasa ini, agaknya membuat hati kita semakin miris dan perihatin. Perasaan miris dan prihatin dilatarbelakangi karena begitu banyaknya tayangan tv tersebut kini lebih condong dan mengumbar sisi sensualitas, glamour dan hedonis. 

Porsi tayangan yang memuat nilai-nilai pendidikan berupa moral dan akhlak seolah terkubur oleh berita gosip dari dunia selebritas. Kelahiran program infotainment ditengarai bak cendawan di musim hujan, tersebar di hampir seluruh stasiun tv. 

Munculnya acara infotainment yang seyogianya menjadi sebuah pilihan alternatif untuk relaksasi diri dengan berita-berita yang ringan dan segar, tapi kini mulai berpindah haluan menjadi sebuah tayangan yang diproyeksikan untuk menguak privasi kehidupan seseorang sedalam-dalamnya dan cenderung berbau ghibah serta beraroma gosip.

Hal itu tentunya melahirkan ekses-psikologis yang begitu besar di dalam kehidupan dan membentuk dan menyeret pola pikir (mind set) masyarakat sehingga semakin jauh dari nilai-nilai religiusitas. Orang akan semakin beranggapan bahwa memperbicangkan dan mempergunjingkan kehidupan orang lain seakan menjadi absah dan dipandang sebagai kelaziman.

Racun Infotainment Bagi Anak

Sudah menjadi rahasia umum, jika tayangan televisi kini tidak hanya ditengarai sebagai tontonan semata. Melainkan telah menjadi tuntunan dalam hidup dan kehidupan masyarakat di lingkungan sekitar kita. Salah kaprah dunia pertelevisian kini melahirkan generasi-generasi instan dan bermental kepo serta lemah iman.

Fenomena demikian tentunya terlepas disadari atau tidak diam-diam telah menyeret kehidupan menjadi semakin gersang dari siraman-siraman ruhani, sehingga pada gilirannya menandakan sense of religious kita semakin pudar dan luntur. 

Hal tersebut juga membuktikan tesis yang disinyalir oleh Rose Poole (1991) sebagai sebuah gejala masyarakat modern adalah masyarakat yang sakit (baca: kosong spiritual) kian menjadi kenyataan.

Kondisi ini semakin diperparah lagi oleh suguhan infotainment yang tak mengenal waktu. Setiap stasiun tv seolah berlomba untuk menyajikan programnya sedini mungkin. Bila perlu selepas adzan subuh bergema, tayangan itu sudah hadir di layar kaca dan disaksikan oleh jutaan mata manusia. 

Hal ini tentunya menjadi keprihatian yang mendalam bagi kita semua. Terutama jika kita memandang dari segi pendidikan dan moral, tayangan tv tersebut telah membawa pengaruh yang tidak baik bagi kehidupan masyarakat terutama bagi anak-anak.

Permasalahan ini tentunya bukan tidak disadari oleh insaninsan pertelevisian dan masyarakat pada umumnya. Namun, berulang kali semua itu harus luluh dan mengalah karena desakan dan dorongan ekonomi dan bisnis. Cengkraman dan dorongan kapitalisme yang begitu besar dan tengah menjalar ke berbagai sendi kehidupan seakan tidak mampu diredam meskipun itu terlahir dari keprihatian dunia pendidikan.

Secara mendasar, dampak acara infotainment yang hadir tak mengenal waktu ternyata berakibat fatal bagi pendidikan dan kehidupan anak-anak. Betapa tidak, sejak dini sang anak sudah dihadapkan sebuah tontonan yang kurang layak dan tidak ‘bergizi’. 

Alhasil, apa yang telah dilihat akan sangat mempengaruhi tingkah-laku kehidupan sang anak sehari-hari. Menurut penelitian, masa-masa keemasan anak (golden age of child) dewasa ini lebih besar menyerap dan mencerna acaraacara infotainment ketimbang pendidikan dan moral yang diajarkan guru di bangku sekolah.

Kehidupan anak menjadi tidak seimbang. Masa-masa yang seyogianya diperuntukkan meretas wawasan keilmuan dalam dunia pendidikan seakan telah disumbat oleh tayangantayangan yang mengajarkan kekinian dan kedisinian yang cenderung destruktif secara moral dan akhlak. 

Lambat-laun, kehidupan sang anak kelak menjadi suram dan tentunya menjadi kerugian tersendiri bagi dunia pendidikan kita dan akan semakin melempem dan mundur di tengah jaman yang terus melaju.

Respon Orangtua

Menanggapi hal ini, maka tidak ada jalan lain kecuali pengawasan dan bimbingan orang tua kiranya menjadi kunci terakhir terhadap permasalahan ini. Bimbingan yang intensif dan pengawasan yang kontinyu menjadi peredam untuk dapat mengarahkan masa keemasan anak agar tidak terlewatkan dengan sia-sia, di tengah gempuran tayangan tv yang sama sekali tidak bergizi.

Allah SWT melalui Alquran sejatinya telah memberikan pedoman untuk senantiasa menyaring berbagai informasi yang ada, termasuk dari tayangan televisi. Secara tersirat ini termaktub di dalam surat Al-Hujurat ayat 6 disebutkan 

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum, tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." [al-Hujurat:6].

Ayat di atas seyogianya menjadi landasan teologis bagi para orang tua untuk merespons dengan cepat dengan cara memfilterisasi tontonan anak agar terhindar dari racun di balik infotainment. 

Syaikh Muhammad Ali Ash-Shabuni menjelaskan bahwa ayat di atas adalah suatu keharusan akan pengecekan suatu berita, dan juga keharaman akan berpegang kepada berita orang-orang yang fasik yang banyak menimbulkan bahaya.

Ala kulli hal, menjadi orang tua responsif merupakan tugas dan bentuk tanggung jawab terhadap tumbuh kembang anak. Jangan sampai generasi Islam kelak mewarisi racunracun infotainment karena ketidaksadaran dari para orang tua. Jika tidak, jangankan untuk membangun peradaban di masa mendatang yang gemilang, yang ada pun perlahan tapi pasti jatuh dan tersungkur ke lembah jahiliyah dan nista. Naudzubillah min dzalik.