Saudara Hartoyo melayangkan kritik terhadap artikel yang saya tulis di Qureta mengenai kasus prostitusi online yang menghebohkan publik. Menurutnya, artikel yang saya tulis mengandung cara pandang yang seksis dan misoginis. 

Sebagai bukti, saudara Hartoyo mengemukakan sejumlah alasan, yakni 1) artikel memuat nama asli sang artis dan tidak menggunakan inisial, termasuk juga artikel menampilkan gambar sang artis. 2) Artikel terlalu berfokus pada diri sang artis padahal kalaupun benar ia terlibat dalam dunia prostitusi maka itu bukanlah tindakan kriminal. 3) Artikel tidak fokus pada “pengguna” yang menurutnya lebih punya kuasa dan lebih menitikberatkan pada sang artis.

Pertama, saya mengapresiasi kritik yang dilayangkan pada tulisan saya. Terlebih lagi mencermati latar belakang saudara Hartoyo yang merupakan aktivis. Sehingga tentunya saudara Hartoyo memiliki pengalaman yang lebih soal bagaimana menuliskan reportase yang sifatnya tidak mengandung cara pandang yang seksis dan misoginis. 

Jujur, ketika menulis, saya sendiri tidak bermaksud untuk “menghakimi” sang artis dan menyatakan bahwa tindakannya tergolong kriminal. Tetapi saya paham bahwa kultur seksis dan misoginis bisa saja menyusup dengan halus sehingga tanpa sadar memengaruhi cara saya dalam menarasikan tulisan.

Dalam hal ini, saya sangat mengapresiasi kritik saudara Hartoyo bahwa saya—dan kita semua—harus terus membangun refleksi terus-menerus mengenai posisi dan cara-cara berpikir kita. Kritik dari pihak lain tentunya sangat berguna dalam proses refleksi tersebut agar kita tidak terjatuh dalam aktivitas yang sebenarnya keliru, termasuk dalam hal melakukan aktivitas yang masuk dalam kategori seksis dan misoginis tanpa kita sadari (misal menyebut nama asli dan melampirkan gambar sang artis yang dikatakan saudara Hartoyo merupakan ciri narasi seksis, misoginis, atau machoisme).

Kedua, perlu ditegaskan bahwa artikel tersebut tidak memberikan konklusi yang judgemental terhadap sang artis (bahwa itu tergolong perbuatan kriminal atau amoral misalnya). Tetapi artikel tersebut berupaya membaca kasus tersebut dalam konteks yang lebih besar bahwa distingsi (pembedaan) merupakan satu realitas yang tidak terpisahkan dalam dunia manusia, termasuk dalam ranah prostitusi.  

Realitas tersebut mengafirmasi tesis Bourideu tentang distingsi. Ranah prostitusi ternyata tidaklah "tunggal”, tetapi berbasis kelas-kelas tertentu. Pemaparan mengenai “tarif” dan “kategori kelas artis” yang didasarkan pada argumen Moamar Emka adalah bagian dari data yang penting untuk menunjukkan distingsi tersebut. Tentunya distingsi tersebut dihasilkan dari sistem pembedaan tertentu yang dalam hal ini berbasis ketenaran sang artis.

Ketiga, soal kritik tidak “fokusnya” artikel menyoroti “pengguna/pelanggan” tetapi lebih kepada artis. Sebenarnya dalam artikel juga sudah coba disoroti mengenai “sang pelanggan”. 

Saya setuju dengan saudara Hartoyo bahwa ia (sang pelanggan) juga memiliki “hasrat” tersendiri untuk mengafirmasi kekuasaannya. Dikatakan dalam artikel saya menjelaskan berdasar logika Bourdieu bahwa seorang “pelanggan”—dalam konteks prostitusi artis—mencoba untuk membangun pengakuan atas dirinya. Ketika ia mampu menjalin hubungan dengan kalangan artis, sangat mungkin "pengalamannya" ini ia jadikan untuk pamer di hadapan teman-teman terdekatnya.

Ibaratnya, saya jelaskan dalam artikel tersebut dengan lagu Project Pop tentang “kemustahilan” orang biasa memiliki pacar seorang artis. Ketika seorang mampu “menembus kemustahilan” tersebut, ia sebenarnya sedang membuktikan pada orang di sekelilingnya bahwa ia adalah “bukan orang biasa”. 

Di sini secara tidak langsung dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa dalam konteks relasi “pelanggan” dan “artis” terjadi obyektivikasi. Di mana hubungan "pelanggan" dan sang artis lebih kepada upaya untuk mengafirmasi ke-aku-an dirinya (sang pelanggan). Dengan kata lain, sang artis dipandang sebagai “objek” belaka demi mencapai tujuan tertentu (yakni akumulasi kapital simbolik/pengakuan bagi sang pelanggan).

Keempat, analisis Bourdieu yang saya gunakan memang memberi ruang besar pada gerak agensi (aktor). Penggunaan lensa Bourdieu yang lebih menekankan pada analisis atas gerak agensi itulah yang mungkin dibaca dalam perspektif saudara Hartoyo sebagai terkesan menghakimi sang artis. 

Saya mengakui bahwa saya sedikit banyak memang lebih menyoroti bagaimana artis dan pelanggan—berbasis pespektif agensi—yang berupaya untuk saling “mengakumulasi kapital” pada sebuah ranah (dunia prostitusi). Tetapi memang kita bisa juga dapat melihat eksistensi ranah tersebut (dunia prostitusi) secara lebih struktural. Artinya, ranah tersebut tidaklah “netral” begitu saja, tetapi ada berbagai rule yang sebenarnya sudah memerangkap sang wanita sejak awal ketika ia masuk dalam dunia keartisan.

Kapitalisme dengan logika konsumerismenya, misal, memaksa sang artis untuk hidup “mewah” (dalam istilah Laclau Mouffe, seorang artis ditempatkan pada satu lokasi tertentu dan tidak diperkenankan terjadi dislokasi) sehingga ia dijerat untuk mempertahankan gaya hidupnya tersebut. Padahal, jika ingin mempertahankan gaya hidupnya tersebut, ia membutuhkan modal yang tidak sedikit. Di sinilah ia rentan terjerat dalam dunia prostitusi. Bukan murni karena kehendaknya sendiri, tetapi karena tuntutan kapitalisme. 

Dalam logika struktural semacam ini, saya sepakat bahwa ruang gerak agensi (dalam hal ini sang artis) untuk menentukan posisi dirinya sendiri terbatas dan dia terepresi oleh struktur kuasa yang besar yang melingkupi dirinya. Dalam perspektif ini, kita bisa meraba-raba posisi pelanggan yang sangat mungkin lebih berkuasa dari si artis. 

Misal, dalam kasus VA, menurut media, sang pengusaha adalah pengusaha yang notebene memiliki kapital ekonomi besar (Tempo: 2019; Liputan 6: 2019). Dengan kapital yang besar dan diuntungkan oleh struktur kuasa kapitalisme yang menjebak sang wanita tersebut, sang “pelanggan” dengan mudah dapat mengekspoitasi tubuh sang artis tersebut demi “hasrat” akumulasi kapitalnya.

Kelima, saya sepakat dengan saudara Hartoyo bahwa dalam kasus VA, pemberitaan media secara umum memang lebih berupaya mengungkap siapa VA, sementara nama, inisial, bahkan tadinya dari latar belakang apa si “pelanggan” tidak terdeteksi oleh media, barulah muncul informasi bahwa sang pelanggan berasal dari kalangan pengusaha. 

Tetapi sampai tulisan ini ditulis tidak muncul inisial atau nama terang dari sang “pelanggan”. Saya sepakat, seharusnya jika ingin “fair”, maka sang “pelanggan” juga harus diekspose ke publik, tidak hanya pihak perempuan saja yang disoroti habis-habisan. 

Jika kembali mengacu pada analisis yang lebih struktural misalnya, realitas ini mengafirmasi bahwa posisi artis dalam ranah prostitusi lebih “lemah” dibandingkan “sang pelanggan”. Karena ketika terungkap ke publik, ternyata sang artis lebih potensial menjadi sorotan publik dan media dibanding si “pelanggan”.

Sebagai penutup, saya kembali mengucapkan terima kasih pada saudara Hartoyo. Saya setuju dengan dirinya bahwa segala bentuk diskriminasi termasuk seksisme dan misoginisme harus ditolak. Terima kasih telah mengingatkan saya untuk lebih berhati-hati dalam menulis agar tidak terjatuh dalam perangkap misoginisme, seksisme, atau bentuk diskriminasi lainnya. 

Selain pula saudara Hartoyo mengingatkan saya bahwa dalam menulis mesti sensitif dalam menggunakan lensa teoritik tertentu dalam kasus-kasus yang sensitif agar tidak terkesan menyudutkan atau menghakimi seseorang. Terima kasih, Bung Hartoyo.