2 tahun lalu · 85 view · 2 min baca menit baca · Gaya Hidup gambar_0.jpg
Foto: news.liputan6.com

Prostitusi dalam Berbagai Wajah

Menilik kembali sejarah prostitusi di pelosok dunia, kita tidak bisa melepaskan begitu saja sebuah kisah di zaman Yunani Kuno. Mengutip cerita sejarah majalah Historia, dikenal dengan nama Hetairai, pelacur Athena. Selain cantik, mereka harus berpengatahuan luas dan mahir bermain musik.

Mereka menjadi teman para pembesar Yunani. Selain cantik dan berpengetahuan luas tentu saja memunyai posisi yang tinggi di kalangan pejabat Yunani masa itu. Kemudian sejarah prostitusi di Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari kekuasaan zaman Raja-Raja yang menguasai tanah Jawa. Sebut saja para Sultan di tanah Jawa, seperti Sultan Cirebon, Kasunanan Solo dan Jogjakarta.

Para Raja yang mempunyai kekuasaan absolut ini begitu mudahnya mendapatkan selir yang membuat status kekuasaan semakin meluas. Status social yang meningkat juga diperoleh para selir yang berasal dari berbagai kota di zaman itu.

Bagaimana di zaman sekarang yang serba teknologi? Seiring perubahan zaman dengan berbagai latar tuntutan, dunia prostitusi pelan-pelan mulai berubah mengikuti pasar yang ada. Kita bisa lihat hampir di setiap kota besar dan juga kota kecil ada rumah bordil yang terkelola secara tradisonal bahkan bisa pada tingkat level modern.

Sebut saja Sarkem di Jogja, atau sunan Kuning di Semarang. Tempat ini menjadi semacam lokalisasi bagi para penikmat tubuh wanita. Dan di lokalisasi ini transaksi sex terjadi. Di era yang serba mobile, wajah prostitusi negeri ini pun mengikuti perkembangannya. Tampilan-tampian wajah menggoda menghiasi layar dengan berbagai tawaran yang terang-terangan.

Permintaan adanya prostitusi terus mengalir sehingga menjadi semakin jelas adanya demand and supply. Nah akhir-akhir ini ada dorongan yang meminta bahwa lokalisasi di daerah tertentu ditutup. Penulis menduga permasalahannya bukan terkait dengan penutupan. Selama masih ada market dunia prostitusi tetap akan ada. Walaupun harus berganti wajah.

Ibarat sel, prostitusi ini selalu membelah diri berganti baju, wajah, tampilan bahkan yang tidak tersentuh oleh banyak orang. Alias “undercover”. Nah yang undercover inilah antara isi dan tampilan luarnya berbeda. Contohnya jasa “therapy massage”. Penulis tidak menggenelarisir jasa “therapy massage” seperti yang digambarkan padau umumnya. Tentu ada jasa terapi ini yang profesional.

Mereka memang betul betul dilatih untuk belajar me-“massage”. Bicara fakta harus diakui bahwa ada jasa therapi yang orang-orangnya “nyambi” menjual diri. Entah ini diketahui (oleh manajemen hotel), sengaja di organisir atau memang dibiarkan begitu saja.

Seperti yang penulis ketahui di kota Batam. Kita tahu Batam merupakan sebuah kota industry yang maju. Berbagai latar belakang orang hilir mudik datang di kota yang sangat dekat dengan Singapura. Hotel tumbuh menjamur di kota ini. Dari yang kecil tidak berbintang sampai hotel besar berbintang. Di hotel tempat penulis pernah menginap jasa therapy massage ini beroperasi. Penulis menduga, jasa therapy ini tidak saja di hotel ini.

Hotel lain pun bisa juga menawarkan jasa therapy yang sama. Berawal dari pijat therapy ini transaksi seks bisa terjadi. Dan penulis sendiri sempat melakukan interview dengan salah satunya. Umumnya mereka para terapis ini, tidak mau mengakui nama aslinya. Dan tidak semua yang di komunikasikan atau disampaikan mungkin benar adanya. Entah sudah menjadi aturannya, atau memang kemauan sendiri.

Penulis rasa hal seperti ini sudah jamak terjadi. Mereka hanya mau disebut sesuai no angka saja. Mereka katanya juga mendapatkan gaji. Nah apabila gaji dirasa kurang, maka layanan plus-plus lah yang bisa menambah pendapatkan mereka. Penulis rasa hal ini sudah bukan lagi rahasia umum. Layanan plus pun bisa macam-macam, tarif pun menyesuaikan.

Artikel Terkait