“ Orang harus menyadari wanita bukanlah soal pelacur atau keperawanan, aku ingin melihat wanita dipandang sebagai benar-benar manusia. “

~ Kate Beckinsale ~

Perkataan dari Kate Beckinsale tersebut menekankan bahwasanya betapa berharganya perempuan sebagai seorang manusia. Namun, acapkali yang terjadi ialah bahwa perempuan diperlakukan layaknya seorang pelacur yang selalu ditindas dan sebagai objek nafsu birahi dari lelaki. Hal ini tak bisa dimungkiri dalam kehidupan dewasa ini. 

Bahkan sejak sediakala, perempuan selalu diberikan tempat nomor dua setelah lelaki. Bukan hanya sebagai nomor dua yang mendampingi, melainkan sebagai nomor dua yang dicaci dan diperlakukan tak manusiawi. 

Perempuan juga manusia, demikianlah yang ingin diutarakan secara gamblang oleh Kate Beckinsale, mengingat banyaknya terjadi fenomena reduksi kemanusiaan bagi perempuan itu sendiri. Melalui perkataan dari Kate tersebut tentu kita selintas mengingat tentang adanya prostitusi yang kian menjamur dan menggurita.

Setali tiga uang dengan Kate Beckinsale, di masa pandemi COVID-19 ini semakin marak prostitusi anak perempuan yang tersebar dalam masyarakat. Namun permasalahan sosial yang kami bahas saat ini merupakan permasalahan yang baru, yakni peran para mucikari dalam prostitusi online anak-anakPermasalahan ini semacam jasa prostitusi online, dimana para korban menawarkan diri di media sosial. 

Tawaran ini bisa ditentukan dengan tarif yang tinggi maupun tarif yang rendah. Hal yang menjadi masalah adalah ketika para mucikari mempekerjakan anak-anak perempuan untuk dijadikan Pekerja Seks Komersial (PSK). Pada tulisan kali ini penulis membahas sebuah perdebatan semakin maraknya kasus prostitusi yang menjadi sumber ladang bisnis menjanjikan juga sebagai bentuk reduksi kemanusiaan harkat dan martabat anak perempuan.

Gurita Prostitusi di Masa Pandemi

Terdapat beberapa faktor pendorong terjadinya prostitusi anak yang kian menggurita yakni kondisi ekonomi yang semakin mencekik, perekonomian kebijakan pembangunan yang semakin berat, perpindahan penduduk dari desa ke kota, ketidaksetaraan jender dan praktik diskriminasi, tanggung jawab seorang anak untuk membantu keluarga, pergeseran perkonomian subsistem ke ekonomi berbasis pembayaran tunai, disintegrasi keluarga, peningkatan konsumerisme, pertumbuhan jumlah anak jalanan. 

Selain itu juga terdapat beberap faktor lainnya seperti halnya tak ada kesempatan pendidikan, tak ada kesempatan kerja yang memadai, penegakan hukum yang kurang, diskiminasi etnis minoritas, meninggalnya pencari nafkah keluarga sehingga anak terpaksa masuk ke perdagangan seks.

Faktor yang sangat mempengaruhi lainnya dalam hal sosial kultural ialah bahwa terdapat lingkungan tempat tinggal anak perempuan yang kurang positif, arus westernisasi yakni pengaruh seks bebas dalam berhubungan seksual, penggunaan media sosial serta media komunikasi dan informasi yang semakin bebas dan marak untuk mengakses segala hal. Hal-hal tersebut menjadi akar kuat atas bertumbuhnya dan semakin menyebarnya kasus prostitusi anak yang semakin menggurita. 

Sekalipun demikian, dalam benak mereka masih memiliki rasa takut akan dosa atas perbuatan yang mereka lakukan. Namun situasi serta kondisi yang menghimpit membuat mereka terpaksa untuk melakukan tindakan prostitusi dan bahkan dipaksa untuk menjadi pekerja seks untuk memuaskan nafsu orang lain dan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan keluarganya.

Prostitusi sebagai Ladang Bisnis

Berdasarkan penyelidikan dari kumparan.com ditemukan bahwa terdapat adanya perputaran uang pada bisnis prostitusi di Indonesia. Berdasarkan data tersebut ditemukan bahwa tarif PSK online yakni Rp 500.000-Rp 15 Juta berdasarkan pengakuan pengguna dan Rp 1 Juta-Rp 2,5 Juta reportase dari kumparan.com. Pendapatan PSK per bulan yakni Rp 11 Juta-16 Juta dan Omzet per bulan yakni Rp 32 triliun. 

Tak hanya itu berdasarkan data dari Global Black Market yakni sekitar mencapai USD 186 miliar atau Rp 2.641 triliun per tahun apabila di kurs kan dalam Rp 14.200. Hal ini lebih besar dari anggaran belanja negara Republik Indonesia sepanjang 2019, yakni Rp 2.461 triliun.

Angka yang disajikan berdasarkan data tersebut mencerminkan betapa menjanjikannya bisnis prostitusi yang sering ditemukan dalam masyarakat. Penghasilan yang didapatkan juga tidak tanggung-tanggung untuk satu orang saja. 

Bahkan dalam kurun waktu satu tahun bisa mencapai triliunan rupiah hingga melampaui anggaran belanja negara yang ditujukan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Berdasarkan hal tersebut tentu prostitusi sangat menggiurkan untuk dijadikan sebagai ladang bisnis, baik dari mucikari maupun pekerja seksnya. Hal tersebut tentu akan mendorong perekonomian mereka sehingga mereka tidak dihimpit kesulitan ekonomi karena pandemi. 

Namun sekali lagi, prostitusi yang semakin marak di masa pandemi dan ditujukan kepada anak-anak perempuan tetaplah tidak dibenarkan meskipun memberikan kemudahan bagi perekonomian. 

Prostitusi bagaimanapun bentuknya berdasarkan perkembangan zaman tetaplah menjadi bagian dari upaya pereduksian harkat dan martabat manusia. Pada kali ini dan banyak kasus lainnya sering ditujukan kepada anak-anak dan perempuan.

Prostitusi sebagai Reduksi Humanis

Pelbagai fenomena serta kasus prostitusi kian menggurita di masa pandemi ini. Prostitusi yang sering terjadi ditujukan bagi anak-anak perempuan di Indonesia. Naasnya, hal tersebut tak lagi dipandang sebagai krisis kemanusiaan ataupun pelanggaran harkat serta martabat moral manusia. 

Prostitusi dianggap sebagai suatu hal yang banal. Alih-alih mendukung kemajuan perekonomian, prostitusi malah semakin merendahkan dan mereduksi kemanusiaan. Prostitusi dipandang sebagai ladang bisnis yang menjanjikan, yang memberikan banyak sekali keuntungan, dengan usaha yang ringan, yakni dengan mekangkang selangkangan (melebarkan paha)

Fenomena serta kasus prostitusi tentu sangat meresahkan masyarakat, terlebih lagi apabila yang menjadi obyek seksual sebagai pemuas hasrat, yakni anak-anak perempuan usia dini yang masih sangat awam, dalam memahami arti dari sebuah hubungan seksual. 

Prostitusi merupakan bentuk dari reduksi kemanusiaan bagi manusia, secara khusus sering dialami oleh para perempuan Indonesia, yang terjun ke dalamnya.

Oleh sebab itulah, sangat perlu untuk menanamkan nilai-nilai humanis dalam diri setiap manusia, yakni sebuah nilai yang bebas dari setiap daya dan kondisi yang menghambat tumbuh kembang para perempuan. 

Sebagian besar masyarakat memandang rendah dan hina bagi para pekerja seks tersebut. Hal ini dikarenakan sangat bertentangan dengan eksistensi manusia yang lahir sebagai manusia yang bersih dan suci. 

Pelacuran atau prostitusi akan sangat memberikan penderitaan bagi para pelaku dan orang lain yang berada di sekitar lingkaran tersebut. 

Perlu adanya sebuah usaha yang cukup keras untuk dapat memberikan pengarahan dan penyuluhan bagi para anak perempuan yang telah jatuh dalam dunia bisnis prostitusi. Sebab prostitusi merupakan tindakan yang merusak dan mereduksi humanitas manusia secara khusus perempuan.