Tulisan ini sebenarnya berangkat dari pengalaman penelitian lapangan yang saya lakukan beberapa waktu yang lalu, tepatnya di Solo, tentang proyeksi deradikalisasi agama dengan melibatkan diri secara langsung bersama tokoh dan ormas Islam yang selama ini dianggap memiliki ide-ide dan serangkaian gerakan radikal.

Saya berkesempatan dialog langsung dengan mereka, membahas seputar isu radikalisme yang menghasilkan beberapa pandangan yang menurut saya cukup mengejutkan dan dalam beberapa hal mengharuskan kita untuk merevisi anggapan yang selama ini disematkan kepada mereka.

Yani Usmanto, beliau adalah Panglima Laskar Hizbullah Solo. Dalam kesempatan yang cukup terbatas, kami melakukan dialog dengan beliau tentang fenomena radikalisme di Indonesia dan upaya-upaya yang dilakukan untuk menanggulangi gerakan Islam radikal yang dianggap berbahaya bagi ideologi negara.

Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa mereka yang selama ini dianggap radikal dan konservatif (dalam hal ini Laskar Hizbullah), ternyata memiliki pandangan keagamaan yang sangat moderat, plural dan sikap nasionalisme yang tinggi.

Menurut Usmanto, yang namanya radikalisme itu tidak ada, yang ada adalah cara memahami agama dan bagaimana melaksanakan pemahaman agama. Misalnya pemahaman itu berangkat dari al-Quran dan Sunnah, lalu menimbulkan suatu tindakan, tentu saja ada perbedaan pandangan yang mengarah pada cocok tidaknya antara pemahaman dan tindakan tersebut.

Dalam hal ini, Usmanto lalu menunjuk tentang masalah miras. Menurutnya, miras telah dilarang secara tegas dalam al-Quran, tetapi lalu ada pendapat yang berbeda-beda dalam menyikapi masalah itu, misalnya miras tidak selalu memabukkan (dalam porsi sedikit), itu artinya ada pembatasan-pembatasan sehingga seseorang tidak sampai mabuk.

Tetapi bagi Usmanto, persoalannya bukan pada memabukkan atau tidak, tapi sudah sedari awal ada larangan dari agama. Sehingga miras harus ditolak secara tegas agar tidak meracuni generasi muda.

Bahkan dalam konteks permasalahan yang seperti ini, kita sudah dianggap radikal dan tidak mau bernegosiasi, begitu ucap Usmanto. Baginya, ini bukan soal berbahaya bagi tubuh atau tidak, seperti makan daging babi misalnya, tetapi ini memang sudah dikonfirmasi dalam al-Quran. Jadi, Usmanto sangat keberatan jika kelompok mereka disebut radikal hanya karena menolak keras hal-hal semacam itu.

Namun demikian, suka atau tidak, istilah radikalisme sudah terlanjur ada dan menjadi kata kunci dalam ilmu-ilmu sosial untuk menjelaskan serangkaian gerakan atau paham yang militan dalam politik, dalam beragama dan sikap ekstrem yang menginginkan suatu perubahan yang besar dan pembaharuan bagi tertanamnya nilai-nilai Islam dalam kehidupan sosial dan politik.

Laskar Hizbullah memang cukup militan. Mereka memiliki garis batas dalam memahami dan menjalankan syariat Islam, tetapi mereka tidak tertarik dalam hal isu-isu seputar khilafah apalagi menginginkan mendirikan negara Islam. Tetapi pada saat yang sama, mereka begitu getol dalam memperjuangkan aspirasi Islam, memproyeksikan cara pandang Islam secara tegas dalam kehidupan sosial, tapi dengan sikap nasionalisme yang tinggi dan penuh rasa hormat terhadap keyakinan agama lain.

Prinsip mereka hanya satu, berjuang atas nama Islam dengan menghapus semua kezaliman, kemaksiatan, korupsi, dan pada saat yang sama menjunjung tinggi nasionalisme dan cinta tanah air. Pandangan ini bukan omong kosong. Mereka sekurang-kurangnya telah membuktikan dalam beberapa aksi bela negara.

Misalnya, keikutsertaan Laskar Hizbullah dalam konflik di Ambon tahun 1999-2000 silam. Ketika itu RSM ingin merdeka dan ternyata ada suplai sejata dari Amerika. Di tengah-tengah konflik itu, kelompok Hizbullah berjuang dan berperang membela tanah air.

Masalah di Ambon bukanlah konflik agama, tetapi lebih merupakan konflik politik, karena RSM menginginkan kemerdekaannya. Bukan hanya Hizbullah, tetapi Laskar Jihad juga terlibat dalam konflik itu. Mereka berjuang atas nama nasionalisme.

Menurut Usmanto, kelompoknya justru dituduh radikal hanya karena melawan Amerika. Lalu siapa yang disebut nasionalis dalam masalah ini?

Bagi Usmanto, dalam Islam sudah diajarkan tentang sikap nasionalis dan cinta tanah air. Jadi jangan sekali-sekali bicara nasionalis ketika Papua ingin merdeka kita diam, Minahasa ingin merdeka didiamkan saja, bahkan kita siap berangkat dan berjuang membela NKRI di wilayah-wilayah yang menginginkan kemerdekannya, apalagi mereka juga meminta bantuan dari luar negeri, seperti Amerika dan sekutu-sekutunya, begitu ungkap Usmanto.

Orang-orang yang merongrong NKRI inilah yang lebih pantas disebut radikal. Selain itu, sebenarnya Usmanto juga memiliki pandangan tentang radikalisme. Baginya, radikal adalah seseorang yang mengerjakan apa yang diyakininya sebagai sesuatu yang ada tuntunannya.

Tapi pandangan tentang radikal secara umum adalah mereka yang melakukan tindakan atas nama agama tetapi tindakan itu dilakukan dengan cara-cara kekerasan, Usmanto sangat menentang tindakan semacam ini dan justru ia menilai Islam radikal itu sebenarnya tidak ada, yang ada adalah kelompok-kelompok militan yang salah kaprah memahami agama dan selalu membenturkan antara pemahaman agama dan negara.

Tidak bisa dipungkiri bahwa perkembangan gerakan Islam radikal sebenarnya makin hari makin besar. Menurut Usmanto, faktornya cuma satu, yakni semakin banyak orang mulai belajar al-Quran, karena dengan mempelajari al-Qur’an seseorang menjadi makin mengerti bagaimana menjadi seorang muslim yang baik dan menghormati negara.

Melalui cara ini, sikap nasionalisme kelompok Laskar Hizbullah dibangun. Ketika NKRI sedang dalam ancaman yang berbahaya atau diserang, maka Hizbullah siap perang. Jadi, menurut Usmanto, seorang muslim itu harus berjiwa nasionalis dan terbuka.

Narasi di atas menunjukkan bahwa betapa konsep radikalisme yang selama ini kita pahami berbeda secara tegas dengan apa yang mereka pahami tentang radikal. Dalam beberapa hal mungkin mereka cukup radikal dalam beragama, tetapi mereka tidak menempatkan istilah radikalisme itu pada tataran gerakan militansi politik atas nama Islam (agama), justru melalui Islam mereka menemukan momentum dalam memaknai nasionalisme dan cinta tanah air secara substansial.

Sejak terjadi demonstrasi besar-besaran tentang fenomena penistaan agama di Jakarta tahun lalu, gerakan Islam radikal mulai bergeser dari fenomena pinggiran menjadi gerakan poros tengah yang cukup dipertimbangkan. Isu keislaman mulai menjadi sensitif untuk dibicarakan.

Usmanto mengungkapkan kebangkitan kaum radikal menemukan momentumnya saat terjadi demonstrasi waktu itu, ketika orang mulai belajar lagi tentang al-Quran dan pola-pola hidup secara lebih Islami. Tetapi, sekali lagi, ini bukan bentuk radikalisme dalam arti yang membahayakan ideologi negara dan NKRI.

Usmanto justru melihat, isu radikal itu sebenarnya jangan hanya dilihat dalam konteks Islam atau gerakan keagamaan semata. Radikal dalam arti menjalani hidup dengan nilai-nilai Islam, semakin menekuni kitab suci al-Quran, itu adalah tindakan sangat baik.

Tindakan-tindakan kejahatan seperti korupsi dan kemaksiatan juga merupakan tindakan yang perlu diberi perhatian serius. Baginya, negara ini menjadi berbahaya justru ketika praktik-praktik kotor terus-menerus dilakukan oleh para pemimpin yang tidak bertanggung jawab.

Dalam mengatasi masalah pelik tentang isu agama, terorisme, ekstremisme ataupun radikalisme, adalah peran pemerintah yang paling penting. Karena pemerintahlah yang menjaga hukum.

Jika ada sekelompok Islamis yang memiliki pandangan dan tindakan yang berbahaya, memberontak, makar, maka mereka perlu ditumpas. Dalam arti inilah sebenarnya kelompok Laskar Hizbullah memaknai bentuk gerakan radikalisme yang sesungguhnya. Mereka telah sepakat bahwa siapapun, jika ia melanggar hukum negara, maka wajid dihukum seadil-adilnya.

Menurut mereka (Huzbullah), di negara ini sudah ada Majelis Ulama yang mewakili segenap umat Islam di Indonesia. Majelis Ulama dapat menginstruksikan kepada negara siapa-siapa dan kelompok mana saja yang dianggap teroris atau ekstrimis, lalu pemerintah melalui aparatusnya harus cepat sigap agar tidak terjadi kekacauan sosial atas nama agama.

Bagi Usmanto, deradikalisasi memang penting. Di samping itu program pemerintah, ia juga dapat menahan lajunya gerakan radikalisme Islam. Maksud pemerintah sangat bagus, yakni agar tidak ada bentuk radikalisme dalam konteks apapun yang tentunya membahayakan keutuhan negara.

Yang perlu dibenahi itu bukan orang-orang yang mempelajari al-Quran, tetapi yang dibenahi adalah adanya ketimpangan-ketimpangan umat Islam yang akhirnya jadi memberontak. Jadi, ada juga faktor di mana keadaan sosial dan kesenjangan ekonomi mempengaruhi lahirnya paham-paham yang keras dan bertentangan dengan asas-asas Islam secara universal, lebih-lebih negara.

Prinsipnya adalah pahami agama sesuai dengan konteksnya, sesuai dengan budaya masyarakatnya, dan tentu saja yang sesuai dengan dasar-dasar hukum yang ada di Indonesia. Jangan sampai pemahaman agama bertentangan dengan semua itu. Perbedaan pendapat pasti akan terjadi, tetapi jangan sampai itu akan melahirkan produk hukum baru di luar ketetapan negara.

Menurut Panglima divisi Hizbullah, deradikalisasi tidak hanya dimulai dari peran pemerintah dan Majelis Ulama. Misalnya ormas-ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah, juga berperan penting dalam menanamkan dan mendakwahkan Islam yang toleran.

Selain itu, juga yang paling penting adalah memperbaiki ketimpangan sosial dan kesenjangan ekonomi. Menurutnya, banyak kelompok garis keras yang rata-rata secara finansial miskin. Mereka memberontak karena faktor-faktor sosial. Jadi, jika di dunia sudah miskin, jangan sampai di akhirat juga miskin. Makanya mereka berjuang mati-matian atas nama agama.

Maka, jika ekonominya mapan, maka dakwahnya juga mapan. Kelompok radikalis ekstrem ini sering merasa ditekan. Makin ditekan, makin menjadi-jadi. Pelarangan terhadap gerakannya justru membuat mereka makin merasakan ketidakpuasan dan ketidakadilan.

Bagi kelompok Huzbullah, deradikalisasi itu bukan hanya soal memberantas gerakan ekstremis yang membahayakan NKRI. Ancaman keutuhan NKRI itu bisa datang dari mana saja. Misalnya dari negara asing, juga secara internal melalui maraknya kasus perjudian, korupsi yang merajalela, dan kemaksiatan juga merupakan ancaman bagi negara.

Hizbullah optimis bahwa kita semua sebagai bangsa yang besar mampu memberantas itu semua. Dalam materi-materi dakwahnya, Hizbullah juga pertama-tama menekankan pada prinsip nasionalisme dan memastikan kelompoknya taat kepada hukum negara (karena kita bukan negara Islam), selanjutnya baru mereka mendalami Islam berasaskan keindonesiaan.

Sikap taat hukum dan partisipasi mereka terhadap melawan tindak ekstremisme juga terlihat dari gerakan mereka. Sejak tahun 1998, tidak ada satupun kelompok mereka yang ditangkap, apalagi melakukan tindakan terorisme.

Mereka begitu menentang cara-cara beragama melalui kekerasan dan juga sangat menentang pendirian negara Islam. Jadi, melalui pemimpin-pemimpin yang baik, ormas-ormas Islam dapat taat hukum, karena semua itu seringkali berangkat dari sikap kegigihan seorang pemimpin dalam mengatur strategi gerakan organisasinya.

Prinsip amal ma’ruf nahi mungkar dalam Islam harus dilakukan dengan cara-cara yang santun dan bijaksana, tidak boleh melakukan tindakan kekerasan dalam bentuk apapun. Di samping melanggar hukum, itu semua juga melanggar hakikat Islam itu sendiri. Jadi, deradikalisasi dapat dilakukan melalui mediasi dakwah yang baik dan harus mengedepankan dialog jika terjadi perbedaan pandangan.

Keberhasilan program deradikalisasi juga bisa dilakukan melalui pendampingan. Dalam kajian-kajian dan majelis pengajian harus selalu didampingi, diingatkan dan diarahkan dengan memberikan penegasan bahwa cara-cara beragama tidak boleh bertentangan dengan hukum di Indonesia. Juga, ada pendampingan secara langsung dari pemerintah setempat dalam menyelenggarakan kajian keislaman tersebut.

Akhirnya, seluruh elemen masyarakat juga harus terlibat secara langsung dalam penanganan program deradikalisasi ini. Melalui pemerintah dan ormas-ormas keagamaan, kita semua dapat bahu-membahu dalam membendung segala bentuk ideologi yang bertentangan dan membahayakan keutuhan NKRI. Karena tidak ada yang lebih penting daripada menjaga stabilitas masyarakat dari ancaman-ancaman intoleransi, kekerasan atas nama agama, dan terorisme yang tidak ada satu agama pun yang dapat membenarkan tindakan itu.

Sumber

Wawancara Eksklusif dengan Ustaz Yani Sumanto, Panglima Laskar Hizbullah Solo, 11 Januari 2018.