Dalam beraktifitas sehari-hari, masyarakat tidak bisa lepas dari kesehatan jasmani yang menuntut selalu sehat agar kegiatan dapat berjalan dengan lancar. Kegiatan yang banyak menguras kesehatan fisik selalu berakhir dengan istirahat baik dipertengahan hari maupun saat pulang ke rumah.

Semakin hari kesehatan tubuh semakin diperlukan oleh masyarakat, terlebih padatnya lalu lintas, jarak kerja yang lumayan jauh membuat resiko kebugaran tubuh semakin dipertanyakan. Maka tidak heran ketika akhir pekan tiba, tempat hiburan, pusat-pusat perbelanjaan, tempat rekreasi dipadati pengungjung.

Itu semua bertujuan dalam rangka mengembalikan kebugaran tubuh untuk mempersiapkan aktifitas lima-enam hari ke depan. Meski terkadang tidak menemukan hari libur karena lain hal dari target pekerjaan. Seperti lembur, rapat mendadak, kunjungan kerja, dinas luar kota dll.

Namun idealnya kesehatan fisik harus mendapatkan perhatian penuh agar kita dapat beraktifitas kembali hari hari berikutnya dengan kesehatan fisik yang cukup prima.

Untuk mendapatkan kesehatan prima, kita dituntut mengecek kesehatan fisik ke klinik atau ke rumah sakit dengan peralataan dan pengobatan yang aman dari berbagai kandungan yang membahayakan tubuh.

Salasatunya, kehadiran rumah sakit syariah sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia. Terlebih Indonesia dengan mayoritas penduduk menganut agama Islam, dengan sendirinya membutuhkan pelayanan rumah sakit yang benar-benar sesuai prinsip syariah.

Agama Menjaga Kesehatan 

Islam adalah sistem hidup yang mengatur tata kehidupan masyarakat dari mulai bangun sampai tidur, dari mulai berangkat kerja sampe pulang kerja, dari mulai kesehatan fisik sampai kesehatan ruhani.

Agama mengatur semua lini kehidupan termasuk mengatur dan menjaga kesehatan badan agar tetap sehat ketika beraktifitas sehari-hari.

Menurut Asyathibi sebagaimana dikutip oleh Abuddin Nata dalam bukunya Studi Islam Konfrehensif (211: 102) bahwa tujuan ajaran Islam diarahkan untuk memelihara lima hal, yaitu memelihara agama (hifdz al-din), memelihara akal (hifdz al-aql), memelihara jiwa (hifdz an-nafs), memlihara harta (hifdz al-maal), dan memelihara keturunan (hifdz al-nasl).

Maka, ketika bekerja mencari rizki yang telah Tuhan perintahkan lewat kitab sucinya (Al-Jumu’ah ayat 10 salasatunya) setelah tiba waktunya istirahat, kita dipersilahkan menggunakan waktu tersebut untuk mengendorkan saraf-saraf yang tegang setelah seharian bekerja demi memenuhi tanggungjawab keluarga.

Disisi lain bukan tidak mungkin hidup di jaman penuh dengan persaingan hidup, kebutuhan hidup terus mengalami peningkatan maka kerja lembur tidak bisa ditawar lagi sebagai bentuk tanggugjawab yang harus segera dipenuhi dan diselesaikan menurut caranya masing-masing.

Meski demikian adanya dalam memenuhi kebutuhan hidup, tubuh tetaplah membutuhkan istirahat agar tidak jatuh sakit. Maka disinilah agama menganjurkan kepada kita semua untuk menjadikan malam sebagai pakaian dan siang untuk kehidupan (QS. Annaba:10-11).

Menurut Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar (2009), “Dan telah Kami jadikan siang untuk penghidupan.” (ayat 11). Setelah tadi malam beristirahat berlepas lelah, pagi-pagi badan dan jiwa menjadi segar. Setelah terasa segar mulailah bekerja dan bergiat lagi berjalan di atas bumi yang telah terbentang itu mencari perbekalan buat hidup, mencari rezeki, mencari makan dan minum.

Alhasil setelah seharian kerja, kita diperintahkan untuk istirahat dan tidak bekerja secara terus-menerus sampai melupakan hak tubuh. Hal itu bukanlah ajaran agama Islam yang seimbang antara kepentingan dunia dan akherat, melaikan sudah mendekatkan kita pada kelelahan dan keletihan yang bisa membuat kita jatuh sakit.

Kalau sudah jatuh sakit keras, maka kewajiban kita berikhtiar dengan berobat ke rumah sakit, yang menyediakan obat-obatan halal tanpa diragukan kehalalannya karena sudah disertifikasi oleh pihak MUI.

Dalam hal ini adalah rumah sakit syariah, yang melayani pasien dengan prinsip-prinsip syariah lengkap dengan segala peralatan medis yang betul-betul mendapat legalisasi dari pihak yang berwenang, agar pasien bisa tenang melakukan pengobatan di rumah syariah tersebut. 

Kebutuhan RS Syariah 

Indonesia sebagai negara berpenduduk terbanyak ke empat di dunia setelah China, India, dan Amerika Serikat. Disamping itu Indonesia juga sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, yaitu 87 % dari total penduduk Indonesia sekitar 256.000.000,-.

Ini artinya ada sekitar 224.000.000 penduduk Indonesia yang beragama Islam. Jumlah ummat Islam sebanyak itu, tentunya membutuhkan perhatian serius dari pemerintah mulai dari penyedian sarana umum seperti: mesjid, akses jalan, pendidikan, pasar, rumah sakit, keamanan dll sampai penyedian berupa produk hukum  seperti Bank Syariah, perumahaan syariah, rumah sakit syariah, BPJS syariah dll.

Secara de facto, dalam kehidupan sehari-hari masyarakat tidak bisa lepas dari akses ekonomi, pendidikan, tenaga kerja dan kesehatan. Kesehatan ini lah yang sekarang sedang menjadi tren kehidupan masyarakat urban termasuk kebutuhan rumah sakit syariah yang menyediakan dan melayani dengan prinsip-prinsip syariah.

Tengok saja beberapa tahun ke belakang pemerintah disibukan dengan BPJS yang status hukumnya belum jelas dan hal ini mendapat kritikan dari berbagai kalangan lantaran pemerintah tidak sekaligus memperjelas status hukumnya.

yang terlihat oleh para praktisi kesehatan, pemerintah seperti membuat fasilitas kesehatan asal jadi saja tanpa memikir panjang akan kehalalannya. Ini membuktikan bahwa fasilitas kesehatan BPJS sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Begitupun dengan rumah sakit syariah, baru-baru ini diwacakan oleh berbagai kalangan dan media.  Salasatu media cetak yang mewacanakan rumah sakit syariah seperti Refublika pada kolom Khazanah 29/8 mengatakan: sampai sekarang, rumah sakit syariah di Indonesia baru ada dua, yakni RS Sultan Agung Semarang dan RS Nurhidayah Bantul.

Saat ini sudah banyak RS Islam di Indonesia. Hanya saja, dari sekian banyak rumah sakit Islam , masih sedikit yang sesuai dengan syariah Islam. Baik dari segi manajemen maupun pelayanannya.

Menurut Rifaldi Majid, sekretaris eksekutif Majlis Upaya Kesehatan Seluruh Indonesia, seperti dilansir Refublika 29/8 mengatakan bahwa “Rumah Sakit Syariah sangat prospektif ke depannya seiring dengan bertambahnya pendudukan Indonesia yang mayoritas Muslim.

Terlebih masyarakat Muslim semakin menyadari pentingnya gaya hidup halal yang telah mendapat dukungan dari Pemerintah lewat undang-undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (UU JPH).

Semoga RS Syariah ke depan tidak berhenti hanya dalam wacana, melainkan dapat hadir ke tengah-tengah masyarakat yang dinamis sebagai jawaban atas perkembangan pengetahuan dan teknologi  yang memberi kemudahan kepada manusia sebagai bukti bahwa Islam adalah agama yang sejalan dengan kehidupan manusia diberbagai lintas kehidupan pada jamannya.