… berdasar Al Qur’an dan Hadis.

Bismillahirrahmannirrahim.

Pembaca yang budiman,

Sejalan kebutuhan untuk memikat umat Muslim agar selalu tertarik memahami ‘ilm (ilmu), guna berpengetahuan dan berperilaku yang menebar manfaat bagi sesama manusia serta memuliakan alam lingkungan seisi bumi agar tetap lestari, maka merupakan hal yang menarik untuk segera disusun panduan praktis sebagai piranti yang mengajarkan ilmu pengetahuan berdasar nilai-nilai keIslaman berdasar Al Qur’an dan Hadis.

Dirancangnya suatu Ensiklopedi unik yang memenuhi kebutuhan tersebut, merupakan gagasan yang dinilai perlu guna mengejawantahkan nilai-nilai keIslaman menjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari, dalam kemasan pengelolaan pengetahuan yang sistematis.

Suatu sistem pengelolaan pengetahuan yang mengakomodasi hasil-hasil penelitian dan pengembangan yang terbukti secara ilmiah, maupun gagasan-gagasan awal yang bisa dipilah, lalu dipilih sebagai prioritas menuju pengembangannya.

Ensiklopedi tersebut terbit dan terus diperkaya agar berkembang sebagai pengedukasi cara berpikir bagi umat Muslim, yang berorientasi pada misi, strategi dan manfaat, sekaligus bagi pembacanya menjadi pemandu berpengetahuan yang bersumber pada Al Qur’an dan Hadis.



 …pemahaman tentang perlunya aktifitas yang tak merusak bumi sebagai bagian dalam dakwah…

Kontribusi Solusi Global

Keberadaan Ensiklopedi Muslim tersebut, diharapkan bisa menginspirasi upaya mencerahkan cara berpikir umat Muslim agar tumbuh berilmu pengetahuan yang memicu penebaran manfaat, baik bagi sesama maupun alam lingkungan.

Tak hanya itu, sebagai bahan bacaan yang inspiratif, juga diharapkan menjadi alternatif cara berpikir yang lebih luas, sebagai pemaknaan bahwa Islam sebagai agama adalah Rahmat menuju kemuliaan. Sekaligus menumbuhkan peran dan kontribusi umat Muslim dalam menghadapi banyak permasalahan yang dihadapi, tak hanya di lingkungan sekitar, bahkan nasional, regional bahkan global.

Masalah penghangatan global (global warming), misalnya. Bagaimana peran umat Muslim dalam berperan di dalamnya secara terstruktur, berdasarkan kajian ilmiah bisa diterima oleh banyak kalangan, lalu menumbuhkan pemahaman tentang perlunya aktifitas yang tak merusak bumi sebagai bagian dalam dakwah yang disampaikan dalam majelis-majelis taklim, termasuk mimbar-mimbar kotbah.

Sebagai ancaman bagi dunia, maka global warming yang dipicu oleh paparan gas rumah kaca (emisi gas karbondioksida / CO2) di atmosfer bumi, sebagai akibat kegiatan-kegiatan yang bisa merubah kualitas lingkungan hidup seperti industri, pertambangan, alih fungsi hutan, polusi kendaraan, terbukti berdampak pula pada mencairnya lapisan es pada kedua kutub bumi, di belahan utara maupun selatan.

Cuplikan Video Media Sosial Kondisi Pulau Cinta Propinsi Gorontalo, yang Tenggelam Akibat Permukaan Air Laut Semakin Meninggi.

Bahkan, pada awal bulan Desember 2021, di wilayah Sulawesi Utara, yakni di propinsi Gorontalo, terdapat wilayah wisata laut bernama Pulo Cinta, yang tadinya memesona sekarang tinggal kenangan karena telah tenggelam.

Pesona Pulo Cinta Propinsi Gorontalo Sebelum Tenggelam. Foto Circa Akhir Desember 2016.

Permukaan air laut yang semakin meninggi hingga menenggelamkan kawasan cantik permai tersebut, tak bisa dipungkiri sebagai bagian dari dampak mencairnya es di kedua kutub bumi.

Kenangan Panorama Hamparan Laut Biru di Pulo Cinta. Foto Circa Akhir Desember 2016. 



…bisa mengakomodasi proses berbagi ilmu pengetahuan yang kemudian dikembangkan menjadi suatu riset ilmiah…

Sejauhmana? Apa? dan Bagaimana?

Kasus tenggelamnya sebuah pulau wisata di belahan propinsi Sulawesi Utara

Lalu, bagaimana peran umat Muslim dalam berkontribusi untuk menebar pengetahuan bahwasanya kegiatan-kegiatan yang berdampak merusak bumi adalah sebuah larangan yang telah nyata sebagai firman Tuhan?

Bagaimana para pelaku yang secara langsung maupun tak langsung, baik bagi yang percaya akan keberadaan Tuhan maupun yang atheis menjadi tertarik untuk memahami, bahwa kegiatan merusak bumi adalah jembatan menuju kehancuran umat manusia bahkan seisi bumi, lalu turut berkontribusi untuk memperbaiki?

Sejauhmana para alim ulama mampu memaknai perlunya umat Muslim agar berkontribusi memberi solusi atas permasalahan mendunia yang mengancam kehidupan bersama?

Seperti apa konsep pengelolaan pengetahuan yang dikelola oleh lembaga-lembaga Islam seperti majelis taklim, mimbar-mimbar masjid, sekolah dasar (Madrasah Ibtidaiyah), menengah (Madrasah Tsanawiyah-Aliyah), sekolah-sekolah Islam terpadu, pondok-pondok pesantren hingga perguruan tinggi Muslim, bisa mengakomodasi proses berbagi ilmu pengetahuan yang kemudian dikembangkan menjadi suatu riset ilmiah, lalu menjadi jurnal-jurnal yang mampu memengaruhi opini publik baik umum hingga penguasa, tentang salah satunya bahaya tidak mengindahkan firman Tuhan dalam hal larangan merusak bumi?

Apa saja yang menjadi topik bahasan umum yang seringkali disampaikan oleh para ulama penyampai kotbah pada mimbar-mimbar Jum’at, forum-forum pengajian dan majelis-majelis taklim?

Apakah cenderung selalu berkutat pada ajakan menjauhi orang-orang kafir, menjauhi riba, berwudhu yang benar, perlu tidaknya bacaan doa Qunut sewaktu menjalankan shalat Subuh, menata hati untuk berpoligami yang biasanya disampaikan dalam bentuk guyonan halus, pandemi yang dipandang kasus rekayasa hingga penyampaian konklusi yang bernada ‘putus asa’ dalam wujud kalimat; “Wis pokoknya yahudi yang selalu menjadi biang masalah di bumi!”?

Bagaimana bisa mengedukasi khususnya bagi para ulama, ustadz, habib serta umat Muslim pada umumnya, bahwa salah satu solusi untuk mencegah global warming, selain mengimani dan mematuhi perintah Tuhan serta memaknai Hadis Nabi tentang larangan merusak bumi, juga penerapan dalam wujud nyata, sistematis dan disepakati oleh banyak negara di dunia.

Mekanisme Pasar Karbon, misalnya.



…kadar CO2 yang bakal dirubah oleh tanaman, menjadi senyawa-senyawa kimia dalam satuan Biomassa, yang lebih bermanfaat bagi manusia juga fauna penghuni alam lingkungan…

Pasar Karbon

Sebagai mekanisme yang merupakan hasil kesepakatan dari negara-negara industri maju untuk menyumbang dana kompensasi bagi negara-negara berkembang yang memiliki kelimpahan flora dalam bentuk hutan-hutan belantara, maka Pasar Karbon dinilai menjadi solusi untuk menurunkan dampak paparan gas rumah kaca yang mampu membuat lapisan ozon bolong.

Gambaran sederhana tentang mekanisme Pasar Karbon yang mulai dikembangkan sejak tahun 2007 pasca konferensi lingkungan hidup di Indonesia, maka negara-negara industri maju, khususnya 8 (delapan) negara, yaitu; Amerika, Inggris, Kanada, Jepang, Rusia, Inggris, Perancis dan Jerman, telah sepakat untuk mengucurkan dana secara berkala pada negara-negara yang terletak di wilayah tropis, kaya kelimpahan flora juga fauna, seperti Indonesia dan Brasilia, guna mengembangkan kapasitas fungsi hutan.

Jelas, mengapa kapasitas hutan perlu ditingkatkan agar gas-gas rumah kaca dunia bisa menurun paparannya, karena faktor siklus perubahan CO2 menjadi Oksigen (O2), Nitrogen (N), juga Karbohidrat CxHyOn, melalui peran zat hijau dalam tanaman ketika proses fotosintesa dan asimilasi terjadi, sehari-hari.

Secara geografis, negara-negara maju tersebut tak berpeluang memiliki kelimpahan flora dan fauna, secara berada di wilayah sub tropis empat musim, yang paparan sinar mataharinya tak sehari-hari seperti di wilayah tropis yang hanya dua musim.

Dengan demikian, terdapat simbiosis mutualisma antara negara-negara industri maju dengan negara-negara berkembang dalam hal upaya bersama mengatasi global warming yang mengancam keberadaban manusia di bumi.

Dalam praktiknya, maka mulai setiap luasan tanah subur yang hendak ditanami tanaman, hingga sebidang tanah melimpah tanaman yang telah bertumbuh kembang, bisa dihitung dan dihitung berapa kadar CO2 yang bakal dirubah oleh tanaman, menjadi senyawa-senyawa kimia dalam satuan Biomassa, yang lebih bermanfaat bagi manusia juga fauna penghuni alam lingkungan.

Siklus Paparan CO2 di Lingkungan Hidup. Sumber: Dandun Sutaryo, 2009, Penghitungan Biomassa Sebuah Pengantar untuk Studi Karbon dan Perdagangan Karbon, Wetlands International Indonesia Programme.

Dengan demikian, apabila total luas tanah dan ragam aneka tumbuhan yang ditanam di atasnya telah diketahui, maka bisa diestimasi berapa besar persen sumbangsih negara tersebut dalam menurunkan paparan gas rumah kaca, sebagai hasil menjalankan proses pengembangan kapasitas dan fungsi hutan.

Selanjutnya, besaran sumbangsih penurunan gas rumah kaca tersebut, menjadi laporan berkala yang diajukan kepada suatu lembaga pengkaji yang diakui oleh negara-negara maju sebagai penyumbang dana kompensasi.

Dari keabsahan antara nilai hitungan dengan fakta kondisi di lapangan, maka dana yang disepakati bakal cair dan disampaikan kepada negara tersebut, melalui lembaga pemerintah yang ditunjuk, guna menjadi modal utama sebagai mengembangkan aktifitas mengembangkan kapasitas dan fungsi hutan.

Proses yang berkelanjutan dalam mekanisme Pasar Karbon tersebut, pernah diwujudkan di Indonesia pada masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhono dalam bentuk program menanam satu milyar pohon.

Pencanangan Program Menanam Satu Milyar Pohon pada tahun 2010, menjadi upaya penerapan pengelolaan Pasar Karbon pasca konferensi lingkungan hidup sedunia pada tahun 2007 di Bali, yang melahirkan tatanan Reduction for Emission and Forest Degradation (REDD). Foto Sumber: Laporan Berita Munawwaroh, 15 Desember 2010, Menhut: Pencanganan ‘Satu Miliar Pohon' Lampaui Target, Tempo.co



…mampu memahami gambaran umum proses Pasar Karbon, yang bisa dimaknai sebagai upaya untuk mencegah kerusakan bumi…

Pertanyaan untuk Umara, Ulama dan Umat

Ikhtisar perihal Pasar Karbon tersebut diatas, kemudian patut menjadi permenungan, sampai sejauhmana peran umat Muslim, sebagai pemeluk Islam terbesar di dunia dalam memaknai larangan merusak bumi.

Seberapa banyak masyarakat yang memahami mekanisme Pasar Karbon, mulai kalangan pendidikan tinggi hingga masyarakat umum?

Sejauh mana peran pemerintah kementerian maupun dinas terkait bisa menyelaraskan kebijakan tentang partisipasi aktif untuk mengelola Pasar Karbon, melalui sosialisasi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis (Juklak/Juknis) yang aplikatif bagi masyarakat umum, khususnya para pengusaha yang menekuni bidang usaha yang terkait langsung maupun tak langsung dengan meningkatnya paparan gas rumah kaca?

Sejauh mana para pemuka agama, alim ulama, ustadz, habib yang menjadi panutan bagi masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari, mampu memahami gambaran umum proses Pasar Karbon, yang bisa dimaknai sebagai upaya untuk mencegah kerusakan bumi, lalu menggunakannya sebagai bagian dalam menambah ilmu pengetahuan dan mencerahkan wawasan tentang pengelolaan lingkungan hidup bagi umat Muslim?

Sejauh mana umat Muslim menjadi tertarik untuk mempelajari proses dalam mekanisme Pasar Karbon, sebagai upaya mencegah Global Warming semakin meningkat lebih parah? Sejauh mana pula umat Muslim memahami bahwa terdapat peluang usaha di dalam Pasar Karbon, termasuk terdapat peluang pula untuk beraksi nyata dalam memaknai larangan merusak bumi, dalam wujud menanam pohon?



Jiwa Muslim itu militan, tak hanya berperang melawan kebatilan, namun juga menggali ilmu pengetahuan.

Ilmu yang Melebihi Tinta Seluas Samudera

Beberapa pertanyaan bagi Umara, Ulama dan Umat Muslim tersebut di atas, itu baru upaya memaknai mekanisme Pasar Karbon, sebagai suatu pilihan atas sistem yang  menjembatani proses aktualisasi perilaku memuliakan bumi.

Belum lagi berurusan dengan banyak hal yang menjadi permasalahan mendunia, yang sejatinya solusi pemecahannya bisa digali dari ilmu pengetahuan yang tersirat maupun tersurat dalam Al Qu’an dan Hadis.

Berikut beberapa cakupan ilmu pengetahuan yang memiliki pengaruh sistematis secara langsung pun tak langsung terhadap perilaku manusia dalam memuliakan bumi beserta isinya, yaitu;

  • Ilmu Halalan Thayyiban (Halal dan Baik)

Ilmu tentang menjamin sesuatu yang halal lagi baik, terhadap apa-apa saja yang menjadi kebutuhan pokok bagi manusia, berupa pangan, sandang, papan, kebutuhan psikis, fisik, biologis dan sebagainya, yang secara langsung maupun tak langsung bisa memengaruhi perilaku manusia terhadap sesamanya dan alam lingkungan bumi.

  • Ilmu Bahan Pangan

Ilmu tentang bagaimana mengelola sumber bahan pangan, mulai memilih bibit tanaman, mengelola kualitas tanah yang mengandung unsur-unsur hara dalam tanah, mengatur sistem pengairan, mencegah sebaran hama, hingga metode bercocok tanam yang berkelanjutan, yang membuat tanaman sumber pangan bisa tumbuh sehat dan subur sampai musim panen tiba.

  • Ilmu Bahan Alam

Ilmu tentang mengeksplorasi dan mengeksploitasi sumber daya alam, baik hayati maupun non hayati dengan tetap mempertahankan kesetimbangan sistem yang berlaku, tentang siklus keterkaitan bahan alam hayati dengan non hayati. Karena sekali ekosistem telah rusak, berarti kekeliruan berperilaku dalam memuliakan bumi telah terjadi.

  • Ilmu Mengelola Energi

Ilmu tentang memaknai kekekalan energi. Bahwa energi tak dapat diciptakan maupun dimusnahkan melainkan suatu paket sumber daya alamiah yang tetap, namun bisa berubah-ubah wujud, mengalir dari energi potensial menjadi kinetis maupun sebaliknya, dari waktu ke waktu.

Melalui pendalaman tentang sifat kekal energi, maka berpeluang untuk selalu mempelajari pengembangan teknologi alternatif menggunakan energi terbarukan yang lebih ramah bagi lingkungan hidup serta bermanfaat bagi kebaikan manusia.

  • Ilmu Membangun Sarana/Prasarana Sipil

Ilmu tentang teknik sipil, yang membantu manusia dalam membangun infrastruktur yang kokoh, bertahan lama bahkan hingga ratusan tahun, menyangga kegiatan putaran roda ekonomi dan menjamin keselamatan pengguna saat berkendara di jalan raya. Bukan kegiatan membangun infrastruktur sipil yang berkualitas tak prima, berpotensi menimbulkan kerusakan dalam waktu relatif singkat, bahkan membahayakan nyawa manusia.

Jalan raya beraspal yang kualitas bahan dan teknik pembagunan pondasi yang tak sempurna, karena dana pembangunannya disunat, sehingga tak butuh waktu lama jalan yang dilalui banyak kendaraan menjadi berlubang-lubang, membahayakan keselamatan jiwa dan raga para pengguna.

  • Ilmu Perdagangan, Keuangan dan Ekonomi 

Ilmu tentang pengelolaan sistem ekonomi, yang mengurangi kegiatan ekspolitasi manusia atas manusia, yang diwakili oleh sistem kerja keras banyak orang selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 30 hari sebulan, 365 hari setahun yang berujung ke memperkaya orang yang sudah kaya sebagai shareholder, dalam wujud kepemilikan dominan atas lembaran-lembaran kertas legal bernilai nominal, yakni saham.

Melainkan suatu sistem ekonomi yang mengedepankan pemberian kesempatan bagi kalangan miskin melalui proses serah terima zakat. Dalam sistem ekonomi yang berorientasi pada memakmurkan orang miskin, maka bakal tak ada orang yang terlalu kaya, juga terlalu miskin, melainkan makmur.

Sistem ekonomi yang tak menggunakan mekanisme perputaran dana melalui bank, melainkan suatu lembaga serupa badan amil zakat yang mengelola urusan simpan pinjam tanpa bunga, melainkan tatanan bagi hasil usaha, berlandaskan saling percaya.

Bukan sistem ekonomi yang memicu banyak orang untuk berorientasi menjalani hidup dengan memenuhi keinginan, bukan kebutuhan. Lalu membuat mereka miskin karena terjerat banyak hutang, termasuk kewajibannya melunasi bunga-bunga pinjaman. Ketika menjadi miskin pun, tetap dibuat tergantung untuk melakukan simpan pinjam. Bukan sebagai modal usaha, melainkan menutup hutang-hutang yang lama.

Peribahasa ‘Gali lobang tutup lobang’, muncul dari fenomena sistem ekonomi bertatanan rentenir.

Juga dalam sistem ekonomi yang demikian, pengelolaan modal usaha sebagai roda penggerak ekonomi, menggunakan mata uang logam mulia, bukan kertas. Agar tak mudah dipermainkan nilai nominalnya, sekehendak hati para pemilik modal sebagai sekumpulan shareholder yang sanggup memengaruhi kekuatan putaran ekonomi banyak bangsa.

Kemudian oleh karena jeratan hutang pada sistem ekonomi yang mengedepankan tatanan memperkaya shareholder global, maka banyak bangsa yang dibuat tergantung pada pinjaman-pinjaman berbunga-bunga, yang memicu perilaku eksploitasi membabi buta terhadap sumber daya alam, awal dari kerusakan bagi alam lingkungan bumi.

Jelas, bahwa perilaku mencegah kerusakan di bumi membutuhkan pemahaman dan penerapan atas ilmu pengetahuan yang menuai kebaikan.

Hikmah Berilmu Pengetahuan

Semua ilmu pengetahuan seperti tersebut di atas, hanyalah sebagian kecil dari banyaknya ilmu pengetahuan yang tersirat pun tersurat dalam Al Qur’an, yang bahkan apabila ditulis hingga menghabiskan tinta seluas samudera, tak bakal menuntaskan keseluruhan ilmu milik Tuhan.

Jiwa Muslim itu militan, tak hanya berperang melawan kebatilan, namun juga menggali ilmu pengetahuan.

Sehingga apabila menemui kesulitan dalam mempelajari ilmu-ilmu yang dipandang relatif sulit seperti fisika, matematika, biologi, kimia, geodesi, geologi, sipil, nuklir, pertanian, perikanan, peternakan, sosiologi antropologi, psikologi, akuntansi, astronomi termasuk bahasa Inggris sebagai bahasa umum guna mempelajari referensi lalu menekuni riset dan menuangkan hasil dalam bentuk jurnal internasional, maka bukan menjadi patah arang lalu menyerah sepenuhnya sebagai mindset bahwa segalanya telah diatur oleh Tuhan.

Melainkan, justru menjadi militan untuk menumbuhkan semangat belajar, menggali ilmu pengetahuan lebih luas dan dalam.

Tentu, keberadaan para alim ulama, ustadz, habib, memiliki peran utama untuk menyemangati umat Muslim agar giat belajar mendalami ilmu pengetahuan, lalu mewujudkannya menjadi perilaku yang bermanfaat bagi kemuliaan bumi beserta isinya, sebagaimana tersirat pun tersurat dalam Al Qur’an dan Hadis.



…yang lebih dikenal sebagai Sustainable Development, mencakup 5 (lima) hal, yaitu; Halal Thayyiban, Bahan Pangan, Bahan Alam, Energi dan Lingkungan. 

Studi Ensiklopedi Muslim, Bidang Ilmu Kimia

Mengacu Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), maka makna Ensiklopedi adalah;

‘Buku atau seperangkat buku yang memberikan informasi mengenai tiap cabang ilmu pengetahuan atau suatu bidang, dengan entri atau pasal-pasal yang tersusun menurut abjad.’ (kbbi.web.id/ensiklopedi)

Mempertimbangkan ulasan tentang perlunya kontribusi umat Muslim dalam mengaktualisasi gagasan yang bisa mengajak banyak orang untuk berperilaku memuliakan bumi, maka keberadaan karya tulis yang dikemas sebagai Ensiklopedi yang berisikan intisari ilmu pengetahuan berdasar Al Qur’an dan Hadis, menjadi penting.

Sesuai latar belakang pernah mendalami ilmu Kimia, maka Penulis mencoba menyampaikan studi sebuah Ensiklopedi Muslim dalam bidang ilmu Kimia pada lingkup pengembangan berkelanjutan atau yang lebih dikenal sebagai Sustainable Development, mencakup 5 (lima) hal, yaitu; Halal Thayyiban, Bahan Pangan, Bahan Alam, Energi dan Lingkungan.

Pembentukan paket ‘Sustainable Development’ tersebut dan pengembangannya, dipertimbangkan menjadi fokus pengelolaan berbagi pengetahuan khususnya ilmu Kimia, hingga mencapai hasil-hasil berupa manfaat, dalam bentuk pencerahan wawasan dan membimbing partisipasi dalam memberi solusi atas isu-isu global.

Terdapat 3 (tiga) hal pokok yang menjadi tatanan mendasar atas Ensiklopedi Muslim yang secara unik dirancang dengan menitikberatkan pada telaahan terhadap paket Sustainable Development tersebut di atas, yaitu;

  1. Al Qur’an dan Hadis sebagai Sumber.
  2. Catatan sejarah sosok teladan Kimiawan Muslim dan penemuan-penemuannya yang diakui sebagai sejarah yang memengaruhi dunia, sebagai Ilham.
  3. Pemutakhiran pengetahuan lingkup ‘Sustainable Development’, serta bertambahnya wawasan yang menyemangati perilaku nyata memuliakan bumi beserta isinya, sebagai Manfaat.


“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga”. (Hadis Riwayat Muslim).

Rincian Sumber

Beberapa kutipan firman Tuhan dan Hadis Nabi yang menjadi sumber inspirasi Ensklopedi Muslim dalam bidang ilmu pengetahuan kimia adalah sebagai berikut;

Al Qur’an;

1. 

“Allah menganugerahkan al hikmah (kepahaman yang mendalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakal, yang dapat mengambil pelajaran (dari Firman Allah).” Qur’an Surah (2) Al Baqarah ayat 269.

2. 

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadaNya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya Rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” Qur’an Surah (7) Al A’raf, ayat 56.

3.

“Katakanlah; ‘Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)’.” Quran Surah (18) Al Kahf ayat 109.

4.

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Qur’an Surah (31) Luqman ayat 27.

5. 

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu dikatakan kepadamu; “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah. Niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah. Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Qur’an Surah (58) Al Mujadilah ayat 11.

Hadis;

  1. “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” (Hadis Riwayat Muslim).
  2. “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga”. (Hadis Riwayat Muslim).
  3. “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, yaitu; sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan atau doa anak yang sholeh.” (Hadis Riwayat Muslim).
  4. “Tidak ada kehidupan yang baik kecuali bagi dua orang, yaitu; orang berilmu yang pengetahuannya dijalankan dan bermanfaat, serta orang yang mau mendengarkan pelajaran.”
  5. “Ya Allah, aku memohon kepada Mu ilmu yang bermanfaat. Rizki yang halal dan amal yang diterima.” Doa Nabi Muhammad SAW.
  6. “Ya Allah, berikanlah manfaat kepadaku dengan apa-apa yang Engkau ajarkan kepadaku, dan ajarkanlah aku apa-apa yang bermanfaat bagiku. Dan tambahkanlah ilmu kepadaku.” Doa Nabi Muhammad SAW.


…the father of modern chemistry.

Sosok Ilham

Ilmu kimia, telah diakui oleh dunia memiliki sosok teladan bernama Abu Musa Jabir bin Hayyan (721-815 M), yang bagi kalangan imuwan barat/Eropa dikenal bernama Geber. Figur yang mendapat penghormatan sebagai the father of modern chemistry. 

Jabir bin Hayyan, adalah ilmuwan Muslim dalam bidang ilmu Kimia, yang pada masa keemasan Islam menjadi pelopor riset dan hasilnya diterapkan untuk kebaikan umat manusia. Sebagaimana pernah ditulis oleh Will Durrant dalam serial karya literasi yang terbit tahun 1980, yang menambah wawasan sejarah dunia secara berimbang, yakni The story of civilization IV; The age of faith.

Beberapa penemuan Jabir bin Hayyan yang berperan dalam perkembangan ilmu kimia hingga kini antara lain adalah sebagai berikut;

  1. Karya literasi kitab Alkimya/Alchemy,
  2. Peletak dasar kesetimbangan kimia atau dikenal sebagai hukum perbandingan  tetap,
  3. Penggagas metode distilasi,
  4. Penemuan tabung distilasi (Alambic),
  5. Peletak dasar-dasar ilmu metalurgi,
  6. Peletak dasar-dasar ilmu farmasi,
  7. Pelopor metode ilmiah riset dan pengembangan,
  8. Penemu fenomena menyublim,
  9. Penggagas metode pengkristalan,
  10. Penemu teknik pencampuran logam dalam kaca,
  11. Pelopor teori Reduksi – Oksidasi (Redox), 
  12. Peneliti pembuatan mutiara sintetis,
  13. Penemu komposisi Air Raja (Aquaregia), berupa larutan asam yang bahkan mampu melarutkan logam mulia.
  14. Penggagas teori keseimbangan alam.


Dampak yang terjadi khususnya berwujud perilaku, apakah bermanfaat ataukah merugikan

Beberapa Petikan Kalam Ilahiah Acuan Halalan Thayyiban;

1.

“Wahai manusia! Makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Karena sesungguhnya, setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” Qur’an Surah (2) Al Baqarah ayat 168.

2.

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya), sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Qur’an Surah (2) Al Baqarah ayat 173.

3.

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.” Dan mereka bertanya kepadamu (tentang) apa yang (harus) mereka infakkan. Katakanlah, “Kelebihan (dari apa yang diperlukan).” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu berfikir.” Qur’an Surah (2) Al Baqarah ayat 219.

4.

“Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu shalat ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan, dan jangan pula (kamu hampiri masjid ketika kamu) dalam keadaan junub kecuali sekedar melewati jalan saja, sebelum kamu mandi (mandi junub). Adapun jika kamu sakit atau sedang dalam perjalanan atau sehabis buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, sedangkan kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Sungguh, Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun.” Qur’an Surah (4) An Nisa ayat 43.

5.

“Dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” Qur’an Surah (5) Al Ma’idah ayat 88.

6.

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” Qur’an Surah (5) Al Ma’idah ayat 90.

7.

“Dihalalkan bagimu hewan buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan, diharamkan atasmu (menangkap) hewan darat, selama kamu sedang ihram. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikumpulkan (kembali).” Qur’an Surah (5) Al Ma’idah ayat 96.

8.

“Dan janganlah kamu memakan dari apa (daging hewan) yang (ketika disembelih) tidak menyebut nama Allah, perbuatan itu benar-benar suatu kefasikan. Sesungguhnya setan-setan akan membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu. Dan jika kamu menuruti mereka, tentu kamu telah menjadi orang musyrik.” Qur’an Surah (6) Al An’am ayat 121.

Beberapa petikan Kalam Ilahiah sebagai tersebut di atas, menjadi acuan untuk menelaah cakupan Halalan Thayyiban, antara lain;

  • Kategori sebagai makanan ataukah minuman,
  • Cara mendapatkan bahan dasar,
  • Cara mengolah bahan dasar, seperti penyembelihan hewan yang bukan terlarang serta penambahan zat-zat aditif alami ataukah sintetis,
  • Penetapan kriteria produk akhir berupa alami ataukah sintetis/aditif,
  • Dampak yang terjadi khususnya berwujud perilaku, apakah bermanfaat ataukah merugikan


Peluang penelaahan berkelanjutan terhadap bahan pangan terkait dengan pesan Ilahiah, baik yang tersirat maupun tersurat. 

Beberapa Petikan Kalam Ilahiah Acuan Bahan Pangan;

1.

“Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu kemudian Dia menuju langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” Qur’an Surah (2) Al Baqarah ayat 29.

2.

“Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya, dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur.” Qur’an Surah (16) An Nahl ayat 14.

3.

“Dan Dia telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai Rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu, benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir.” Qur’an Surah (45) Al Jatsiyah ayat 13.

4.

 “dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya).” Qur’an Surah (29) Al Waqiah ayat 29.

5.

“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” Qur’an Surah (80) ‘Abasa ayat 24.

6.

“Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit).” Qur’an Surah (80) ‘Abasa ayat 25.

7.

“Kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya.” Qur’an Surah (80) ‘Abasa ayat 26.

8.

“Lalu di sana Kami tumbuhkan biji-bijian.” Qur’an Surah (80) ‘Abasa ayat 27.

9.

“dan anggur dan sayur-sayuran.” Qur’an Surah (80) ‘Abasa ayat 28.

10.

“dan zaitun dan pohon kurma.” Qur’an Surah (80) ‘Abasa ayat 29.

11.

“dan kebun-kebun (yang) rindang.” Qur’an Surah (80) ‘Abasa ayat 30.

12.

“dan buah-buahan serta rerumputan.” Qur’an Surah (80) ‘Abasa ayat 31.

13.

“(semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu.” Qur’an Surah (80) ‘Abasa ayat 32.

14.

“Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka’bah).” Qur’an Surah (106) Quraisy ayat 3.

15.

”Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan.” Qur’an Surah (106) Quraisy ayat 4.

Beberapa petikan Kalam Ilahiah sebagai tersebut di atas, menjadi acuan untuk menelaah cakupan Bahan Pangan, antara lain;

  • Kategori sebagai bahan pokok yang dibutuhkan sehari-hari,
  • Hasil olahan dari bahan alami tunggal atau dari berbagai bahan baku.
  • Bersumber dari hewan ataukah tumbuhan.
  • Kelimpahan di alam lingkungan, sesuai dengan kecocokan sifat alami tanah dan iklim/musim/cuaca.
  • Kemudahan memperoleh, atau sarana/prasarana yang menunjang akses ke bahan pangan tersebut,
  • Pengembangan kapasitas produksi dan distribusi bahan pangan, agar tetap stabil guna memenuhi kebutuhan pokok.
  • Peluang penelaahan berkelanjutan terhadap bahan pangan terkait dengan pesan Ilahiah, baik yang tersirat maupun tersurat.


Kesinambungan proses dalam pengelolaan bahan alam, khususnya penunjang kebutuhan pokok bagi manusia.

Beberapa Petikan Kalam Ilahiah Acuan Bahan Alam;

1.

“Dan Dialah yang menurunkan air dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak, dan dari Mayang kurma, mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya pada waktu berbuah, dan menjadi masak. Sungguh, pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.” Qur’an Surah (6) Al An’am ayat 99.

2.

“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhan, dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannya yang tumbuh merana. Demikianlah Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.” Qur’an Surah (7) Al A’raf ayat 58.

3.

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun.” Qur’an Surah (17) Al Isra’ ayat 44.

4.

“Lalu dengan (air) itu, Kami tumbuhkan untukmu kebun-kebun kurma dan anggur, di sana kami memperoleh buah-buahan yang banyak dan sebagian dari (buah-buahan) itu kamu makan.” QS (23) Al Mu’minun ayat 19.

5.

“dan (Kami tumbuhkan) pohon (zaitun) yang tumbuh dari gunung Sinai, yang menghasilkan minyak, dan bahan pembangkit selera bagi orang-orang yang makan.” QS (23) Al Mu’minun ayat 20.

6.

“Dan sesungguhnya pada hewan-hewan ternak terdapat suatu pelajaran bagimu. Kami memberi minum kamu dari (air susu) yang ada dalam perutnya, dan padanya juga terdapat banyak manfaat untukmu, dan sebagian darinya kamu makan.” QS (23) Al Mu’minun ayat 21.

7.

“Dan Kami jadikan padanya di bumi itu kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air.” Qur’an Surah (36) Yasin ayat 34.

8.

“agar mereka dapat makan dari buahnya, dan dari hasil usaha tangan mereka. Maka mengapa mereka tidak bersyukur?” Qur’an Surah (36) Yasin ayat 35.

Beberapa petikan Kalam Ilahiah sebagai tersebut di atas, menjadi acuan untuk menelaah cakupan Bahan Alam, antara lain;

  • Kategori sebagai bahan organik atau non organik.
  • Termasuk parameter lingkungan air, tanah atau udara.
  • Bersumber dari hewan ataukah tumbuhan.
  • Proses mengeksplorasi dan mengeksploitasi bahan alam dalam tanah, dengan tetap memerhatikan kelimpahan bahan alam berupa tanaman.
  • Kesinambungan proses dalam pengelolaan bahan alam, khususnya penunjang kebutuhan pokok bagi manusia.

 

Proses mengeksplorasi dan mengeksploitasi bahan alam sumber energi, dengan tetap mempertimbangkan keseimbangan alam lingkungan.

Beberapa Petikan Kalam Ilahiah Acuan Energi;

1.

“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah ia (air) di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti (buih arus) itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan tentang yang benar dan yang batil. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya, tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan.” Qur’an Surah (13) Ar Rad ayat 17.

2.

“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalamnya tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” Qur’an Surah (24) An-Nur ayat 35.

3.

“yaitu (Allah) Yang menjadikan api untukmu dari kayu yang hijau, maka seketika itu kamu nyalakan (api) dari kayu itu.” Qur’an Surah (36) Yasin ayat 80.

4.

“Maka pernahkah kamu memperhatikan tentang api yang kamu nyalakan (dengan kayu)?” Qur’an Surah (56) ayat 71.

5.

“kamu kah yang menumbuhkan kayu itu ataukah Kami yang menumbuhkannya?” Qur’an Surah (56) Al Waqiah ayat 72.

6.

“Kami menjadikannya (api itu) untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir.” Qur’an Surah (56) Al Waqiah ayat 73.

7.

“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kapada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” Qur’an Surah (98) Bayyinah ayat 8.

Beberapa petikan Kalam Ilahiah sebagai tersebut di atas, menjadi acuan untuk menelaah cakupan Energi, antara lain;

  • Kategori sebagai energi terbarukan atau bukan.
  • Bersumber energi alami atau sel Galvanik.
  • Hasil siklus enegi sebagai potensial, kinetik, listrik, cahaya.
  • Proses mengeksplorasi dan mengeksploitasi bahan alam sumber energi, dengan tetap mempertimbangkan keseimbangan alam lingkungan.


Membangun karakter umat agar memiliki jiwa kepemimpinan berperilaku teladan yang tidak merusak alam lingkungan.

Beberapa Petikan Kalam Ilahiah Acuan Lingkungan Hidup; 

1.

“dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!” Maka memancarlah daripadanya dua belas mata air. Setiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah dari rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu melakukan kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan.” Qur’an Surah (2) Al Baqarah ayat 60.

2.

“dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya Rahmat bagi Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” Qur’an Surah (7) Al A’raf ayat 56.

3.

“dan janganlah kamu menaati perintah orang-orang yang melampaui batas.” Qur’an Surah (26) Asy Syu’ara ayat 151.

4.

“yang berbuat kerusakan di bumi dan tidak mengadakan perbaikan.” Qur’an Surah (26) Asy Syu’ara ayat 152.

5.

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Qur’an Surah (30) Ar Rum ayat 41.

6.

“Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” Qur’an Surah (30) Ar Rum ayat 42.

7.

“dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” Qur’an Surah (38) Shad ayat 27.

8.

“Pantaskah Kami memperlakukan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Atau pantaskah Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang jahat?” Qur’an Surah (38) Shad ayat 28.

Beberapa petikan Kalam Ilahiah sebagai tersebut di atas, menjadi acuan untuk menelaah cakupan Lingkungan Hidup, antara lain;

  • Kategori pengelolaan kelestarian lingkungan hidup atau perbaikan atas perubahan rona awal.
  • Bersumber lingkungan hidup biotik atau abiotik.
  • Parameter pengelolaan lingkungan hidup, baik fisik, kimia, biologi serta kelimpahan flora dan fauna.
  • Membangun karakter umat agar memiliki jiwa kepemimpinan berperilaku teladan yang tidak merusak alam lingkungan.

Sebagai rangkuman pertama atas pengelompokan ilmu pengetahuan dilingkup ‘Sustainable Development’ berdasar acuan petikan Kalam Ilahi dalam beberapa surah Al Qur’an, yang terkait, baik perumpamaan maupun tersurat, maka secara mendasar dapat disusun tabel Ensiklopedi Muslim sebagai berikut;

 Tabel Studi Ensiklopedi Muslim Bidang Kimia

Tabel Hasil-Hasil Penelitian dan Pengembangan Lingkup ‘Sustainable Development’ serta Catatan Penerapan dan Keberlanjutan.



Sebagai pemaknaan bahwa alam semesta termasuk bumi beserta isinya, tercipta bukan untuk kesia-siaan belaka.

Simulasi Praktik Menyusun Ensiklopedi Muslim

Berikut adalah contoh praktik penyusunan Ensklopedi Muslim pada bidang ilmu kimia.

Sebagaimana Penulis pernah mengulas kandungan kimiawi dalam buah Pisang yang ternyata memiliki khasiat luar biasa, yang masih bisa untuk dikembangkan, tak hanya buahnya saja, melainkan daun, pohon, pelepah, bahkan kulit Pisang.

Tulisan terbit dalam microblogging Qureta tertanggal 15 Oktober 2021, dalam tautan berikut ini;

https://www.qureta.com/next/post/lebih-dalam-tentang-lektin-pisang 

Contoh Tabel Ensiklopedi Muslim Pada Bidang Kimia Bahan Pangan, Tentang Manfaat Buah Pisang.

Tabel tersebut di atas adalah contoh informasi awal perihal Pisang sebagai bahan pangan, yang tersurat dalam satu Kalam Ilahiah. Dalam Surah Al Waqiah disuratkan bahwa Pisang adalah buah yang tersedia di alam surge. Dengan demikian, keberadaannya di dunia fana, niscaya menebar manfaat.

Kemudian, informasi awal tersebut diperdalam menjadi tabel berikut, yang berisi informasi yang lebih luas, dalam upaya menggali manfaat buah Pisang lebih dalam.

Dalam tabel berikut pula, terdapat contoh beberapa jurnal ilmiah hasil riset terkait buah pisang. Kajian terhadap jurnal-jurnal ilmiah yang diakui secara internasional tersebut, meski mungkin peneliti maupun tim rekan kerjanya adalah non Muslim, maka tetap diperlakukan sebagai informasi penting guna pengembangan kelak kemudian hari, dalam kerangka kesesuaian dengan makna Kalam Ilahiah maupun Hadis Nabi.

Contoh Tabel Hasil-Hasil Riset Tentang Kandungan Buah Pisang dan Upaya Keberlanjutan Pengelolaan serta Pengembangan Manfaat.

Kedua tabel tersebut di atas, baru contoh untuk sebuah bahan pangan yang tersurat dalam Al Qur’an, yaitu buah Pisang.

Masih banyak lagi hal-hal yang menarik dipelajari, dikaji dan digali lebih dalam melalui penelitian dan pengembangan, khususnya dalam hal ini adalah ilmu kimia dilingkup ‘Sustainable Development’,  guna memperoleh manfaat. Sebagai pemaknaan bahwa alam semesta termasuk bumi beserta isinya, tercipta bukan untuk kesia-siaan belaka.

Oleh karenanya, keberadaan suatu Ensiklopedi yang diperuntukkan khususnya bagi umat Muslim menjadi suatu gagasan yang menarik dan perlu. Agar pemaknaan tentang berhikmah atas perkembangan ilmu pengetahuan, menjadi pemerkaya berpikir bagi umat Muslim, dalam menjalani kehidupan sehari-hari.



…terdidik untuk memaknai perkembangan ilmu pengetahuan bukan sebagai kesulitan, melainkan suatu hikmah.

Aplikasi Daring Ensiklopedi Muslim

Pengelolaan terhadap ketiga hal pokok tersebut di atas, menjadi bagian kegiatan Pengelolaan Pengetahuan berbasis Sosialisasi-Ekstenalisasi-Kombinasi-Internalisasi yang berkelanjutan, terstruktur dan terukur.

Pengejawantahan pengelolaan pengetahuan (Knowledge Management) didahului dengan proses aliran pengetahuan agar dapat memenuhi kaidah SECI, singkatan dari matarantai; Socialization, Externalization, Collaboration, Internalization (Knowledge Management by Ikojoru Nonaka-1992), dimana;

  1. Socialization/Sosialisasi adalah proses untuk mengalirkan pengetahuan melalui forum berbagi/sharing dan diskusi.
  2. Externalization/Eksternalisasi adalah proses untuk mengalirkan pengetahuan yang dimiliki berupa pengalaman (tacit) menjadi suatu dokumen (eksplisit) yang dapat digunakan sebagai materi kursus.
  3. Colaboration/Kolaborasi adalah proses untuk mengorganisasikan dokumen yang telah disusun agar pengetahuan dapat dialirkan.
  4. Internalization/Internalisasi adalah proses aliran pengetahuan dari bentuk dokumen menjadi pengetahuan baru untuk menambah kompetensi, hingga suatu saat berproses menghasilkan suatu inovasi.


Ilustrasi Pengelolaan ilmu pengetahuan berdasar Hikmah, menggunakan metode Knowledge Management dengan menerapkan siklus Socialization, Externalization, Combination dan Internalization (SECI)

Menyadari bahwa pengguna Ensiklopedi yang disusun nantinya adalah khususnya kalangan umat Muslim lintas generasi pada era milenial, maka rancangan sebuah Ensklopedia yang berisi informasi efektif dan mutakhir dalam bentuk sistem aplikasi bebas unduh, baik melalui PlayStore untuk gawai elektronik bersistem operasi Android maupun AppStore untuk gawai elektronik bersistem iOS, merupakan pilihan yang patut dipertimbangkansekaligus menumbuhkan proses pembelajaran elektronik, e-Learning.

Tentu, sebagai konsekuensi dalam mengelola pengetahuan dan proses e-Learning guna pengembangan Ensiklopedi Muslim secara berkelanjutan, maka diperlukan sebuah tim kerja khusus yang didukung dengan terdapatnya;

  • Majelis tafsir Al Quran dan Hadis, 
  • Kinerja penyelarasan  tafsir terhadap ilmu pengetahuan, teknologi maupun isu-isu yang berkembang terkait perilaku manusia dalam upaya memuliakan bumi.
  • Sarana/prasarana sistem informasi dan teknologi informasi,
  • Sistem kerja pemutakhirkan Ensiklopedi.

Kinerja tim pengelola Ensiklopedi Muslim berorientasi pada perkembangan ilmu pengetahuan. Khususnya, ilmu-ilmu pengetahuan yang memiliki keterkaitan langsung pun tak langsung dengan Kalam-Kalam Ilahiah dalam Al Qur’an, serta Sabda dan Perilaku sang Nabi dalam Hadis yang sahih.

Agar, para pemangku kepentingan Ensiklopedia Muslim tersebut, terdidik untuk memaknai perkembangan ilmu pengetahuan bukan sebagai kesulitan, melainkan suatu hikmah.

Estimasi Peta Pemangku Kepentingan (Stakeholder’s Map) Nasional Terhadap Keberadaan Ensiklopedi Muslim.

Kelak, gagasan ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan para pengguna Ensiklopedi Muslim, dalam mengembangkan wawasan untuk berilmu pengetahuan yang bersumber pada Al Qur’an dan Hadis yang sahih.

Bagan Alir Berilmu Pengetahuan serta Berhikmah atas Hasil-Hasil Penelaahan serta Penelitian dan Pengembangan yang Menuai Manfaat.

Diharapkan pula, bahwa kehadiran Ensiklopedi Muslim bisa menumbuhkan minat untuk mempelajari beragam hasil riset yang telah terbukti melalui serangkaian uji ilmiah dan diakui dalam bentuk karya literasi berupa jurnal-jurnal, baik nasional maupun internasional.

Kemudian, sang pembaca, yakni umat Muslim menjadi tertarik untuk mengkaji pengembangan hasil riset tersebut, atau setidaknya menerapkan dalam wujud praktis, bahkan terlibat dalam keanggotaan tim riset, yang berorientasi pada hikmah dan kebermanfaatan ilmu pengetahuan, dalam upaya berperilaku memuliakan bumi beserta isinya.

Ilustrasi keterkaitan antara Sumber ilmu pengetahuan, Ilham menelaah ilmu pengetahuan hingga menghasilkan karya-karya ilmiah melalui penelitian dan pengembangan serta Manfaat yang memberi kontribusi pada perbaikan terhadap sistem berkegiatan bagi manusia, yang berujung pada memuliakan bumi beserta lingkungan hidupnya.

Ensiklopedi Muslim pun menjadi jembatan dalam membangun karakter Muslimin yang Mukmin, memiliki nilai Rahmatan ‘Lil Alamin.