Esensi manusia merupakan makhluk sosial (social beings) yang saling membutuhkan antara satu dengan yang lain. Hal ini selaras dengan teori zoon politicon Ariestoteles yang menyatakan bahwa manusia merupakan makhluk yang bermasyarakat. Dalam Islam pun ditegaskan bahwa manusia seharusnya bermasyarakat agar saling mengenal satu sama lainnya.

Kondisi tersebut dijelaskan dalam surat al-Hujurat ayat 13, “Hai manusia, sesungguhnya saya mencipatakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah Swt ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahu lagi Maha Mengenal”.

Ayat tersebut menjelaskan bahwa signifikansi bermasyarakat sangatlah diperlukan. Hal tersebut sebagai salah satu manifestasi manusia dalam memperoleh keamanan. Selain itu, perspektif lain juga memiliki berpandangan bahwa dengan bermasyarakat tercipta sebuah kebiasaan (costum), tradisi (tradition), dan budaya (culture) yang variatif, aman, dan nyaman.

Dalam konteks lain, dengan pemahaman bermasyarakat juga dijelaskan dalam teori Herarki oleh Abraham Maslow. Dalam hal ini manusia sebagai mahluk bermasyarakat yang memiliki lima dasar kebutuhan yang harus dipenuhi, diantaranya ialah fisiologis, keamanan, cinta, harga diri, dan aktualisasi diri.

Inilah salah satu gambaran yang melatarbelakangi paradigma manusia yang cenderung suka berkumpul, berkelompok, dan membentuk komunitas yang saling menjaga satu sama lain dalam satu visi-misi yang sama.

Dinamika kehidupan manusia memang sangatlah unik, keunikan tersebut dapat diaktulisasikan dalam berbagai macan bentuk sikap, prilaku, dan sifat yang dimiliki. Selain itu, karakter dan pemahaman yang berbeda menjadi ciri khas yang terkadang cenderung berimplikasi sebuah masalah (problems).

Hal ini tentu tidak akan jauh dari sebuah proses bermasyarakat atau interaksi sosial (social interaction). Bonner (2004) mendefinisikan interaksi sosial (social interaction) adalah hubungan timbal balik anatara dua orang atau lebih, dan masing-masing orang yang terlibat di dalamnya memainkan peran secara aktif.

Dalam interaksi juga lebih dari sekedar terjadi hubungan antara pihak- pihak yang terlibat melainkan terjadi saling mempengaruhi. Sudah menjadi sebuah realitas bahwa manusia cenderung akan mempengaruhi dan bisa dipengaruhi.

Proses interaksi ini juga dapat meliputi sebuah budaya atau adat (culture) yang cenderung melahirkan sikap dan prilaku masyarakat dalam dinamika kehidupan. Setiap masyarakat akan memiliki (felling love) perasaan suka terhadap sebuah budaya, kebiasaan, dan lain sebagainya. Kebudayaan dahulu tentu sangatlah berbeda pada zaman dahulu.

 Dalam konteks masa lalu, esensi budaya dan kesenian  sangatlah kental menjadi ciri khas yang dapat memajukan suatu daerah tersebut. Berbagai macam variasi kebudayaan menjadi warna baru yang unik dan kharismatik tersendiri.

Namun, di Era-Modern sekarang ini unsur kebudayaan yang dulu kharismatik dan dengan nuansa holistik menjadi sirna dan tinggal nama tanpa adanya pelestarian terhadap generasi muda sekarang. Hal ini tentu menjadi sebuah problem tersendiri bagi kaum muda bangsa ini. 

Perkembangan budaya justru lebih cenderung mengarah pada kebudayaan barat secara dominan, mulai dari gaya hidup (style), makanan (food), sistem politik (politic system), keilmuan (science), dan lain sebagainya. Robert Linton (1936), seorang antropolog, telah mengembangkan Teori Peran (Role Theory), Teori Peran menggambarkan interaksi sosial dalam terminologi aktor-aktor yang bermain sesuai dengan apa-apa yang ditetapkan oleh budaya.

 Sesuai dengan teori ini, harapan-harapan peran merupakan pemahaman bersama yang menuntun kita untuk berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai elmen tersebut memang sangat diperlukan sebagai upaya untuk memposisikan diri dalam menghadapi globalisasi, namun kondisi tersebut era sekarang tidak mencerminkan realitas sesuai dengan idealitas yang positif.

Kebudayaan di era maju justru malah (keblinger : istilah Jawa, keluar dari koridor). Seperti halnya kebudayaan yang notabennya merupakan hasil adopsi budaya barat yaitu perayaan valentine’s day.

Valentine’s Day

Momentum perayaan Valentine’s Day setiap tanggal 14 Februari setiap tahunnya, tentu sangatlah menjadi idaman bagi para muda-mudi era globalisasi. Sub kultur yang berbeda inilah yang melatarbelakangi masyarakat sekarang mengalami dekadensi yang terlalu dalam dibangdingkan zaman dahulu.

 Kekuatan esktrim westernisasi yang begitu kuat telah merasuk ke paradigma para pemuda Indonesia. Perayaan Valentine’s Day yang notabennya adopsi budaya dari barat kini telah ‘mendarah daging’. Setiap muda-mudi Indonesia selalu merayakan momen tersebut dengan memberikan bunga, coklat, dan makan malam pada pasangan.

Bahkan parahnya, ada yang memberikan unsur kritenisasi, pesta malam, hingga melakukan hubungan sex secara ilegal. Inilah yang sangat ditakutkan oleh masyarakat Indonesia yang notabennya sebagian besar beragama muslim.

Walaupun esensi Valentine’s Day merupakan hari kasih sayang yang sebagian besar orang ungkapkan. Namun perlu disadari bahwa kontruksi paradigma yang implikasinya keluar pada koridor yang ada tentu wajar dan wajib untuk ditentang. Sebab hal tersebut akan terus menjadi propaganda yang akan terus mengalir dalam dinamika masyarakat, khususnya masyarakat muslim.

Esensi ‘Kasih Sayang’ pada dasarnya memang ada pada diri setiap manusia. Manusia yang beragam, tinggal di suatu negara, tentu berkehidupan damai, aman, nyaman, harmonis, dan penuh kasih sayang menjadi sebuah harapan dan cita-cita. Kondisi tersebut dalam Islam pun sangatlah mendukung pemikiran tersebut.

Hal ini juga ada dijelaskan adalam kitab suci Al-Qur’an surat al-Fatihah ayat 1, “Dengan nama Allah SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Ayat ini  memiliki subtansi bentuk kasih sayang (ar-rahman_ar-rahim) untuk seluruh umat di dunia dan sifat kasih sayang memang sudah ada pada diri manusia itu sendiri.

Dapat diketahui bahwa, sifat kasih sayang adalah induk dari sifat baik manusia. Hal ini dijelaskan pada Al-Qur’an surat Ar-Ruum: 21, “Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”.

 Ayat ini tentu memberikan gambaran realistis tentang bentuk kasih sayang.Dari sini, kasih sayang dapat diartikan dalam bentuk emapati, yaitu merasa saling pengertian, saling memahami, saling merasakan, dan saling membantu. Serta memperlakukan orang lain sebagi saudara.

Prilaku dan tindakan tersebut dapat dilakukan oleh sesama manusia (humanisasi) dalam keseharian dan rutinitas setiap harinya. Jadi keberadaan Valentine’s Day atau hari kasih sayang ini tidak terlalu signifikan bagi kaum muslim yang memiliki keilmuan agam secara mendalam.

Mewabahnya budaya (culture) Valentine’s Day atau hari kasih sayang memang menjadi sebuah paradoks, sebab keberdaan Valentine’s Day  selalu identik dengan penolakan dari kaum muslim terhadap budaya dari luar (westernisasi) yang selalu membawa pengaruh negatif masyarakat Indonesia.

Masyarakat harus memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi dalam memfilter segala bentuk budaya yang notabennya mengarah pada westernisasi. Budaya-budaya westernisasi kini sudah merajah pikiran-pikiran masyarakat Indonesia dari berbagai lini kehidupan yang terkadang sulit terukur dengan pandangan mata.

Sebab, nuansa westernisasi akan selalu memberika rasa terlena dan kepuasan nafsu secara sesaat, tanpa memilikirkan ilmplikasinya. Oleh sebab itu, kita sebagai warga negara Indonesia harus menjaga budaya dan tradisi yang sudah dibangun oleh para founding father terdahulu. Sebab itulah peninggalan yang sangat monumental dalam membangun sebuah peradaban menuju kesejahtraan.

Pada perayaan Valentine’s Day atau hari kasih sayang kurang begitu layak diaplikasi dan asumsikan dengan era sekarang ini yang terlanjur bebas (free), khususnya pada masyarakat Indonesia yang secara dominan kaum muslim.

Selain itu perlunya koridor yang jelas dalam menghadapi perubahan zaman kian masif semakin terjemurus pada lubang-lubang kenistaan. Kondisi tersebut dapat kita hadapi dengan memperdalam berbagai keilmuan yang positif seperti halnya ilmu agama, kita suci, dan ketentuan-ketentuan lainnya.

Dari sumber itulah perlu pengkajian ulang terlait perayaan Valentine’s Day yang sedang booming di kalangan muda-mudi era modern. Agar muda-mudi tidak terjerumus dalam budaya westernisasi  yang sesat. Wallahu’alam bis Showab.