Setelah berkali-kali debat, debat pada 27/03/2017 oleh Mata Najwa lebih mengerucut. Debat bersifat open discussion. Materinya berupa pendalaman serta pembandingan program kerja. Sejauh ini program kerja Ahok lebih realistis dan rasional dibandingkan program Anies. Setelah berkali-kali debat program Anies Baswedan tetap saja irasional, begitu lemah dalam eksekusi.

Melalui debat kali ini Ahok menunjukkan keseriusanya dalam mengurus Jakarta. sedangkan program anies seperti program dadakan yang muncul pada proses pilkada. Dalam debat juga terlihat bagaimana Anies Baswedan hanya memiliki modal kata-kata, berkali-kali ngomong eksekusi namun tidak realistis.

Pertama, mengenai program prioritas. Ahok masih memprioritaskan agar otak, perut dan dompet warga Jakarta penuh. Dan juga mewujudkan birokrasi yang transparan. Soal infrastruktur Jakarta juga menjadi prioritas, membangun infrastruktur ditujukan untuk warga, seperti taman, penataan sungai, rusun, melalui pembangun infrastuktur akan beriringan membangun warga Jakarta, termasuk kehidupan ekonominya.

Sedangkan prioritas Anies bukan birokrasinya, namun warganya. Menurutnya infrastruktur tidak penting, lebih penting membangun warganya. Sangat tidak rasional, bagaimana membangun warganya jika tidak adanya infrastruktur seperti rusun, ruang terbuka hijau, dan transportasi. Anies juga mengatakan tidak ada penggusuran tapi penataan. Anies hanya memperhalus kata-kata saja, bagaimana mau menata jika tidak dilakukan penggusuran dahulu.

Kedua, KJP vs KJP Plus. Bagi Ahok fungsi penting KJP adalah fungsi edukasi. Untuk memberi motivasi. Bukan uangnya yang penting melainkan mendidik tanggungjawab. KJP hanya diberikan kepada siswa sekolah. Anak jika ingin mendapatkan KJP harus sekolah. Fungsi uang dalam KJP untuk menggerakkan anak sekolah dan menempuh pendidikan.

Anies tidak rasional, KJP Plus bisa diberikan kepada siswa sekolah maupun tidak sekolah. Bahkan KJP plus juga akan diberikan kepada siswa pra-sejahtera dan sejahtera. Program Plus Anies ini tidak realistis. KJP Plus tidak ada fungsi mendidik, justru anak akan berpikir sebaliknya, karena tidak sekolahpun bisa dapat KJP.

Ketiga, gaya kepemimpinan. Gaya kepemiminan Ahok, bersih, transparan, professional, tidak menerima suap. Ahok menginginkan gaya kepemimpinanya menjadi model bagi yang lain, seperti datang lebih pagi, menyapa warga di balai kota, dsb.

Gaya kepemimpinan Anies, katanya efektif, penuh perencanaan dan eksekusi yang jelas.  Padahal recordnya Anies telah gagal melakukan eksekusi selama ia menjadi menteri pendidikan, lantas ia dipecat oleh Presiden Jokowi.

Keempat, soal Presiden Soeharto. Ahok mengagumi Pak Harto karena berhasil menjaga stabilitas harga sembako. Ahok melakukan penjagaan harga di Jakarta dengan serupa gaya Pak Harto.

Sedangkan Anies, menangkap pak Harto itu pemimpin yang stabil. Katanya, “Jakarta butuh yang stabil bukan yang labil”. Kata-kata ini menjelaskan dirinya sendiri. Anies Baswedan itu labil, buktinya dari Paramadina ke demokrat, mendekati Jokowi 2014, jadi menteri dipecat, dulu menghina Prabowo sekarang bermitra, bahkan berteman dengan PKS dan kelompok intoleran.

Kelima, Jakarta creative vs ok oce. Ahok membangun pusat Jakarta kreatif. Tujuannya untuk memfasilitasi warga berwirausaha. Ahok bertekad membentuk warga benar-benar menjadi pelaku usaha. Hingga saat ini program usaha kelas menengahnya telah mendapatkan apresiasi kepuasan warga hingga 70%.

Ok Oce punya Anies-Sandi, sekali lagi Anies mengatakan, bukan membangun bendanya tapi warganya. Program ini hanya memberi pelatihan, pendampingan, serta jaringan, tanpa memberikan fasilitas penunjang. Lalu bagaimana warga akan berwirausaha jika tidak ditunjang fasilitas kerja. Sekali lagi ini tidak realistis.

Keenam, program perumahan warga. Ahok hingga hari ini mencanangkan program rusun. Rusun ditunjang subsidi pemda 80%. Kritik Ahok kepada program Anies adalah soal kredit jangka panjang yang tidak realistis. Segala sesuatu perlu direncakana bukan sekedar omongan. Kata-kata menarik dari Ahok, “sy tdak suka bohongin orang untuk pilkada”.

Program Anies adalah rumah dengan DP 0 rupiah. Program ini menurut Anies bukan program membangun rumah tapi bantuan pembiayaan. Program ini sangat tidak realistis, Anies hanya akan menyelesaikan DPnya, beban 30 tahun kredit jadi beban warga. Program ini tidak membantu perekonomian warga namun justru memberikan beban baru bagi mereka.

Ketujuh, isu SARA. Ahok menyadari bahwa akan politik akan menggunakan agama untuk menyerang dirinya. Seiring adanya banyak kegaduhan itu bukan karena Ahok. Ahok sama sekali tidak menggunakan agama sebagai proses berpolitik.

Anies justru menuduh Ahok provokatif. Anies menuduh Ahok sebagai sumber kegaduhan. Kali ini Anies tidak lagi santun tapi suka menuduh dan klaim. Ini bisa jadi pengaruh dari mitra politik Anies, yakni kelompok intoleran, di mana mereka suka menebar kekerasan, tuduhan dan ancaman. Maka terang, jika Anies menggunakan isu agama, termasuk ancaman salat jenazah sebagai senjata politik. Karena Anies sama sekali tidak membantahnya.

Kedelapan, dana kampanye. Dana kampanye Ahok murni dari rakyat. warga Jakarta benar-benar menginginkan Ahok kembali memimpin Jakarta. Banyak warga yang datang ke rumah Lembang membawa uang kecil-kecil untuk keperluan kampanye.

Sedangkan dana Anies cukup besar disokong oleh pengusaha Uno. Dana dari pengusaha tidak mencerminkan gerakan rakyat. Jadi statemen gerakan rakyat sama sekali tidak terwujud oleh Anies-Sandi, warga Jakarta sama sekali tidak menginginkannya menjadi gubernur.

Kesembilan, segmen penutup. Ahok ingin membangun tempat religi, masjid, makam mbah priok, umrohkan marbot dan takmir, bagi mereka takmir yg membawa islam rahmatan lil alamin, islam nusantara, khotbahnya sejuk bukan Wahabi.

Anies ingin merawat kebhinekaan. Menurutnya, kata-kata harus merekatkan bukan meretakkan. Memang kata-kata Anies merekatkan, tapi perbuatannya meretakkan. Buktinya Anies tidak lagi berintegritas, berada dikubu yang dulu dia tentang. Parahnya Anies berkomplot dengan kelompok yang suka membuat keretakan yakni kelompok intoleran.

 Warga Jakarta harus cerdas menentukan pilihan. Program kerja Ahok jauh lebih nyata, jauh lebih baik dibandingkan program Anies.