Awal hari itu saya mulai dengan bangun telat karena semalaman begadang. Mau dibilang mengerjakan sesuatu juga sebenarnya tidak. Niat sih ada. Tapi distraction untuk tetap fokus melakukan kewajiban malam itu terlalu banyak. Apalagi Smartphone, Brengsek!

Akhirnya saya pun bangun sekitar jam 07:30. Sudah sangat terlambat untuk memasuki matkul teori komunikasi di pagi itu. Tapi saya tetap bersiap-siap untuk berangkat karena ada kuliah umum yang jadwalnya dimulai setelah matkul teori komunikasi. Di pemberitahuan yang tersebar acara tersebut mulai jam delapan tepat. Sayangnya, 1,5 jam terlalu sebentar untuk dikaretkan sehingga kuliah umum mulai pukul 09:30 tanpa beban moral antara peserta dan pembicara (Santai saja lah, saya juga suka telat).

Tema kuliah umum kali ini (yang pertama kali saya ikuti setelah sebelumnya selalu bolos) adalah Profesionalitas dalam Media Online. Saya pikir materinya terkait tentang bagaimana seharusnya jurnalis profesional menjaga nilai-nilai jurnalisme dalam media massa yang mulai terancam di era Internet yang penuh dengan ekstasi komunikasi, penuh emosi dan nir-informasi. Tapi sayangnya ekspektasi saya terlalu jauh.

Profesionalitas yang dibahas oleh pemateri adalah bagaimana meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dari media online. Wajar saja, pematerinya pun memiliki background media komersil yang cukup besar dalam skala nasional. Namun, saya jadi berpikir bagaimana masa depan jurnalisme dan media massa kedepan? Tantangan dan bahaya apa dihadapi media dan jurnalisme masa kini?

Kita sering mendengar tentang bahaya hoax tapi apakah hoax adalah bahaya satu-satunya? Bahaya hoax itu hanya salah satu dari sekian banyaknya masalah di media massa dan yang paling sering terlihat karena memang paling mudah diidentifikasi. Masalah lain adalah sulitnya menelanjangi kepentingan dan keberpihakan media massa yang diam-diam mengkonstruk opini publik. 

Hal tersebut berbeda dengan hoax, mereka menyajikan informasi yang faktual tetapi dibangun dengan framming tertentu. Sah-sah saja sebenarnya. Namun, hal ini mulai menjadi masalah jika framming yang dibangun cenderung provokatif. Bukannya menjalankan tugas sebagai ruang publik, media malah mengakomodir kekacauan.

Terkait bagaimana membangun framming, netral itu hampir tidak mungkin. Keberpihakan media adalah keharusan. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana keberpihakan tersebut membawa kemaslahatan. Dewasa kini, media memang cenderung lebih bebas berpihak daripada pra-reformasi. Meski tidak lagi diatur oleh pemerintah (state regulation), media saat ini malah diatur oleh pasar (market regulation). Implikasinya (kebanyakan) media akan memakai logika bisnis murni agar media tersebut bertahan.

Dalam logika bisnis, media sebagai produsen akan membuat berita sesuai permintaan pasar (yang seringkali bersilangan dengan kebutuhan sebenarnya). Bukan lagi memberi layanan untuk publik dan menawarkan pemasaran sosial, media malah menyajikan sesuatu yang emosional dan sensasional karena hal itu lebih menarik bagi kebanyakan konsumen. Semakin banyak konsumen, pengiklan akan masuk ke dalam media tersebut dan iklan akan menjadi lumbung uang untuk media.

Lalu apa? Siapa yang salah? Media kah? Tidak bisa dipungkiri media memang butuh uang untuk terus berjalan. Pengiklan? Mengiklankan suatu produk di media massa yang laku adalah hal yang lumrah. konsumen? Terlalu naif menyalahkan konsumen di era post-truth. Era dimana orang lebih mengutamakan emosi daripada rasionalitas. Ditambah lagi dengan segala sesuatu yang serba instan sehingga karya jurnalistik yang padat data dan informasi cenderung dijauhi. Atau mungkin ini salah saya yang terlalu mempermasalahkan ini semua.