2 tahun lalu · 482 view · 5 min baca · Lainnya sht.jpg
Foto: kuat22.wordpress.com

Profesionalisme ala Pendekar SH Terate

Tidak terasa, kita sudah berada di minggu pertama bulan muharram. Orang jawa lebih akrab mengenalnya ulan suro. Pada bulan inilah, biasanya tradisi ke-silat-an mempunyai momentum kontemplasi diri. Meski mengevaluasi diri tidak harus setahun sekali, yang pasti pada bulan inilah para pesilat memaknainya sebagai Pendekar’s Day.

Sebagai orang yang pernah ditempa selama empat tahun, SH Terate tentu saja tidak kurang sesuatu apapun dalam mengajarkan seduluran. Nama lengkap perguruannya saja ‘’Persaudaraan Setia Hati Terate’’, jadi Persaudaraan antara manusia dalam bingkai bermasyaraat, berpolitik dan berbangsa adalah nilai nomor satu. Orang boleh beragama apapun sesuai kepercayaannya, semuanya diterima hangat di Perguruan Silat ini.

Saya sendiri tidak pernah bercita-cita jadi pendekar sakti atau jagoan tanpa tanding. Saya sadar, di atas langit masih ada lapisan lagi yang lebih tinggi. Saya menyadari betul, manusia terkuat seperti apapun pasti bakal melemah dan mati. Entah karena menua, sakit atau kecelakaan.

Nilai-nilai dalam perguruan SH Terate, saya pikir sudah banyak saudara menghayati dan menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari. Saya sebagai orang yang tertarik politik dilihat dalam perspektif intelektual, merasa perlu menyebarkan nilai-nilai kependekaran dalam perguruan ini dalam menyikapi politik praktis. Saya katakan politik praktis, karena tidak sedikit warga SH Terate yang terjun ke dunia politik.

Sama seperti perguruan lainnya, SH Terate mengutamakan Persaudaraan diatas segalanya. Anak pejabat, Kiai, TNI, Polisi atau pengusaha kelas kakap sekalipun, bila masuk perguruan ini diperlakukan sama dengan anak petani, nelayan atau buruh. Bagi anda yang biasa sok-sokan bicara egalitarianisme alias persamaan dan kesetaraan, coba sekali-kali anda teliti bagaimana sistem perguruan ini mendidik anggota-anggotanya.

Saya mengapresiasi organisasi SH Terate masih konsisten bergerak pada jalur kebudayaan. Sekalipun warga / anggotanya banyak yang berkarir di dunia politik, secara kelembagaan PSHT tidak pernah tertarik untuk mendukung saudaranya. Padahal biasanya dalam hal urusan bela-membela, Pendekar SH Terate seringkali lebih fanatik ketimbang FPI.

Sudah banyak manusia SH Terate beribu-ribu orang, menggunakan truk atau ratusan motor, berduyun-duyun menyerbu suatu perkampungan hanya karena tidak terima ada saudaranya dipukuli warga. Sudah banyak kasus di mana pendekar SH Terate dengan nekadnya melabrak seisi kota, hanya karena ada anggotanya tewas dibunuh orang.

Bahkan pada masa awal Jokowi jadi Presiden, kota Solo pernah mencekam hebat karena ulah para pendekar PSHT. Itu semua dilakukan sebagai bentuk solidaritas terhadap saudaranya yang dibunuh. Iya, solidaritas mereka tulus dan murni demi sebuah seduluran. Diantara mereka, mungkin tidak bisa membantu mencarikan pekerjaan. Tapi bila menyangkut darah yang tertumpah, saudara lainnya siap mati dan membalaskan dendam yang dibenarkan.

Aneh memang, mereka berani mati demi harga diri persaudaraan. Tapi tak pernah sedikit pun tertarik menjadi massa bayaran politik layaknya mahasiswa kota. Meski mampu, mereka tidak pernah jadi ormas yang mengendalikan parkiran, pasar atau pusat hiburan. Mereka berkumpul bukan layaknya preman bersorban yang sok jagoan memalaki pedagang cina, tapi demi panggilan seduluran.

Hampir tidak pernah ada kasus dimana warga SH Terate berkelahi karena politik. Rata-rata, mereka bergerak karena ada saudara yang didzolimi oranglain. Mereka sadar, Persaudaraan terlalu berharga untuk digadaikan demi politik yang hanya berjalan semusim.

Dengan jutaan keluarga SH terate yang tersebar di Nusantara dan penjuru dunia, warga PSHT bisa saja memporak-porandakan sebuah kota demi membela Saudaranya. Tapi tidak, mereka sadar ilmu bela diri bukan untuk gagah-gagahan, bukan untuk petentang-petenteng dijalan. Massa yang banyak tidak dimanfaatkan untuk menakut-nakuti manusia lainnya.

Seorang anggota PSHT boleh saja mencalonkan Bupati, Gubernur, DPR atau Presiden, tapi haram kuadrat mencatut nama Perguruan untuk menarik massa. Begitupun sebaliknya, Saudara yang lain boleh saja mendukung calon tertentu, tapi tetap itu hanyalah sikap pribadi. Mereka yang menggunakan nama Perguruan untuk kepentingan politik, pasti bakal dimusuhi dan jadi musuh bersama diinternal SH terate.

Warga SH Terate sadar, uang dan kekuasaan dapat menjadi bencana bila tidak dikendalikan moralitas. Sifatnya yang pragmatis, membuat politik praktis tidak dapat tumbuh subur di Perguruan ini. Saking menjunjung tinggi profesionalisme dan kode etik, seorang pelatih di perguruan ini dilarang jatuh cinta dengan siswa didikannya. Padahal dalam sejarah umat manusia, tidak ada orang di dunia ini yang mampu membatasi tumbuhnya cinta.

Iya, anggota boleh saja berpartai. Tapi bila sedang berkumpul dalam urusan kesilatan, dirinya hanyalah entitas manusia SH terate. Manusia yang tidak boleh dibela bila salah, dan harus didukung mati-matian bila benar. Dalam wilayah politik, PSHT menjaga jarak. Jangan sampai tarikan kepentingan, membutakan nalar sehat tentang realitas yang benar dan salah.

Sebagai pendekar SH Terate, mereka pastilah lihai dalam jurus-jurus silat mematikan. Tapi kemampuannya dalam melukai dan menghabisi, tidak pernah akan terpakai bila sudah menjurus ke kepentingan politik.

Saya teringat kisah TNI dan milis pro integrasi  yang selamat pada pertempuran di Timor Timur. Mereka orang-orang Indonesia ini selamat, tepatnya diselamatkan oleh musuh (gerilayawan/Separatis) yang kebetulan mereka tahu kalau lawannya adalah juga anggota SH Terate. Anda bisa bayangkan, perang yang seringkali tidak lagi mempedulikan moral kecuali membunuh atau dibunuh. Masih saja tertoreh kisah dimana musuh menolong musuh.

Pada masa perang kemerdekaan Timor Leste, bagi milisi FRETILIN tentu saja TNI dan milisi Indonesia adalah musuh nomor satu yang harus dibunuh. Tapi hukum perang tersebut tidak berlaku bagi anggota SH terate. Masing-masing dari mereka teringat, bahwa sesama pendekar SH Terate haram hukumnya berkelahi, saling menyakiti atau membunuh. Mereka sadar, perang yang dikobarkan kedua negara adalah kepanjangan tangan dari politik semata.

Mereka berusaha profesional. Bahwa apapun agamamu, kebangsaan atau pilihan politik, Saudara perguruan tetaplah Saudara. Orang yang mengaku Saudara tidak mungkin menyakiti atau membunuh Saudaranya hanya karena didorong nafsu politik. Bunga Terate terlalu indah untuk dipetik tangan-tangan rakus nan kotor.

Saya meyakini, bila perguruan ini terus membesar, berkembang dan menjadi ikon kebudayaan silat nasional, pluralisme sipil di tanah Indonesia ini pasti tumbuh subur. Anda dapat membayangkan, apabila pluralisme telah menjadi budaya di Indonesia, tidak akan ada lagi perang atas nama suku atau agama.

Tidak akan ada lagi konflik, perkelahian atau kerusuhan yang berlatar belakang SARA. TNI boleh saja mengaku jadi benteng penjaga keutuhan NKRI, tapi bukankah TNI juga sering dijadikan alat kekuasaan yang menindas. Bukankah TNI juga dapat dengan mudah dimanfaatkan penguasa untuk melanggengkan kekuasaan meski mengorbankan toleransi, ketentraman publik dan kerukunan antarumat beragama.

Saya pikir PSHT adalah harapan penting ditengah sumbu konflik horisontal yang mudah meletus. Sejauh yang telah saya teliti, warga SH Terate adalah manusia-manusia toleran sekaligus nasionalis. Kecintaan mereka pada kerukunan dan tanah airnya, sudah terbukti sejak masa perang kemerdekaan, bertempur melawan PKI hingga menjaga keutuhan bangsa pasca tergulingnya Soeharto.

Mereka orang PSHT, manusia profesional yang mampu dan mau membedakan mana urusan politik, urusan organisasi dan mana urusan pribadi. Demi politik, mereka tidak pernah berkampanye sembarangan layaknya kaum Anti-Ahok yang kampanye ugal-ugalan dalam mimbar-mimbar masjid atau khutbah jum’at di Jakarta.

Wong SH terate sadar, hidup tidak melulu tentang politik. Walau hidup sering kali penuh kelaparan, derita, masalah, kemunafikan dan kebohongan, ketulusan dan hangatnya kekeluargaan tetaplah nomor satu. Saya tidak tahu hidup macam apa yang pantas dijalani, yang jelas saya menemukan jabat-tangan hangat Persaudaran dan kekeluargaan di SH Terate.

Artikel Terkait