Pada salah satu segmen di acara Sinau Bareng, seorang pemuda yang menjadi anggota dari Jamaah Maiyah telah memberikan pengakuan, saat Cak Nun bertanya padanya mengenai profesinya. Pemuda itu menjawab dengan begitu ringan, “Profesiku adalah apa yang bisa aku kerjakan pada hari ini.”

Secara spontan, jawaban dari orang ini langsung memicu gelak tawa dari seluruh hadirin yang ada di komunitas itu. Mungkin saja mereka memersepsikan bahwa pekerjaan pemuda tersebut tidak jelas, serabutan, lontang-lantung, dan bahkan bisa saja ada yang menganggapnya sebagai seorang pengangguran.

Beruntunglah, untuk beberapa saat kemudian, Cak Nun memberikan pembelaan pada orang ini, dengan menyebut profesi orang itu sebagai profesi yang luar biasa. Cak Nun merepresentasikan orang tersebut sebagai sosok yang selalu siap, ready, untuk dimintai pekerjaan apa saja. Dengan catatan, yang penting halal.

“Ada tetangga yang minta tolong untuk persiapan acara nikahan, dia siap. Ada tetangga yang minta tolong untuk memanen padi di sawah, dia siap. Ada tetangga yang ingin dibantu saat hendak membangun rumah, dia pun siap. Apa pun pekerjaannya dia akan selalu siap, asalkan dia mampu untuk mengerjakannya. Bukankah ini pekerjaan yang luar biasa?” Cak Nun balik bertanya kepada seluruh Jamaah Maiyah, yang diiringi dengan tawa senyuman mereka yang hadir di sana.

Sebagaimana lazimnya pekerjaan yang kita kenal atau kita jalani saat ini, pada umumnya setiap orang selalu mengakui satu jenis pekerjaan tertentu. Misalnya saja, ada seseorang yang mengaku berprofesi sebagai pedagang, dokter, pengajar, motivator, pegawai, penulis, dan lain sebagainya. Yang jelas, pekerjaan yang ia sebutkan itu akan merujuk pada jenis aktivitas tertentu yang ia tekuni sehari-hari.

Setelah kita sebelumnya mengenal bidang-bidang pekerjaan macam ini, kemudian manakala ada seseorang yang mengakui profesi yang nyentrik, seperti profesi apa saja yang bisa ia kerjakan pada hari itu, maka secara nalar pasti hal itu akan memberikan hiburan tersendiri bagi orang yang mendengar dan menyaksikannya.

Dan setelah memahami latar belakang itu, saya kemudian tidak menyalahkan siapa saja di antara jemaah itu yang telah menertawai orang tersebut. Apalagi, sejujurnya, saya sendiri pun sempat tertawa, meski saya melakukannya secara tidak langsung. Sebab, saya menyaksikannya hanya melalui video YouTube dari layar ponsel saya.

Namun kemudian, yang menjadi lebih unik adalah manakala orang yang ditertawai itu justru makin cengengesan sendiri saat merespons ekspresi jemaah yang ada di sana. Seakan tidak ada gambaran rasa malu dan minder sedikit pun dari raut muka orang itu.

Saya pun berbalik simpati pada orang tersebut. Dan saya menduga, bahwa sebenarnya ia bukanlah sosok yang biasa, meski secara penampilan ia tampak biasa-biasa saja. Biasa-biasa saja tapi mantap, dalam batin saya.

Pengakuan jujur dari pemuda Jamaah Maiyah itu mengenai profesinya seakan telah membuka kesadaran saya, bahwa apa pun profesinya, sebenarnya hal itu tidak akan membuahkan kehinaan sedikit pun bagi mereka yang menekuninya. Hal inilah yang mungkin telah menginisasi lahirnya tulisan saya yang berjudul Bekerja secara Profesional, yang tentunya juga diinspirasi oleh setetes pitutur dari Cak Ahmad Fuad Effendy.

Dalam tulisan itu, saya telah menggambarkan bahwa kondisi pekerjaan yang terbaik tidaklah ditentukan oleh jenis pekerjaan maupun hasil yang diperoleh. Akan tetapi, ia ditentukan oleh para pelakunya yang sanggup untuk menekuni setiap proses yang ada di dalamnya dengan cara yang benar, sesuai dengan ajaran agamanya.

Tiba-tiba saja, saya menjadi teringat dengan kondisi teman saya, seorang sarjana yang kini berprofesi sebagai tukang parkir yang merangkap sebagai pegawai katering. Kemudian kisah seorang lulusan Fakultas Ushuluddin yang berprofesi sebagai pedagang kambing, dan sederet kisah-kisah lainnya yang mungkin bagi anggapan sebagian besar orang memiliki gradasi yang kontras dengan latar belakang mereka.

Akan tetapi, setelah saya mendapatkan pencerahan dari tulisan Cak Fuad ini, saya menjadi makin yakin bahwa apa pun pekerjaan yang kita geluti saat ini, pada hakikatnya adalah baik, manakala kita menjalani setiap prosesnya dengan mengikuti rambu-rambu dari Tuhan.

Dengan demikian, tidak akan lagi muncul rasa gengsi bagi kita yang menjalaninya. Sebab, muara dari setiap pekerjaan kita adalah untuk meraih rida dari Tuhan. 

Perkara banyak sedikitnya profit yang kita peroleh di dunia ini, sejatinya, hanyalah sekadar bonus bagi kita. Yang tentu saja, besaran “gaji pokok” yang akan kita terima dari Tuhan itu, nilainya akan jauh lebih besar daripada jumlah bonusnya, manakala kita menjalani proses bekerja itu dengan benar.

Bagi pihak yang dibekali fasilitas “bonus” yang tinggi di dunia ini, maka sebenarnya juga tidak boleh merasa aman dan santai-santai saja, sehingga menjadi kurang waspada. Mereka harus tetap mewaspadai bahwa bonus yang berlimpah yang berada dalam genggaman mereka saat ini, hakikatnya juga masih ada bagian yang menjadi hak milik orang lain. Dan itu harus mereka salurkan kepada yang berhak untuk menerimanya.

Dengan memiliki pemahaman atas sikap ini, maka setidaknya kita akan mampu untuk memenjarakan sikap hedonisme pada diri kita, sehingga kita lagi mengabaikan hak-hak yang sejatinya harus disalurkan pada orang lain. Kita akan menjadi makin berhati-hati dalam memanfaatkan dan menggunakan bonus itu, agar kita tidak lalai terhadap jatah yang seharusnya disampaikan pada orang lain.

Jika kita mau jujur dan melihat perihal yang sebenarnya terjadi pada diri kita, kita pun dapat dikatakan bekerja secara serabutan. Di sela-sela pekerjaan utama kita, kita tentunya juga melakukan pekerjaan-pekerjaan lainnya. Mulai dari pekerjaan domestik yang harus kita rampungkan di rumah, sampai menjalani pekerjaan-pekerjaan tambahan yang akan melengkapi penghasilan utama kita.

Bukankah dengan melakukan hal-hal ini, sebenarnya kita juga bekerja secara serabutan? Apa saja akan kita lakukan, asalkan kita memiliki waktu, tenaga, dan kemampuan yang cukup untuk memenuhinya.

Sehingga, jika kita paham betul mengenai hal ini, maka kita yang sebelumnya telanjur menertawai pekerjaan serabutan itu, sejatinya juga telah menertawai diri kita sendiri yang memiliki nasib yang sama. Bukankah kita pun menjalani segala profesi yang bisa kita kerjakan pada hari ini?