Sebagai kawula muda saya cukup aktif diberbagai media sosial seperti fecebook, instagram, dan tiktok. “yah meskipun followersnya sedikit  he..he.” Dan baru-baru ini ada sebuah  vidio tiktok yang tiba-tiba lewat di For You Page atau beranda tiktok saya, dimana konten vidio tersebut berisi seorang perempuan cantik berhijab dan memakai baju kaki khas guru, mengatakan  bahwa profesi yang paling dihindari anak muda adalah guru apalagi guru honorer.

Nah, ini menarik nih untuk dibahas, sejak duduk di bangku sekolah dasar kita pasti sudah mulai ditanya sama guru atau orang disekitar kita “kamu kalau sudah gede mau jadi apa?” sebagian menjawab dengan lantang dan riang, ada juga yang menjawab dengan tersenyum malu-malu lalu mengatakan “mau jadi dokter, mau jadi polisi, mau jadi tentara, mau jadi arsitek, dan sebagainya.” Kalau anak-anak Gen-Z  mungkin menjawab mau jadi youtuber atau konten kreator dan sangat langka atau  jarang  ditemukan anak yang ingin menjadi guru.

Tidak dapat dipungkiri bahwa di era globalisasi saat ini ada beberapa orang yang menganggap profesi guru itu tidak penting, cenderung meremehkan, bahkan menganggap seorang guru tidak memiliki masa depan yang cerah, dan jika kamu memilih menjadi guru maka kamu tidak akan mencapai yang namanya kebebasan finansial. Kemudian satu hal lagi, seiring perkembangan teknologi tidak menutup kemungkinan profesi guru akan tergantikan.

Sekilas profesi guru memang kurang menarik, rutinitas seorang guru hanya datang ke sekolah mengajar anak orang lain, menjelaskan pelajaran, memberikan tugas, memeriksa tugas, dan memberikan nilai murid-muridnya. Kemudian, masalah gaji guru yang memperihatinkan. Seorang guru hanya mampu tersenyum tabah sambil mengurut dada melihat nominal gaji yang ia terima selama tiga atau enam bulan sekali . Lantas apa yang bisa dibanggakan dari deorang guru?

Semulia-mulianya Profesi Adalah Guru

Sejak kecil bapak selalu menasehati saya untuk selalu menghormati guru-guru di sekolah, beliau bilang “ hanya atap rumah guru yang diolok-olok, kita sudah durhaka dan sangat berdosa apalagi guru itu sendiri yang tidak kita hormati dan dengarkan apa perkataannya. Dan keberkahan ilmu yang diperoleh tergantung bagaimana kita memuliakan, menghormati, dan menaati guru.” Dari situ saya sadar bahwa guru adalah profesi yang mulia dan tidak semua orang bisa menjadi guru.

Di dalam agama Islam kita ketahui bahwa wahyu yang pertama kali turun terdapat didalam Al-Qur’an surah Al-‘Alaq ayat  1-5 yang isinya merupakan perintah untuk membaca, dan salah satu hal yang dimaksud membaca disini yakni belajar, menuntut ilmu, mempelajari atau mencari tahu apa yang belum kita ketahui. Lalu bagaimana cara kita belajar dan mencari tahu apa yang belum diketahui? Tentu melalui proses belajar dengan bimbingan dan didikan seorang guru. Jadi sudah jelas bahwa guru adalah profesi mulia, bahkan guru dianalogikan sebagai sumber mata air ilmu.

Jadi Guru? Bersyukur dong Masa Enggak

Jika Anda ditakdirkan menjadi guru, Anda patut bersyukur. Karena seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa guru adalah profesi yang mulia, tingkat kemuliaannya tidak dapat disetarakan dengan profesi yang lain. Bahkan salah satu penyesalan terbesar  seorang Albert Einstein sang fisikawan  adalah tidak mendedikasikan hidupnya untuk menjadi tenaga pendidik dan berkarier sebagai guru. Einstein yang sangat jenius tokoh pencetus teori relativitas saja menyesali hidupnya karena tidak menjadi guru, lalu kita yang biasa-biasa saja mengapa harus gengsi?

Ada begitu banyak keistimewaan yang dapat diperoleh ketika menjadi guru yang mendidik dan membimbing merid-muridnya atas dasar panggilan jiwa, cinta kasih, serta niat tulus karena Allah. Seperti mendapatkan cinta kasih dan rasa hormat dari murid-muridnya, yang dibuktikan dengan doa  para murid untuk kebaikan gurunya, amal ibadah yang terus mengalir atau teologis ketika ilmu yang disampaikan guru diaplikasikan dengan baik oleh murid, dan bonus upah berupa uang.

Sang Role Model

Percaya atau tidak guru memiliki pengaruh dan andil besar bagi kehidupan generasi penerus bangsa. Ada satu ungkapan yang mungkin sudah lazim didengar yaitu “Guru itu digugu dan ditiru” alias teladan atau bahasa kerennya role model para murid. Tentu murid akan menaruh rasa kagum pada seorang guru yang cerdas atau berwawasan luas, penyayang penuh cinta kasih, kesabaran, ketekunan, keuletan, serta keikhlasan dalam mendidik. Sehingga, tanpa disadari murid akan meniru gerak-gerik sang guru. Maka dari itu, seorang guru sangat berpengaruh dalam melahirkan murid-murid yang cerdas dan  kelak menjadi manusia yang baik akhlak serta tingkah lakunya.

Pelajar Sepanjang Hayat

“Tuntutlah ilmu sejak dari buaiyan hingga ke liang lahad” Yah itulah guru sang pelajar sepanjang hayat. Jika Rene Descartes mengatakan bahwa “Aku berpikir maka aku ada” , maka guru mengatakan “Aku mengajar maka aku belajar” karena tentu apa yang akan disampaikan atau diajarkan guru kepada muridnya harus dipelajari guru terlebih dahulu agar tidak keliru dalam menyampaikan ilmu.

Sejauh ini saya hanya ingin menyampaikan bawa apapun yang kita kerjakan atas dasar panggilan jiwa serta niat tulus Lillahita’ala tentu harta tidak menjadi motivasi utama. Mohon maaf atas segala kedalahan dan kekurangan. Terahir penulis sebagai calon guru mengatakan bahwa “Aku bermanfaat ,maka aku ada”. Jadi semoga apa yang saya sampaikan dapat bermanfaat bagi kita semua , sekian dan terimakasih.