Globalisasi telah menjadi gelombang budaya yang bersifat mondial dan tidak hanya dialami dampaknya oleh beberapa negara seperti Indonesia. Derasnya arus perubahan dalam bidang sosial, ekonomi, politik, dan budaya ke dalam suatu negara tentu dapat memicu terjadinya pergeseran nilai budaya suatu bangsa. Dalam bidang politik, globalisasi telah menjadikan demokrasi mewabah ke seluruh pelosok dunia.

Bagaimanapun juga globalisasi akan terus berlanjut hingga ke taraf hidup masyarakat dalam mencari harkat dan martabat manusia sampai dirinya layak dipandang sebagai manusia seutuhnya. Manusia utuh oleh Paulo Freire (1984) dipandang sebagai subyek yang aktif dan menuntut persamaan derajat sebagai makhluk tanpa diskriminasi, baik dalam berbangsa, bernegara, maupun antarnegara.

Sejalan dengan itu, hakekat sebuah globalisasi ialah menuntut pengembangan manusia yang bermutu. Maka, pendidikan menjadi satu instrumen penting dalam membentuk mutu. Pendidikan yang bermutu dan juga berkualitas dibutuhkan di tengah semangat zaman yang terus berubah. Kemampuan untuk sekedar melakukan pengembangan etos kerja dan mandiri pada akhirnya akan mencapai sebuah prestasi yang mendorong terciptanya suatu masyarakat industri.

Peran Guru di Era Global

Globalisasi telah menempatkan nasib umat manusia sebagai tanggung jawab bersama. Permasalahan yang kompleks tidak lagi dapat dilakukan oleh sebagian kecil masyarakat, terutama keluarga dan sekolah, peran sinergis antara sub-elemen masyarakat modern memiliki tanggung jawab bersama dalam mengawal proses belajar mengajar anak. 

Peran guru dalam proses belajar mengajar dituntut mampu memberikan pemahaman kepada peserta didik secara luas dan terbuka dalam menghadapi berbagai persoalan yang terjadi dalam masyarakat luas.

Sejak negara ini didirikan, bangsa Indonesia memiliki cita-cita luhur, berupa mencerdaskan kehidupan bangsa. Negara Indonesia selama ini dikenal sebagai bangsa yang agamis dan pancasilais seharusnya tidak sulit dalam menjaga stabilitas dan meningkatkan kualitas pendidikan anak bangsanya baik secara formal maupun non-formal. 

Namun, kenyataan menunjukkan bahwa arus globalisasi yang masuk ke Indonesia telah melunturkan semangat Pancasila dan sikap gotong royong pada masyarakat menjadi semakin jauh akibat masuknya budaya asing yang jauh dari nilai lokal dan cenderung bersifat instan.

Dalam benak penikmat budaya global tentu akan menganggap dirinya sebagai anak zaman yang terbebas dari nilai. Sisa kebudayaan masa lalu dianggapnya tidak memiliki signifikansi terhadap kebudayaannya saat ini. Gelombang budaya popular pun masuk dalam kehidupan sehari-hari mulai dari cara berpikir, berpakaian, dan tingkah laku kesehariannya secara terus-menerus mengikis kesadaran kearifan lokal yang lalu hilang identitas nasionalnya.

Sebab itu, perlu dilakukan upaya pemupukan kembali muatan budaya lokal dalam sistem pendidikan nasional. Penulis melihat peran guru sebagai seorang pendidik sekaligus pembimbing moral anak selama di sekolah memiliki peran vital bagi kehidupan anak. Seorang guru harus mampu melihat secara kritis tema-tema zaman, aktif menangani realitas dan tidak boleh terhanyut oleh arus perubahan itu sendiri.

Tantangannya

Memang tidak mudah menjalani profesi sebagai guru, tantangan dan resiko yang dihadapi di masa transisi seperti saat ini akan jauh lebih besar. Guru yang tidak bisa berakselerasi dengan tema-tema perubahan akan dengan sendirinya menimbulkan alienasi kebudayaan. Seperti telah disebut di atas, bahwa dalam masa transisi yang sekarang sedang berlangsung peran seorang guru dalam dunia pendidikan sangatlah mendesak.

Seorang guru yang teralienasi cenderung menutup pintu harapan bagi setiap anak. Karena tidak biasa bertindak mandiri, mencoba memecahkan masalah dari hasil pengalamannya tanpa analisis kritis terhadap konteks. Pada akhirnya, generasi tua akan jatuh pada keputusasaan. Iklim yang ada saat ini secara tidak langsung memancing kita untuk belajar dan selalu menimbulkan efek kreatif dalam berpikir kemudian menimbulkan budaya baru.

Pengembangan guru profesional. Profesi guru adalah profesi yang terus menerus mengalami perubahan. Karakteristik para peserta didik di setiap generasi tidaklah sama, anak generasi old, generasi now, dan generasi yang akan datang memiliki ciri khas tersendiri. Setiap guru harus dapat menyikapi pola perubahan tersebut. Sebab itulah profesionalisme guru dituntut untuk memiliki sikap adaptif dan berpikiran terbuka menghadapi semangat zaman dengan beragam problematika yang dibawa anak ke lingkungan sekolah.

Oleh sebab itulah, H.A.R. Tilaar (2012) menyebut profesionalisme merupakan tuntutan moral seorang guru di Era Modern ini. Perkembangan zaman yang begitu masif dan terbuka hanya dapat diimbangi dengan semangat ilmu pengetahuan. Karena suatu perubahan tidak akan pernah terjadi tanpa adanya ilmu pengetahuan yang diproduksi lalu termanifestasi dalam berbagai bentuk perangkat teknologi.