Pada suatu kesempatan diskusi yang diadakan lembaga studi pengkajian dan pengembangan pendidikan Indonesia (LSP3I) Pusat Makassar dengan tema: “Peran Dosen Dalam Mewujudkan Pendidikan Tinggi yang Berkualitas”. Diskusi ini membahas seputar skill, karier, tugas dan tanggung jawab dalam mengemban profesinya.

Dalam diskusi ini memberikan sebuah pencerahan untuk membentuk pemikiran baru tentang bagaimana peran dan tanggung jawab dosen dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas, khususnya pendidikan tinggi, memberikan kesesuaian dengan kondisi kebutuhan masyarakat kekinian.

Aneka ragam permasalahan dan tantangan dosen kekinian tentu mempengaruhi seluruh proses pendidikan yang berlangsung di perguruan tinggi. Permasalahan ini tentu jadi catatan penting bagi perkembangan dan kemajuan pendidikan tinggi Indonesia di masa datang.

Profesi Dosen sebagaimana halnya guru dianggap sebagai profesi yang cukup mulia. Pasalnya, ada banyak tanggung jawab yang dibebankan pada profesi ini. Dosen adalah ujung tombak majunya pendidikan tinggi di Indonesia. 

Tidak hanya memberikan ilmu akademis saja, dosen juga dituntut membantu para mahasiswanya untuk mengembangkan cara berpikir mereka. Dosen harus memiliki kompetensi untuk mengajar, mendidik, dan juga mampu menginspirasi peserta didiknya. Hasil pembelajaran mahasiswa akan menjadi optimal bila dosen memiliki kompetensi untuk mengajar, mendidik, dan menginspirasi. 

Dengan demikian menjadi penting untuk mengidentifikasi tantangan yang dihadapi dosen Indonesia saat ini dalam mengembangkan kompetensi mereka, serta upaya apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut melalui pendekatan dan strategi yang sistematis.

Dilihat dari profesinya, tugas pendidikan dan pengajaran seorang dosen memang cukup mirip dengan profesi sejenisnya seperti guru. Akan tetapi, dosen juga memiliki tugas dan tanggung jawab lain yang cukup banyak.

Ada beberapa Tugas dan Tanggung Jawab Dosen, antara lain :

  1. Menetapkan metode ilmiah untuk semua disiplin ilmu dalam bidangnya.
  2. Membuat kurikulum untuk bahan ajarnya.
  3. Mempersiapkan silabus dari mata kuliah yang diajar.
  4. Mempresentasikan bahan untuk proses perkuliahan.
  5. Mengatur dan menyiapkan ujian untuk peserta didiknya.
  6. Membimbing peserta didik untuk mengerjakan setiap tugasnya.
  7. Mengevaluasi kemajuan peserta didik
  8. Melakukan penelitian pribadi.
  9. Memberikan kontribusi untuk penelitian lembaga.
  10. Menerbitkan dan mempresentasikan hasil penelitiannya.
  11. Ikut berkontribusi pada seminar atau konferensi dalam bidang keahlian.


Beberapa tugas dan tanggung jawab dari dosen di atas juga akan ikut berkembang sesuai dengan peningkatan kariernya.

Ada beberapa tanggung jawab lain misalnya turut berpartisipasi pada kegiatan pelatihan staf, atau menjalin hubungan dengan lembaga lain.

Saat dosen mengajar maka akan membantu mahasiswanya agar lebih berkembang. Hal itu juga akan menumbuhkan kepercayaan bagi kedua belah pihak.

Namun, menjalani profesi sebagai dosen bukanlah hal yang mudah dilakukan setiap orang. Apalagi menjadi seorang dosen yang harus berhadapan dengan mahasiswa yang rata-rata memiliki cara berpikir kritis. Pasti tidak akan semudah seperti mengajar siswa di bangku sekolah.

Menjalani profesi dosen dituntut memiliki beberapa skill seperti berikut:

1. Kemampuan public speaking

Skill pertama yang harus dimiliki oleh seorang dosen adalah kemampuan berbicara di depan umum atau public speaking. Tugas utama dari dosen adalah menyampaikan bahan perkuliahan di depan kelas. Jadi tentu saja skill public speaking sangat penting untuk dimiliki.

Tanpa skill yang satu ini, seorang dosen akan kesulitan saat ingin menyampaikan materi. Hal itu juga akan menyebabkan para siswa kebingungan, karena apa yang disampaikan dosen tidak akan mudah dimengerti.

2. Ahli dalam bidang yang ditekuni

Seorang dosen, tentunya harus yakin dengan keahlian yang dimiliki. Salah satu hal yang perlu diperhatikan sebelum menjadi dosen adalah memastikan memiliki keahlian di bidang yang digeluti.

Selain itu, untuk menjadi seorang dosen juga harus memiliki antusiasme yang tinggi pada bidang ilmunya. Dengan memiliki antusiasme yang besar maka akan lebih mudah saat menyampaikan materi kepada mahasiswanya.

Jadi, intinya semakin besar passion yang dimiliki seorang dosen dalam bidang ilmu yang digeluti, maka akan lebih mudah pula saat mengajarkannya ke mahasiswa.

3. Paham riset

Salah satu tanggung jawab dari profesi dosen adalah melakukan penelitian. Jadi, memahami teknik dan pengetahuan luas tentang riset akan sangat membantumu untuk terus berkembang dalam profesi ini.

Melakukan penelitian dan mempublikasikan hasilnya akan membuat seorang dosen terlihat kredibel. Akhirnya, jenjang karier akan terus meningkat.

Melakukan penelitian juga bukan hal yang mudah karena dosen dituntut memiliki kemampuan berpikir analitis dan selalu termotivasi untuk mencari solusi.

Selain fokus pada penelitian, dosen juga harus tetap fokus untuk mengajar. Itulah mengapa dosen juga harus mampu mengatur waktu dengan baik.

4. Skill menulis

Setelah melakukan penelitian, tentunya hasilnya harus ditulis untuk menjadi sebuah jurnal. Kemudian, jurnal tersebut akan dipublikasikan. Kemampuan menulis memang sangat diperlukan dalam penyusunan hasil penelitian. Poin ini akan membantu profesi dosen untuk terhindar dari masalah seperti plagiarisme.

Tanpa kemampuan menulis yang mumpuni, tentu akan cukup sulit untuk menyusun suatu karya ilmiah.

Apalagi bahasa tulis yang digunakan pada karya ilmiah sangat berbeda dengan bahasa yang ada pada bahan bacaan umum seperti buku, majalah, atau koran.

Adapun tahapan jenjang karier bagi dosen, adalah sebagai berikut.

Pertama-tama adalah Asisten Ahli. Untuk menjadi seorang Asisten Ahli diperlukan pengalaman mengajar minimal selama 1 tahun.

Saat menjabat pada posisi ini, kamu harus tetap melakukan penelitian hingga pengabdian masyarakat untuk menambah angka kredit. Angka kredit tersebut dibutuhkan untuk mengajukan kenaikan jabatan fungsional.

Setelah mencapai angka kredit yang ditentukan, Asisten Ahli bisa menjadi seorang Lektor. Ada beberapa syarat untuk sampai pada tahap Lektor yaitu mencapai angka kredit yang ditentukan, memiliki ijazah S2, dan memiliki pengalaman mengajar sebagai dosen tetap.

Kemudian tahapan karier selanjutnya adalah sebagai Lektor Kepala. Jabatan yang satu ini berada di bawah jabatan fungsional Guru Besar. Untuk mendapatkan posisi ini ada beberapa persyaratan seperti menjadi Lektor minimal selama 2 tahun dan memiliki angka kredit yang sudah ditentukan. Selain itu, juga harus memiliki karya ilmiah yang dipublikasikan secara nasional dan internasional.

Jenjang karier terakhir adalah sebagai Gurur Besar. Salah satu syarat utama untuk menjadi Guru Besar adalah pengalaman mengajar minimal selama 10 tahun. Selain itu, untuk menjabat sebagai Guru Besar juga harus lulus S3 dan memiliki kinerja dan prestasi dalam bidang yang ditekuninya.

Lebih lanjut, kita pun harus paham bahwa hakikatnya dosen bukanlah sekedar profesi mengajar atau pun menyebarluaskan dan mengembagkan ilmu pengetahuan di lingkup pendidikan tinggi semata. 

Lebih dari itu, menekuni profesi dosen seseorang dituntut untuk memberikan komitmen dan dedikasi penuh pada bidang ilmu yang dikuasainya. Kedua hal tersebut akan menghasilkan buah yang manis dalam bentuk ilmu yang bermanfaat serta menggerakkan inspirasi orang-orang di sekitarnya. Hal inilah yang perlu ditanamkan pada dir setiap dosen.

Komitmen dan dedikasi tinggi adalah bagian yang melekat dalam menjalankan tugas sebagai dosen dengan sebaik-baiknya. Pemahaman ini sangat penting dimiliki agar para dosen tidak terjebak pada rutinitas dan hanya berorientasi mengejar materi.

Di samping itu, ia juga menekankan pentingnya konseptualisasi ide menjadi hal yang nyata. Dosen dituntut tidak hanya pandai melontarkan ide namun harus bertanggung jawab atas ide yang ia lontarkan. Caranya dengan minimal mewujudkan ide ke dalam tulisan sehingga bisa dikritisi oleh berbagai kalangan. Kemudian ada langkah nyata untuk mewujudkan ide itu.

Tak dipungkiri jika tugas dan tanggung jawab dosen kekinian makin berat. Tujuan pendidikan sekarang ini focus untuk mencerdaskan, bukan untuk mencetak orang yang sama. Mata kuliah  yang diajarkan dosen harus sesuai dengan kebutuhan mahasiswa dalam pekerjaan, dan kehidupan.

Walaupun pada kenyataannya pendidikan kita sekarang ini belum sepenuhnya mencerdaskan, namun meng-copy-kan pengetahuan yang sama untuk bermanfaat di industri. Kampus hanya fokus membekali mahasiswa agar dapat menjadi mesin industri, dan melanggengkan kapitalis.  

Bahkan dosen tak ubahnya hanya seorang instruktur. Dimana mereka memberikan instruksi kepada mahasiswanya untuk melakukan hal ini dan hal itu sebagai tugas, pemenuhan terhadap kurikulum.

Dilain sisi, banyak mahasiswa lebih memilih untuk sekedar mencari nilai dan mengakhiri masa studinya dengan sekedar meraih gelar sarjana dengan minimal nilai yang diberikan oleh kampus. 

Dari fenomena ini, ada esensi penting yang patut jadi bahan pembelajaran dan refleksi bagi dosen dan juga mahasiswa. Namun, yang paling dekat dengan permasalahan ini adalah mahasiswa, dan motivasinya sendiri. Artinya diri sendiri menentukan arah pemikiran mahasiswa akan menuju ke mana. Lebih dari itu, mereka lulus bukan hanya untuk menjadi mesin pekerja yang lebih taat, namun menjadi penyelesai masalah (problem solver).

Saat ini, dunia pendidikan tinggi makin tuntutan untuk mampu melahirkan generasi terdidik dan terlatih agar siap menghadapi perkembangan kemajuan jaman. Begitu pula dosen dituntut harus mampu membekali pengetahuan dan keterampilan yang mampuni kepada mahasiswanya. 

Lebih dari itu, dosen harus mampu melampaui pemahaman dari mahasiswa itu sendiri. Dosen harus mampu membentuk nilai, membangun serta mengembangkan karakter dan bakat mahasiswanya. Nalar kritis mahasiswa harus dibangun untuk lebih dari sekedar mengembangkan ilmu pengetahuan. 

Hal ini yang menjadikan konstruksinya perlu diubah. Membiasakan mereka yang bertumpu pada dosen, berubah menjadi biasa bertumpu pada nalar kritis dalam mengembangkan pengetahuan mereka.

Selain itu, dosen juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dengan melihat kebutuhan masyarakat kekinian. Melalui konsep-konsep ataupun permasalahan yang ada di masyarakat untuk menjadi sumber/bahan pembelajaran. 

Metode pengajaran dan pembelajaran yang memberikan contoh permasalahan real kemudian memberikan penguatannya, akan lebih mudah memahamkan mahasiswa, dibandingkan harus menghafal teori-teori. Namun, teori-teori tentu diperlukan untuk mendefinisikan, gejala permasalahan yang sedang terjadi.