2 tahun lalu · 218 view · 4 min baca · Budaya 35027_10151252285235782_2088396274_n.jpg
www.facebook.com

Prof. Dr. Mahmud Husein, Seorang Teolog Baik Hati dan Tak Pelit Berbagi

Dosen-dosen di al-Azhar yang sudah berwajah keriput dan berambut putih biasanya memiliki kharisma tersendiri yang tak jarang membuat kita sebagai mahasiswa asing segan untuk mendekati.

Sebagian dari mereka ada yang suka "menutup diri"; datang ke kelas untuk memberi materi, materi selesai mereka pun langsung angkat kaki. Model dosen seperti ini—baik di kampus-kampus Indonesia maupun di sini—saya kira, tak jarang kita temui.

Alih-alih datang membawa energi, kehadiran dosen seperti ini kadang membuat kita seolah-olah ingin angkat kaki.

Tapi, ada model kedua yang lain sama sekali dengan yang tadi. Mereka datang ke kelas dengan spirit mengajar yang tinggi, jika ada yang tidak paham mereka tak pernah jemu untuk mengulangi materi, ada yang minta diskusi mereka tak pelit berbagi, ada yang minta diterangkan materi mereka tak menolak untuk menemani, bahkan diajak ngobrol pun mereka tak sulit untuk diajak ketawa-ketiwi.

Dan yang lebih menyenangkan lagi, kala ujian tiba mereka tak menyuguhkan soal yang mengerenyitkan dahi. Dosen model kedua ini tentu sangat mengasyikan sekali. Mereka tak jual mahal meskipun gelar tinggi, dan kalaupun ada mahasiswanya bodoh, mereka tetap menyayangi dengan sepenuh hati.

Di lingkungan mahasiswa dua dan satu, dosen semacam ini akan jarang ditemui. Sebab, di samping karena jumlah mahasiswa tingkat satu itu melimpah dan belum dibagi-bagi, dosen pun kadang sulit untuk mengenali satu-persatu dari para mahasiswanya yang hadir menyimak presentasi.

Ini semua bisa dimaklumi, karena di tingkat satu-dua, semua mahasiswa menumpluk di satu aula besar dan mereka datang dari berbagai di negeri.

Ada yang dari Indonesia, Malaysa, Singapura, Turkey, Kazakhstan, Nigeria, Iraq, Tunis, Suria, India, Cina dan sekian banyak negeri yang tak bisa disebutkan satu-persatu di sini.

Tapi, ketika memasuki tingkat tiga, dan para mahasiswa sudah mulai mengambil konsentrasi ilmu yang hendak mereka tekuni, kelas mereka pun mulai dibagi-bagi. Setidaknya ada empat jurusan di fakultas kami: ada jurusan Akidah-Filsafat, Ilmu Hadits, Ilmu Tafsir dan Dakwah.

Nah, di tingkat tiga itulah saya bertemu dengan dosen yang unik dan baik hati ini. Ketika masuk dan mengajar pertama kali di kelas kami, dia mengampu materi Filsafat Islam sebagai materi filsafat yang kami pelajari untuk pertama kali.

Filsafat yang dikaji adalah Filsafat Paripatetik: yakni filsafatnya Al-Kindi, Ibnu Sina, dan Al-Farabi. Sebelum mengambil jurusan yang hendak ditekuni, materi ini tentu belum pernah kami pelajari.

Yang unik lagi, orang ini punya gaya mengajar yang beda sendiri. Mengajar dua jam penuh, tapi kadang yang dibahas hanya sedikit sekali. Memang bisa dimaklumi, karena dia punya pertimbangan dan sudut pandang sendiri.

Bagi dia, yang terpenting dalam belajar-mengajar itu bukan sejauh mana dosen menyampaikan materi, tapi sedalam apa mahasiswa menguasai materi. Soal tak memenuhi tak target, itu bukan persoalan besar yang harus diratapi.

Karena itu, di setiap pertemuan tak jarang ia mengulang-ngulang pelajaran yang sudah berlalu dan sudah dikaji. Di satu sisi, metodologi semacam ini membosankan, tapi di sini lain tak jarang menguntungkan, terutama bagi mahasiswa yang belum mampu menguyah materi, seperti saya ini.

Tapi, yang lebih menarik dari sosok yang satu ini bukan cara dia mengajar dan presentasi, melainkan sosoknya yang baik hati dan tak pelit berbagi waktu dan ilmu untuk kami yang bodoh-bodoh ini.

Meskipun kini rambutnya sudah memutih dan dan bergelar tinggi, tanpa rasa sungkan ia terbuka dengan para mahasiswanya dan mengajak mereka untuk datang ke kantornya sesuka hati.

"Kepada para mahasiswa asing, ayo, siapa saja yang mau bertanya, dalam pelajaran apa saja, tidak harus materi yang diajarkan sekarang, selama terkait pembahasan Ilmu Kalam dan Filsafat, Insya Allah saya selalu ada hari sekian dan hari sekian…silakan bagi yang mau datang ke kantor saya, saya hanya minta doa dari kalian saja…" Demikian ujarnya suatu hari di kelas kami.

Ada kenangan singkat bersama orang ini yang sampai saat ini tak terlupakan sama sekali. Suatu ketika saya pura-pura bertanya dengan bertujuan untuk meraih simpati. Ya habis mau gimana lagi, mahasiswa kalau mau dekat sama dosen ya harus begini. Curi-curi hati dengan banyak basa-basi.

Singkat cerita, saya menjumpainya di depan kelas dan ia pun menyambut tanpa rasa berat hati sama sekali. Berlangsunglah sebuah diskusi antara kami terkait teori Emanasi (Nazhariyyat al-Faidh) al-Farabi, Diskursus Takwil dalam Teologi 'Asy'ari, dan terakhir, kisah "pertarungan" antara Ibnu Rushd dan al-Ghazali.

Tiga isu ini memang merupakan isu yang sangat klasik sekali, tapi ada beberapa poin yang belum saya pahami. Karena itu saya meminta waktu dia untuk berdiskusi.

Diskusi tak kunjung usai dan kemudian dilanjutkan sambil berjalan kaki. Kami berjalan menuju mobilnya yang terparkir di samping kampus kami.

Tangannya menuntun saya persis seperti ayah yang tengah menuntun anaknya sendiri. Sungguh, orang ini sangat penyayang kepada para mahasiswanya dan sangat baik hati.

" Kamu pulang kemana? Gimana kalau sekalian saja sama saya sini…" Tawarnya "Engga ah pak saya malu, saya sungkan pak". Jawab saya pura-pura. "Alah sudah hayo sini naik kita lanjutkan di mobil". Timpalnya

Saya pikir orang ini baik hati sekali dan tak pelit berbagi. Selama di mobil, sambil menyetir ia tak putus memberikan penjelasan kepada saya dengan santai dan tanpa nada menggurui. Saya tak menimpali kecuali dengan pertanyaan itu ini. Tapi dia sendiri tak keberatan dan orangnya sangat terbuka sekali.

Seumur-umur di Mesir, saya belum pernah menumpangi mobil dosen al-Azhar kecuali dosen yang satu ini. Sebelum turun, saya bertanya sambil tetap cari simpati: "Pak, boleh ndak kalau saya main ke rumah bapak kapan-kapan kalau ada waktu lagi?" Dengan santai ia menjawab: "O iya donk dengan senang hati."

Inilah contoh dosen yang baik hati dan tak pelit berbagi. Menjadi dosen idealnya memang harus seperti ini. Jika ia berharap ilmunya diterima dengan senang hati oleh mahasiswa dan mahasiswi. Semoga Allah memanjangkan usia dosen kami, Mahmud Husein, sampai kelak bertemu dengan Yang MahaSuci dalam keadaan rida dan diridai.

(Kairo, Nasr City, 27 September 2016)

Artikel Terkait