Prof. Dr. KH Ali Mustafa Yaqub: Carilah Ilmu Hingga Ke Cina Adalah Hadis Palsu

Dilihat dari segi keilmuwannya, Ali Mustafa Yaqub adalah seorang pakar dalam bidang hadis. Meskipun demikian, karya yang beliau hasilkan tidak hanya terbatas pada kajian hadis saja. Banyak dari karya beliau juga yang membahas tentang Aqidah, Fiqh, Dakwah, dan tafsir yang berjumlah 17 buku.

Ali Mustafa Yaqub lahir pada 2 maret tahun 1952 di desa Kemiri, kecamatan Subah, kabupaten Batang, Jawa Tengah. Setelah menempuh pendidikan SD dan SMP di tempat kelahirannya, beliau mondok di pesantren Seblak, Jombang, sampai tingkat Tsanawiyah pada tahun 1966-1969. Beliau kemudian belajar lagi di pesantren Tebuireng yang tidak jauh dari pondok Seblak tahun pada masa 1969 hingga 1972.

Ali Mustafa Yaqub banyak menekuni kitab-kitab kuning ketika masih menuntut ilmu di pesantren. Di sana, beliau belajar kitab kuning kepada beberapa kyai senior, antara lain: KH. Idris Kamali, KH. Adhlan KH. Shobari, KH. Syamsuri Badawi serta pernah belajar kepada Abdurahman Wahid (Gusdur). Selain menjadi seorang pelajar, beliau juga ditunjuk sebagai tenaga pengajar di almamaternya dalam bidang kajian kitab-kitab kuning dan bahasa Arab sampai pada tahun 1976.

Sejak pertengahan tahun 1976, beliau mendapatkan beasiswa penuh dari pemerintah Arab Saudi. Pada tahun 1985, beliau melanjutkan studinya di bidang Tafsir dan Hadis di Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Riyadh tempat yang sama saat menmpuh pendidikan sebelumnya. 

Bagi Ali Mustafa Yaqub, tafsir dan hadis adalah bidang-bidang yang memang harus dipahami secata tepat dan detail. Kedua bidang ini sangat diperlukan dalam kehidupan masyarakat. 

Ali Mustafa Yaqub merupakan salah satu orang yang sangat kritis dan selektif dalam memilih sebuah hadis. Beliau juga dikenal sebagai figur yang mengkritisi ulama’ besar yang menurutnya melahirkan sebuah pemikiran yang melawan arus, seperti Nasir al-Din al-Albani. 

Ditunjang kemampuan bahasa Inggris yang baik, beliau juga berkesempatan untuk mengkaji beberapa karya para orientalis Barat dengan baik, seperti buku-buku Ignaz Goldziher (1850-1921), Joseph Schact (1902-1969), David Samuel Margoliouth (w. 1940), dan lain-lain.

Dalam hal menulis karya, Ali Mustafa Yaqub mempunyai sebuah filosofi yang menjadi semangatnya: Wala tamutunna illa wa antum kaatibun (Pantang meninggal sebelum berkarya). Menurutnya, sebuah tulisan akan menjadi guru lintas generasi, sedangkan kata-kata hanya untuk kurun waktu yang terbatas. 

Sebuah buku akan selalu dibaca setiap waktu. Hal ini sejalan dengan sebuah syair yang digubah olehnya: “karya-karya tulis akan kekal sepanjang masa sementara penullisnya hancur terkubur di bawah tanah”.

Dalam bukunya yang berjudul Kritik Hadis (1995), Ali Mustafa Yaqub memposisikan dirinya diantara para ahli hadis yang memberi pengertian bahwa hadis dan sunnah adalah sama. Beliau berargumen bahwa sifat dari Nabi sendiri merupakan panutan dan juga dijadikan sumber hukum dan moral dalam agama Islam. 

Lebih lanjut, Ali Mustafa Yaqub mempunyai pandangan bahwa sebuah hadis harus dipahami secara tekstual. Akan tetapi, apabila sebuah hadis tidak bisa dipahami secara tekstual, maka dibolehkan melakukan pemahaman secara kontekstual.

Hadis yang harus dipahami secara tekstual adalah hadis-hadis tentang alam ghaib dan ibadah-ibadah mahdhah. Terkait alam ghaib, otak manusia tidak mampu dalam memahami hal-hal yang ghaib. Sementara dalam kasus ibadah mahdhah, Ali Mustafa berargumen bahwa substansi sebuah teks yang menjelaskan mengenai ibadah mahdhah tersebut dapat kehilangan keuniversalannya. 

Di sisi lain, pemahaman hadis secara kontekstual tidak bisa dinafikan sebagai suatu aktivitas berfikir (ijtihad) yang bersifat “human contruction” dan kebenarannya relatif (bisa benar atau bisa salah). 

Maka dari itu, seorang mufassir kontekstual harus memiliki perangkat-perangkat ilmiah untuk memahami hadis secara tepat. Ada beberapa aspek yang harus dilihat dari luar teks hadis dalam memahami hadis secara secara kontekstual, yakni: Sebab-sebab turunnya hadis, Lokal dan temporal. Kausalitas kalimat, dan konteks Sosio kultural. 

Salah satu masalah yang mendapat perhatian khusus dari Ali Mustafa Yaqub adalah banyaknya hadis palsu yang terlanjur populer di masyarakat. Menurutnya, banyak penceramah yang kurang peka sehingga menggunakan hadis palsu semacam ini. Hadis tersebut bahkan menjadi dasar amalan ibadah mereka yang tidak diperhatikan lagi keotentikannya.

Menyikapi hal tersebut, maka Ali Mustafa Yaqub menyusun sebuah buku tentang kelemahan-kelemahan yang terdapat pada hadis-hadis palsu populer di masyarakat. Buku berjudul Hadis-hadis Bermasalah (2003) di dalamnya memuat 33 hadis yang menurut beliau bermasalah baik dari sisi sanad maupun matannya. Menurut penelitiannya, hadis-hadis tersebut lemah (dha’if) dan bahkan palsu (maudhu’).

Sebagai contoh, beliau mencoba mengkritik hadis yang sangat populer di Indonesia, yaitu hadis tentang kewajiban menuntut ilmu, sekalipun ilmu itu berada di negeri Cina. Redaksi lengkap hadis dimaksud ialah sebagai berikut:

“Uthlub al-‘ilma walaw bi as-shini fa inna thalaba al-‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin” (Tuntulah ilmu meskipun di negeri Cina, karena mencari ilmu itu wajib bagi setiap Muslim)

Sebelum mengurai kritik hadis ini, Ali Mutafa Yaqub memulai uraian dengan cerita seorang mahasiswa yang ditanya oleh masyarakat tentang siapakah yang meriwayatkan hadis tersebut, dan mengapa hadis tersebut menyebut Cina, bukan Eropa yang kini justru dianggap lebih maju. Dari cerita itu, beliau menilai ada dua pokok masalah dalam yang amat penting untuk dijawab.

Pertama, menyangkut transmisi periwayatannya, yang dalam istilah ilmu hadis disebut kritik sanad. Kedua, menyangkut disebutnya “Cina” dan bukan Eropa, yang artinya menyangkut materi atau substansi hadis.

Dalam penelusuran Ali Mustafa Yaqub, hadis “Carilah Ilmu Meskipun di Negeri Cina” diriwayatkan oleh beberapa periwayat, antara lain: Ibn ‘Ady (w. 356 H) dalam al-Kamil fi al-Dhu’afa al-Rijal, Abu Nu’aim (w. 430 H) dalam Akhbar Ashbihan, al-Khatib al-Baghdadi (w. 463 H) dalam Tarikh Baghdad dan al-Rihlah fi Thalab al-Hadits, Ibn Hibban (w. 254 H) dalam al-Majruhin, dan lain-lain. Mereka semua menerima hadis dari: al-Hasan bin ‘Atiyah, dari Abu ‘Atikah Tarif bin Sulaiman, dan dari Anas bin Malik, (dari Nabi Saw.).

Dari beberapa keterangan yang berhasil dihimpun mengenai kualitas hadis tersebut, beliau menyimpulkan bahwa hadis ini berstatus palsu (maudhu’). Faktor yang menyebabkan hadis ini palsu karena dalam rangkaian sanad terdapat nama Abu ‘Atikah Tarif bin Sulaiman, yang dikenal oleh para ulama hadis tidak mempunyai kredibilitas sebagai periwayat hadis dan suka memalsukan hadis. Al-‘Uqaili, al-Bukhari, al-Nasa’i, dan Abu Hatim, sepakat bahwa Abu ‘Atikah Tarif bin Sulaiman merupakan orang yang tidak dapat dipercaya. 

Sedangkan dari segi materi hadis, baik Ibn Hibban maupun Ahmad bin Hanbal sama-sama menentang keras keberadaan sabda Nabi seperti ini. Ibn Hibban bahkan mengatakan bahwa hadis tersebut adalah hadis bathil la ashla lahu (batil, palsu, tidak ada dasarnya).

Pada umumnya, sebuah hadis dhaif yang didukung oleh riwayat lain yang dhaif juga, maka statusnya bisa meningkat menjadi minimal hasan li ghairihi. Namun sayangnya, menurut Ali Mustafa Yaqub, hadis Carilah Ilmu Meskipun di Negeri Cina ini memiliki kasus yang berbeda. Tidak ada satu pun dari keempat jalur hadis yang ada mempunyai status atau kualitas dhaif sekalipun.

Ali Mustafa Yaqub berkesimpulan bahwa Carilah Ilmu Meskipun di Negeri Cina tidak boleh lagi disebut sebagai hadis, meskipun kalangan masyarakat awam menganggapnya sebagai hadis. Paling bagus, ungkapan itu hanyalah sebuah kata-kata mutiara. Boleh jadi, karena begitu cepatnya kata mutiara ini menyebar, lama-kelamaan dianggap hadis, apalagi masyarakat mengetahui bahwa memang sudah sejak dulu masyarakat Cina terkenal mempunyai kebudayaan yang tinggi.

Kepalsuan hadis Carilah Ilmu Meskipun di Negeri Cina dapat terlacak dari redaksi lengkapnya yang berbunyi: “Uthlub al-‘ilma walaw bi as-shini fa inna thalaba al-‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin.” Redaksi ini, sebenarnya bisa dipenggal menjadi dua kalimat: pertama, “uthlub al-‘ilma walaw bi as-shini”, kedua, “thalaba al-‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin.” Penggalan kalimat pertamalah yang menyebabkan hadis ini palsu.

Penggalan kedua, jika ia berdiri sendiri, lalu disampaikan kepada umat, maka ia sebenarnya mempunyai status shahih. Jadi, jika ada orang mengatakan bahwa ia membaca, menyampaikan, atau mendapat hadis, yang artinya berbunyi: “Mencari ilmu itu wajib bagi setiap Muslim,” maka hadis itu statusnya adalah hadis shahih sebab itu memang berasal dari Nabi yang antara lain, diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Imam, oleh al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Shagir dan al-Mu’jam al-Awsath, dan oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad.

Sayang sekali, Indonesia harus kehilangan salah satu ulama’ kharismatik yang sangat berpengaruh ini. Ali Mustafa Yaqub meninggal dunia pada 28 April 2016 di Tangerang.