2 tahun lalu · 363 view · 5 min baca · Filsafat stock-photo-al-azhar-university-founded-in-ad-is-the-centre-of-arabic-literature-and-islamic-learning-in-295715900.jpg
www.facebook.com

Prof. Dr. Gamal 'Afifi, Dosen Filsafat dengan Kesabaran Luar Biasa Sekali

Nama Gamal 'Afifi tak pernah absen di kelas kami sejak kami memasuki tahun kedua sampai kami memasuki kelas nihai. Materi yang diampunya dari tahun ke tahun hampir tak pernah berubah sama sekali. Kalau tidak mengampu Filsafat Umum dan Filsafat Eropa, Gamal biasanya mengampu materi Ilmu logika dan Filsafat Yunani.

Di tahun kedua dia mengampu materi Filsafat Umum (al-Falsafah al-'Ammah)—karena di tahun tersebut kami belum mengambil spesialisasi bidang yang kami tekuni. Di tahun selanjutnya dia mengampu materi Filsafat Yunani (al-Falsafah al-Yunaniyyah). Karena di tahun tersebut kami sudah mengambil spesialisasi.

Filsafat ini dijadikan sebagai salah satu materi wajib sebab—seperti yang ditegaskan oleh Gamal sendiri—orang yang belum mempelajari Filsafat Yunani belum bisa dikatakan sebagai pengkaji Filsafat sama sekali (man lam yadrus al-Falsafah al-Yunaniyyah lam yadrus al-Falsafah)

Kemudian di tahun selanjutnya lagi—tahun terakhir kami menempuh studi—dia mengampu materi Filsafat Eropa (al-Falsah al-Urubbiyyah) yang, dalam pandangan saya, bahasannya cukup rumit dan ruwet sekali.

Jika dalam materi Filsafat Yunani kita berjumpa dengan orang-orang seperti Socrates, Plato, Aristoteles, Anaximander, Anaximenes, Pythaghoras, dan Heraclitos, maka dalam tradisi Filsafat Eropa kita diperkenalkan dengan orang-orang seperti Leibniz, Descartes, Kant, Spinoza, Bacon, John Locke, dan para filosof lain yang telah menghembuskan angin kebangkitan dalam peradaban Barat seperti yang kita saksikan dewasa ini.

Gamal merupakan salah satu profesor Filsafat dengan kapasitas keilmuan yang mumpuni. Di lingkungan dosen-dosen al-Azhar, kapasitas keilmuan Gamal—terutama dalam bidang ilmu-ilmu rasional (al-'Ulum al-'Aqliyyah) hampir tak diragukan lagi.

Abdurrahman Fahmi—dosen muda yang pernah saya kisahkan pada tulisan sebelumnya—adalah salah satu muridnya yang hingga saat ini masih aktif mengajar di kelas kami. Banyak dosen-dosen Akidah-Filsafat yang pernah menjadi muridnya Gamal, terutama dosen-dosen muda yang masih berenergi.

Semenjak menjadi mahasiswa, Gamal sendiri dikenal sebagai mahasiswa yang cerdas sekaligus murid kesayangan Prof. Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq yang saat itu dikenal sebagai salah satu Profesor Filsafat terbaik di lingkungan para Azhari.

Zaqzuq pernah enam tahun sekolah di German, sementara Gamal tak pernah sekolah ke luar negeri. Tapi untungnya, hubungan mereka berdua—seperti yang dituturkan oleh Gamal sendiri—sangat dekat sekali.

Berkat kedekatannya dengan Zaqzuq itulah Gamal akhirnya tak hanya paiwai dalam menguraikan tradisi Filsafat Islam dan Ilmu Kalam ala Azhari, tapi juga mampu mengunyah tradisi Filsafat Eropa dan Yunani dengan sangat baik sekali.

Dalam soal mengampu materi Filsafat Eropa, posisi Gamal hampir tak tergantikan sama sekali. Sampai sekarang ini. Terbukti, siapapun yang memasuki kelas nihai dan mengambil materi Filsafat Eropa, pastilah dia akan bertemu dengan Gamal 'Afifi.

Hanya ada satu orang yang bisa menggantikan posisi Gamal dalam bidang ini, yaitu Prof. Dr. Gamal 'Abduh, dan usianya sudah tua sekali.

Gamal punya gaya mengajar tersendiri yang sepertinya tak akan ditemukan pada gaya mengajar dosen-dosen lain sama sekali. Gamal adalah dosen yang sangat sabar. Itu harus diakui.

"Ayo kalau ada yang belum paham tanyakan. Ingat, saya punya kesabaran yang mungkin setara dengan kesabaran Nabi Ayyub untuk mengajar kalian." Tuturnya suatu hari di kelas kami.

Cara khas utama Gamal dalam mengajar ialah mengulang materi berkali-kali. Dan uniknya, selama mengajar, dia tak pernah melihat buku sama sekali. Satu pokok pikiran, misalnya, disampaikan, setelah itu diulang lagi dan diulang lagi. Disampaikan pokok pikiran kedua, kemudian diulang lagi dan diulang lagi. Disampaikan pokok pikiran ketiga, kemudian diulang lagi dan diulang lagi.

Kembali lagi ke pokok pikiran pertama, kedua, dan ketiga, lalu diulang lagi dan diulang lagi berkali-kali. Dan begitu seterusnya sampai kemudian di akhir presentasi dia mendiktekan sejumlah pertanyaan terkait materi yang sudah dikaji.

Mahasiswa tak disuruh diam. Tapi semuanya harus ikut meneriakan suara dan mengikuti apa yang disampaikannya berkali-kali tadi. Kadang membosankan, tapi gaya mengajar seperti ini sedikit mempertebal pemahaman akan materi. Apalagi materi yang diajarkan sangat sulit sekali.

Jangan dikira bahwa selama dua jam penuh itu Gamal mengajar dengan suara santai dan diselingi istirahat sambil minum kopi. Kalau Gamal sudah mengajar, suaranya bisa sampai ke halaman kampus kami. Dan itu tak hanya dia lakukan di kelas kami. Tapi di seluruh kelas yang dia masuki. Luar biasa memang orang ini. Kesabarannya luar biasa sekali.

Satu lagi, yang unik—untuk tidak berkata menjengkelkan—dari Gamal. Kalau dia sudah mengajar, aturan utamanya ialah: tak boleh ada satu bibir mahasiswa pun yang menyela penjelasannya di saat dia sudah mulai presentasi.

Semuanya harus diam dan tak boleh bersuara kecuali setelah diinstruksikan oleh Gamal sendiri. Titik. Tak ada tawar-menawar lagi. Kalau ada yang mau bertanya, pertanyaannya harus ditunda sampai nanti, setelah presentasi.

Suatu hari—persisnya di tahun ketiga ketika pertama kalinya kami mempelajari Filsafat Yunani—saya duduk di depan sambil menyimak dia presentasi. Sambil membolak-balik buku, saya tak kunjung mampu memahami apa yang disampaikan Gamal ketika presentasi.

Akhirnya saya pun memberanikan diri untuk bertanya kepada orang ini: "Pak, maaf, ini yang tadi saya ko ga…" "Udah diem, kamu tahu aturannya kan, tidak ada yang boleh berbicara kecuali saya. Nanti nanti..nanti saja kalau sudah selesai presentasi…" Tegas Gamal tanpa basa-basi.

"Ya sudah pak kalau begitu… saya minta maa…" Belum sempat tuntas permohonan maaf Gamal sudah menimpal lagi: "Eh, udah diem! Kamu ini!"

Wah, setelah ditegur seperti itu saya langsung pundung dan tak mau masuk kelas dia lagi selama beberapa hari. Habisnya menyebalkan sekali. Tapi perlahan saya mulai memahami.

Gaya mengajar seperti itu Gamal tempuh demi memusatkan konsentrasi. Agar semua mahasiswanya paham, dan ketika ujian mereka bisa menjawab pertanyaan dengan lancar tanpa mengerenyitkan dahi.

Gamal tak jarang berkata kepada kami: "Kalian ini di mata saya persis saya pandang seperti anak saya Muhammad yang saya sayangi…"

Ternyata di balik gaya mengajarnya yang seperti guru TK itu, Gamal menyimpan rasa kasih sayang yang mendalam kepada para mahasiswanya seperi kasih sayangnya kepada buah hatinya sendiri. Subhanallah. Di samping penyabar, dosen yang satu ini penyayang sekali.

Saya kadang tak membayangkan, apa rahasia di balik kekuatannya dalam mengajar dengan gaya seperti tadi. Teriak, mengulang berkali-kali, jarang duduk di kursi, sudah begitu kelas yang dia masuki banyak sekali.

Yang saya tahu, Gamal senantiasa mendawamkan surat Yasin setiap hari. "Saya selalu mendawamkan surat Yasin setiap hari. Dan Alhamdulillah, Allah senantiasa membukakan jalan kemudahan bagi seluruh persoalan yang saya alami." Tuturnya suatu hari di kelas kami.

Semoga Gamal tetap istiqamah mengajar di kampus kami, semoga usianya diberkahi, seluruh dosanya diampuni, dan semoga kelak kembali kepada Yang MahaSuci dalam keadaan rida dan diridai.

Ila Gamal 'Afifi, tahiyyatan li 'ilmihi wa fadhlihi, Thalibukum al-Andunisiy.

(Kairo, Zahra-Medinat Nasr, 08 Oktober 2016)

Artikel Terkait