Secara geografis desa Todang-Todang terletak di Kecamatan Limboro Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Dari sebelas Desa yang ada di kecamatan Limboro, Desa Todang-Todang termasuk Desa yang paling terluas yakni 7,14 km2 dengan jarak 37.7 km dari jalan poros Majene-Polewali.

Pada masyarakat Todang-Todang, akan kita jumpai mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani dan pekebun. Namun, yang menjadi penghasilan utama bagi masyarakat setempat adalah produksi gula merah. Gula merah yang ada di Todang-Todang menjadi ciri khas produk lokal dan sudah dikenal oleh daerah-daerah lain.  

Secara kultural, penghasilan gula merah telah menjadi warisan secara turun-temurun dan bertahan sampai sekarang ini. Walaupun produksi gula merah sedikit mengalami pergeseran dalam meminatinya, yang banyak diakibatkan karena beralih pada pertanian kakao. Akan tetapi, produksi gula merah tetap menjadi hal yang tak bisa dihilangkan dan tetap menjadi penghasilan dalam pemenuhan kebutuhan pokok bagi masyarakat setempat.  

Dalam memproduksi gula merah tentu membutuhkan keahlian khusus dan pembiasaan secara teratur sehingga dapat menjadi sebuah gula merah. Butuh kesabaran dan keteguhan agar dapat menjadi gula merah yang siap konsumsi dan dapat dipasarkan.  

Hasil gula merah ini diambil dari pohon aren yang masih berbentuk air dengan mengalami berbagai proses tertentu. Air dari pohon aren itu disebut "manyang". Sebutan manyang ini dinamai/akrab bagi masyarakat Mandar, khususnya Todang-Todang sendiri. Manyang inilah yang nantinya akan dimasak hingga mengental dan akhirnya dapat menjadi gula merah.

Pembuatan gula merah di desa Todang-Todang masih tergolong tradisional. Dalam prosesnya masih menggunakan tenaga manual dari tangan manusia, begitu pun dengan alat-alat yang digunakan dalam memproduksi.

Pembuatan Gula Merah

Untuk pembuatan gula merah di desa Todang-Todang melalui beberapa tahap yang perlu untuk diperhatikan yakni:

Pertama, manyang yang sudah diambil dari pohon aren selanjutnya akan dimasak dengan menggunakan wajang yang besar. Dalam proses pemasakan ini akan terus dilakukan sampai manyang tersebut mendidih.

Kedua, selanjutnya kita memasukkan manyang yang sudah mendidih tersebut ke jergen atau bambu yang biasa dipakai untuk mengambil manyang dari pohon aren. Proses ini bertujuan agar tempat manyang tersebut tidak mengalami rasa pahit dan asam.

Ketiga, proses pemasakan manyang terus dilakukan hingga dapat mengental dan berubah warna menjadi kemerahan. Pada saat sudah mau mengental biasanya kita masukkan sedikit kelapa atau bisa juga kemiri. Hal ini bertujuan agar manyang dapat dengan cepat mengental dan menjadi gula merah yang siap konsumsi.

Keempat, setelah manyang mengantal, kemudian kita aduk sampai siap untuk dimasukkan pada tempurung kelapa yang sudah disiapkan sebelumnya. Cara ini dilakukan agar gula merah tersebut berbentuk seperti halnya kelapa.

Kelima, setelah semuanya di masukkan pada tempat tempurung kelapa dan juga sudah mengeras. Kemudian kita keluarkan kembali untuk dilakukan pembungkusan. Proses pembungkusun ini menggunakan daun pisang yang sudah kering. Kenapa mesti harus daun pisang kering?, supaya gula merah tersebut dapat bertahan lama dan tidak melelah nantinya walaupun berada pada cuaca yang dingin.  

Dinamika Sosial Penjualan Gula Merah

Kondisi masyarakat Todang-Todang masih tergolong dengan sistem kekeluargaan yang tinggi. Pengaruh perkembangan media sosial, bisa dikatakan tertinggal jauh jika dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya. 

Hal ini disebabkan karena daerah tersebut masih mengalami keterbatasan akses jaringan sebagai faktor utama dalam pengaruh media sosial apalagi melakukan tranksaksi online. Sehingga tidak heran jika proses jual beli gula merah masih mengandalkan para pedagang-pedagang lokal.

Namun,  ada sedikit kekeliruan yang dialami para pedagang gula merah ini tentang bagaimana pengaruh hubungan sosial dan dinamikanya. Seperti halnya, para pedagang gula merah ini sama-sama bersaing dengan cara bergiliran siapa yang dapat membeli gula merah tersebut.

Disini biasa terjadi permainan harga para pedagang, tarik ulur untuk bersaing memberikan harga tertinggi agar bisa mendapatkan bagian dalam pembelian gula merah. Proses persaingan seperti ini biasa terjadi kesalahpahaman yang dapat berujung kebencian sesama pedagang walaupun terikat dengan hubungan kekeluargaan.

Bagi pejual gula merah sendiri tidak bisa terlalu mempermainkan harga. Melihat hubungan ikatan kekeluargaan dan hubungan sosial yang tinggi, sehingga hanya dapat mengikuti perkembangan harga berdasarkan dari penentuan para pedagang. Namun, hal ini sudah menjadi kebiasaan dan bahkan kondisi masyarakat merasa tidak ada yang dirugikan.  

Padahal, ketika kita melihat secara menyeluruh justru terjadi ketidaksesuain. Proses penjualan gula merah tidak dapat ditentukan oleh pembuatnya sendiri. Sehingga penjual hanya dapat mengikuti penentuan harga berdasarkan pada keputusan para pedagang. Secara konsep kondisi ini memisahkan kerja manusia dengan hasil yang didapatkan dengan terjadi ketidakseimbangan antara kerja dan hasil.