Apa yang sudah diajarkan orang tua kepada kalian? Kehangatan seperti apa yang diberikan mereka untuk anda? bagaimana didikan mereka dalam menunjang personalitas kalian? Apakah semua itu terpenuhi dengan baik? Atau malah didikan dan kasih sayang yang diberikan terbuang sia-sia?

Tidak ada keluarga yang sempurna. Begitulah semua orang menyebutnya. Dalam suatu rumah tangga, akan ada permasalahan yang terus terjadi dalam mencapai tujuan hidup berkeluarga. Saya ingin berbagi sedikit tentang pengalaman saya sendiri dengan hidup menjadi produk gagal orang tua saya.

Ibu saya adalah ibu rumah tangga biasa. Dan ayah saya merupakan pensiunan PNS. Saya dilahirkan oleh ibu saya saat umur ibu saya sekitar empat puluhan. Ibu saya tidak mengetahui, bahwa dia hamil. Istilahnya hamil tua. Usia melahirkan yang normal bagi wanita adalah antara 21-35 tahun. Saya lahir secara prematur.

Saya merasa bersyukur karena selama hidup, saya dapat berkembang secara normal (bersosialisasi, cara berpikir, berorganisasi) layaknya orang lain. Hanya saja, karakter saya tidak dapat dibentuk dengan baik. Pemicunya adalah trauma saat saya kecil. Saya dibesarkan dengan ketakutan akan kekerasan dalam suatu keluarga.

Permulaannya dari saya belum memasuki TK. Saya masih ingat betul bagaimana papa saya memperlakukan mama saya dengan tidak hormat baik secara fisik, maupun batin. Mulai dari perkataan yang tidak pantas untuk didengarkan maupun doing physical abuse. Hal ini hampir berjalan selama 21 tahun alias seumur hidup saya. Banyak yang bertanya, kenapa tidak cerai saja?

Keluarga saya merupakan penganut Katholik. Dalam aturan gereja Katholik, tidak boleh ada perceraian. Kalau pun memang bisa bercerai, mungkin hanya bisa mengurus di kantor sipil tapi tidak dengan gereja. Karena gereja menolak dengan segala alasan apa pun untuk bercerai. Peluang dalam bercerai di ajaran anutan saya, prosentasenya sangatlah kecil.

Mereka bisa mengurus permohonan surat cerai kepada gereja dengan catatan surat tersebut dikirimkan kepada pemimpin tertinggi umat Khatolik, di Vatikan. Ya, memohon persetujuan dari Paus untuk bercerai. Jangka waktu administrasinya bisa memakan waktu hingga puluhan tahun. Maka dari itu, menjadi hal yang mustahil untuk bisa bercerai secara agama.

Tapi ibu saya keras akan hal ini. Karena menurutnya, sekali pun bisa bercerai secara sipil sama saja mengkhianati Tuhan. Mengkhianati kepercayaan yang diberikan Tuhan kepada Ibu dan Ayah saya. Tetapi saya, sebagai anak yang dilahirkan perempuan sendiri dengan memiliki dua kakak laki-laki, seperti I don’t feel safe on my home. Dan perasaan tersebut menghantui saya selama hidup saya sampai sekarang ini.

Secara materi, kebutuhan akan pangan, papan, dan sandang memanglah terpenuhi. Tetapi kebutuhan jiwa? Nihil. Ini yang membuat saya menjadi pribadi yang tertutup, keras kepala, keras hati, dan pemberontak. Hal ini disebabkan karena saya menyimpan akumulasi amarah saya selama 21 tahun ini.

Keluarga seharusnya menjadi fondasi utama dalam pengembangan karakter anak, menjadi tempat pelampiasan saya baik karena faktor internal maupun eksternal. Jujur saja, saya harus banting setir dalam mendandani karakter saya yang buruk menjadi sedikit naik level ke arah yang lebih baik lagi, dengan mencari teman yang hidupnya positif.

Ini terjadi saat saya kuliah. Sebelumnya, dari saya TK-SMA saya merupakan pribadi yang seenaknya, tidak dapat berempati terhadap orang lain, penakut, rendah diri, mudah tersinggung, merasa paling benar, dan beberapa hal yang sudah saya sebutkan di atas. Sebelum saya memasuki gerbang perkuliahan, saya sadar bahwa dalam diri saya ada yang salah.

Saya sadar bahwa pergaulan mempengaruhi pola pikir kita dan perkembangan karakter kita. Sebelum memasuki masa kuliah saya sempat merasakan hubungan pertemanan yang gagal dan saya juga pernah berteman dengan “kelompok nakal”. In the end, saya memiliki tekad untuk membawa diri saya ke pergaulan yang lebih baik dan positif.

Tuhan mengabulkan doa saya. Meskipun saya harus ditempatkan di universitas yang tidak saya harapkan, tetapi di titik inilah saya merasa baru kali ini dapat menikmati hidup secara bahagia. Saya berteman dengan orang-orang yang tidak hanya mengandalkan kecantikan, tetapi memberikan saya ilmu dan wawasan yang luas tentang kehidupan dan sekitar.

Saya yang sebelumnya cenderung tertutup pada laki-laki, akhirnya bisa terbuka tentang banyak hal. Tidak hanya membicarakan masalah asmara, tetapi membicarakan tentang masa depan, kemampuan dalam berkepemimpinan, problem solving, seks, pernikahan, spiritual, dan pengembangan diri yang lain.

Peran orang tua sangatlah dibutuhkan dalam membangun kecerdasan emosional sang anak. Anak dapat mengenali emosinya, entah marah, sedih, senang, dimulai dari umur tiga tahun. Bagaimana menebak emosi anak yang berumur sekian? Salah satunya dengan mengajak bermain.

Ketika anak bermain, kita dapat membantunya dalam memecahkan masalah yang terjadi. Kita bisa tahu bagaimana emosi sang anak jika dalam sebuah permainan ia tidak bisa menyelesaikannya dengan baik. Jika sang anak menjadi marah, maka orang tua bisa memberikan pengertian kepada anak dalam menyelesaikan suatu masalah.

Tidak hanya mengajaknya bermain, kita pun perlu melakukan kontak fisik dengan sang anak. Contoh kecil saja, berpelukan. Seperti diketahui, berpelukan dapat menambah jumlah hormon oksitosin, di mana hormon oksitosin adalah hormon yang bisa meningkatkan kepercayaan diri, mengurangi rasa takut, dan ketenangan. 

Ketika anak sedih, marah, orang tua bisa memeluknya meskipun hanya beberapa menit. Dan sebenarnya ini bisa menjadi kebiasaan yang dilakukan mulai dari sang anak sudah mengenali emosinya.

Sebenarnya yang membuat orang tua seperti gagal dalam mendidik anak, karena orang tua lupa memantau perkembangan psikologis anak dari kecil yang rentan meniru. Apa bisa menyalahkan anak durhaka terhadap orang tua, jika dari kecil anak sudah diperlihatkan drama pertengkaran?

Kecerdasan emosional yang dipunyai anak adalah nihil. Akhirnya ketika anak beranjak dewasa, anak mencari role model sendiri yang bisa dijadikan panutan. Bersyukur jika yang dijadikan idola adalah yang bersikap positif. Jika yang dijadikan idola adalah orang yang menyesatkan?

Kecerdasan emosional sangat berkaitan dengan kecerdasan spiritual di mana dua-duanya haruslah imbang. Ada seorang pendoa yang taat, tapi cara pengendaliannya nihil. Nilai agama yang ditanam pun menjadi sia-sia. Bahkan, yang lebih parah, bisa jadi mereka tidak takut akan Tuhan karena jiwa sang anak kosong.

Orang tua diharapkan memiliki bekal yang cukup dalam mengasuh anak. Tidak hanya memberikan anak materi yang cukup dan kebutuhan ekonomi yang lainnya, tetapi memberikan mereka kebutuhan jiwa yang baik. Orang tua tidak perlu beranggapan: “dulu saya waktu seumuran anak saya tidak seperti itu.” Semua bergantung dalam cara untuk menyediakan jiwa yang baik bagi sang anak.