Perkara makanan tak bisa dianggap sepele. Mungkin memang sebagian orang menganggap perkara makan hanya soal menghilangkan lapar saja secara temporer. Pandangan ini terlihat pada orang-orang yang biasanya tidak mau ambil pusing menu makanan apa yang harus masuk ke dalam perutnya hari ini. Orang-orang seperti ini juga tak punya keinginan kuat untuk bereksperimen atau melakukan uji coba terhadap makanan-makanan yang belum pernah di makannya.

 Saya sendiri merasa tak masuk ke dalam golongan orang-orang itu. Sebab bagi saya makan adalah suatu proses yang amat menyenangkan dan begitu ditunggu-tunggu. Namun Anda jangan terburu-buru mengecap saya sebagai orang yang rakus. Karena saya menganggap setiap makanan yang tersaji dan dihidangkan untuk dimakan berasal dari proses pemasakan yang tidak dapat kita anggap mudah. 

Ya, mari kita akui bersama bahwa memasak bukanlah hal mudah. Saya berulang-kali mencoba untuk memasak, dan hasilnya tidak cukup menggembirakan. Jangankan orang lain, saya sendiri saja terpaksa memakannya, karena tidak punya pilihan lain saat itu.

Oleh karena itul, prosesi makan bukanlah hanya sekadar proses mengenyangkan perut belaka. Makan adalah peristiwa yang begitu bermakna. Makanan adalah anugrah yang mesti disyukuri. Lebih dari itu kemampuan kita untuk makan juga merupakan berkah yang sama penting untuk disyukuri. 

Lihatlah di luar sana ada begitu banyak orang yang tidak dapat menikmati makannya. Ada yang karena tidak mampu secara ekonomi. Ada pula–ini yang lebih sering––yang tidak dapat makan (menu tertentu biasanya) karena penyakit yang melanda.

Hadirnya penyakit-penyakit itu juga tak lain berasal dari apa yang dimakan. Bisa jadi dari tidak seimbangnya porsi makan atau penggunaan bahan-bahan yang tidak baik bagi kesehatan. Maka begitu penting perkara makan ini. Sebab ia menentukan apa yang terjadi pada diri kita selanjutnya. Begitu penting bagi kita untuk memilih makanan yang kita makan. 

Di samping itu ketepatan porsi dan gizi juga patut dipertimbangkan dengan cermat. Karena jika kita memakan makanan yang mengandung zat-zat tidak baik bagi kesehatan maka lambat-laun tubuh kita bakal mengidap penyakit. Apalagi di masa kini, ada begitu banyak makanan instan yang mengandung zat-zat kimia yang tidak baik (jika kita tak hendak menyebutnya berbahaya).

Hal-hal inilah kiranya yang menyebabkan saya begitu berhati-hati dan cermat dalam memilih makanan yang bakal saya santap. Meski sebagian orang tidak terlalu atau tidak sempat peduli pada persoalan ini. Namun saya tidak ingin merusak tubuh saya sendiri dengan makanan-makanan tidak sehat. Disamping itu pula persoalan rasa dan selera juga tak kalah penting.

Hidup untuk makan.

Terkadang, pada saat-saat tertentu, saya memerlukan waktu hingga 2-3 jam untuk menentukan apa yang menarik dan menyelerakan untuk dimakan hari ini. Biasanya saya berdiskusi dengan orang-orang terdekat saya perihal ini. Namun parahnya, mereka juga sama seperti saya: kebingungan atas apa yang sedap dan enak di makan untuk dimakan saat itu.

Kebingungan memilih jenis makanan ini mampu menyedot waktu hingga berjam-jam. Biasanya saat peristiwa ini terjadi, saya membayang-bayangkan seluruh makanan yang lezat yang saya tahu dan pernah saya makan. Mulai dari berbahan daging sapi, daging kambing, daging ayam, ikan bersama keluarga seafood-nya, mie, roti hingga sayur-mayur. 

Mulai dari nasi goreng, sop, soto, sate, lontong, gado-gado, mie rebus, mie goreng, pizza, burger, roti bakar, dan tak semua tersebutkan lagi. Berbagai rumah makan, mulai dari warung pinggir jalan hingga restoran cepat saji coba saya ingat-ingat semua menunya. Namun sayangnya, lidah saya begitu sulitnya di ajak berkompromi. Begitu sulit ia menerima makanan apa yang bakal melewatnya nanti.

Padahal, jika kita renungkan sejenak, lidah (baca: mulut) hanyalah tempat gerbang bagi masuknya makanan-makanan tersebut. Segala cita rasa makanan yang lezat maupun tak lezat hanya dapat dirasakan ketika makanan masih berada di dalam mulut saja. 

Begitu terjun ke kerongkongan, segala cita rasa itu lenyap tak bersisa. Nah, renungan ini memang benar, pada satu sisi. Namun pada sisi lainnya, saya memberi anggapan renungan ini tampaknya hanya untuk orang-orang yang tidak merayakan hidup, dan saya sama-sekali tidak berminat masuk ke dalam golongan itu.

Saya adalah orang yang berpegang pada prinsip “hidup untuk makan”. Sebab makan adalah satu bentuk perayaan hidup yang berlangsung rutin dan tidak boleh tidak. Dalam artian implisit bermakna bahwa saya merayakan hidup saya setiap hari, dengan makan, yang penuh nikmat dan rahmat.

Mesti lezat dan menyelerakan

Makanan sudah turut melengkapi peradaban manusia sejak 2700 SM. Hal ini dapat kita temukan pada gambar-gambar dinding di Kerajaan Mesir, yang melukiskan bagaimana berburu sebagai bagian dari cara untuk mendapatkan makanan yang enak dan bergizi. Selain itu, pada dinding tersebut ada gambar yang dapat memberi arti bahwa makanan yang enak haruslah di masak. 

Karena itu dibutuhkan juru masak yang pintar meramu bahan makan dan mengolahnya menjadi santapan lezat. Saat menikmati makanan itu juga dilakukan di taman indah dengan suasana menyenangkan. Gambar-gambar tersebut secara keseluruhan mengartikan bahwa manusia senantiasa mencari cita rasa makanan yang lezat dan menyelerakan, dibarengi suasana yang santai dan menyenangkan.

Pejabat dan petinggi juga punya selera makanan sendiri. Misalnya Soeharto suka tempe bacem, Habibie suka omelet, dan SBY suka soto ayam. Koki yang memasak tentulah telaten dan sangat ahli dengan bidangnya. Maka kiranya tak salah jika saya juga punya selera tersendiri terhadap makanan. 

Namun, dari waktu ke waktu berbagai menu yang terhidang telah saya lahap sedemikian rupa. Makanan yang menjadi tren belakangan ini, saya coba satu persatu, seperti es kepal Milo, tahu bulat, ayam geprek, sate taichan, Thai tea, rujak mangga, dan martabak mulai dari 4 rasa, 8 rasa, hingga belasan rasa bahkan.

Problemnya ialah dari banyaknya menu makanan yang ada, saya merasa mesti terus menemukan makanan yang baru lagi, yang lebih enak, yang lebih lezat, lagi dan lagi. Meskipun rendang dan nasi goreng ditempatkan survei CNN (2017) sebagai World’s Most Delicious Food, saya juga telah merasa bosan dan tak lagi begitu selera dengan kedua menu tersebut. Inilah barangkali pembuktian dari semakin banyaknya pilihan di masa kini, maka tingkat kepuasan juga semakin meninggi. Karena memilih makanan bukan lagi hanya sekadar kebutuhan dasar belaka, melainkan telah menjadi bagian dari gaya hidup.

Dampak negatif

Alhasil dari banyaknya makanan yang saya makan, dampak negatifnya ialah melejitnya berat badan. Dalam beberapa bulan terakhir mengalami penaikan berat badan yang begitu signifikan, yakni sekitar 10 kg. Tentu ini berdampak bagi kesehatan saya, terutama di masa mendatang. Kenaikan ini tak saya sangka-sangka sebelumnya. Padahal saya telah berusaha memilah makanan yang “baik, sehat dan higenis” untuk saya makan. Namun pada kenyataannya tidak demikian.

Maka tak perlu heran, jika Global Nutrition Report menyebut dua miliar orang saat ini mengalami obesitas (kelebihan berat badan). Fenomena ini tidak hanya terjadi di negara maju, melainkan juga telah menjadi ancaman bagi negara berkembang. Kondisi obesitas ini diperparah pula dengan gaya hidup sedenter, yakni terlalu banyak duduk dan kurang berolahraga. Efek jangka panjang dari tren ini ialah menciptakan banyaknya orang-orang yang “sakit sebelum kaya”.

Inilah problem besar yang kita hadapi dalam konteks makanan. Semakin banyaknya makanan yang ada dan terhidang kini, disamping membawa berkah, juga turut membawa masalah, layaknya blessing in disguise. Kita mesti bijak menyikapi hal ini. Kita mesti memberi perhatian pada apa yang semestinya dan apa yang tidak harus kita makan. Sebab, Anda di masa mendatang bergantung pada yang Anda makan di masa kini.