97384_50246.jpg
Ilustrasi: klikaktifis.com
Politik · 5 menit baca

Jambore Nasional dan Soal-Soal yang Belum Selesai
Jawaban atas Jawaban Panitia Jambore Nasional Cipayung Plus

Hari-hari ini politik mahasiswa sedang memasuki ruang sejarah yang unik. Kira-kira hanya berselisih 28 jam sejak pandangan penulis dikemukakan--dengan judul tulisan "Membajak Jambore Nasional" di pusgit.com--penulis mendapat semacam kabar bahwa ada jawaban dari ketua panitia Jambore Nasional soal pandangan-pandangan aktivis di banyak wilayah kerja.

Penulis sendiri sedikit heran dengan tanggapan itu. Bahkan keheranan itu hadir sejak membaca judul artikel yang memuat tanggapan ketua panitia Jambore Nasional.

Tanggapan itu dimuat di kicaunews.com dan di kabarrakyat.net, masing-masing dengan judul "Jambore Menjawab Fitnah" dan "Ketua panitia Jambore kebangsaan dan Kewirausahaan menjawab tuduhan tak berdasar". Tanggapan itu dibungkus dengan judul yang optimistis dan berapi-api memang, tapi apakah rasionalitas dari tanggapan ketua panitia itu punya dudukan argumentasinya atau tidak? Itulah yang ingin diuji pada tulisan ini.

Tanggapan itu dimulai dengan alasan penyelenggaraan jambore dan visi persatuan yang dikandungnya kemudian bergerak kepada sanggahan atas anggapan bahwa Jambore itu berorientasi politik, lalu bergeser pada keluhan yang disajikan dengan kalimat "untuk menyelenggarakan Jambore dengan 5000 peserta dari seluruh Indonesia bukanlah tugas mudah dan tentu membutuhkan anggaran yang tidak sedikit", kemudian bergerak lagi pada penjelasan kerja-kerja panitia dalam mencari sponshorship.

Di akhir tanggapan itu, memuat semacam upaya membungkam kritik dengan menyajikan kemungkinan upaya-upaya hukum yang akan diambil panitia Jambore itu. Berikut penulis mencoba mendudukkan berbagai problem dari tanggapan tersebut.

Soal Dana Sekian Miliar & Orientasi Politik pada Jambore

Informasi angka suntikan dana Jambore yang didapat Netizen berasal dari protes mahasiswa UIJ yang dirangkum aktual.com dengan judul berita "Galang penolakan Jambore, HMI UIJ tuding Aliansi Cipayung Plus dibungkam Pemerintah". Pada paragraf akhir berita itu, terdapat penyebutan angka 20 Milyar itu. Anggapan ini, jika pun tidak benar, harusnya dipahami bukan sebagai fitnah oleh panitia Jambore yang (konon) punya kedewasaan sikap keorganisasian.

Sebagai kelompok akademik, ketua panitia Jambore harusnya memahami penyebutan angka itu dalam wilayah analisis. Kita bisa sangat mudah membaca tanggapan ketua panitia secara psikologis, dimana (sangat mungkin) ia begitu percaya diri bahwa tidak ada kebocoran informasi soal anggaran kepanitiaan. Alih-alih menjelaskan jumlah anggaran, ia malah membangun sikap destruktif dengan menjustifikasi penyebutan angka itu sebagai tuduhan tidak berdasar.

Tuduhan pembungkaman terhadap organisasi yang terangkum dalam forum silaturahim cipayung pun disanggah dengan menegaskan bahwa idealisme mahasiswa tidak boleh dibungkam. Alih-alih menjelaskan dudukan idealisme itu pada jambore, artikel itu hanya menjelaskan beberapa soal tentang visi pembangunan kemandirian dan kekuatan ekonomi yang merupakan "cita" dari jambore tersebut.

Kecengengan dan Sikap Tidak Ilmiah

Pada artikel tersebut ditemukan juga semacam keluhan dari ketua panitia; bahwa menyelenggarakan acara sebesar itu bukan perkara mudah, begitu katanya. Harusnya berhadap-hadapan dengan resiko penyelenggaraan program sudah selayaknya diterima sebagai konsekuensi, bukan malah dikeluhkan dihadapan publik yang malah membuat publik bertanya-tanya tentang ketangguhan ketua panitia hidup dalam dinamika keorganisasian.

Di  samping itu sikap ilmiah tidak diambil oleh ketua panitia dengan memaparkan fakta-fakta yang terang soal penyelenggaraan kegiatan Jambore. Kadar "terang" yang coba disampaikan, berbatas pada penjelasan tentang sewa ini dan itu, upaya maksimal mencari sponshor dan lain-lain dan seterusnya.

Sebagai elit organisasi di salah satu organisasi kemahasiswaan, harusnya ketua panitia memahami alam pikiran kader-kadernya yang menginginkan ke-terang-an atas penyelenggaraan kegiatan itu dan bukan malah membungkam daya kritik kader-kader yang malah menunjukkan sikap tidak ilmiah dari ketua panitia. Padahal di organisasinya "kualitas akademik" ditempatkan pada urutan pertama dari kualitas yang dicita-citakan--yang terangkum dalam teks mission.

Pada lain hal, lompatan-lompatan program yang berorientasi pada pemupukan kepedulian terhadap masyarakat arus bawah, yang juga menjadi harapan penting para kader, telah luput dari pembahasan ketua panitia jambore.

Klise Persatuan dan Fakta Pecah-Belah

Hal yang paling menarik dari tanggapan ketua panitia jambore itu terletak pada akhir artikel itu. Dimana ia menjelaskan bahwa kepanitiaan sedang membahas upaya-upaya hukum untuk melawan "fitnah" dan "tuduhan tak berdasar".

Tampaknya tradisi lapor-melapor belakangan ini menjadi tren bagi mahasiswa yang sialnya juga digunakan dalam tukar-tambah argumentasi di ruang-ruang kritik. Saya sendiri sebenarnya kesulitan melacak akar tradisi ini; kita tidak mengetahui sejak kapan organisasi mahasiswa mentradisikan lapor-melapor ini.

Ketua panitia jambore nasional itu berasal dari organisasi yang sama dengan penulis; saya sendiri memahami organisasi ini sebagai rumah wacana yang "semua" argumentasi bisa diuji, "semua" program kerja bisa dikritik dan "semua" gaya kepemimpinan bisa dipersoalkan--artinya organisasi kami ini punya semangat akademik yang tinggi dengan tradisi kritik serta uji argumentasi yang punya ke-khasannya sendiri.

Lantas pertanyaan yang paling fundamental, sebenarnya seberapa dalam ia--sebagai elit organisasi--menghayati spirit ilmiah itu yang bahkan tergambar dalam banyak naskah perjuangan semacam NDP dan Mission.

Alih-alih menegaskan visi persatuan yang dikemukakannya, ketua panitia jambore itu malah memecah gerakan keorganisasian dengan  mengungkapkan pertimbangan menempuh upaya hukum sebagai counter dari kritik yang dikemukakan banyak kadernya di beberapa tempat. Semangat persatuan yang disampaikan bahkan disanggahnya sendiri dengan memaparkan kemungkinan upaya hukum tersebut.

Pertimbangan upaya hukum ini bisa ditempatkan pada dua perspektif; yang pertama ia sebagai langkah serius yang akan diambil dan yang kedua ia sebagai gertakan saja untuk membungkam kritik.

Bila perspektifnya yang pertama dan langkah itu nantinya diambil, ia telah menegaskan keruntuhan budaya akademik pada batang-tubuh organisasi mahasiswa. Bila perspektifnya yang kedua, gertakan itu tidak cukup kuat untuk membungkam kritik para kader yang sedang berjuang di akar rumput organisasi.

Ini menunjukkan, bahwa sampai tanggapan itu dibuat, ketua panitia jambore itu luput menghitung dampak-dampak sosial signifikan yang akan dihasilkan dari argumentasinya. Kekuatan argumentasi dan ketangguhan berdinamika dari ketua panitia jambore tersebut tentu terbuka untuk ditakar kembali oleh banyak pembaca yang mengamati secara jelih isi tanggapannya.

Pada akhirnya tak ada harapan yang lebih besar ketimbang terus memupuk harapan dan memperbanyak ikhtiar untuk menempatkan kembali karakter organisasi mahasiswa pada relnya; pada semangat ilmiah yang progresif, pada semangat pengabdian yang tak lelah dan tak kenal takut.

Menyelematkan Semangat Ilmiah pada Organisasi Mahasiswa

Belakangan ini kampus sendiri sedang mengalami pergeseran dari wilayah rasionalitas yang ilmiah kepada wilayah emosional yang ideologis. Sekitar bulan-bulan lalu Presiden mengumpulkan rektor dan pimpinan kampus-kampus se-Indonesia. Pertemuan itu kemudian dilanjutkan dengan ideologisasi pancasila kepada civitas akademik oleh polda (paling tidak ini yang terjadi di kampus penulis).

Negara sedang menempuh upaya-upaya dalam memangkas radikalisme agar tidak tumbuh di kampus-kampus, tanpa pernah melihat kampus sebagai sebuah istana yang semua gagasan, wacana dan argumentasi harus terus diputar di sana.

Artinya semangat ilmiah yang demokratis sebenarnya sedang ditumbuhkan di banyak kampus sampai Negara melakukan ideologisasi pancasila di Universitas. Negara dalam hal ini, sedang menolak radikalisasi dengan meradikalisasi pancasila ke dalam alam pikiran kampus.

Dalam situasi yang semacam ini, harusnya organisasi mahasiswa menjadi "Rumah alternatif" yang ikut mendorong pertumbuhan semangat ilmiah itu secara berkesinambungan. Argumentasi harus dikemukakan terus menerus, daya kritis ditumbuhkan dan sikap demokratis yang menerima segala bentuk kemungkinan harus dihadirkan di dalam organisasi mahasiswa.

Harapan ini sangat mungkin dapat direalisasikan, jika ruang-ruang dialog terus dibuka oleh masing-masing aktivis. Dalam kaitannya dengan Jambore Nasional itu, penulis menawarkan semacam Re-formulasi karakter gerakan mahasiswa ke wilayah-wilayah yang lebih bersifat advokatif--agar dialog antara mahasiswa-mahasiswa, mahasiswa-elit birokrasi, mahasiswa-rakyat arus bawah bisa lebih diintensifkan.

Kecerdasan keorganisasian harus diandaikan sebagai kecerdasan yang mencerahkan. Kecerdasan itu, seperti kata Syari'ati, haruslah menjembatani persoalan-persoalan rakyat agar pemecahannya bisa didorong pencapaiannya. Hanya melalui intensifikasi dialog yang menyentuh struktur sosial-kemasyarakatan kita lah kemudian mahasiswa dapat mengerti dan memahami kemudian bersikap di tengah problematika yang kini multidimensi.