Beberapa waktu yang lalu, jagat maya kembali dihebohkan dengan pernikahan pasangan artis yang ditayangkan secara live streaming di salah satu stasiun televisi. Pernikahan pasangan Atta-Aurel yang dilangsungkan pada bulan April lalu menuai banyak tanggapan pro dan kontra terlebih acara tersebut menayangkan beberapa rangkaian acara dengan hari yang berbeda.

Fenomena pernikahan pasangan artis yang ditayangkan secara live streaming di stasiun televisi ini bukanlah pertama kalinya. Orang tua dari pihak Aurel yaitu Anang-Ashanty pun melangsungkan pernikahannya dan disiarkan secara langsung melalui stasiun televisi. Selain itu, pasangan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina ikut turut serta dalam menayangkan prosesi acara pernikahannya secara langsung di salah satu stasiun televisi.

Pihak Yang Bersuka Cita

Tentu saja pernikahan merupakan suatu kabar dan peristiwa yang menggembirakan. Begitu pula dengan adanya kabar pernikahan Atta-Aurel yang membuat para penggemarnya ikut turut bersuka cita dengan kabar tersebut.

Atta sendiri merupakan seorang Youtuber yang memiliki 27 juta subscribers dan istrinya Aurel Hermansyah merupakan artis yang juga memiliki Channel Youtube dengan subscribers 3,9 juta. Dapat dilihat dengan jelas bahwa pasangan tersebut memiliki banyak penggemar dan pernikahan mereka tentunya mampu menarik banyak massa.

Hal ini membuat penyelenggara yaitu pihak stasiun televisi ikut turut bahagia karena akan dapat meningkatkan rating mereka. Lalu, hal ini pun terbukti kebenarannya, dilansir Kabar Besuki dari Nielsen Media Research (NMR) Indonesia, tayangan live streaming prosesi akad nikah pasangan Atta-Aurel dengan tajuk “Ikatan Cinta Atta & Aurel Spesial Akad Nikah” pada Sabtu, 3 April 2021 mampu mencetak perolehan rating sebesar 5 persen dengan audience share sebesar 35 persen (upper middle).

Tidak bisa dipungkiri bahwa ketika suatu hal dalam hal ini adalah influencer yang memiliki massa yang banyak mampu membuat stasiun televisi bersedia menyediakan space untuk acara mereka. Selain dapat meningkatkan rating, dengan adanya massa yang banyak mampu membuat peluang stasiun televisi tersebut semakin terekspos di masyarakat. 

Terlebih pada saat ini, masyarakat millenials dan remaja kurang gemar menonton televisi namun lebih suka berkutat dengan gadget-nya sehingga peran televisi kurang berarti bagi mereka. Namun, perlu kita ketahui bahwa penggemar Atta Halilintar kebanyakan berada di usia remaja, hal ini menuai keuntungan untuk mendapatkan lebih banyak exposure terhadap stasiun televisi tersebut.

Selain itu, menurut Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Agung Suprio mengatakan bahwa pernikahan Atta-Aurel yang dibalut dengan prosesi adat pernikahan Jawa mampu menarik minat masyarakat lebih tinggi mengenai kebudayan. Dibandingkan dengan stasiun televisi menayangkan acara pagelaran budaya yang seperti biasanya, hanya mampu mendapatkan rating rendah.

Pihak kontra terhadap acara yang bukan kepentingan publik!

Acara pernikahan Atta-Aurel yang disiarkan langsung oleh salah satu stasiun televisi tentunya menuai kontroversi di masyarakat. Segudang kritik dan penolakan terhadap acara tersebut dilontarkan masyarakat dan organisasi kepada stasiun televisi yang bersangkutan serta KPI sebagai regulator.

Jagat maya tentunya menjadi tempat pertama untuk menyerukan aksi kritik dan penolakan tersebut. Dilansir OPINI.ID salah satu suara yang keras terdengar protesnya terhadap acara tersebut ialah Koalisi Nasional Reformasi Penyiaran (KNRP). Organisasi tersebut menegaskan bahwa siaran langsung acara pernikahan Atta-Aurel tidak mewakili kepentingan publik.

Remotivi yang merupakan lembaga studi dan pemantauan media ikut turut mengkritik acara tersebut melalui utas pada akun twitter @remotivi. Dalam cuitannya Remotivi mengatakan bahwa dalam Pedoman Perilaku Penyiaran pasal 11, disebutkan mengenai perihal bahwa "Lembaga penyiaran wajib memperhatikan kemanfaatan dan perlindungan untuk kepentingan publik.". Selanjutnya Remotivi mengatakan bahwa di Standar Program Siaran pasal 13 ayat 2 menyebutkan bahwa program siaran mengenai kehidupan pribadi tidak boleh menjadi materi yang ditampilkan atau disajikan dalam seluruh isi mata acara, kecuali demi kepentingan publik.

Namun, apakah acara tersebut bersangkutan dengan kepentingan publik?

Ditulis oleh Lukas Luwarso Sekretaris Eksekutif Dewan Pers bahwa minat publik belum tentu bisa jadi kepentingan publik, sama halnya dengan agenda mayoritas masyarakat, tidak bisa dengan sendirinya menjadi kepentingan publik. Isu atau informasi pers yang menjadi minat publik, infotainmen atau berita kriminal misalnya, belum tentu juga berguna bagi kepentingan publik. Media massa yang diminati konsumen – terbesar pembaca dan sirkulasinya – biasanya justru media hiburan. Publik bersifat heterogen, dan acapkali mempunyai kepentingan berbeda, saling berseberangan, bahkan berbenturan.

Ditinjau dari kajian komunikasi khususnya komunikasi massa. Acara pernikahan pasangan Atta-Aurel yang disiarkan secara langsung oleh salah satu stasiun televisi masuk ke dalam teori agenda setting. Seperti yang dijelaskan oleh Nuruddin (2007) bahwa apa yang ditayangkan oleh media massa dapat menjadi suatu hal yang penting oleh masyarakat atau dengan kata lain apa yang menjadi kepentingan media maka akan menjadi perbincangan dan kepentingan masyarakat pula. Meskipun isu atau acara tersebut tidaklah memiliki urgensi yang tinggi untuk ditayangkan atau bukan kepentingan publik.

Ketika isu dari acara pernikahan tersebut dibicarakan oleh masyarakat luas, lalu muncul lah opini publik. Dimana terjadi perdebatan mengenai kepentingan publik dari acara tersebut. Pihak yang berada pada posisi pro akan ikut memeriahkan dengan cara menonton tayangan yang disiarkan dalam beberapa hari itu. Namun, pihak yang kontra akan mengkritik dengan kencang dan menyampaikan opininya kepada KPI sebagai regulator.

Pemilik media massa merupakan salah satu pihak yang diuntungkan dari disiarkannya acara ini karena dalam media salah satunya televisi iklan memiliki peranan penting dalam menghasilkan keuntungan. Jika suatu acara memiliki rating yang tinggi, maka iklan pada acara tersebut dibandrol dengan biaya yang tinggi pula. Dengan ketergantungan media terhadap iklan ini, membuat acara hiburan yang mampu membuat audiens betah menontonnya lebih laris dibandingkan dengan acara yang mengedukasi dan kerap membuat audiens merasa bosan.