3 minggu lalu · 60 view · 15 menit baca · Pendidikan 83711_33601.jpg
EduCenter

Prinsip-Prinsip Perkuliahan di Perguruan Tinggi

Meningkatkan Mutu Keprofesionalan Dosen

Dalam Peraturan Pemerintah No. 30 Tahun 1990 tentang Tujuan Perguruan Tinggi, disebutkan bahwa tujuan perguruan tinggi adalah menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan kesenian serta menyumbangkan untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kehidupan nasional.

Dengan tujuan tersebut, perguruan tinggi merupakan wadah atau penampung bagi para siswa yang ingin melanjutkan studinya ke tingkat yang lebih tinggi. Ia harus dapat melahirkan mahasiswa yang mampu bersaing di segala bidang keilmuan, karena mahasiswalah tolok ukur majunya pendidikan di Indonesia.

Sistem perkuliahan di perguruan tinggi dilihat dari perspektif pembelajaran dapat diidentifikasi dari berbagai bentuk desain dan rancangan perkuliahan yang dianut dan digunakan oleh setiap dosen di perguruan tinggi yang bersangkutan. Sistem perkuliahan di dalam rancangan yang digunakan mengikuti prinsip-prinsip pembelajaran berbasisi kompetensi. 

Aplikasinya di dalam sistem perkuliahan adalah kompetensi yang dijadikan sebagai dasar dan tujuan sekaligus proses yang menjiwai seluruh kegiatan pembelajaran tersebut.

Pembelajaran yang diselenggarakan menuntut pada penguasaan kompetensi, yaitu berupa kemampuan-kemampuan untuk melaksanakan suatu pekerjaan. Konsep kompetensi di sini menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran diorganisasikan dengan melibatkan pihak pengguna (user) jasa pendidikan. 

Karena itu, kompetensi menunjukkan bahwa dalam kegiatan pembelajaran, menuntut kemampuan kemampuan untuk merumuskan kompetensi-kompetensi di setiap mata kuliah, dan bagaimana proses pembelajaran yang dikembangkan untuk mendapatkan kompetensi tersebut.

Dalam pandangan UNESCO, perlu ada lima pilar untuk mendukung dunia pendidikan memasuki abad 21. Kelima pilar dimaksud adalah learning how to be self (belajar untuk menjadi diri sendiri), learning how to think (belajar untuk berpikir), learning how to learn or know (belajar untuk mengetahui), learning how to do (belajar untuk berbuat), dan learning how to live together (belajar untuk hidup bersama). 

Dengan pilar pendidikan seperti di atas, menunjukkan bahwa kompetensi yang ingin dihasilkan bukan terbatas pada level lokal dan nasional, tetapi juga yang dapat menjangkau sasaran global guna memperlihatkan pergaulan dunia yang sudah menjadi satu dan terbuka.

Mengingat bahwa core pendidikan di PT itu terletak pada sistem pembelajaran harus mampu memberikan kompetensi pada peserta didik berupa susunan keterampilan atau pengetahuan yang dapat didemonstrasikan oleh peserta didik berdasarkan konseptualisasi hasil belajar yang diinginkan. 

Sistem pembelajaran harus mendorong peran dosen yang lebih bersifat kompleks untuk menghasilkan kompetensi dimaksud. Maka dalam mengembangkan sistem pembelajaran, setiap dosen dituntut untuk mampu mendiagnosis kebutuhan-kebutuhan individu mahasiswa sebagai peserta didik.

Selain itu, merancang dan membuat patokan-patokan dan indikator-indikator dalam program pembelajaran berdasarkan kebutuhan peserta didik, melakukan supervisi pada setting pembelajaran, proses pembimbingan dan evaluasi kegiatan, dan hasil pembelajaran yang efektif dan efisien.

Sistem pembelajaran di perguruan tinggi bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mendapatkan informasi tentang kompetensi yang mereka butuhkan, dan perubahan kompetensi yang dapat dilakukan sesuai dengan tuntutan perubahan kebutuhan yang diinginkan oleh peserta didik. 

Sejalan dengan itu pula, sistem perkuliahan yang diterapkan oleh dosen perlu mempertimbangkan standar-standar eksternal di dalam proses pembelajaran tersebut. Standar-standar eksternal yang dimaksudkan di sini adalah berupa campur tangan dan penilaian dari pihak stakeholder terhadap aspek kompetensi di dalam sistem pembelajaran tersebut. 

Oleh karena itu, setiap dosen di perguruan tinggi harus selalu proaktif dan terbuka untuk mempertimbangkan standar-standar eksternal di dalam proses dan hasil pembelajaran yang dilaksanakannya.

Prinsip-Prinsip Perkuliahan 

Dasar untuk memahami kegiatan perkuliahan, yaitu melalui prinsip-prinsip tertentu yang digunakan oleh masing-masing dosen yang membantu penelusuran jalan berpikir di dalam pengembangan sistem perkuliahan. 

Bagaimana dengan kegiatan perkuliahan yang kita laksanakan? Seberapa besar nilai yang untuk peningkatan kualitas setiap pengajar? Bagaimana implikasinya terhadap peningkatan mutu mahasiswa, di mana mereka sudah sekian banyak dan lama diajar? Bila hal itu dapat dihitung dengan cermat, tentu nilainya pun tentu tidak bisa diperkirakan oleh seseorang. 

Dalam kenyataannya, meningkatkan mutu perkuliahan sebenarnya tidak juga terlalu kompleks untuk dipelajari setiap pengajar. Yang lebih penting adalah upaya, keinginan, dan komitmen untuk meningkatkan mutu keprofesionalan masing-masing tenaga pengajar.

Karena itu, perkuliahan dibangun di atas dasar prinsip-prinsip yang biasanya diderivasi dari teori-teori psikologi, khususnya teori-teori belajar atau hasil-hasil penelitian dalam bidang kegiatan pembelajaran (instruction). Prinsip-prinsip yang dimaksud oleh Filbeck (1974) dikelompokkan menjadi dua belas macam sebagaimana yang diuraikan berikut ini:

Prinsip Penguatan

Kegiatan perkuliahan merangsang munculnya respons-respons baru (new responses) yang menyenangkan mahasiswa dalam belajar, sehingga respons cenderung untuk diulang karena memberi sikap positif berupa penguatan di dalam kegiatan belajar tersebut. 

Adapun yang menjadi implikasi dari prinsip pertama terhadap kegiatan perkuliahan antara lain adalah: perlunya pemberian umpan balik positif atas keberhasilan atau responw yang benar dari mahasiswa. Pada permulaan umpan balik yang menyenangkan harus berulang kali diberikan, tetapi pada tahap berikutnya perlu dikurangi.

Mahasiswa perlu aktif membuat respons, bukan duduk diam dan mendengarkan saja di dalam kegiatan perkuliahan tersebut. Dalam proses pengembangan kegiatan perkuliahan, prinsip ini diterapkan dalam bentuk pemberian latihan (exercise) atau testes yang dapat dikerjakan oleh mahasiswa dan memberikan umpan balik terhadap hasilnya.

Prinsip Perilaku

Perilaku tidak hanya dikontrol sebagai akibat dari adanya respon baru, tetapi juga karena pengaruh dari kondisi atau tanda-tanda yang terdapat pada lingkungan mahasiswa. Kondisi atau tanda-tanda dimaksud dapat berbentuk tulisan, gambar, komunikasi, verbal, keteladanan guru, atau perilaku yang berkembang antarsesama mahasiswa. 

Sebagai contoh, tulisan dilarang merokok, atau gambar sebatang rokok yang diberi tanda silang merah, atau juga dengan cara tidak menyediakan tempat untuk puntung rokok, adalah kondisi-kondisi yang dapat diciptakan untuk membuat orang tidak merokok. 

Nasihat orang tua untuk mendorong anaknya bersembahyang atau membiasakan keluarga untuk sembahyang bersama termasuk salah satu kondisi untuk menciptakan perilaku seluruh anggotanya taat menjalankan ajaran agama. Demikian pula kerja sama yang baik di antara sesama mahasiswa dalam suatu kelompok belajar merupakan kondisi yang dapat menciptakan perilaku rajin belajar bagi setiap anggota kelompok belajar tersebut.

Implikasi dari prinsip kedua ini, pada sistem perkuliahan, adalah perlunya menyatakan tujuan perkuliahan secara jelas untuk diketahui mahasiswa sebelum mata kuliah dimulai agar mahasiswa bersedia belajar lebih giat. Tujuan instruksional itu berisikan pengetahuan, keterampilan, atau setiap perilaku yang dapat dilakukan mahasiswa setelah menyelesaikan mata kuliah. 

Apabila mahasiswa melihat pentingnya sesuatu dikuasai untuk kehidupannya nanti, maka mahasiswa akan lebih aktif melakukan kegiatan belajar untuk menguasai pengetahuan, keterampilan, atau sikap yang dituntut dalam tujuan tersebut. Penjelasan tentang tujuan instruksional adalah kondisi untuk menciptakan perilaku belajar mahasiswa.

Sekarang ini, rumusan kata-kata yang digunakan dalam merumuskan tujuan instruksional haruslah menggunakan kata-kata kerja yang operasional yang bersifat perilaku berupa struktur keterampilan atau pengetahuan yang dapat didemonstrasikan oleh mahasiswa yang dapat dilihat dan diukur melalui mata kepala. Implikasi lain dari prinsip kedua ini terhadap sistem perkuliahan adalah penggunaan berbagai metode dan media yang dapat mendorong keaktifan mahasiswa dalam proses belajarnya. 

Penggunaan metode diskusi, simulasi, dan bermain peran atau pengggunaan media film, bingkai (slide), kaset audio, gambar, dan benda benda lainnya adalah merupakan kondisi yang perlu diciptakan untuk membuat mahasiswa dapat belajar dengan aktif.

Prinsip Manfaat

Perilaku yang ditimbulkan oleh tanda-tanda tertentu yang dikembangkan melalui sistem perkuliahan harus dapat dirasakan manfaatnya oleh mahasiswa sehingga mendorong mereka untuk menguasainya. Karena itu, pengetahuan dan keterampilan baru yang telah dikuasai mahasiswa harus sering dimunculkan dan diberi akibat yang menyenangkan agar keterampilan baru tersebut selalu dapat digunakannya. 

Implikasi dari prinsip ketiga ini terhadap sistem perkuliahan adalah penentuan isi mata kuliah yang berguna bagi mahasiswa di ruangan dan di luar kelas serta memberikan umpan balik berupa imbalan dan penghargaan terhadap keberhasilan yang diraih oleh para mahasiswa.

Dalam proses pengembangan instruksional, penentuan tentang apa yang akan diajarkan didasarkan kepada hasil dari langkah-langkah pengidentifikasian terhadap kebutuhan instruksional, sehingga yang dipelajari mahasiswa adalah berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang memang belum dikuasainya, tetapi dibutuhkan oleh mereka di dalam kehidupan sehari-hari.

Prinsip Transfer

Dalam kegiatan perkuliahan, perlu mendorong kegiatan-belajar dengan cara memberikan respons dan tanda-tanda terbatas yang dapat ditransfer kepada situasi-situasi lain. 

Adapun yang menjadi implikasi dari prinsip keempat ini terhadap sistem perkuliahan adalah pemberian kegiatan belajar mahasiswa yang melibatkan tanda-tanda atau kondisi yang mirip dengan kondisi dunia nyata, yaitu berupa lingkungan hidup mahasiswa di luar lingkungan kelas. Penyajian isi pelajaran perlu diperkaya dengan menggunakan contoh-contoh dari dunia nyata tentang apa yang dipelajari mahasiswa di ruangan kelas. 

Sistem penyajian isi mata kuliah perlu menggunakan berbagai alat simulasi, gambar, diagram, film, kaset audio, model, dramatisasi, serta memberikan berbagai variasi penerapan tentang isi mata kuliah, sehingga mahasiswa diharapkan mampu mentransfer pengetahuan, keterampilan, atau sikap yang dicapainya untuk memecahkan masalah-masalah hidup dengan berbagai variasinya.

Prinsip Kompleks

Salah satu hasil dari proses kegiatan belajar mahasiswa melalui sistem perkuliahan yang dikembangkan adalah kemampuan mahasiswa untuk mengeneralisasikan dan membedakan bahan-bahan yang dipelajari untuk hal-hal yang bersifat kompleks di dalam kehidupan mahasiswa seperti dalam hal pemecahan masalah-masalah kehidupan. Implikasi dari prinsip kelima ini ke dalam pengembangan sistem instruksional adalah perlunya menggunakan secara luas contoh-contoh yang positif dan juga yang negatif.

Uraian materi kuliah harus diperjelas dengan berbagai contoh yang positif dan negatif. Untuk menjelaskan perilaku yang baik menurut norma yang berlaku, guru harus mampu menunjukkan contoh-contoh yang bertentangan dengan norma tersebut. 

Untuk menjelaskan bilangan genap, guru perlu memberikan contoh bilangan ganjil, demikian pula sebaliknya. Agar mahasiswa mengetahui mana yang benar dan mana yang konkret, guru perlu menjelaskan mana benda yang tidak termasuk benda abstrak, demikian sebaliknya.

Prinsip Konsentrasi

Sistem perkuliahan yang dikembangkan oleh dosen perlu memperhatikan status mental mahasiswa dalam menghadapi mata kuliah akan memengaruhi perhatian dan ketekunan mahasiswa sepanjang berlangsung proses belajar. Implikasi dari prinsip keenam ini terhadap sistem instruksional dosen adalah pentingnya menarik perhatian mahasiswa untuk mempelajari isi mata kuliah yang disajikan. 

Dalam hal ini, dosen perlu melakukan langkah pertama di dalam proses instruksional, yaitu menunjukkan kepada mahasiswa hal-hal disebut berikut ini:

1. Apa yang akan dikuasai mahasiswa setelah mereka dapat menyelesaikan proses belajar. Hal ini berarti dosen perlu menjelaskan tujuan perkuliahannya kepada para mahasiswanya.

2. Bagaimana mahasiswa mengaplikasikan apa yang telah dikuasainya untuk kehidupan sehari-hari.

3. Bagaimana sesuatu yang telah dikuasai dapat dilengkapi, ditambah atau diintegrasikan kepada apa yang telah dikuasai sebelumnya. Penjelasan ini penting karena mahasiswa akan belajar lebih cepat dan lebih mudah jika mahasiswa dapat mengintegrasikan sesuatu yang baru dipelajari dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang telah dimiliki sebelumnya.

4. Bagaimana prosedur yang harus diikuti atau kegiatan yang harus dilakukan mahasiswa supaya mereka dapat mencapai tujuan perkuliahan tersebut.

5. Bagaimana cara penilaian yang perlu diberikan kepada mahasiswa untuk setiap mata kuliah, atau apakah keuntungan bagi mahasiswa jika mereka dapat mencapai tujuan perkuliahan tersebut.

Dalam proses pengembangan sistem perkuliahan, perlu dirumuskan strategi instruksional yang bermula dari babak pendahuluan sampai ke tahap penyajian isi atau presentasi. Pada babak pendahuluan, dijumpai kegiatan-kegiatan pengajar berupa mempersiapkan mental mahasiswa sebelum mempelajari materi kuliah yang menjadi inti dari kegiatan perkuliahan tersebut. 

Adapun kelima hal yang disebutkan di atas adalah merupakan pokok-pokok penjelasan yang perlu dirumuskan ke dalam sistem pengembangan perkuliahan pada babak pendahuluan.

Prinsip Umpan Balik

Kegiatan perkuliahan yang dilakukan dengan berbagai langkah perlu diikuti oleh umpan balik yang mendorong mahasiswa untuk menyelesaikan setiap langkah yang dilaluinya. Implikasi dari prinsip ketujuh ini terhadap sistem instruksional adalah:

1. Penggunaan buku-buku teks yang terprogram (programmed text atau programmed instructions).

2. Penggunaan analisis terhadap pengalaman belajar mahasiswa, yaitu berupa kegiatan-kegiatan kecil yang untuk setiap kegiatan kecil tersebut disertai latihan dan umpan balik terhadap hasilnya.

Langkah-langkah di atas menimbulkan gagasan mengenai pemecahan materi kuliah ke dalam berbagai bentuk modul-modul. Materi kuliah yang luas dan kompleks yang diajarkan kepada mahasiswa untuk satu semester, atau satu periode tertentu, dapat dipecah menjadi bagian-bagian yang lebih rinci atau kecil. 

Setiap bagian merupakan bagian tersendiri, karena isinya yang utuh atau bulat. Hal ini biasa disebut dengan istilah modul instruksional atau modul saja. Dengan demikian, mahasiswa akan dapat mempelajari materi pelajaran dengan cara yang bertahap, dan melalui proses sedikit demi sedikit.

Prinsip Penyederhanaan

Kebutuhan terhadap prinsip penyederhanaan materi bahan ajar melalui sistem perkuliahan yang dikembangkan terutama untuk bahan yang bersifat kompleks sangat diperlukan. Hal ini dapat diupayakan melalui pengajuan kerangka-kerangka model atau bagan yang lebih mereduksi bahan sehingga memudahkan mahasiswa untuk memahami bahan-bahan yang sulit dan kompleks tersebut. 

Implikasi prinsip kedelapan ini terhadap sistem perkuliahan adalah penggunaan media dan metode instruksional yang mampu menggambarkan materi yang sukar dan kompleks melalui; model, realita, film, program televisi, video, drama, bagan atau demontrasi.

Dalam proses pengembangan instruksional, isi mata kuliah dapat dibagi ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil, dan setiap bagian tidak harus selalu sama dengan bagian lainnya. Bagian yang mengandung isi mata kuliah yang sukar atau kompleks dapat diberi porsi yang lebih besar daripada bagian lain yang lebih sederhana, sehingga bagian yang kompleks perlu didukung oleh penggunaan model, media lain, dan berbagai metode instruksional yang efektif. 

Untuk mengajarkan sopan santun misalnya, atau mengajarkan watak pancasila, tidak cukup atau mungkin tidak hanya dapat dilakukan dengan menggunakan penjelasan tentang pengertian sopan santun atau watak pancasila tersebut. Akan tetapi, perlu juga melibatkan penggunaan film, metode simulasi, atau bermain peran yang mengambarkan konsep sopan santun atau watak Pancasila dimaksud.

Prinsip Pemecahan Masalah

Sistem perkuliahan perlu mengupayakan keterampilan untuk memecahkan masalah sebagai salah satu tuntutan perilaku kompleks yang dituntut melalui kegiatan perkuliahan tersebut. Implikasinya terhadap sistem perkuliahan adalah:

1. Rumusan tentang tujuan perkuliahan harus dirumuskan dalam bentuk hasil belajar yang operasional yang mengandung kemampuan melaksanakan sesuatu yang dapat dianalisis ke dalam tujuan-tujuan yang lebih khusus yang diukur melalui indikator-indikator tertentu.

2. Demontrasi atau model yang digunakan harus didesain sejalan dengan hasil analisis di atas, sehingga dapat menggambarkan dengan jelas komponen-komponen yang termasuk dalam perilaku yang kompleks tersebut.

Dalam pengembangan sistem instruksional, sekarang ini digunakan proses analisis instruksional dengan cara memecahkan perilaku-perilaku yang terdapat dalam tujuan yang untuk sekarang ini disebut sebagai kompetensi umum. Kompetensi ini diorganisasikan melalui komponen dasar yang terdiri dari: kompetensi dasar, materi pokok, dan indikator pencapaian hasil belajar. Komponen dasar menuntut strategi perkuliahan yang mendukung terwujudnya kompetensi dimaksud.

Prinsip Informatif

Kegiatan pembelajaran cenderung akan menjadi lebih cepat atau efisien dan menyenangkan jika mahasiswa diberi informasi bahwa mereka memiliki kemampuan dan keterampilan untuk memecahkan masalah. Setiap orang akan cenderung belajar lebih cepat bila diberi informasi tentang kualitas penampilannya dan bagaimana cara meningkatkannya lebih baik. Maka implikasi dari prinsip ini terhadap sistem perkuliahan adalah:

1. Urut-urutan bahan mata kuliah perlu dimulai dari yang lebih sederhana dan dilakukan secara bertahap menuju bahan yang lebih kompleks. Mahasiswa akan dapat berhasil mengikuti mata kuliah dan mendorongnya untuk lebih kuat menguasai pelajaran yang yang lebih kompleks, jika bahan-bahan yang lebih sederhana di masa lalu telah dikuasainya terlebih dahulu.

2. Kemajuan mahasiswa dalam menyelesaikan mata kuliah perlu diinformasikan agar keyakinan bertambah untuk memecahkan masalah yang lebih kompleks di masa datang.

Dalam proses pengembangan instruksional, terdapat apa yang disebut dengan tes formatif dan umpan balik atas hasilnya pada setiap akhir episode tatap muka di ruangan kelas. Mahasiswa selalu diberi petunjuk untuk melakukan kegiatan lanjutan atas dasar hasil tes formatif yang diperolehnya. 

Tes formatif, umpan balik, dan tindak lanjut adalah merupakan kunci utama untuk membangkitkan dan meningkatkan motivasi mahasiswa untuk belajar lebih giat. Karena itu, pengembangan instruksional harus mengembangkan ketiga komponen tersebut pada akhir setiap bagian pelajaran.

Para dosen atau pengelola program pendidikan mempunyai kewajiban tersebut untuk mengontrol pelaksanaan ketiga komponen tersebut dari setiap mahasiswa. Suatu sistem instruksional yang tidak disertai pelaksanaan ketiga komponen tersebut oleh mahasiswa akan cenderung membuat proses belajar menjadi lebih lambat, dan tidak efisien, serta tidak menyenangkan. Bahkan dapat mengakibatkan frustrasi pada pihak mahasiswa.

Prinsip Individu

Perkembangan dan percepatan dalam belajar mahasiswa pada dasarnya adalah bervariasi. Ada yang maju dengan cepat, dan ada pula yang lebih lambat. 

Di samping itu, perkembangan dan percepatan dalam belajar di antara sesama mahasiswa tidak selalu stabil dari satu hari ke hari yang lain, dan tidak pula sama dari suatu mata kuliah ke mata kuliah yang lain. Variasi dalam kecepatan belajar itu tidak selalu dapat diramalkan. Berdasarkan hasil tes intelegensi, gaya kognitif, dan minat atau sikap dalam belajar tidaklah mempunyai hubungan yang signifikan terhadap variasi tersebut. 

Namun variasi penguasaan terhadap mata kuliah yang terdahulu mempunyai hubungan yang sangat berarti terhadap variasi tersebut. Adapun yang menjadi implikasi dari prinsip ini terhadap sistem instruksional adalah:

1. Pentingnya penguasaan mahasiswa terhadap materi kuliah sebagai prasyarat sebelum mempelajari materi kuliah selanjutnya. Penggunaan cara belajar tuntas (mastery learning) sangat penting bagi materi kuliah, terutama materi yang tersusun secara hierarkis.

2. Mahasiswa diberikan kesempatan yang luas untuk maju menurut kecepatan masing-masing mereka di dalam proses belajar.

Dalam pengembangan sistem instruksional, penguasaan mahasiswa terhadap pengetahuan, keterampilan atau sikap yang menjadi prasyarat haruslah mencapai 80% ke atas menurut teori, sebelum mereka meneruskan ke bagian lebih lanjut. 

Bagi yang mengembangkan bahan belajar secara mandiri, bahan tersebut harus didesain sedemikian rupa sehingga mahasiswa dapat maju menurut kecepatan masing-masing. Bahan tersebut harus lengkap memuat isi mata kuliah yang dipelajari mahasiswa tanpa mengacu kepada bahan belajar lain yang tidak diketahui secara pasti dimiliki mahasiswa.

Di samping itu, bahan tersebut harus dilengkapi dengan tes formatif dan kuncinya serta petunjuk tindak lanjut yang harus dilakukan mahasiswa setelah mengetahui hasil tes formatifnya. Bagi para dosen yang biasa mengajar di dalam kelas biasa, perlu selalu diingatkan akan perbedaan mahasiswa. 

Hal ini menuntut perbedaan perlakuan agar seluruh mahasiswa yang diajar secara bersama di ruangan kelas dapat mengikuti mata kuliah atau bahan berikutnya.  Perbedaan perlakuan mungkin berupa bimbingan yang dalam kelas, pemberian nasihat yang tepat, yang dapat membantu mahasiswa khususnya yang lambat di dalam proses belajarnya, tetapi tidak merugikan mahasiswa lain yang mereka cepat dalam proses belajar tersebut.

Prinsip Kemandirian

Dengan sistem perkuliahan yang diterapkan, mahasiswa dapat didorong untuk mengembangkan kemampuan mengorganisasikan kegiatan belajarnya sendiri dan menimbulkan umpan balik bagi dirinya sendiri dengan membuat respons yang benar di dalam proses belajar tersebut. 

Implikasi prinsip terakhir ini terhadap sistem perkuliahan adalah pemberian kemungkinan bagi mahasiswa untuk memilih waktu, cara, dan sumber-sumber lain yang tepat. Di samping yang telah ditetapkan dalam sistem instruksional dimaksud, agar mahasiswa dapat membuat dirinya mencapai tujuan perkuliahan dimaksud. 

Dalam proses pengembangan instruksional, diperlukan penyusunan panduan belajar mahasiswa yang berisi petunjuk tentang tugas-tugas yang diharapkan dapat dilakukan oleh mahasiswa selama mereka mengikuti mata kuliah dimaksud.

Dengan demikian, mahasiswa terutama yang telah matang, diharapkan dapat menyusun persiapan dan melakukan kegiatannya sendiri yang mengarah kepada penyelesaian tugasnya tanpa menunggu mahasiswa yang lain atau tanpa harus tergantung sepenuhnya kepada kegiatan instruksional yang dipimpin oleh dosen di dalam kelas.

Sejalan dengan dua belas prinsip yang diuraikan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapannya di dalam desain perkuliahan adalah merupakan pekerjaan yang tidak sederhana, tetapi adalah menyangkut pekerjaan yang kompleks. Namun, pekerjaan yang kompleks tersebut harus dapat dilakukan dengan seksama jika yang diharapkan terjadinya kegiatan perkuliahan efektif dan efisien.

Kegiatan perkuliahan tidak hanya bertumpu pada proses psikologi, yaitu bagaimana mahasiswa dapat menjalankan kegiatan pembelajaran, melainkan juga pada proses bagaimana teknologi melalui perangkat lunak dan keras dapat digunakan untuk mengkomunikasikan pengetahuan, keterampilan atau sikap kepada mahasiswa, sehingga mereka mengalami perubahan perilaku seperti diharapkan oleh proses dan tujuan pendidikan itu sendiri. 

Dengan keterlibatan teknologi dalam sistem instruksional, maka berarti makin memperhalus dan mempertajam kemampuan sistem perkuliahan untuk memecahkan masalah masalah belajar.

Jadi, sistem pembelajaran di perguruan tinggi perlu juga menjawab bagaimana mempersiapkan mahasiswa yang memiliki standar kompetensi global, sehingga para mahasiswa dididik untuk bisa menjadi warga dunia yang baik, di samping warga negara dan masyarakat di lingkungannya. 

Hal yang dikemukakan di atas adalah menyangkut dengan persoalan lingkungan global (global environment) yang sudah pasti memengaruhi pendidikan, di mana pun diimplementasikan.