Mari kita telaah masalah berikut. Jika sebuah batu dilempar ke atas dan tak tersangkut, maka ia akan senantiasa jatuh. Dengan deduksi sederhana, kayu, kertas tergulung, hp cerdas, serta segala benda yang memiliki berat (atau lebih dasar adalah massa) pasti juga akan terjatuh jika dilempar ke atas.

Sama halnya dengan buah-buahan yang tergantung di pohonnya. Acap kita jumpai buah mangga jatuh di jalanan. Apakah fenomena jatuhnya mangga dan kembalinya ke tanah benda yang sebelumnya dilempar ke atas diatur oleh hukum yang sama?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita dapat menerapkan metode berpikir jejaring. Sederhananya, kita dapat merumuskannya dengan bahasa: akibat muncul dari suatu sebab; sebab adalah awalnya, proses adalah tengahnya dan akibat adalah akhirnya.

Sebab-proses-akibat. Sebabnya adalah mangga, batu, benda-benda lain dan bumi memiliki massa sehingga muncul interaksi tak kasat mata antara keduanya lalu terjadi proses tarik-menarik dan akibatnya, yaitu jatuhnya mangga atau kembalinya ke tanah benda yang dilempar ke atas. 

Tentu penjelasan saya terkesan terlalu menyederhanakan masalah. Namun, logika kausalitas (sebab-akibat) selalu dapat diuji dengan pertanyaan ‘kenapa’. Misal, jika memang ada interaksi, kenapa harus bumi yang menarik batu, mangga dan benda-benda lainnya dan bukan sebaliknya?

Jawabannya sederhana belaka, benda bermassa besar cenderung lebih malas bergerak dibanding yang ringan. Atau dengan kata lain, benda bermassa besar cenderung mempertahankan kedudukan awalnya dibanding benda yang massanya jauh lebih kecil. Artinya, jika terjadi interaksi tarik menarik maka batu, mangga dan benda lainlah yang relatif ditarik oleh bumi.

Peristiwa jatuhnya mangga, batu dan benda-benda tertentu selain harus mematuhi prinsip fundamental, yakni sebab-proses-akibat. Ia juga mesti tak melanggar aturan lain, yakni separabilitas dan lokalitas.

Separibilitas: jatuhnya mangga tak ada hubungannya dengan peristiwa lain misalnya kematian keluarga terdekat dan lainnya.

Lokalitas: di dunia makroskopis empat dimensi (tiga dimensi ruang dan satu dimensi waktu), hukum yang mengatur jatuhnya mangga, jambu, batu adalah sama. Namun akan berbeda jika ditinjau pada dimensi yang lebih rendah atau lebih tinggi.

Berikut penjelasan tiga prinsip hukum-hukum alam dengan lebih terperinci:

1. Prinsip Sebab-Akibat

Benda yang bergerak adalah efek dari suatu sumber gerak. Sumber gerak adalah sebabnya. Sumber gerak ini dapat berupa angkatan, tendangan ataupun dorongan. Selalu demikian, hukum fisika selalu mematuhi sebab-akibat, meski dalam beberapa kajian kinematika, pertanyaan tentang sebab gerak jadi tak relevan karena tidak ditinjau.

Dengan demikian, bergeraknya sebuah benda dengan mudah kita jawab karena disebabkan sumber gerak. Sama halnya dengan beberapa kejadian. Suatu peristiwa terjadi karena memiliki sebab yang jelas. Tak ada akibat yang tidak didahului sebab.

2. Prinsip Lokalitas

Hukum yang mengatur benda-benda kecil seperti atom berbeda dengan hukum yang mengatur benda-benda besar yang tampak. Dengan kata lain, suatu hukum memiliki lingkup keberlakuan.

Jika diterapkan untuk beberapa peristiwa, kita dapat mulai berpikir dari titik kecil ke titik yang lebih besar. Misal, untuk meninjau motif di balik suatu kejadian, kita selalu dapat mulai dari pengaruh paling dekat dengan sumber kejadian kemudian melangkah ke pengaruh luar yang lebih besar.

3. Prinsip Separibilitas

Setiap kejadian, secara unik, terpisah dengan kejadian lainnya. Dalam pandangan ini, kejadian mencairnya es di kutub utara terpisah dengan peristiwa tabrakan dua mobil di jalan raya. Atau lebih umum, kepakan sayap kupu-kupu di Indonesia bukanlah sebab kelaparan di Afrika.

Dalam kaitannya dengan fisika, prinsip ini menjelaskan bahwa suatu peristiwa dunia makroskopis memiliki jangkauan efek tertentu. Misal, manakala kita melempar mangga di dekat rumah, itu tak akan berpengaruh samasekali dengan runtuhnya gedung di Amerika.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat terapkan pada pemisahan hubungan satu peristiwa dengan peristiwa lain. Jika kita memahami prinsip ini, maka kita akan dapat memilah mana kejadian yang berhubungan dan mana yang dipaksa terhubung.

Pola-pola di alam dapat dipahami dengan mudah jika kita tahu prinsip bagaimana hukum-hukum itu bekerja. Yang lebih penting, agar tak sia-sia dan berakhir hanya sebagai onani intelektual, berpikir mendalam juga harusnya memiliki manfaat menunjang kehidupan sehari-hari.

Dengan tiga prinsip dasar ini, kita dapat coba terapkan pada suatu masalah yang mungkin kita jumpai dalam kehidupan kita—tentunya dengan kreatifitas masing-masing. Saya tak akan memberikan contoh langsungnya.

Yang jelas, ketika melihat suatu kejadian dengan menyandarkan pendapat kita pada tiga prinsip hukum alam, barangkali, cacat logika akan dapat dihindari. Semoga saja.