2 bulan lalu · 650 view · 3 menit baca · Filsafat 63469_73773.jpg
SS Video Adi Saputra Merusak Motornya

Prinsip Dikotomi Kendali Stoisisme untuk Adi Saputra

Baru-baru ini saya dikenalkan kembali dengan Filsafat Stoisisme oleh buku Henry Manampiring yang berjudul Filosofi Teras. Stoisisme itu sendiri merupakan sebuah aliran filsafat yang muncul di Yunani Kuno sekitar 200 tahun sebelum masehi. 

Pendirinya adalah seorang pedagang bernama Zeno dari Citium yang bermukim di Athena setelah kapal dagangnya tenggelam beserta dengan seluruh hartanya. Singkat cerita, Zeno belajar filsafat di Athena dan kemudian mendirikan sekolah filsafatnya sendiri.

Dinamakan Stoisisme atau dalam bahasa Inggris Stoicism karena Zeno senang mengajar filsafatnya di sebuah teras dengan pilar-pilar dalam bahasa Yunani namanya Stoa atau teras dalam bahasa Indonesia-nya.

Tentunya banyak sekali prinsip-prinsip yang ada dalam filsafat stoisisme. Saya lebih tertarik dengan prinsip dikotomi kendali yang ada di dalam filsafat stoisisme. 

Menurut saya, prinsip ini sangat relevan dengan kejadian beberapa waktu yang lalu, yaitu kejadian dirusaknya motor sendiri oleh seorang pengendara, karena tidak terima ditilang oleh polisi.

Prinsip Dikotomi Kendali

Epictetus seorang filsuf dalam bukunya Enchiridion berkata: some things are up to us, some things are not up to us. Artinya adalah ada hal-hal di bawah kendali kita, ada hal-hal yang tidak di bawah kendali kita.

Ini dinamakan dari dikotomi kendali di mana ada sesuatu yang memang bisa kita kendalikan dan sesuatu yang tidak dapat kita kendalikan. Sebuah prinsip yang memang kita semua sudah ketahui tetapi jarang kita renungkan dan pikirkan.

Yang sering kita tidak ketahui adalah memberikan pagar pembatas, di mana sebenarnya hal-hal yang memang menjadi kendali kita dan hal-hal yang bukan. 

Epictetus kemudian menjelaskan kembali bahwa some things are within out power, while others are not. Within our power are opinion, motivation, desire, aversion, and, in a word, whatever is of our own doing; not within our power are our body, our property, reputation, office, and, in a word, whatever is not of our own doing.

Artinya adalah ada beberapa hal yang berada di dalam kuasa kita, tetapi ada yang lainnya yang tidak. Di dalam kuasa kita adalah pendapat, motivasi, keinginan, menghindari, dan apa saja yang dilakukan oleh kita; tidak berada di dalam kuasa kita adalah tubuh, kepemilikan kita, reputasi, kantor/jabatan, dan apa saja yang bukan dilakukan oleh kita.

Stoisisme kemudian mengatakan bahwa bukanlah sesuatu yang rasional ketika kita khawatir dengan apa yang tidak bisa kita kendalikan. Seharusnya kita berusaha sebaik mungkin dengan apa yang bisa kendalikan.

Dikotomi Kendali dalam Praktik

Massimo Pigliucci seorang professor di CUNY-City College dalam TEDx-nya memberikan analogi tentang dikotomi kendali ini dalam stoisisme dengan seorang pemanah. 

Seorang pemanah dapat memilih anak panah terbaik, panahan terbaik, kemudian latihan secara terus-menerus, kondisi tubuhnya fit. Sampai kepada bidikan dan tarikan terakhir sebelum anak panah itu diluncurkan, dia masih memegang kendali. 

Tetapi setelah anak panah itu diluncurkan, maka kemana anak panah itu akan mendarat, sudah bukan berada dalam kendali kita, angin yang tiba-tiba datang bisa menyebabkan anak panah itu tidak mencapai targetnya atau mungkin targetnya bergerak secara tiba-tiba.

Dalam konteks pengrusakan tersebut, saya secara pribadi melihat adanya kekecewaan terhadap pelaku pribadi terhadap dirinya sendiri, karena dia membiarkan dirinya sendiri untuk ditilang. 

Mungkin dia sebenarnya murka kepada dirinya sendiri dan sebenarnya bukan kepada polisi, kepada perekam video, atau pacarnya. Dia tahu bahwa dirinya tidak memakai helm, dia tahu bahwa dirinya tidak membawa STNK motor, dia tahu bahwa dirinya tidak membawa SIM, dia tahu bahwa dirinya melawan arus.

Tempatkan diri kita di posisi dia, apa yang mungkin akan kalian lakukan? Apakah sama seperti dia atau mungkin berbeda?

Dikotomi Kendali dan Kasus Adi

Mari kita telaah kejadian ini melalui dikotomi kendali. Melawan arus, tidak memakai helm, tidak membawa STNK dan SIM merupakan sesuatu yang dapat kita kendalikan atau setidaknya dapat kita kendalikan sebagian.

Sedangkan ditilang oleh polisi merupakan sebuah kejadian yang tidak dapat kita kendalikan. Dalam artian bahwa yang melaksanakan penilangan tersebut adalah polisi adalah orang lain.

Stoisisme mengajarkan bahwa kita tidak boleh larut dalam kekhawatiran, penyesalan, dan amarah mengenai sesuatu yang tidak dapat kita kendalikan dan bahkan yang dapat kita kendalikan sekalipun. 

Andaikan saja pelaku tersebut sudah belajar minimal prinsip dikotomi kendali ini dan lebih baik jika mempelajari banyak prinsip dalam stoisisme, kejadian tersebut mungkin tidak akan dia alami.

Ketika polisi sudah menyatakan bahwa dia ditilang, seharusnya dia dapat menerima fakta bahwa dia baru saja ditilang dan akan disita motornya karena kesalahan-kesalahan dia sendiri. 

Menjadikan itu sebagai sebuah pembelajaran untuk di kemudian hari untuk jangan melawan arus, untuk memakai helm ketika berkendara, untuk membawa surat-surat ketika berkendera. 

Dia seharusnya tidak malah lantas berlarut dalam amarahnya dan melampiaskan itu kepada barang miliknya sendiri dan bahkan ke orang lain. Terima bahwa itu adalah kesalahan sendiri, move on dan perbaiki agar tidak terjadi di kemudian hari.

Pada akhirnya dengan marah kepada diri sendiri, kepada orang lain, dan bahkan kepada sebuah barang, menjadikan dia mendapat konsekuensi yang lebih berat daripada ketika dia dapat berpikir tenang dan mengetahui bahwa dia tidak memiliki kendali atas tindakan polisi tersebut.