Lecturer
3 minggu lalu · 82 view · 5 min baca menit baca · Agama 22598_42523.jpg
Foto: Arrahmah

Pribumisasi Islam ala Gus Dur

Dalam menyejahterakan manusia, agama memberikan jaminan dasar yang meliputi lima hal. Pertama, jaminan atas keselamatan atau kebebasan beragama dan berkeyakinan (hifdz ad-din). Kedua, jaminan atas jiwa dan keselamatan fisik (hifdz an-nafs). 

Ketiga, jaminan atas keselamatan keluarga dan keturunan (hifdz an-nasl). Keempat, jaminan atas profesi dan hak milik pribadi (hifdz al-mal). Kelima, jaminan atas keselamatan akal dan kebebasan berpikir dan berekspresi (hifdz al-‘aql). 

Semua jaminan itu terangkum dalam konsep Islam sebagai Maqasid as-Syari’ah.

Islam sebagai agama mayoritas masyarakat Indonesia juga sudah semestinya menampilkan wujudnya sebagai pengejawentahan dari Maqasid as-Syari’ah tersebut. Akan tetapi, sampai saat ini masih banyak penafsiran yang mengaburkan penyesuaian tujuan agama dengan realitas yang sebenarnya.

Kemunculan paham-paham Islam radikal dan tidak toleran tentu juga berusaha memujudkan tujuan agama. Begitu juga dengan penyebarnya paham liberal yang hampir menganggap agama sebagai produk budaya semata yang tidak mengandung nilai sakralitas sama sekali.

Semua paham itu tentu bertujuan melaksanakan perintah agama. Sedangkan konteks sosial yang plural dan multikultural seperti di Indonesia ini, tentu tidak bisa ditekankan hanya menganut satu paham keagamaan saja. Kebudayaan lokal merupakan bagian yang tidak bisa digantikan begitu saja oleh agama, sehingga perlu adanya penyesuaian antara keduanya.


Islam Indonesia, sebagaimana banyak dikaji oleh para pemikir, baik lokal maupun internasional, adalah Islam yang unik. Keunikan Islam di Indonesia tentu dapat dilihat dari wujudnya yang sama sekali berbeda dengan Islam di tanah kelahirannya, yaitu di Timur Tengah. 

Perbedaan ini bukan terdapat dari konten syariatnya, akan tetapi terlihat dari cara Islam berbaur dengan budaya lokal dan ternanam kuat dalam kesadaran masyarakat sampai saat ini.

Kesepahaman Islam dengan budaya lokal ini sudah ditampilkan oleh para perintis datangnya Islam di tanah Nusantara, baik itu dilakukan oleh para pedagang muslim dari India maupun para ulama sufi dari Timur Tengah, yang kemudian dilanjutkan oleh ulama-ulama Jawa dengan nuansa yang sangat lokalistis, namun tidak meninggalkan sama sekali tujuan utama Islam itu sendiri.

Salah seorang cendekiawan yang sekaligus politisi yang menjelaskan bagaimana dekatnya Islam dengan budaya lokal sehingga melahirkan Islam yang khas Indonesia ini adalah Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur. Banyak yang mengatakan bahwa Gus Dur adalah tokoh yang liberal dan nyeleneh, bahkan bagi kebanyakan masyarakat muslim sendiri.

Terutama dalam masalah pluralismeGus Dur adalah dalangnya, karena agama secara umum baginya adalah agama yang hadir di muka bumi ini untuk kesejahteraan manusia beserta alam dan seisinya. 

Karena itu, agama, termasuk juga Islam, sering kali dikatakan oleh Gus Dur sebagai satu hal dari banyak hal dalam kehidupan manusia. Sehingga agama harus dipahami sebagai fungsi komplementer bersama nilai-nilai, ideologi, atau kelompok yang lain.

Dengan menggunakan agama sebagai suatu hal yang melengkapi kehidupan manusia, maka agama dan hal-hal yang lain menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan, termasuk dengan budaya, moral, dan etika. Tanpa bisa menjadi etika sosial, norma-norma agama akan kehilangan dimensi moral dan etisnya, sehingga manifestasi keberagamaan menjadi sangat kaku dan kontras.

Agama, terutama Islam, dan budaya, memiliki independensi masing-masing, tetapi keduanya memiliki wilayah tumpang-tindih. Manusia tidak bisa beragama tanpa kebudayaan, karena budaya merupakan hasil kreativitas manusia yang bisa menjadi salah satu bentuk ekspresi keberagamaan. 

Tetapi tidak bisa disimpulkan bahwa agama adalah kebudayaan. Sehingga di antara keduanya terjadi tumpang-tindih dan saling melengkapi, namun tetap memiliki perbedaan dan wilayah masing-masing.

Perpaduan Islam sebagai agama dengan budaya lokal Indonesia ini melahirkan apa yang disebut Gus Dur sebagai Islam Pribumi, atau Pribumisasi Islam. Konsep ini bukan berarti mejadikan segala hal yang lahir dari Islam kemudian dengan bebas dapat dikonversi menjadi seperti budaya lokal. Sehingga wilayah tumpang-tindih dari agama dan budaya harus dicermati sebelum mengaktualisasikan Pribumisasi Islam.


Gus Dur mencontohkan bahasa salam, assalamualaikum, dalam Islam dipraktikkan dalam dua wilayah: wilayah syariat yang diucapkan dalam salat dan wilayah budaya sebagai pengganti bahasa sapaan shobahul khoir atau selamat pagi dan semacamnya.

Gus Dur menjelaskan bahwa pribumisasi Islam bukan berarti mengganti assalamualaikum dalam salat dengan bahasa lokal sebagaimana mengganti assalamualaikum dalam sapaan kesearian. 

Salat adalah wilayah syariat yang tidak bisa diubah, sedangkan ekspresi keseharian adalah wilayah budaya yang dapat berubah mengikuti zaman. Sehingga Pribumisasi Islam tentu mengharuskan pengetahuan yang mendalam tentang Islam dan budayanya, termasuk juga tentang budaya lokal itu sendiri.

Di samping untuk mempertahankan dan mendamaikan Islam dengan budaya, Gus Dur dengan gagasan Islam Pribumi-nya juga seakan-akan ingin melakukan perlawanan terhadap gerakan Arabisasi yang gencar dilakukan oleh kalangan muslim konservatif yang sempat mencuat di Indonesia.

Gerakan Arabisasi adalah gerakan membawa Islam sampai pada tataran budaya. Artinya, membentuk Islam sebagai budaya. Sehingga apa pun bentuk budaya lokal, baik itu sejalan dengan Islam ataupun tidak, harus diubah dengan budaya tempat kelahian Islam, yaitu Arab. 

Gerakan ini bahkan membawa dogma teologis dengan beralasan bahwa bahasa ahli surga adalah bahasa Arab, sehingga sudah semestinya Arabisasi menjadi langkah untuk menjadikan budaya Indonesia sebagai budaya yang Islami.

Sebaliknya, Gus Dur dengan Islam Pribumi-nya beranggapan bahwa Islam sendiri lahir di Arab dengan menyesuaikan dengan budaya lokal. Dalam arti, banyak konten Islam yang itu sesungguhnya adalah perbaikan dari budaya lokal, bukan menggantikan dengan suatu hal yang baru. 

Sementara Arabisasi tentu dapat menghapus budaya lokal yang mana itu jelas tidak sejalan dengan cara Islam menampilkan dirinya sebagai rahmatan lil-alamin.

Gus Dur menilai tidak tepat kecenderungan formalisasi tersebut. Menurut Gus Dur, sebagai ajaran normatif yang berasal dari Tuhan, Islam harus mengakomodasi kebudayaan yang berasal dari manusia tanpa kehilangan identitasnya.

Gus Dur mencontohkan dengan bahasa Alquran dan Hadis, di mana di dalamnya sangat banyak muatan lokal untuk menyampaikan nilai-nilai Islam, seperti penggunaan istilah susu dan madu sebagai penggambaran untuk eksistensi surga, buah-buahan yang didambakan manusia padang pasir, dan pengertian-pengertian bahasa Arab mengenai kehidupan. Sehingga tidak dapat dibenarkan jika Islam harus ditegakkan dengan cara menghapus budaya lokal.


Pribumisasi Islam adalah sebuah rekonsiliasi Islam dengan kekuatan-kekuatan budaya lokal. Budaya ini tidak boleh hilang demi kehadiran agama.

Namun bukan berarti meninggalkan norma-norma agama demi kelanggengan budaya. Norma-norma agama menampung kebutuhan budaya dengan mempergunakan peluang yang disediakan oleh variasi pemahaman terhadap nash.

Pribumisasi Islam ini diperlukan setidaknya dengan tiga alasan yang mendukung. Pertama, pribumisasi Islam merupakan bagian dari sejarah, sebagaimana Islam yang telah dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Kedua, pribumisasi Islam merupakan kebutuhan masyarakat lokal untuk ber-Islam. Ketiga, pribumisasi Islam terkait dengan fikih dan adat (kebudayaan).

Kontekstualisasi gagasan ini bagi Gus Dur harus dimulai dari dibangunnya penegakan hak asasi manusia, pemeliharaan kebebasan dan pemberian peluang sebesar-besarnya bagi pengembangan pribadi dengan cara yang dipilih. 

Selain itu juga, diperlukan sistem lembaga-lembaga keagamaan yang mendukung tujuan tersebut, baru kemudian perlu adanya pengkajian lebih dalam terhadap Alquran untuk menemukan nilai-nilai dasarnya dan disesuaikan dengan konteks kebutuhan lokal masyarakat.

Artikel Terkait