Di zaman modern ini, Kita dituntut untuk menjadi pribadi yang memiliki intelektul tinggi. Yakni berwawasan luas, berprestasi, kompeten, serta menerima segala perubahan dan kemajuan yang terjadi pada zaman mutakhir ini.

Bukan hanya berprestasi dalam bidang akademik dan non-akademik. Kita yang hidup di zaman serba media social diwajibkan untuk melek literasi media. Bukan menjadikan media social ajang mempromosikan diri, mengekspos kegiatan kegiatan tidak penting, atau bahkan membuang-buang waktu dengan stalking artis-artis beken atau berita-berita hoaxs yang merajalela. Akan tetapi menggunakan media social sebagai sarana untuk menambah wawasan, dan pengetahuan dunia. Serta menjadikan media sebagai media memperkenalkan mahakarya dari para remaja masa kini.

Intelektul sendiri dalam KBBI memiliki arti cerdas, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan; (yang) mempunyai kecerdasan tinggi; cendekiawan; totalitas pengertian atau kesadaran, terutama yang menyangkut pemikiran dan pemahaman.

Menjadi pribadi intelektual sendiri adalah pribadi yang cerdas sekaligus berilmu. Dari sini, sebenarnya semua anak terlahir cerdas, hanya saja kecerdasan seseorang mimiliki penempatan dan tingkatan yang berbeda-beda. Kita sering melihat siswi yang sulit menguasai materi pelajaran tetapi dalam menghafal suatu materi atau menghafal Al-Qur’an sangat mudah. Ini membuktikan pada dasarnya mereka itu cerdas, hanya saja kita sering menilai ‘’ikan’’ dari cara memanjat pohon.

Di era yang serba pintar ini, kita dituntut untuk selalu mengetahui kemajuan-kemajuan yang ada. Selalu menerima setiap perubahan yang terjadi. Terlebih penggunaan social media di Indonesia menempati urutan tertinggi di dunia, mengharuskan kita sebagai remaja Indonesia melek terhadap media social yang ada. Sehingga tidak terkesan bahwa Indonesia hanya pengguna teraktif di dunia, tetapi nol terhadap karya.

Sebagaimana pada firman Allah dalam QS. At-Tin ayat 4, yakni sebagai berikut.

 لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya".

Bahwasannya Allah SWT mengatakan bahwa telah menciptakan diri manusia itu dengan bentuk yang paling sempurna dan paling Indah. Yang dimaksud dengan ciptakan Allah yang paling Indah itu adalah bentuk tubuh manusia dan itu merupakan makhluk yang paling Indah di muka bumi ini. Karena keseimbangan bentuk dan parasnya yang sangat Indah.

Maka dari itu sebagaimana yang telah Allah jelaskan dalam Al-Qur’an tentang penciptaan manusia, kita sebagai manusia yang berakal normal amat penting untuk memanfaatkan apa yang telah diberikan Allah sebagaimana mestinya.

Dengan begitu, di zaman meningkatnya literasi media ini kita harus bisa mengimbangi dengan literasi, dalam arti membaca. Juga tak melupakan sebagaimana fitrah menjadi ciptaan tuhan yang sesugguhnya juga tetap pada sebagaimana yang disyariatkan.

Tidak mudah memang membentuk karakter sebagaimana mestinya, apalagi hanya diutarakan lewat perbincangan tanpa adanya pembuktian. Manusia dengan fitrahnya yang cerdas dan berakal harus mampu menerima dan mengolah informasi apapun dengan secara baik, diantaranya tidak mudah menerima berita hoaks yang menyebar, gemar membaca merupakan salah satu cara untuk memperhentikan berita hoaks sebelum benar benar menyebar luas.

Namun, untuk saat ini tak bisa dipungkiri daya tarik masyarakat akan pentingnya membaca masih rendah, sebenarnya tidak hanya membaca, tapi juga harus dibersamai dengan memahami. Suka membaca, akan membuat kita memahami dan teliti dalam menangkap informasi. Berbeda dengan hanya bisa membaca tanpa memahami, akan mudah untuk menerima hoaks. Hanya dengan membaca judul cerita, informasinya langsung dibagikan. Tanpa peduli itu hoaks atau bukan.

Maka dari itu kita sebagai remaja penerus bangsa di zaman mutakhir ini, harus pandai-pandai menyaring berbagai informasi. Bisa melalui portal berita krediable, atau melalui aplikasi google yang khusus untuk menyaring berita atau informasi. Karena pada zaman mutakhir yang serba instan, segala hal dapat dilakukan dengan instan pula. Tanpa bersusah payah mencari kebenaran suatu berita, hanya melalui sebuah gadget dan aplikasi pintar dapat mengetahui segala hal.

Sebagaimana yang terutarakan dalam suatu hadis;

عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ.

Abu Musa Al-Asy'ari meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, "Persamaan seseorang yang mengingat Tuhannya dan seseorang yang tidak mengingatnya adalah seperti orang hidup dan mati." (HR Al-Bukhari).

Dari hadis tersebut tersirat mengingat tuhan itu perlu, terlebih di zaman seperti ini jika tidak memiliki suatu hal sebagai pedoman yang kuat maka akan mudah terombang-ambing ditengah perubahan zaman yang sering terjadi. Perubahan yang tak mudah ditebak dan sering bersifat mendadak, terlebih sampai sangat berpengaruh untuk kelanjutan dalam hidup bersosial.

Maka dari itu, tugas kita sekarang sebagai remaja intelektual di zaman mutakhir ini adalah meningkatkan minat baca para warga Indonesia. Karena jika kita berprestasi, memiliki wawasan luas, dan selalu menghasilkan mahakarya, dan kita sebagai remaja intelektual harus siap menerima segala peubahan yamg terjadi. Memilah milah mana perubahan baik dan mana yang buruk, informasi yang baik dan buruk. Serta kita harus melek dan siap terhadap kemajuan yang ada di zaman mutakhir ini.

Semoga bermanfaat…