Freelancer
1 minggu lalu · 187 view · 3 min baca · Puisi 79612_65585.jpg

Pria-Pria di Seberang Kemewahan

Pria Bebas Terkulai Lemas

Di sudut meja kayu atas tatanan ruang majikannya
Pria itu tersungkur kemerdekaannya
Harga dirinya murah terbeli, bukan karna jerih keringatnya
Melainkan dirinya memang budak yang sangat terbudak
Himpitan menungganginya jauh-jauh untuk jatuh

Alih-alih termewahkan hatinya, dia malah jatuh miskin.
Miskin kebebasan menikmati hidupnya;
Miskin jalan menentukan langkahnya
Pria itu pria jalang yang malang
Mendamba hidup leluasa padahal jiwanya terpenjara
Terkurung menepi terpinggirkan oleh harapan orang banyak

Ratunya murung, kala dirinya merebah lelah
Pria itu terhenti sejenak, mengatur nafas yang tersengal
Memantik matches, merokok barang satu dua batang saja
Sang pria lelah; ingin menyerah namun takut salah
Jalan akhirnya dia melanjutkan langkahnya;
Membudakkan bebasnya hanya demi harta


Realitas

Sudut pandangnya terbagi ke seribu dimensi
Tergeletak payah saat semuanya saling bersebrangan
Derajat yang hendak dipikulnya terlampau berat
Semenjana peradaban yang dirasakan menjulang jatuh rapuh
Ia hanya tak ingin memesan kekayaan dalam kehidupannya
Meresah setiap helanya dalam mengejar rupiah
Bukan, bukan, ia bukan tak ingin hidupnya berkecukupan
Hanya proses yang harus dilalui sangat bukan dirinya; bertentangan


Takjub

Orang-orang yang takjub pada pencapaian
Kalut melaut dalam kegundahan
Fokus menjelang tanpa tengokan

Orang-orang yang silau akan  gelimang penghamburan
Akhir yang besar, tapi sosialnya abai dan tersepelekan
Sibuk menggapai citra mapan ideal

Namun karya karsa ke sekitar menghilang terurai lebar
Jangan, jangan masuk ke lubangnya
Jika tak rela diambil dari kehidupan


Lajang yang Jalang

Hai lajang!
Mana wanitamu?
Rumah kau numpang, mobil kau tak ada.
Anak perawan mana yang mau kau tiduri?
Tak ada yang bersedia!
Orang tua mana yang rela anaknya kau gauli?
Tidak ada!
Bagaimana bisa bahagia wanitamu?
Jangankan kaya, miskin saja tak punya!
Malu sama kemaluanmu yang meronta!
Sudah lajang, jalang juga rupanya!


Rumah Kawan

Secangkir itu masih separuh habis
Ampas di dasar diaduk kembali; agar-
bermuara dibibir orang-orang yang lelah
Mengepul receh untuk kopi susu yang kian mendingin
Rautnya melemah, membalas tegur dengan lirih
Melempar senyum yang cuma-cuma
Tawanya sembunyi-sembunyi dalam hambar
Teguk demi teguk, jiwanya sedikit tenang
Hisap-demi hisap, semangatnya terisi ulang
Lantas dia bergegas siap menyergap
Kehidupan yang sudah menghadang
Satu langkah, dua langkah, dia keluar
Matanya mulai memicing terhadang kesengsaraan
Jiwanya gemetar, kaki-kakinya bergetar
Pikirnya mulai gampang, dan balik menghampa
Belum sempat ia tunggangi besi tuanya;
Dia memutuskan berbalik arah dan diam
Memilih tetap tinggal untuk cangkir kedua di rumah kawan


Putri Khayangan

Gamang yang kesekian, aku teraniaya stigma
Penat; melelahkan sekali langkah hari ini
Seperti kemarin, seperti dua hari yang sudah lewat
Tiga hari, empat hari, yang lalu
Setahun yang terlepas sudah; dahulu.
Kenikmatan yang lama sudah terlepas; lama sekali

Aku mulai membangunnya kembali
Siksaan demi siksaan yang membahagiakan
Kesusahan-kesusahan yang melenakan tiap malam
Seekor nokturnal berwujud laki-laki
Wajahnya malang memohon belai
Matanya berkantung hitam, tapi sakunya tak kunjung menebal

Jiwanya sama sekali tak tenteram

Sekitarnya makmur dan memakmurkan, kecuali dia
Melemah, menghinakan diri sendiri adalah kesucian
Tak ada yang bisa dibanggakan darinya, memang
Senyum simpulnya sulit mengembang
Menunggu lagi dan lagi untuk kembali bahagia memerdekakannya

Gamang yang kesekian, dia kembali lagi
Pada satu hari yang lagi-lagi penat sesak
Mencumbui secangkir dan kepulan asap pembunuh organ tubuhnya
Kali ini muramnya sedikit terurai
Satu; dua; lemparan senyum melegakan
Putri khayangan, dibalik tembok semen dan kayu-kayu pembayaran 


Pria-Pria di Seberang Kemewahan

Sekumpulan itu, jauh dari keangkuhan
Kesombongannya selugu tunas tanaman di pekarangan
Tawanya semewah recehan emas para penguasa
Sekumpulan itu, menepi dari perbudakan nilai tukar
Candanya sesederhana gubuk kecil di pematang sawah pedesaan
Bahagianya hanya beberapa cangkir dan selintingan tembakau
Sekumpulan itu, berjiwa sosial setinggi cakrawala
Waktunya banyak terbuang untuk makna, bukan harta
Nyawanya menyatu, membentuk sebuah distorsi menyenangkan
Kerumunan itu... Pria-pria di seberang kemewahan


Dahaga di Jelaga

Jumpanya setiap hari hanya dahaga
Jelaga di matanya sebab tekanan banyak manusia
Hausnya, peluhnya, tak penuh untuk jiwanya
Raganya sehat, bugar dengan kegagahan tawanya
Namun... Namun hatinya kosong, ruhnya mati muda
Setiap langkah di hidupnya hanya menanti
Memuaskan hasrat orang-orang dengan materi
Hausnya, peluhnya, tak sepenuhnya berarti
Orang-orang hanya ingin ia berjuang sampai mati
Keluh kesahnya merantau ke langit tanpa sedetik henti


Korban Kalian

Sempat terlintaskah jika tak hanya kalian yang dirugikan?
Pernahkah sesekali diskriminasi itu kalian alihkan?
Hidup kami dirajam justifikasi keegoisan
Penjara-penjara itu kalian ciptakan sendirian
Bagian kami yang masif memang sangat barbar
Tapi kalian serendah itu memukul ratakan
Kami diam, kalian masih menggumam
kami melawan, kalian lari ke komisi-komisi perlindungan
Hidup kalian serba menyalahkan
Kekeliruan verbal sama dengan beberapa tahun jadi tahanan
Kami menghargai kesetaraan, namun kalian digdaya menggulingkan
Kami ini bukan mereka! Jiwa kami tak barbar meski rupa bajingan
Kalian berleha-leha dengan kehidupan
Tunjuk itu tunjuk ini, berdiam diri pun kalian bisa tenang
Lalu kami? Gerak tiap saat saja saku tak menebal, apalagi diam
Sayang, yang bermateri ajaib malah sebagian barbar
Kami menunjuk lauk sepotong ayam saja gemetaran
Apalagi restoran milik Paman Sam!
Kami ini sudah miskin harta, masih juga miskin bahagia
Sudahlah, emansipasi kalian jangan keterlaluan
Terlebih kepada minor seperti kami ini, kan?
Di kalangan kami saja, kami terbuang terpental
Kalian masih sibuk saja memukul ratakan
Kalian ini sudah buta mata, buta hati pula
Miskin sudut pandang meski tak semua dari kalian
Kalian hanya perlu tahu, kami ingin berteriak di telinga kalian;
Hey! Kalian itu sedang kami perjuangkan!

Artikel Terkait