Berita keberhasilan pasangan ganda putri Greysia Polii dan Apriyani Rahayu meraih medali emas dari cabang bulutangkis dalam Olimpiade Tokyo 2020 benar-benar anugrah di tengah suasana prihatin akibat pandemi Covid-19 yang telah berlangsung setahun lebih ini. Kemenangan itu menjadi hadiah terindah bagi HUT Kemerdekaan Indonesia yang ke 76. Kemenangan Greysia dan Apriyani menggelorakan kembali semangat Indonesia, yang sudah lama tercabik-cabik oleh politik culas, korupsi, umpatan dan saling caci yang saling memecah belah dan rasa kebangsaan teriris. Nasionalisme sudah dipinggirkan.

Prestasi olahraga ini menjadi sangat penting, bukan hanya mengharumkan nama bangsa Indonesia, namun juga punya arti dalam membangun jiwa sportif di masyarakat. Nilai sportivitas melandasi pembentukan sikap dan landasan perilaku. Sportivitas mengajarkan nilai-nilai ksatria yaitu keberanian, loyalitas dan tanggung jawab. Seorang ksatria digambarkan sebagai orang yang selalu ‘fair play’, tidak licik, main belakang. Kondisi prihatin pandemi ini, disadari atau tidak, banyak mengikis nilai-nilai ksatria di masyarakat.

Bicara tentang nilai-nilai ksatria, atau knight dalam bahasa Inggrisnya, kita bisa melihat dua tokoh populer: Dominic Toretto dan Harry Potter dalam kisah Harry Potter dan rangkaian film The Fast and Furious (FF). Toretto dan Potter bukan yang terpintar dan tercerdas. Dalam FF ada Tej dan Ramsey, yang digambarkan sebagai tokoh cerdas. Mereka merancang segala alat, mencari informasi, memberikan pengamatan-pengamatan strategis. Tetapi sang pemimpin tetap Toretto. Harry Potter meski tak secerdas Hermione Granger, Harry selalu dianggap musuh yang paling menakutkan bagi Voldemort dan dunia sihir hitam. Karena Toretto dan Potter selalu menjadi yang paling berani.

Ulasan tentang ‘knight’ di Wikipedia menunjukkan fakta yang menarik, tentang ‘knight’ dalam permainan catur. Permainan catur adalah gambaran sistem masyarakat Barat di masa lalu. Pemimpinnya adalah King (raja). Selain itu ada Queen (menteri), Bishop (gajah), Knight (kuda), benteng (Rook) dan Pawn (pion). Di sebelah King dan Queen berdirilah Bishop yang bila kita terjemahkan bebas bisa berarti tokoh agama atau rohaniawan. Bishop adalah pimpinan keagamaan dalam tradisi Kristen. Setelah Bishop, barulah berdiri Knight atau ksatria. Ini mengingatkan kita pada urutan kasta Hindu, yang kelak juga mempengaruhi tata masyarakat kuno Nusantara dan Jawa hingga kini.

Dalam permainan catur, nilai gajah dan kuda setara. Bisa jadi pada tatanan masyarakat Barat masa lalu, secara kedudukan Bishop dan Knight setara. Meski Bishop sebagai rohaniawan berdiri lebih dekat ke Raja daripada Knight, Dalam catur itu pula digambarkan, dalam posisi tertutup, nilai kuda lebih tinggi daripada gajah. Karena kuda mempunyai kemampuan melompat. Sehingga dapat bergerak melampaui tempat-tempat yang telah terblokade. Sebaliknya dalam posisi terbuka, gajah lebih bernilai karena menguntungkan untuk menyerang. Gajah berjalan lurus secara diagonal, dan langkahnya bisa panjang sekali di tempat terbuka.

Bishop sebagai rohaniawan memang menjadi agen moral yang utama. Bila menyerang dalam catur ini kita anggap simbol melakukan pekerjaannya (pengkhotbah ataupun pengabaran kebaikan) maka langkah dan posisi Bishop dalam catur menunjukkan rohaniawan haruslah lurus. Harga seorang rohaniawan adalah keberaniannya untuk lurus, terbuka, dan tak berpolitik. Tidak mempolitisir segala sesuatu. Tidak melakukan hal lain selain pengajaran moral, tanpa tendensi pribadi. Saat menegakkan moral tersebut, seorang rohaniawan dapat bergerak melampaui jangkauan seorang raja. Untuk menjaga agar dirinya tetap lurus dan tak tergoda duniawi, maka di kehidupan nyata rohaniawan sering melakukan praktek asketisme, menjauhi kenikmatan indrawi demi mewujudkan tujuan-tujuan rohani seperti bertapa, membiara, selibat dan tak berpolitik.

Kuda, sebagai simbol kaum ksatria, punya nilai-nilai yang berbeda lagi. Ksatria jelas harus bermoral, namun ia tak dituntut untuk memberi pengajaran moral pada orang lain. Ksatria hanya diharapkan menjaga moralnya pribadi. Tak mengatur moralitas yang lain. Nilai utama ksatria adalah kemampuannya untuk membela negara secara totalitas. Nasionalis. Langkah kuda terbatas, tak dapat terlalu jauh, menunjukkan kesetiaan pada Raja. Knight tak akan melebihi kewenangan Raja. Membela negara tanpa ambisi-ambisi politik yang mengganggu stabilitas dan keutuhan negara. Ini menjadi penanda implisit bila rohaniawan adalah moralis, sedang ksatria adalah nasionalis.

Fenomena menarik dalam catur adalah makna langkah Queen yang jauh lebih panjang daripada langkah King. Mungkin tradisi Barat masa lalu memang tak terlalu mendiskriminasi perempuan, tak membatasi perempuan hanya di wilayah domestiknya. Sehingga Ratu dapat berperan aktif melindungi Raja. Raja sebagai simbol kedaulatan harus dilindungi, sehingga Raja melangkah dengan hati-hati dan terbatas. Mungkin ini menjadi bentuk pengajaran nilai gentleman. Queen sebagai wakil unsur perempuan dipersepsikan mempunyai kemampuan luar biasa. Pesan terselubungnya: perempuan harus dihormati.

Bagaimana dengan ksatria di Indonesia? Kasta bisa jadi hanyalah sistem nilai kuno di Nusantara yang kini tak berlaku lagi. Namun bukan berarti sisa-sisa nilainya tak lagi ada. Bila kita berbicara masyarakat Jawa hingga dua dekade lalu, kita melihat amatan antropolog Clifford Geertz tentang Abangan, Santri dan Priyayi masih berlaku. Kelompok ksatria, dalam sistem tata masyarakat Jawa sering disebut priyayi. Sedang kelompok brahmana, sejak hancurnya Majapahit sering disebut sebagai kelompok santri. Beda santri dan brahmana dalam konsep kasta masa lalu hanyalah kemampuan berdagang yang menjadi sumber penghidupan para santri sebagaimana kasta waisya di masa lalu. Bisa dibilang orang waisya melebur dengan brahmana setelah Majapahit runtuh.

Sedang Abangan adalah kelompok yang tak benar-benar merujuk pada orang sudra di masa lalu. Pada kenyataannya abangan adalah kelompok yang bukan rohaniawan ataupun priyayi. Para priyayi Jawa terkenal karena sikap dan tindakannya yang terkendali dan tidak emosional. Bermartabat. Tanggung jawab sosialnya tinggi, begitu juga standar moralnya tinggi, meski seringkali penghasilannya tidak terlalu besar. Sejarawan Ong Hok Ham pernah menulis bila kaum priyayi terkenal dengan gaya hidup sederhana karena penghasilannya sering habis untuk biaya-biaya sosial kemasyarakatan. Bila demikian mereka kemudian akan berutang pada para santri atau pedagang yang relatif lebih berpenghasilan. Porsi terbesar penghasilan mereka seringkali kemudian harus dihabiskan untuk membayar cicilan ini. Membuat para priyayi hidup makin bersahaja dan sulit untuk menumpuk modal dan menjadi pengusaha.

Tata masyarakat kini mungkin sudah berbeda. Brahmana atau rohaniawan masa kini mungkin tak lagi merujuk kasta melalui garis darah, demikian juga dengan ksatria. Siapapun menjadi ksatria saat ia berjuang bagi bangsa Indonesia, seperti kedua pasangan meraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020 itu.

Srikandi bulutangkis Indonesia Greysia Polii dan Apriyani Rahayu jelas telah memberi teladan kita tentang nilai ksatria. Membela tanah air tanpa memperdulikan perbedaan etnis, sosial dan ideologis. Menjunjung sportivitas, bisa menerima kekalahan sekaligus tak menjadi jumawa saat juara. Semoga dari situ lahir banyak prestasi olahraga lainnya, atau minimal melahirkan generasi yang gemar berolahraga, generasi yang berjiwa ksatria.