2 tahun lalu · 401 view · 2 menit baca · Politik image_9.jpeg
Foto: Wikipedia

Presiden Otoriter yang Dipilih Lewat Pemilu Demokratis

Saya kira sangat tepat menggambarkan sosok Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berdasarkan judul di atas. Saya ingin mengulas sosok Erdogan yang sangat Otoriter, apalagi setelah Erdogan melebarkan sayap Otoriternya kepada Negara Kita yaitu Indonesia. Jadi tambah menggebu-gebu ingin mengulas Erdogan sosok Presiden Turki yang sangat Oteriter. 

Di bawah rezim Pemerintahan Erdogan, Negara Turki menjelma menjadi Pemerintahan yang Oteriter. Tidak ada yang namanya kebebasan Pers atau kebebasan berpendapat bagi Erdogan, karena kalau mengkritik atau menentang Pemerintahan Erdogan pasti langsung diberangus (ditangkap) dan sudah banyak sekali Jurnalis yang mengkritik Erdogan langsung ditangkap oleh Pemerintahannya. 

Tiga minggu terakhir, kita dikejutkan oleh Militer Turki yang melakukan Kudeta terhadap Pemerintahan Erdogan, namun Kudeta yang dilakukan oleh Militer berakhir pada kegagalan. Mengenai Kudeta yang dilakukan oleh Militer Turki terhadap Pemerintahan Erdogan.

Menurut saya, disatu sisi saya sangat tidak respect sama sekali terhadap Pemerintahan Erdogan, karena setelah selesai pasca kegagalan Kudeta yang dilakukan oleh Militer, Erdogan menangkap dan akan memberi hukuman mati pada setiap orang yang terlibat melakukan aksi Kudeta dan Erdogan menuduh lawan politiknya Fethulah Gullen (sekarang menetap di Amerika Serikat) sebagai dalang semua ini, dengan tanpa bukti yang jelas.

Tapi disatu sisi saya juga tidak setuju apa yang dilakukan oleh Militer Turki yang melakukan Kudeta. Karena melakukan Kudeta oleh Militer itu mencederai Demokrasi dan mau tidak mau kita harus akui juga bahwa Erdogan terpilih sebagai Presiden Turki melalui Pemilu yang Demokrasi.

Ok sekarang kita bahas bagaimana Erdogan melebarkan sayap Otoriternya terhadap Negara Kita yaitu Indonesia. Kita tahu kan lawan politik terberatnya Erdogan adalah Fethulah Gullen. Nah Fethulah Gullen itu mempunyai yayasan yang berafiliasi langsung dengan beberapa Sekolah atau Kampus yang berada di Indonesia.

Nah Erdogan dengan kediktatorannya dengan seenaknya meminta Pemerintahan Indonesia untuk menutup Sekolah atau Kampus yang ada sangkut pautnya dengan yayasan milik Gullen. Tapi Alhamdulillah Pemerintahan Indonesia menolak secara tegas, karena Sekolah atau kampus yang berafiliasi dengan Gullen mengikuti kurikululum sistem Pendidikan Indonesia dan KeAgamaanya pun mengajarakan Toleransi BerAgama.

Sungguh sangat bahaya apabila seorang Pemimpin mempunyai sifat anti kritik (Otoriter/Diktator), karena dia akan selalu merasa dirinya yang paling benar. Jangan lupa sesungguhnya Manusia tidak ada yang sempurna, maka dari itu saran dan kritik sangat penting untuk menyempurnakannya.

Sungguh di era Modern ini, saya banyak belajar mengenai Leadership Demokrasi pada Presiden Republik Indonesia yang ke 6 (Susilo Bambang Yudhoyono). Beliau dalam memimpin Pemerintahan sangat menjungjung tinggi Demokrasi, Beliau sangat terbuka santun dalam menyikapi kritikan.

Dan sekarang juga sesudah berhenti jadi Presiden, ketika Beliau menyampaikan saran dan kritik terhadap Presiden Jokowi. Pak SBY secara santun dalam menyampaikan saran dan kritikannya dan berdasarkan data yang jelas pula.