88911_40449.jpg
Kompas Nasional
Politik · 5 menit baca

Presiden Bukanlah Koresponden Tuhan
Huru-Hara Menjelang Pilpres 2019

Menggelitik sekaligus mencemaskan. Perihal ingin mengganti presiden seolah-olah ingin mengganti seluruh hiruk pikuk kehidupan. Kehidupan yang diidamkan akan terlaksana dengan mempromosikan sebuah tagar untuk diluncurkan di linimasa dunia maya.

Kemiskinan, kesenjangan, ketakadilan akan segera sirna bagi mereka yang andil menyuarakan gerakan ganti presiden tahun mendatang. Tuhan pun ikut terseret dalam orasi panas mereka. Yang pasti, pemimpin itu ialah hasil rembukan umat dan pasti sanjungan Tuhan. Begitulah bunyi pendapat sepihak mereka yang memanasi telinga kita.

Hidup terlahir di negara mayoritas Muslim terbesar sejagad raya merupakan suatu keistimewaan dan juga tantangan. Istimewa karena kita bisa menjadi role model bagi negara berpenduduk Muslim lainnya untuk sedikit mengkiblatkan posisi dimana menjadi agamais dan kulturalis.

Menjadi negara bermayoritas Muslim juga memiliki tantangan. Kita mengharuskan diri untuk sebisa mungkin memberi contoh terbaik yang tak memalukan bangsa.

Bertoleransi, membaur dengan perbedaan, menyikapi keberagaman di dalam atau luar negara, mengikis fanatisme, dll adalah opsi yang sepatutnya digencarkan setiap individu di negara ini. Mungkin bagi setiap wilayah iya, tapi tidak setiap manusianya.

Keniscayaan pilihan hanya secara mutlak dimiliki Tuhan. Manusia? Kita hanya mampu menganalisa sesuatu dengan telepati sehat serta meyakininya dengan sepenuh hati bahwa pilihan kita tak sembarang dan tak menjatuhkan entitas suatu dogma.

Menilik sekarang saja, kebijakan untuk menilai validasi sesuatu dikotori oleh pandangan sempit yang terlanjur dianggap sebagai suatu kebenaran.

Menjunjung seseorang yang dielukan oleh beberapa pihak sah-sah saja. Tabiat manusia pasti mengarah menuju keyakinan yang digelutinya. Yang salah adalah menyambit keabsahan hak Tuhan lalu disebarkan secara antah berantah sehingga para awam menelannya sebagai suatu keyakinan mutlak.

Inilah yang sedang kita hadapi. Banyak sekali pihak yang mendoktrinkan diri mereka atas perfeksi kesempurnaan, koresponden langsung Tuhan, juru selamat bagi para umat, dan pelbagai sebutan menamai keagungan kuno mereka.

Jangan sampai negeri ini jadi panggung dagelan, dipenuhi monster berseragam dan berintuisi agama yang ingin membawa negeri ini perlahan ke lubang menakutkan.

Demokrasi ialah simbol NKRI. Anda bisa mengukur sisi nasionalisme kita beranjak naik atau merunduk dari pagelaran demokrasi yang dihelat. Mengganti kekuasaan tak boleh hanya diselipi kenafsuan, tendensi emosional, apatisme, atau rasa benci atas kepemimpinan masa sekarang belaka, tetapi lebih dari itu.

Ini ibarat ada anak berusia 5 tahun setelah selesai menonton film Superhero lalu berkeinginan langsung menjadi jagoan di lingkungannya, bahkan faktanya mencuci kaki sehabis bermain comberan saja malas.

Indonesia adalah negara yang besar. Dibutukan sepasang pemimpin yang berintegrasi, berdedikasi tinggi, dan rekam jejak yang patut disegani. Mengganti presiden bukan melulu soal ketidaksukaan secara figuritas, personalitas, dan segala hal berbau subjektifitas.

Selain mencanangkan program, etos kerja, dan visi misi yang relevan, seorang calon pemimpin hendaklah bisa membaur secara eksklusif pada setiap golongan, tanpa menindihkan kepala kepada satu masa saja. Bukan juga yang hobi memalsukan kedekatan kepada minoritas atau bahkan melupakan identitas keluarganya.

Sudah saatnya pola pikir masyarakat dirombak total. Mengharapkan topangan hidup dari seorang pemimpin bukanlah solusi dari semua problematika kehidupan. Walau tak juga ditampik kebijakan bersikap seorang pemimpin juga memengaruhi perkembangan suatu daerah.

Berevolusilah secara lantang dan menyuarakan aspirasimu secara elegan bukan dengan makian apalagi fitnah murahan. Presiden juga tak bisa menjadikan sebuah negara maju dalam semalam. Dibutuhkan semangat kooperasi dan keambisiusan yang positif dari seluruh elemen negara. Termasuk rakyatnya.

Masalah kita sekarang ini bukanlah berkeinginan membawa Indonesia ke arah yang lebih hebat, tetapi menyibukkan pikiran dan material untuk berebut kursi terdepan nan terpandang.

Kita tahu berkompetisi itu perlu, tetapi berkompetisilah dengan sehat, mengeluarkan ide substansial nyata, terperinci, tanpa menjustifikasi kebenaran lapangan. Dengan tak menutup mata, rincian itu semua tak sejalan. Pihak oposisi selalu menyerbu pemerintah dengan argumen lemah, arogansi tak bernyali, fitnahan, dan cemoohan mengarah ke figur.

Kalau iya mereka juga memberi sumbangan gagasan bermutu yang bisa digunakan untuk bersama-sama membangun pemerintahan yang kokoh dari semua aspek, tapi ini tidak. Gencaran mereka selalu bernada yang sama; cemoohan. Tak ada konsep lain.

Andai saja oposisi gemar memberi solusi yang baik dan bermanfaat dalam dinamika berpolitik juga pemerintahan, keadaan mungkin bisa sedamai yang tak terkira, sentimen radikalisme juga mungkin tak menyeruak ramai seperti sekarang.

Dikarenakan tak punya subtansi yang tajam dalam menginterfensi ranah pemerintah, mau tak mau memanfaatkan sisi agama yakni persis seperti para pelaku sebelumnya.

Memberikan pengandaian baru bahwa Jokowi tak sedekat dengan ulama jaman now tapi malah bersahaja bersama ulama-ulama berpotensi tinggi tak hanya soal aqidah Islam tetapi soal pemahaman nasionalis seperti NU. Berbeda sedikit dengan Prabowo yang nyata berdekatan dengan ustaz-ustaz pro HTI, gerakan 212, anak jaman now, yang pastinya bertolak belakang dengan pemerintah.

Perbedaan sisi itu hal yang sangat lazim. Embanan kita sekarang bukanlah memainkan pilar fungsional Tuhan dengan menjual ayat-ayat Nya untuk diperdendangkan di dalam kontestasi politik lima tahunan.

Sungguh kasihan pemikiran yang bahkan tak mampu mensortir kesehatan berpolitik dengan cara mengkotori nilai intimasi agama. Agama hadir untuk memperjelas bukan mempersulit. Tapi sayangnya, hari ini masih ada yang membaliknya.

Tak ada kepemimpinan yang sempurna. Begitu juga dengan era Pak Jokowi sekarang. Masih ada beberapa hal yang patut dikejar, digalakkan, direalisasikan agar impian setiap pilar Pancasila tercapai.

Namun bagi haters-nya beliau setiap hal positif dan keberhasilan yang sudah beliau lakukan tetap saja salah. Saya tegaskan, Pak Jokowi bukan malaikat kiriman Tuhan. Dia juga manusia biasa yang butuh partisipasi kita semua.

Imej lain yang melekat pada Pak Jokowi sekarang ini ialah anti Islam. Ini sangat membingungkan. Saya kira karena beliau sibuk bekerja, tak memainkan dalil kitab dalam orasi, bersikap adil pada semua golongan –apalagi minoritas– yang menggarisbawahi citra beliau. Itulah kacamata saya terhadap beliau yang juga banyak orang setujui.

Saya jadi terperangah, apakah definisi Islam murni menurut mereka ialah dengan mempermainkan serta menjual kemasan mentah agama ke dalam ajak politik? Apakah trend ini bakal terus laris dipakai di tahun-tahun mendatang? Lalu dimanakah realita Pancasila yang selama ini disebut di setiap upacara di hari Senin? Mabuk agama memang mengajak siapa saja ya.

Mari berintrospeksi diri, tanpa saling menghakimi. Jangan biarkan negeri ini berkutik pada siapa yang ingin berebut singgasana. Berkutiklah pada janji yang diimplementasikan untuk Indonesia berkemajuan.

Pendirian politik praktis seharusnya dibungkam sedini mungkin, isu SARA harus dikikis, dan berharap kepada media untuk selalu menjunjung tinggi nilai keobjektifitasan agar pesan disampaikan dengan segelintir fakta baik informasi membanggakan juga mengecewakan.

Memajukan negeri dibutuhkan proses, kerja cerdas apalagi di era globalisasi yang mana persaingan IPTEK semakin meningkat. Berhentilah berpandangan bahwa Tuhan bakal menjatuhkan pilihan-Nya di salah satu paslon.

Dia tak akan membiarkan jargon yang menstempelkan nama dan esensi-Nya berlalu lalang begitu saja. Sebab Tuhan tak berkorespondensi dengan siapa pun.