Freelancer
6 hari lalu · 264 view · 3 menit baca · Politik 69215_62307.jpg
Twitter @AndiArief__

Premanisme, Sindiran Menggemaskan Andi Arief

Politikus Partai Demokrat Andi Arief kembali membuat cuitan yang menggemaskan. Cuitan darinya berisi: 

“Jika laporan Majalah Tempo benar, langkah Partai Demokrat sudah tepat. Bukan menolak people power, tapi tidak ingin terlibat premanisme. Pengkhianat dalam koalisi adalah yang menggerakkan premanisme.” ~ @AndiArief__

Kita cermati bersama bahwa apa yang dicuitkan itu mengarah pada oknum tertentu. Namun tak dijelaskan Andi lebih rinci dan tegas siapa orang yang dimaksudnya, sehingga timbul kecurigaan buat kita.

Apa yang dicuitkan tersebut terkait hasil investigasi Majalah Tempo mengenai aktor di balik kerusuhan 21-22 Mei lalu. Kuat dugaan, menurut investigasi Majalah Tempo, mantan anggota Tim Mawar Kopassus yang terlibat penculikan mahasiswa pada 1998 berada di balik kerusuhan tersebut.

Investigasi Majalah Tempo tersebut pun kini berbuah polemik. Pasalnya, Majalah Tempo telah dilaporkan ke Dewan Pers atas investigasi itu. Namun, kita tunggu saja bagaimana proses selanjutnya tanpa menghakimi mereka.

Buat Andi Arief pun seharusnya tidak ikut-ikutan membuat polemik baru dengan mencuitkan investigasi Majalah Tempo yang berkaitan dengan kerusuhan 21-22 Mei itu sebagai bentuk premanisme.

Celakanya, masalah ini akan makin membesar, sehingga kita kembali ribut dan tak pernah akur. Kalau ribut terus, maka bisa hancur negara kita ini oleh ulah masyarakat itu sendiri. Tentu kita tidak menginginkan hal itu terjadi.

Dibawa ke Ranah Politik 

Sangat berbahaya bila hasil investigasi tersebut dibawa ke ranah politik. Dan Andi Arief telah membawanya ke ranah politik itu.


Lihatlah bagaimana dia mencoba mengaitkan investigasi itu dengan partainya sendiri: “Jika investigasi Majalah Tempo benar, maka langkah partai Demokrat sudah benar”. 

Melihat pernyataannya itu, tentu telah mencoba membawanya ke ranah politik. Yang terjadi nanti hasil investigasi ini bukan lagi hasil jurnalistik, tetapi sudah berbau politisasi.

Akan ada pula yang tersinggung dengan pernyataan Andi, sehingga akan ada serangan balik untuk menyerang Andi Arief beserta partainya. Hal ini sungguh tidak kita inginkan.

Biarlah hasil investigasi Majalah Tempo tersebut menjadi ranah Dewan Pers. Kalau ada unsur pidananya, maka bisa dituntut pidana maupun sanksi lainnya. Langkah Andi Arief membuat cuitan adalah tidak benar dan terkesan ingin menuduh salah satu pihak dan melakukan pembenaran.

Mereka sedang berada dalam koalisi BPN Prabowo-Sandi, walaupun sedang tidak jelas apakah Demokrat masih bergabung atau tidak. Akan tetapi, jangan dibuat isu-isu politik yang tidak mengenakkan, sehingga membuat tidak selesainya perbincangan mengenai politik di negeri ini.

Andi Arief harus bisa menjaga hati dan pikirannya untuk tidak membuat polemik baru dengan cuitan yang menggemaskan. Ketika Andi mencuitkan sesuatu hal berbau politik, maka yang terjadi makin viral dan dikomentari oleh masyarakat maupun politisi lainnya.

Semoga Andi Arief mengerti bahwa hasil investigasi Majalah Tempo tidak dikaitkan dengan politik maupun langkah Demokrat. Harus bijak dalam berujar agar tidak membuat sengketa di antara politisi dan partai politik.  

Tidak Menggoreng Isu

Aksi kerusuhan 21-22 Mei itu memang harus kita lawan dan kita kecam. Pasalnya, aktor intelektualnya begitu berpikiran busuk dengan menghimpun massa untuk merecoki negara ini dan demokrasi.

Jadi, aksi kekerasan maupun premanisme yang dikatakan Andi Arief tidak berhak hidup di negeri kita. Harus dilawan karena telah mencederai demokrasi dan juga Pancasila.

Karena itu, bagi semua pihak diminta tidak menggoreng isu yang ada. Makin digoreng akan makin rusuh dan gaduh lagi. Masalah yang dihadapi oleh Majalah Tempo kita serahkan pada Dewan Pers dan pihak yang berwenang demi menjamin terciptanya keamanan dan kenyamanan kita bersama.


Tak perlu berprasangka buruk juga terhadap partai lain. Usahakan untuk berpikir positif dalam membangun bangsa dan negara ini. Apalagi dalam membangun koalisi saat ini, butuh namanya kekonsistenan dan kesolidan.

Andi Arief juga harus mampu memahami itu dan tidak membuat “sensasi” lagi dengan mencoba mengait-ngaitkan peristiwa kerusuhan 21-22 Mei dengan “setan gundul” dan juga aksi premanisme yang dilakukan oleh oknum tertentu. Harus bisa menunjukkan bukti, data, dan fakta yang ada dalam berujar agar nantinya tidak timbul kekisruhan politik yang lebih masif lagi.

Dan juga, biarkan kasus ini dijelaskan dan diterangkan lebih dahulu oleh pihak Majalah Tempo kepada Dewan Pers. Bila benar kerusuhan kemarin didalangi oleh Tim Mawar yang disebutkan tadi, ya kita dukung proses hukumnya.

Tetapi, ini masih tahap meminta keterangan dan klarifikasi, sehingga tidak boleh membuat opini publik dan menggoreng isu ini ke tahapan politik. Yang terjadi akan banyak serangan balik yang menyerang Andi Arief dan Demokrat. Hingga akhirnya kita ribut tak menentu dan tak pernah bersatu.

Dengan demikian, kita sepakati bahwa dalang maupun aktor intelektual dari kerusuhan 21 dan 22 Mei kemarin harus diungkap dan dibeberkan ke hadapan publik. Tetapi tidak diperbolehkan pihak lain memanas-manasi situasi dengan opini yang belum diketahui kebenarannya.

Artikel Terkait