"Serius lo, mau pakai masker? Gak takut ilang garang lo?" Badrun mulai lagi.

Tukang panggul kepercayaannya itu memang seperti pasangan hidup semenjak Bang Joni ditinggal mati istrinya. Sialnya, pasangan itu cuma akrab di pasar. Bang Joni tidak keberatan bila anak buahnya itu membuatnya mempertimbangkan ulang berbagai hal. Beda jauh sikapnya dengan anak buahnya yang lain.

"Pak, ini masker gratis dari kami. Dipakai ya, biar tetap sehat!" Begitu kata pemuda yang membagikan masker tadi pagi.

Kulihat Bang Joni ogah menerimanya. Mungkin karena anak-anak itu sepantaran dengan anaknya, yang ketika Bang Joni melihat mereka seolah sedikit terobati rindunya. Ia menerima masker kain berwarna zamrud dengan aksen kupu-kupu itu.

Badrun memanggul belanjaan Bu Carik desa sebelah ke fortuner suaminya. Badrun mengenakan masker gratis dari pengelola pasar. Ia sih senang malahan dapat yang gratis-gratis. Sementara Bang Joni sempat marah-marah saat petugas memaksanya menggunakan masker.

"Bagi-bagi sama yang butuh! Lo pikir gue butuh?!" Meski dalam keadaan marah, Bang Joni tipe preman yang membuat kita mikir, bukan malakin aja.

"Kenapa bengong lu, Bang?" tanya Badrun sekembalinya manggul. Tangannya menyerahkan setoran. "Biasanya dapet masker gratis juga nolak lu?" Badrun melihat masker zamrud di tangan Bang Joni.

"Aah siapa juga yang mau pake masker! Gue gak garang, lu gak mau kerja. Lu gak kerja, gak ada duit gue!" Badrun hanya membalasnya dengan cengiran.

Hari sudah mulai sore. Beberapa kuli panggul mengumpulkan setoran wajibnya. Sebenarnya Bang Joni tak pernah menggertak anak buahnya sebagaimana kelakuan preman-preman yang kudengar. Bang Joni adalah penyalur ketenagakerjaan untuk pemuda yang putus sekolah. Dia membagi area bagi anak buahnya untuk menawarkan jasa panggul kepada pembeli maupun bakul.

Namun berbekal bekas wajahnya yang pernah robek, Bang Joni jadi terlihat mengerikan. Preman-preman yang mencoba mengganggu pasar mundur pelan-pelan setelah tahu Pasar Bitingan wilayah kerja Bang Joni. Beberapa orang takut hanya dengan melihat wajahnya saja. Beberapa lagi tak percaya, hati selembut itu disebut preman.

"Preman atau bukan, ini gue kerja!" begitu celetuknya suatu kali.

Aku mengamati Bang Joni duduk di buk[1] selatan pasar Bitingan. Matanya menerawang. Mungkin setelah bertemu pemuda-pemuda komunitas yang membagi masker itu, rindu pada anak-anaknya makin menguat.

Terlebih di masa pandemi Korona ini, mungkin tak ada yang akan menemaninya lebaran. "Pah, aku ga bisa pulang. Papah udah lihat di TV? Semua perantau Jakarta gak bisa mudik." Telepon anak keduanya beberapa waktu lalu.

"Pah, Bandung sudah PSBB, kuliahku libur lama tapi aga bisa ke mana-mana. Tahun ini aku lebaran di rumah temen. Papah sehat selalu ya!" Pesan WhatsApp dari anak bungsunya.

Harapan satu-satunya hanya pada si sulung.

***

Pasar Bitingan mulai bergeliat saat aku bangun. Beberapa orang melihatku, menyentuh pundakku, ada yang sangat berhati-hati saat berjalan hingga tak ada yang tersenggol olehnya. Aku suka melihat bapak-bapak pemanggul anak buah Bang Joni. Mereka semua memakai masker, dan sering menggosok sanitizer ke muka tangannya. 

Aku juga sering mengamati percakapan ibu-ibu penjual dan pembeli. Transaksi mereka ialah drama, dan yang mereka ucapkan ialah kebohongan yang sama-sama mereka tahu.

"Limangewu limo tak jimuk, Yu!"[2]

"Alah, Ji, nak emoh yo wis. Mau ono sing ngenyang limangewu telu ora tak kekno!"[3]

"Wis, telongewu telu. Duitku kari limangewu, sing rongewu tak nggone parkir!"[4]

Aku terkekeh melihat tipuan-tipuan kata mereka. Jelas-jelas belum ada yang menawar lima ribu untuk tiga bungkus terong sebelumnya. Dan si Bu Kaji, pembeli itu, memiliki dompet besar yang tentu masih tebal dalam tas blancunya.

"Copet! Copet!" Suara ribut-ribut datang dari pojok selatan. Kulihat Bang Joni menyerobot kerumunan dan segera mengejar lelaki bertopi rendah dan berpakaian berlapis-lapis yang sedang berlari.

Ibu-ibu yang mulanya menjerit kini sudah semakin tenang, namun waspada. Tasnya yang digondol sedang diselamatkan. 

Bang Joni mengejar tanpa ampun. Sampai di belokan gang, copet itu seperti bingung arah. Pasalnya, kampung belakang pasar berliku-liku. Sedikit orang saja yang mengenalnya, termasuk Bang Joni. Dia tersenyum. Ada jalan pintas yang bisa digunakan untuk menjebak. Ia menggiringnya ke belokan setelah angkruk [5]semacam pos ronda.

Lalu Bang Joni membelok menuju gang kecil di belakang angkruk. Hap! Copet itu berhasil dibekuk. Tas berhasil berpindah tangan. Kini tinggal satu gerakan saja agar Bang Joni melihat pelaku. Bang Joni menyergap mulut si copet dan bersiap menarik topinya. Suara sirine di kejauhan sudah terdengar. Polisi.

"Jangan, Pah!"

Bang Joni mengenal suara itu, "Janero? Kamu kabur dari penjara?" Bang Joni geram sekaligus kesal. Anak sulungnya tak jera juga.

"Aku bukannya kabur. Penjara memulangkanku."

"Lalu kenapa tak pulang ke rumah?"

"Rumah siapa? Pekerjaanku, itulah rumahku sekarang."

Janero berlari menjauh. Sirine semakin keras. Petugas patroli yang biasa mangkal di dekat pasar menghampiri Bang Joni. Tas ia serahkan. "Lu kenal dia, Bang?"

Bang Joni menggeleng.

***

Masjid adalah simpuhan terakhir. Bagi Bang Joni, bekerja di pasar untuk mencari uang. Bekerja di masjid mencari sisa-sisa kehidupan. Ia mengecek segala kelengkapan dan kebersihan masjid. Lalu berlanjut duduk di area parkir. Sejak ia didaulat menjadi pengawas merbot, hidupnya sedikit bermakna.

Dia bertugas menyerahkan kartu parkir kepada jamaah yang datang dengan kendaraan. Malam ini ia nampak tak bersemangat. Bulan Ramadan tahun ini begitu sepi. Masjid hanya dijadikan tempat istirahat pemuda yang terpaksa bekerja di luar rumah, mengingat kebijakan pemerintah untuk memutus penularan virus korona. Mata Bang Joni mengamati pemuda yang baru saja menerima kartu nomor 043.

Pemuda itu menuntun Kharisma hitam dengan seleret putih. Bang Joni langsung teringat pada motor Janero yang digebuki warga saat tertangkap membegal bersama kawan-kawannya. Dulu sekali, motor itu ialah jerih payah Nastuti memotong kangkung di kali pagi-pagi buta lalu menjualnya ke kampung-kampung. Lalu motor itu hancur di salah satu kampung itu.

Janero yang manis dan penurut tiba-tiba berubah ketika melihat kejadian itu.

"Perlihatkan gelang itu, Nastuti!" Bang Joni teringat suaranya sendiri yang melengking kasar. Istrinya baru saja pulang dan memamerkan pergelangan tangannya yang berkilau.

"Mau lihat ya? Kalau nunggu kamu yang belikan bisa keriput duluan aku!"

Lalu pertengkaran hebat terjadi. Bang Joni marah dan Nastuti bosan. Bang Joni mengintimidasi dengan umpatan, Nastuti meraih pisau. Lalu berakhir dengan luka codet di muka Bang Joni. Si istri kemudian ditemukan mati ditabrak lari tak jauh dari rumah selingkuhannya. Janero melihat semuanya. 

Ayahnya selalu berkata, "Cinta Mamah itu lebih besar lho, dari pada rumah bertingkat," saat Janero merengek minta rumahnya direnovasi seperti teman-temannya. Namun bahkan Nastuti tak setia pada cintanya sendiri. Bagi Janero, cinta itu tipuan. Bahagia itu kerusakan. Sikap Janero bagai ledakan molotov.

"Pak, maaf, sesuai kesepakatan pengurus masjid, semua yang masuk harus pakai masker. Bisa Pak Joni kondisikan ya? Termasuk Bapak juga."

Ia teringat masker zamrud kupu-kupu di sakunya.

***

"Pagi-pagi sudah heboh aja! Kerjaan numpuk, Drun!" tegur Bang Joni saat melihat Badrun keluar dari obrolan histeris ibu-ibu. Salah satunya wanita yang kemarin kecopetan.

Bang Joni hari itu mulai memakai masker kupu-kupu. Sepagian tadi sudah mendapat pujian anak-anak buahnya, juga banyak Bu Kaji yang menggunakan jasa panggul. Badrun tak ketinggalan, ia setengah meledek malahan. Namun kini air muka Badrun berubah.

"Lo harus ikut Rapid Test, Bang! Gawat! Copet kemarin positif korona!"

"Hah?! Serius lo?! Sekarang dia di mana?!"

"Ya diisolasi lah, Bang! Ketangkap di Sleko, pas polisi ngecek suhu badan, ternyata dia lagi demam. Eh di-lab, positif dia!" Badrun nyerocos ke mana-mana. Pikiran Bang Joni membayangkan Janero terbaring putus asa di bangsal isolasi. "Heh gua gak mau deket-deket lo ah! Sebentar lagi lo dijemput. ODP lo!"

***

Ruang isolasi menyediakan kamar besar sebelum masuk di ruang-ruang kecil untuk perawatan. Bang Joni melihat bangsal sebelah kanan. Ia tersenyum."Papah puas bisa melihatmu lagi," ada bercak kerinduan yang memudar dalam dadanya. Janero menatap langit-langit serba putih. Membisu.

"Nak, sabar iku ingaran mustikaning laku."[6] Aku mengulang ucapanku saat ia masih suka mengobrol denganku di balkon rumah. Namun Janero tak merespons. "Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Nak, sejak kejadian itu?"

Mulut Janero tetap mengatup. Selang infus rupanya telah mencengkeram tangannya. Mungkin ia sedikit kesakitan.

"Aku tidak ingin apapun. Karena kau orang tua payah yang tak bisa melindungi siapa pun. Untuk apa aku menginginkan sesuatu, Papah tidak bisa memahami atau menebak. Apalagi menyelamatkan nyawamu, atau orang lain."

Bang Joni membayangkan anak-anaknya di perantauan. Lengannya yang kekar bertato tak dapat melingkar di bahu mereka. Virus Korona bisa memburu kapan saja.

"Papah memang bodoh," Janero menyeringai lemas. "Aku pelakunya. Aku yang telah menabrak Mamah!"

Pengakuan Janero membuat napas Bang Joni berhenti di lapisan kedua masker zamrud kupu-kupu. Pikirannya sedang melanglang ke masa lalu. Hatinya tercerabut lalu berjatuhan di lantai. Sedang kesadarannya tak lagi di tempatnya.

***

Mentari Senin memang begitu panas. Entah pergeseran garis matahari atau perasaanku saja, panas matahari sampai di tempatku duduk. Membakar tubuhku yang tak tahan jilatan cahayanya.

Kurasa, ini hari terakhirku di sini. Setelah kepergian Bang Joni, pasar seperti tak menarik lagi. Jadi tidak apa bila aku pergi sekarang. Toh sudah beberapa orang yang merasakan kehadiranku. Salah satunya, copet tas itu. Dia menyentuh permukaan lipatan pintu besi yang kutinggali. Itulah mengapa, anak-anakku secara cepat berkembang di tubuhnya.

Sialnya, kata orang, anak-anakku pula yang menyerang Bang Joni hingga terisolasi. Itu kabar sedih bagi virus semacam aku.

[1] Tempat duduk (Bahasa Jawa) biasanya terletak di depan rumah, di teras, atau depan sebuah bangunan

[2] Lima ribuan lima maksudnya lima ribu dapat lima barang (Bahasa Jawa)

[3] Halah, Ji (Bu Haji), kalau tidak mau ya sudah, tadi sudah ada yang menawar lima ribu dapat tiga tidak kukasih (Bahasa Jawa).

[4] Ya sudah, tiga ribu dapat tiga. Uangku tinggal lima ribu, yang dua ribu mau saya pakai buat membayar ongkos parkir (Bahasa Jawa).

[5] Pos Ronda (bahasa Jawa)

[6] Sabar itu sebaik-baiknya kelakuan (Bahasa Jawa)