Sesekali terlintas di kepala saya untuk menganalisa sebuah perusahaan serta preferensi dalam bekerja dari setiap pegawai perusahaan. Setelah bekerja di beberapa tempat berbeda dengan skala perusahaan yang berbeda, ada dua hal menarik (mengenai keuangan dan sumber daya manusia) yang dapat dijadikan perhatian setiap pemimpin perusahaan. 

Keuangan perusahaan menjadi hal pertama yang menentukan apakah perusahaan tersebut sehat atau tidak. Keuangan perusahaan harus dikelola dengan baik (divisi finance yang bertanggung jawab terhadap keuangan perusahaan biasanya memberlakukan aturan yang cukup ketat untuk memperhitungkan pengeluaran setiap bulannya). 

Sayangnya, beberapa family company seringkali memiliki owner yang tidak mempedulikan masukan dari divisi finance. Keuangan perusahaan tidak jelas karena owner menggunakan uang perusahaan untuk kepentingan perusahaan lain atau untuk kepentingan pribadi yang tidak ada kaitannya dengan urusan perusahaan. 

Di kondisi yang demikian, preferensi seseorang galam bekerja pun terkadang menjadi kendor karena pegawai akan menganggap kerja kerasnya hanya untuk menguntungkan pemilik perusahaan saja.

Masih berkaitan dengan poin pertama, yakni tentang pembayaran utang. Pembayaran utang ke pihak yang bekerjasama dengan perusahaan (seperti advertising, kontraktor, notaris, agen pemasaran, teknisi dsb) menjadikan mitra tersebut bekerja tidak maksimal dan bunga yang dibebankan atas utang tersebut semakin hari semakin bertambah. 

Hal tersebut membuat utang perusahaan semakin banyak dan memungkinkan utang tersebut lebih banyak ketimbang aset yang dimiliki oleh perusahaan. Akibatnya, perusahaan bisa menjadi zombie company dimana seluruh kebutuhan keuangan perusahaan tersebut diperoleh dari utang dan pada titik tertentu perusahaan tidak akan lagi mampu membayar utang tersebut. 

Di tahun sebelumnya dapat kita lihat fenomena zombie company (njonja meneer dan sari wangi) yang berujung pada penutupan perusahaan dan aset perusahaan tersebut disita.

Selain keuangan, sumber daya manusia (pegawai) juga menjadi penentu perkembangan sebuah perusahaan. Tidak heran jika beberapa perusahaan start up besar seperti google, facebook, atau youtube menyediakan banyak hal menarik di kantor dan mendukung pegawainya untuk meningkatkan kemampuannya melalui pelatihan yang dibiayai oleh perusahaan. 

Sayangnya dalam perusahaan old style, seringkali ditemukan pegawai yang tidak fleksibel terhadap perubahan zaman. Sederhananya, pegawai yang katakanlah senior ini menitik beratkan preferensi dalam pekerjaannya adalah mengikuti keinginan pemilik perusahaan.

Disebutkan dalam beberapa tulisan bahwa perusahaan yang dihuni oleh pegawai yang sudah tua, mapan, dan bekerja lama di perusahaan tersebut lebih rentan terhadap stagnasi perkembangan. Pegawai senior yang merasa paling mengetahui seluk beluk perusahaan seolah menjadi sosok yang menentukan keberhasilan perusahaan. 

Di satu sisi, adanya pegawai senior bisa menjadi faktor positif, dimana para pegawai senior ini telah memiliki pengalaman mengenai industri tersebut dan dapat meningkatkan penjualan atau menjalin kerjasama yang menguntungkan perusahaan. 

Di sisi lain, pegawai senior yang merasa dirinya hebat karena pengalamannya, cenderung menutup diri pada perubahan dan menginginkan pola kerja yang sedikit perubahan atau bahkan anti perubahan. Padahal zaman telah berubah dan dibutuhkan gebrakan baru untuk meningkatkan produktivitas perusahaan.

Permasalahan di poin ketiga akan semakin memburuk manakala pegawai junior tidak mendapat dukungan dari atasan dan pegawai senior. Ironisnya, seringkali pegawai senior seringkali berkomplot untuk menghalangi pegawai junior untuk merubah sistem kerja kuno yang tidak efisien. 

Alasanya bisa jadi karena pegawai senior malas dengan perubahan atau pegawai senior takut tersaingi. Akhirnya hanya ada dua pilihan untuk pegawai junior, mempelajari kesalahan di perusahaan tersebut dan keluar saat sudah memiliki bekal yang cukup atau mengerdilkan potensinya, tidak melakukan apapun dan bersekutu dengan pegawai senior. Keduanya sama – sama baik, tergantung dengan perspektif masing – masing orang.

Semua hanya masalah preferensi. Sebagian memilih untuk berdamai dengan lingkungan kerja, sebagian memilih untuk melakukan perubahan, dan sebagian lagi memilih untuk mundur dari pertentangan batin. Di manapun kita bekerja permasalahan tersebut pasti akan ada. 

Sistem perusahaan akan terus trial error, itulah yang menjadi penentu apakah perusahaan akan bergerak ke arah yang lebih baik atau akan bergerak ke arah kehancuran. Setiap manusia pun memiliki caranya masing – masing untuk mempertahankan posisi dalam sebuah perusahaan. 

Ada yang memilih untuk mempertahankan diri dengan menjatuhkan orang lain, ada yang memilih untuk sekadar menjadi penonton netral dan lebih memilih masa bodoh pada masalah orang lain, tapi ada juga yang memilih untuk menjadi seorang idealis, mengkritik sistem yang tak benar, dan berpura – pura menjadi korban.

Pada akhirnya semua hanya masalah perjuangan. Bedanya hanya kamu sedang memperjuangkan apa dan bagaimana caranya... Bukankah hidup akan selalu berkisah tentang perjuangan?