Perpolitikan Amerika Serikat (US) memang sangat menarik dan selalu panas. Bukan setiap hari, tapi setiap saat ada saja hal baru yang semuanya saling berkelindan. Semua aspek dipolitisasi oleh masing-masing pihak yang berseberangan.

Sebenarnya di Amerika Serikat, partai politik tidak hanya dua. Pada Pilpres 2016 yang lalu, ada 5 Parpol yang bertarung, yaitu Republik, Demokrat, Libertarian, Green, dan Independent. Tapi tiga parpol terakhir hanya sebagai cheers. Tidak ada dari ketiganya yang mendapatkan walau 1 Electoral Vote pun.

Hanya Partai Republik dan Partai Demokrat yang selalu bertarung sengit, baik di Pilpres, Kongres, maupun Senat. Komposisi saat ini adalah Presiden dari Republik, Kongres mayoritas Demokrat, dan Senat mayoritas Republik.

Dari amatanku yang amatir ini dan juga banyak komentator politik bersuara sejenis, bahwa Pilpres 2020 ini sangat menentukan masa depan Amerika Serikat, yaitu: bila Trump menang, US masih seperti sekarang, yaitu negara Kapitalis; tapi bila Joe Biden menang, maka kemungkinan besar US mengarah ke Sosialis atau bahkan Komunis.

Demokrat dan Problematikanya

Demokrat yang dulu berada di tengah dan agak ke kiri sedikit dengan kelompok liberal dan progresif yang dominan, sekarang makin bergeser jauh ke kiri dan berbau sosialis. Gerakan ini dimotori oleh Bernie Sander, Ocasio Cortes, Ilhan Omar, dan teman-temannya.

Co-Founder Black Lives Metter, Patrisse Cullors, mengakui bahwa dirinya adalah Marxis yang terlatih dan dia juga mengajarkan ideologi tersebut di organisasinya. BLM berada di bawah asuhan Partai Demokrat. Saat panas-panasnya demo yang dimotori oleh BLM, semua orang disuruh berlutut, termasuk para elite dari partai Demokrat.

Orang membaca simbol itu sebagai pernyataan sikap Demokrat tunduk pada ideologi Marxisme yang akan menghancurkan kapitalis dan mengubah ideologi negara. Pernyataan-pernyataan elite Demokrat selalu mengarah pada sosialis, sedangkan aktivis-aktivisnya selalu bersikap ototarian.

Negara bagian yang dilanda kerusuhan kemarin nyaris semuanya di bawah pemerintahan Partai Demokrat. Kota-kota banyak yang hancur, ditambah lockdown yang belum dicabut menyebabkan ekonomi warga makin terpuruk.

Wali Kota atau Gubernur bukannya segera berusaha memperbaiki keadaan, malah sibuk bermain politik, seperti Wali Kota New York City Bill De Blasio. Lockdown tetap dilanjutkan, ibadah di gereja dan signagoga dilarang; tapi bila BLM mau demo, dipersilakan. Dia juga merasa sangat penting membuat tulisan besar BLACK LIVES MATTER di badan jalan di depan Trump Tower. :)

Ketidakjelasan aksi para Gubernur dan Wali Kota itu menyebabkan banyak orang pindah ke negara bagian lain yang dipimpin Partai Republik yang nyaris tidak ada kerusuhan dan lebih longgar dalam penerapan protokol pandemi.

Dari beberapa tahun lalu sebenarnya jutaan penduduk dari Blue State (Demokrat) seperti California dan New York, sudah pada pindah ke Red State (Republik) seperti Texas. Apalagi karena kerusuhan yang baru saja terjadi dan Covid-19, penduduk kota New York City pun berbondong-bondong pindah ke negara bagian yang lebih aman. Aku curiga kota itu akan jadi kota mati.

Karena saking banyaknya warga Demokrat yang eksodus ke Negara Bagian Republik, di Twitter banyak komen sindiran seperti: “Woi, ingat! Kalian pindah karena Demokrat tidak kompeten, jangan pula kalian jadikan tempat yang baru jadi seperti tempat yang lama. Hormati warga lokal. Pilih Republik!” :)

Sudah menjadi kekhawatiran Republikan bahwa pendatang (umumnya Demokrat) yang berkumpul di sebuah kota dengan jumlah jutaan akan mengubah warna kota tersebut. Bila pendatang yang menjadi mayoritas akan memilih calon Demokrat, maka kota atau distrik tersebut bahkan Negara Bagian bisa berubah warna dari merah menjadi biru.

Trump dan Kontroversinya

Trump bukan politisi, tapi oportunis. Dia pindah partai beberapa kali. Pernah jadi Republikan kemudian menjadi Demokrat dan kembali menjadi Republikan karena mencalonkan diri jadi Presiden. Dia tidak terlalu peduli dengan ideologi kepartaian.

Maka aneh juga dia mendapat sebutan rasialis karena saat jadi Demokrat dia akrab dengan tokoh-tokoh kulit hitam. Saat ini pun dia banyak didukung oleh grup minoritas. Sebutlah kaum muda kulit hitam yang dimotori oleh Kanye West dan Candace Owen. Mereka mempunyai jutaan pengikut.

Beberapa hari lalu Trump menandatangani Hispanic Prosperity Initiative. Kelompok minoritas Hispanik pun memberikan dukungan terhadap Trump. Gara-gara dukungan tersebut, CEO Goya Foods Robert Unanue mendapat ancaman boikot dari kelompok kiri.

Unanue menolak minta maaf walau perusahaannya terancam gulung tikar. Tindakan Unnanue ini malah mendapat dukungan dari kelompok konservatif yang berbondong-bondong membeli produk Goya hingga banyak supermarket yang kehabisan stok.

Ada pula Brandon Straka yang gay dengan gerakan #walkaway yang artinya meninggalkan Demokrat pindah ke Republik membawa banyak orang yang sepemikiran dengan dia masuk dalam gerbong Trump. Kelompok LGBT pun merasa lebih nyaman dengan Trump yang memang bukan konservatif tulen.

Politisi Richard Granell sebelumnya ditunjuk oleh Trump sebagai Duta Besar USA untuk German. Tahun ini dia diangkat menjadi The Director of National Intelligence (DNI). Penunjukan ini menjadikannya gay pertama yang mengabdi di posisi setingkat kabinet di US. Entah mengapa pula Trump disebut homofobia.

Banyak orang mengatakan Partai Republik telah bergeser ke tengah sehingga kaum konservatif terlihat lebih libertarian dari sebelumnya. Mereka terbuka terhadap LGBT dan pernikahan sejenis juga lebih santai terhadap perbedaan warna kulit.

Kaum muda Konservatif tampak lebih berwarna tapi mereka tidak membicarakan tentang warna kulit. Mereka berbicara tentang ide-ide, demikian kata Dr. Karlyn Borisenko - yang sebelumnya Lefties garis keras dengan rambut warna biru dengan separuh kulit kepala gundul - setelah mengikuti pertemuan tahunan konservatif CPAC.

Beberapa bulan lalu, Karlyn yang sangat benci Trump ingin membuktikan bahwa pendukung Trump rasis, dan dia pun mengikuti salah satu kampanye Trump. Ternyata yang dia temukan malah sebaliknya dan membuatnya berbalik 180 derajat dan akan memilih Trump.

Dr. Karlyn punya channel YouTube . Dia sangat produktif menghasilkan video politik yang tentu menguntungkan Trump.

Kasus yang mirip, Adam Crigler, Co-host Tim Pool di podcast Timcast IRL. Sekitar enam bulan lalu dia masih leftist yang anti-Trump yang sama sekali tidak peduli politik. Setelah menjadi Co-Host, mau tak mau dia mengikuti masalah politik dan melakukan banyak riset.

Beberapa minggu lalu Adam membuat video pernyataan bahwa dia support dan akan pilih Trump di 2020. Video diunggah di FaceBook dan menjadi sangat viral. Facebook sempat menghapus videonya tapi malah makin disebar oleh lebih banyak orang.

Judith Rose membuat video tiktok yang sangat viral. Dia mengatakan “Aku teregister Demokrat. Seminggu yang lalu aku mau meludahi muka Trump dan mengencingi minumannya. Tapi setelah aku melakukan riset dan membaca banyak dokumen, aku syok dan tidak bisa kembali.” Dan dia mengatakan "Trump orang baik."

Dalam satu bulan ini, aku melihat banyak sekali mahasiswa seperti Judith yang melakukan riset tentang pizzagate dan lain sebagainya. Mereka seperti bola es yang sedang meluncur. Saat ini banyak yang sedang tenggelam di rabbit hole dan akan keluar menjadi Trumpist. :)

Apa yang tidak diberitakan di Media Massa Arus Utama?

Media masa arus utama seperti New York Times, WaPo, CNN, CNBC, MNCNBC, dan kawan-kawannya yang mayoritas memihak Demokrat dan membenci Trump mengatakan, dengan memakai semua metrik, Trump akan kalah total dari Biden. Alasannya karena banyak kota hancur di bawah kepemimpinan Trump sehingga publik menganggap Trump tidak mampu mengurus negara.

Hmm.. kalau dengan marah-marah sambil menghancurkan kota dan perekonomian Demokrat bisa memenangkan pertandingan, maka USA memang sudah sangat hancur, baik secara ekonomi dan mental penduduknya sudah sakit.

Kondisi ini sedikit berbeda bila kita mengamati suara netizen di Twitter misalnya. Kelompok liberal atau moderat kiri sangat cemas karena partainya menjadi terlalu jauh ke kiri. Banyak mereka yang mengatakan akan memilih Trump karena tidak ingin USA jadi negara Komunis.

Banyak pula yang muak melihat kerusuhan dan kemunafikan para Gubernur dan Wali Kota yang lebih memihak pada perusuh dari pada korban kerusuhan yang mengalami kerugian material bahkan kehilangan nyawa anggota keluarga.  

Tentu ada yang pindah dari Republik ke Demokrat karena muak terhadap Trump, tapi aku melihat jumlahnya tidak sebesar dari yang pindah dari Demokrat ke Republik.

Kemarin aku baca twit seorang yang mengatakan ”Saya teregister Demokrat, warga NYC. Usaha yang kubangun sejak 6 tahun lalu dan menjadi penghasilan keluarga satu-satunya sudah hancur. Aku tidak tahu bulan depan keluargaku makan apa, tapi aku baru saja berdonasi $50 untuk kampanye Trump. Kalian tentu tahu kenapa ini kulakukan.” :(

Sesungguhnya lebih banyak lagi yang tidak mengatakan pilihan karena saat ini coming out sebagai pemilih Trump lebih berbahaya dari pada coming out sebagai homoseksual. Konsekuensinya lebih berat karena bisa dipecat dari pekerjaan, dimusuhi teman dan keluarga, bahkan bisa menjadi target kekerasan.

Aku sebagai pengamat amatiran yang hanya membaca berita online dan mendengarkan celotehan para podcaster seperti Tim Pool, Joe Rogan, Dr. Karlyn Borisenko, dan banyak lagi tentu berkata sebaliknya dari yang dikatakan media massa itu, yaitu Trump akan kembali memenangkan pertarungan Pilpres 2020.

Maaf, teman-teman yang membenci Trump, kalian akan masih melihatnya empat tahun lagi di Gedung Putih. Sabar ya!