Tahun 1996 , penulis saat itu masih duduk di semester 1V ( empat ) ketika PRD dideklarasikan oleh Budiman Sudjatmiko Cs. Kelahiran PRD seolah 'bulu ayam' yang dikorekkan pada telinga Sang raksasa (Orde Baru) yang tengah tidur siang dan dengan mata melotot karena terusik (kekuasaannya).

Seketika keluar perintah untuk 'menggulung' anak-anak muda yang telah berani mengganggu eksistensi kekuasaan Orde Baru. Tentang perintah 'menggulung PRD' itu disampaikan oleh Munir pada Budiman Sudjatmiko (baca , Budiman Sudjatmiko, "Anak-Anak Revolusi".)

Sejarah lalu 'berbicara' bahwa, anak-anak muda itu telah ditakdirkan lahir sebagai 'peluru' untuk menumbangkan kekuasaan Orde Baru. Beginilah 'skenario tuhan' itu terjadi. Tidak lama setelah itu setelah PRD dideklarasikan, peristiwa 27 Juli 1996 pecah ( sekretariat PDI pimpinan Megawati diserbu orang tak dikenal, gedungnya dibakar.)

Saat itu halaman sekretariat PDI Dipo jadi tempat digelarnya acara 'Mimbar Bebas' di mana semua orang bicara perihal krisis yang sedang melanda, bicara keadilan hukum dan keadilan politik dsb. Kemudian , anak-anak muda aktivis PRD diburu kekuasaan dengan tuduhan 'serius: SUB-VER-SIF" - mirip , perburuan terhadap orang-orang yang dituduh sebagai pelaku kudeta oleh rezim Erdogan di Turki saat ini.

Dua tahun kemudian, tepatnya 21 Mei 1998, Soeharto mengundurkan diri dari kekuasaannya sebagai presiden Indonesia. Terbukalah kemudian pintu demokratisasi. Kebebasan berpendapat dan berbicara  begitu menghiasi langit demokrasi di Indonesia.

Yang relevan dengan esai ini adalah, lahirnya gagasan 'Multi Partai' - yang telah terlebih dulu di gagas oleh PRD (Budiman Sudjatmiko) dan PUDI (Sri-Bintang Pamungkas).

Saat itu, keberanian mereka membentuk partai diluar Golkar,PPP dan PDI seolah 'menohok' jidat para elit di Indonesia. Mereka pun, kemudian beramai-ramai mendeklarasikan partai politik. Termasuk diantaranya adalah 'Partai Keadilan' yang 5 tahun kemudian (2004) berubah menjadi 'PKS'.

1996-1999 (Yang Tumbang dan Yang Bertahan)

PRD kemudian 'tumbang' dalam seleksi alam pemilu di Indonesia (suaranya dalam pemilu 1999 tak masuk electoral treshold sehingga PRD terhapus dalam peta politik dalam pemilu berikutnya).  

Beda nasibnya dengan 'Partai Keadilan' - dengan basis massa para aktivis dakwah kampus di seluruh Indonesia itu, 'PK' mendulang suara signifikan (parliamentary treshold) hingga masuk di 7 besar perolehan suara DPR RI dan masuk ke senayan. 

Hingga 5 tahun kemudian pada pemilu 2004 itu, 'PK' berganti nama menjadi 'PKS' (tapi, apa lacur - perubahan nama itu telah pula mengubah tabiatnya sebagai 'partai Islam' sejatinya. Moralitas politik yang dulu menjadi 'jargon' partai telah hilang tak berbekas.

Merka - PKS tak berbeda jauh dengan partai-partai sekular lainnya. Di mana, perilaku sosial dan perilaku politiknya sama-sama hedonistik dan 'Machiavellian'. Untuk sifat yang terakhir ini perlu penelitian lebih lanjut.  

Namun, mereka elit PKS - juga manusia biasa, yang membutuhkan uang sebagai jalan mereka memenuhi kebutuhan seksnya (beristeri dua), pergi umrah, berhaji atau melanjutkan pendidikan S2,S3). Konon, di tubuh PKS ada yang disebut 'kubu pedang keadilan' dan 'kubu yang satunya - yang hedonis'. 

Dalam budaya politik di Indonesia, frasa 'kubu' berarti - kelompok pemisah, atau yang terpisah oleh sebuah pandangan politik atau ambisi politik kekuasaan. Dan itu wajar terjadi. Latar belakang inilah yang kemudian, membuat 'visi partai dakwah' itu kian kabur oleh semangat hedon (para elit PKS-nya sendiri).

Maka berkatalah orang-orang pada 'telinga' penulis:

Seorang birokrat - 'tangan kanannya' Sang Walikota Metro - Lampung, bercerita padanya bahwa seorang anggota DPR RI dari PKS berkata padanya melalui telpon selular - ia bilang 'kenapa mau berpasangan dengan si 'A' pada Pilgub Lampung? Kau tidak tahu siapa dia?" (begitu kira-kira bahasa yang disampaikan Sang Ustaz dan anggota DPR RI itu.) Dijawab oleh Sang Walikota Metro, "Maaf Ustaz, PKS juga tidak lebih baik dari orang yang usataz bilang buruk itu!

Kasus kedua, juga  seorang birokrat Pemprov Banten, calon walikota Serang - Deden Apriandi. Bicara serupa tentang perilaku politik elit PKS Serang - bahwa, ia merasa sudah membela 'tidak merokok' dan memperhalus bahsa panggilan: 'Ana', 'antum' (tapi ujung-ujung rapatnya minta mahar perahu politik pilkada.) Saya mundur dan bilang, "apa bedanya Anda dengan partai preman?"

Pertanyaan Retoris untuk Masa Depan Indonesia

“PSI, apa yang kau cari?" Mungkin itu pertanyaan 'naif'. Tapi, dari pertanyaan itu akan terpacu sebuah 'ambisi' tertentu yang secara signifikan tertanam dalam diri 'elit - PSI' -untuk menambah apa yang kurang dari PRD hingga terlempar keluar dari sistem.  

Kita tahu bahwa, PRD walaupun sekarang tumbuh lagi, ghirah perjuangannya diragukan sama dengan saat eranya Budiman Sudjatmiko yang memiliki lawan bernama Orde Baru. Kemudian apa lebih dari PKS - hingga bisa bertahan?

Walau ambisinya untuk memuncaki pimpinan negara ini masih jauh dari harapannya, PSI - harus belajar juga bagaimana merebut aktivis masjid kampus dari tangan PKS, misalnya!

Itulah tantangan membentuk partai politik atau terjun ke dunia politik. 

PSI harus realistis bahwa 'pangsa pasar politik' begitu liar, siapa pun, termasuk yang agresif seperti PERINDO, dan juga mestinya 'PSI' ada di partai agresif itu untuk merebut massa dengan kekuatan dana dan juga program populis. Dalam hal dana, misalnya.

Bagaimana mungkin orang desa itu tergerak mendeklarasikan PSI? Dari mana dananya untuk deklarasi dan operasional partai? Itu pertanyaan sederhana bahwa, dana menjadi persoalan signifikan dalam pendirian sebuah partai politik baru.  

Kemudian, program populis apa yang akan dijadikan 'umpan' untuk menarik massa sebagai kader dan menjadi anggota tetap sebanyak-banyaknya. Pada massa mahasiswa mislanya, secara 'sarkis' penulis bicara melalui tokoh novel 'Sarkasme' karya penulis.

Dalam novel tersebut sang tokoh pendiri 'partai mahasiswa' - the Giggoo, begitulah penulis menciptakan sebuah imajinasi atas pertarungan yang moralis dan yang amoral (the Giggoo, merebut massa mahasiswa dengan menawarkan umpan hedonism pada para mahasiswa agar bergabung).

PSI, apa yang kau cari di dunia politik?

Itulah pertanyaan retoris untuk para elit PSI yang juga signifikan untuk masa depan Indonesia. #LombaEsaiPolitik.