Konflik tidak harus tak terhindarkan, tapi dengan perbedaan yang banyak dikalangan individu, baik dalam hal bagaimana mereka mempersepsi maupun dalam kekuatan kebutuhan mereka. Konflik dikalangan manusia merupakan hal yang umum dalam negara ini. Banyak perselisihan juga dapat berasal dari kesulitan-kesulitan dalam komunikasi karena perbedaan para pejabat-pejabat negara menafsirkan kata-kata sering menimbulkan kesalah pahaman.

Kita dapat dengan segera mengamati ketidakserasian disekitar kita, mulai dari perbedaan-perbedaan pendapat yang relatif lunak antara angota-angota dewan/pejabat-pejabat negara, pemerintah, masyarakat sampai kepada pembantahan kasar dan merusak antara bangsa-bangsa. Media komunikasi setiap hari membombardir kita dengan contoh-contoh konflik manusia.

Konflik terjadi tak terlepas juga dari  asumsi atau pendapat yang kita buat sendiri tanpa dilandasi bukti yang akurat. Prasangka terhadap sesama manusia seringkali bercirikan emosi yang salah, diskriminasi yang ekonomis, dan ada kalanya bahkan tak berperikemanusiaan dan merupakan kekerasan berdarah. Prasangka akan menimbulkan hawa nafsu/ egoisme menjadi besar maka ia menutupi, menumpulkan, menyesatkan atau bahkan membunuh jiwa suci kita.

Prasangka pada dasarnya merupakan tindakan prahukum atau membuat keputusan-keputusan berdasarkan bukti yang tidak cukup. Bila kita mengerti dan cukup memahami sesuatu atau seseorang dengan baik, sebenarnya kita tidak berprasangka buruk padanya. Akibat prasangka akan melahirkan diskriminasi dimana suatu tindakan tertuju menentang atau menguntungkan sesuatu atau seseorang.

Dalam banyak keadaan kita sehari-hari kita memiliki prasangka tentang keadaan dan terhadap orang-orang disekitar kita. Tekanan-tekanan waktu sering tidak memungkinkan penjelajahan dari semua bukti yang tersedia, tetapi bila kita membuat keputusan-keputusan yang didasarkan atas  data yang kurang lengkap, kita akan membiarkan adanya kemungkinan kesalahan, karena hasil-hasil perkiraan kita yang berbeda.

Prasangka akan melahirkan konflik dengan memprahakimi maksud orang-orang lain dan dengan demikian menyerang pertama-tama berlandaskan suatu keyakinan yang sering tidak berdasar, yang mereka berniat menganutnya. Seperti yang terjadi pada Filsuf Italia Galileo Galilei akibat pandangannya yang di anggap melenceng dari keyakinan yang selama ini di anut oleh masyarakat maupun gereja saat itu, ia diajukan kepengadilan gereja Italia tanggal 22 juni 1933 ia dihukum dengan pengucilan [tahanan rumah] sampai meninggal.

Hal yang sama yang terjadi di amerika serikat pada tahun 1970-an, prasangka yang menimbulkan terjadinya diskriminasi terhadap perbedaan suku/ras dimana kulit hitam dan kulit putih yang tidak pernah bersatu. Terlebih lagi diberbagai belahan dunia mayoritas dan minoritas, tinggi pendek, gemuk kurus, dan lainnya yang menyangkut kehidupan manusia tak terlepas dari prasangka.

Ketika kita memandang suatu persoalan tanggalkan prasangka-prasangka. Prasangka itu bagaikan sepatu yang nyaman dipakai namun tak dapat dingunkan untuk berjalan, ia memberikan jawaban sebelum kita mengetahui pertayaanya. Dan seburuk-buruknya jawaban adalah bila kita tak paham akan adanya, jangan biarkan prasangka menyeret kita, namun sebenarnya ia berbahanya diwaktu yang panjang.

Bila kita telah mampu melepaskan prasangka berarti kita telah menemukan pandangan yang jauh lebih jernih dan keberanian untuk mengatasi masalah lebih besar, bila kita mengenakan kacamata, maka yang melihat tetaplah mata kita, bukan kacamata itu. Keadaan yang terjadi sebenarnya adalah apa yang berada dibalik kacamata, bukan yang terpantul pada cermin kacamata kita. Demikian pula halnya dengan diri sendiri, yang sesungguhnya melihat adalah hati kita melalui mata.

Prasangka itu adalah debu-debu pikiran yang mengaburkan pandangan hati, sehingga kita tak mampu melihat dengan baik. Jika tujuan kita menuju kesejahterahan negeri ini serta keinginan kita untuk melihat lebih jelas dan lebih jernih lagi. Usaplah prasangka sebagaimana kita menyingkirkan debu dari kacamata.

#LombaEsaiKonflik