Hidup dengan prasangka itu tidak menyenangkan, saya punya  pengalaman.

Pernah suatu kali saya berkenalan dengan seorang gadis. Barangkali dia menyangka, saya itu menarik, menyenangkan, dan romantis. Karena dia beberapa kali menyiratkan hal itu melalui telepon; berdasar tulisan-tulisan di blog yang saya buat.

Saya senang-senang saja dengan prasangka itu. Selain bisa saja begitu, kapan lagi dapat sanjungan? Toh, pernyataan itu dari dia bukan dari saya. Jadi saya aman dari delik aduan penipuan jika ternyata nanti tidak sesuai kenyataan.

Setelah mantap, kami putuskan ketemuan. Meski lancar-lancar saja saat berbicara di telepon, pertemuan ternyata punya ceritanya sendiri. Serba kikuk, bahkan agendanya kami percepat. Niat mengantarnya pulang pun akhirnya di ralat. Dia memilih pulang sendiri naik taksi. Saya tidak mungkin protes atas pilihannya itu.

Pasca itu, segalanya berubah. Dia tidak pernah menjawab panggilan telepon lagi. Saya hanya menduga, saya tidak seperti yang ia sangkakan.

Lain lagi kisah dulu ketika masih kuliah. Prasangka, ternyata melahirkan peristiwa tragis yang sama sekali tidak terduga. Kerusuhan besar yang menghanguskan beberapa kota di Indonesia. Padahal yang ingin ditumbangkan oleh mahasiswa dalam demonstrasi besarnya itu Suharto sang penguasa rezim, tetapi dampak ikutannya adalah keturunan Tionghoa.

Apa, mengapa, dan bagaimana, sampai kerusuhan rasial Mei 1998 itu terjadi, sampai hari ini tidak ada lembaga resmi yang semestinya menangani punya jawaban yang memuaskan. Semuanya masih serba gelap. Sehingga saya pun membangun prasangka, bahwa itu semua disebabkan oleh prasangka.

Dugaan saya bukan tanpa alasan, karena sejujurnya saya punya ketertarikan tersendiri dengan keturunan Tionghoa. Kisahnya berawal ketika saya duduk di bangku kelas dua SMA. Oleh seorang pendeta Jerman saya diajak menemani mengunjungi jemaat di Tanjung Leidong.

Kala itu, kami beristirahat di depan sebuah toko. Pada saat itulah mata saya menatap pemandangan tidak biasa. Seorang gadis keturunan menatap saya dengan senyuman yang sangat menawan. Senyuman itu benar-benar membuat saya hanya mampu terpaku, tidak lebih.

Meski sekejap, pesona tatapan amoy Tanjung Leidong itu melekat erat di kepala saya. Terbawa pulang dan sulit sekali dihapus. Kadang memang bisa menghilang, tetapi tidak butuh waktu lama untuk menghadirkannya lagi. Bahkan hingga saya tamat SMA dan menjalani hari-hari sebagai mahasiswa di kota Salatiga.

Di Salatiga, saya menemukan senyuman yang kurang lebih sama. Kali ini saya tidak hanya bisa terpaku, tetapi juga menyapa dan menjajaki kehidupan lebih jauh.

Tetapi ternyata tidak mudah, karena ternyata masing-masing dari kami terbangun banyak prasangka. Satu sama lain, bukan antara saya dan sang pemilik senyuman, tetapi lingkungannya dan lingkungan saya sulit untuk saling menerima. Di mata lingkungan saya, keturunan Tionghoa itu adalah orang asing. Meski mereka adalah WNI.

Penasaran, saya pun mengangkat itu dalam tema skripsi. Terutama terkait dengan hal yang paling diragukan dari keturunan Tionghoa, nasionalisme. Tidak mudah, karena skripsi saya kandas tiga kali di tahap seminar proposal. Hampir menyerah, tetapi pesona tatapan mata rupawan itu tidak pernah berhenti menggoda.

Rasa ingin tahu membuat saya “berkenalan” dengan Leo Suryadinata, Nio Joe Lan, I Wibowo, Charles Choppel, dan penulis lain yang banyak menulis tentang pergulatan keturunan Tionghoa di Indonesia. Dari mereka saya tahu mengapa keturunan Tionghoa di pandang berbeda oleh etnis lain di negeri ini. Pun sebaliknya.

Di masa penjajahan Belanda, orang-orang Tionghoa memang dibedakan dari masyarakat bumiputera alias pribumi pada umumnya. Mereka memiliki kelas tersendiri, di atas bumiputera atau inlander dan setingkat di bawah bangsa Eropa. Posisi ini diperoleh karena kecakapan orang-orang Tionghoa dalam melakukan perdagangan.

Hal ini membuat orang-orang Tionghoa menguasai akses ekonomi. Karena kedudukannya sebagai pedagang perantara. Profesi yang masih dianggap sebelah mata oleh sebagian bangsawan Jawa. Sehingga jarang dari mereka mengambil peran itu. Sebenarnya sangat wajar jika kemudian perdagangan dikuasai oleh orang-orang Tionghoa dan Timur Asing lainnya (Arab dan India).

Sebagai pedagang perantara dengan segala keistimewaan yang dimiliki, orang-orang Tionghoa bersinggungan langsung dengan masyarakat pada umumnya. Kesenjangan ekonomi yang terjadi membuat orang-orang Tionghoa sering kali menjadi ajang luapan kekecewaan. Peran yang mereka mainkan menimbulkan anggapan bahwa mereka culas dan menindas.

Kerusuhan rasial atas dasar hal tersebut beberapa kali terjadi pada masa pemerintahan kolonial. Seperti kerusuhan di Solo pada 1912 dan di Kudus pada 1918.

Prasangka yang terbangun di antara masyarakat tanah jajahan sepertinya memang sengaja dilembagakan. Devide et empera, sebagai sebuah strategi politik menemukan titik pijaknya. Tidak cukup hanya berdasar potensi perpecahan secara horizontal tetapi juga secara vertikal, melalui penciptaan stratifikasi soaial.

Kemerdekaan ternyata tidak serta-merta menghilangkan segala hal yang berbau kolonial. Kebencian warisan kolonial pada orang-orang Tionghoa yang dianggap culas dan menindas ternyata masih tumbuh subur.

Pun sebaliknya, di mata orang Tionghoa, masyarakat pribumi adalah masyarakat kelas bawah, rendahan dan pemalas juga masih mewarnai pemikiran mereka. Sehingga dalam kehidupan bersama, prasangka-prasangka tidak berdasar tersebut menjadi ganjalan tersendiri. Meski hidup bersama, namun keterikatannya kurang alamiah. Sehingga masih menyisakan jarak.

Jarak inilah yang membuat kehidupan bersama menjadi tidak asyik. Prasangka membuat saya harus berjuang keras untuk menikmati pesona. Meski telah menjadi bagian dari masa lalu, tetapi pengalaman itu membekas. Memberi pelajaran sangat berarti bagi kehidupan saya, semoga juga dengan bangsa ini.

Bacaan