Tempo lalu tepat hari kebangkitan nasional, Presiden Joko Widodo melalui pidatonya mengatakan bahwa kita memiliki kewajiban meminimalkan konten negatif dan membanjiri ruang digital dengan konten positif.

Pramuka atau Praja Muda Karana merupakan organisasi kepanduan yang tidak hanya popular di Indonesia tetapi di penjuru dunia. Baden Powell adalah Bapak Pramuka Dunia, Sang bapak pandu dunia mengandaikan kegiatan kepanduan ini sebagai sarana pendidikan melalui kegiatan yang menyenangkan baik kegiatan dalam sekolah maupun luar sekolah.

Hari demi hari, kita memasuki era digital yang semakin canggih. Kegiatan Kepramukaan yang hadir di sekolah-sekolah saat ini menjadi wadah bagi generasi Milenial. Era digital adalah masa dimana semua manusia dapat saling berkomunikasi sedemikian dekat walaupun jauhnya jarak membentang. Kita dapat dengan cepat mengetahui informasi tertentu bahkan real time. Menurut Wikipedia, era digital bisa juga disebut dengan globalisasi. Globalisasi adalah proses integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan aspek-aspek kebudayaan lainnya yang banyak disebabkan oleh kemajuan infrastruktur telekomunikasi, transportasi dan internet.

Sudah seharusnya sosok pembina pramuka bisa menyesuaikan diri dengan generasi yang suka serba cepat dan instan. Pramuka Milenial ini generasi yang tidak lepas dari gawai tentunya, tidak ada gawai tidak hidup. Pola dan metode Kepramukaan sebagai bahan pengajaran dan pembelajarannya tentu tidak lepas dari penyesuaian teknologi.

Era digital merupakan masa di mana semua serba mudah diakses dan tidak ada batasannya. Bahkan sekarang ini ada banyak sekali kegiatan yang tidak mengharuskan pesertanya datang. Namun hanya membutuhkan media online kita bisa melakukan segala sesuatu dengan mudah.

Menurut Wikipedia, literasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari. Harapannya, setiap Pramuka mempunyai kemampuan memberitakan kegiatan Pramuka, produk lokal, pemuda berprestasi, pariwisata, kuliner, budaya, potensi daerah, dan lain sebagainya di media sosial. Dalam artian segala kegiatan yang dilakukan agar dapat dibagikan atau diberitakan diberbagai media yang dimiliki oleh setiap anggota pramuka. Sehingga diperlukan kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk menganalisis, memanfaatkan, membuat dan mengkomunikasikankonten atau informasi.

Dikutip dari Materi Pendukung Literasi Digital Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, terdapat 8 elemen untuk mengembangkan literasi digital:

  1. Kultural, kemampuan untuk memahami berbagai konteks dalam dunia digital;
  2. Kognitif, daya pikir dalam menganalisis dan menilai content;
  3. Konstruktif, menciptakan ulang sesuatu dengan ahli dan aktual;
  4. Komunikatif, paham bagaimana sistem jaringan komunikasi digital;
  5. Percaya diri dan bertanggung jawab;
  6. Melakukan hal baru dengan cara kreatif;
  7. Kritis dalam melihat content; dan
  8. Bertanggung jawab secara sosial.

Jangan berasumsi bahwa setiap orang memiliki keterampilan digital yang tepat. Meskipun generasi muda seperti Milenial dan Gen Z biasanya tumbuh dengan teknologi, belum tentu mereka paham benar bagaimana bertanggung jawab dalam pemanfaatannya. Saat kita melakukan kesalahan dalam penggunaan teknologi yang berkaitan dengan instansi, hal tersebut akan mempengaruhi citra dan pandangan masyarakat terhadap instansi tersebut. Seperti kita sebagai seorang Pramuka harus bijak dan tidak gagap teknologi dalam mengelola media sosial gudep, kwartir ranting, kwartir cabang, dan lain sebagainya.

Jogo Timeline dengan tagar #JogoTimeline merupakan aksi menyebarkan konten bermanfaat dengan menjaga timeline media sosial pribadi maupun instansi. Sehingga dapat meminimalisir berita-berita hoaks. Timeline adalah garis waktu atau perjalanan kita dalam mengunggah sesuatu di media sosial. Fungsi dari aksi #JogoTimeline sendiri yaitu untuk menjaga timeline media sosial pribadi dengan konten yang bermanfaat, memperbanyak kontenpositif, dan meminimalisir berita-berita hoaks.

Siapakah yang dapat terlibat? Tentunya kita semua dapat terlibat dan berkontribusi. Lalu, bagaimana cara kita berkontribusi? Cara dengan menggunakan hak untuk mengekspresikan ide-ide dan opini secara bebas melalui ucapan, tulisan, maupun komunikasi bentuk lain. Namun sebelum kita membagikan sesuatu kepada orang lain, kita harus menyaring informasi tersebut terlebih dahulu. Semua dilakukan dengan tidak melanggar hak orang lain tentunya. Kebebasan berekspresi sendiri memiliki aturan sebagai berikut :

  1. Sampaikan pendapat, ide, opini, perasaan, tanpa rasa takut.
  2. Jika belum merasa pasti, hindari menyebut nama orang, institusi atau lembaga bersangkutan.
  3. Sertakan data berupa dokumen atau foto untuk mendukung pendapat, ide atau opini.
  4. Pendapatmu di internet dapat diakses banyak orang, maka siaplah dengan konsekuensinya
  5. Bebas berekspresi bukan berarti bebas menyebarkan segala informasi

Maka dari itu, ajakan positif ini sudah selayaknya kita indahkan. Agar tidak ada lagi kejahatan media sosial yang berdampak terhadap mentalitas kita. Masih dalam suasana hari kebangkitan nasional, mari kita bangkit dari keterpurukan dan memiliki semangat juang untuk berorientasi di masa depan.